Urban Review

Semesta Sejarah Arnold Joseph Toynbee (1889-1975)

Sejarah tak semata studi dan kajian peristiwa, tapi mempelajari kebudayaan dan peradaban. Semesta sosial-budaya masa silam sebuah bangsa atau peradaban, contohnya, turut membentuk wataknya di masa depan. Dalam hal demikian, sejarah bukan semata soal pencatatan data dan fakta, tapi lebih dari itu: sejarah adalah usaha ilmiah dan filosofis untuk memahami kehidupan manusia dan peradaban. Selaras dengan hal itu, sejarah dan peradaban, menurut Toynbee, juga diciptakan oleh elite (minoritas kreatif) yang mencipta dan mewujudkan visi peradaban mereka. Di sisi lain, sejarah juga acapkali ‘diramaikan’ oleh tarung dan kontestasi kekuatan dan kebudayaan, seperti tarung dan kontestasi kekuatan dan kebudayaan antara Persia (kini sebagian besar wilayahnya menjadi Negara Iran) melawan Yunani dan Romawi.

Lingkup dan cakupan tulisan-tulisan Toynbee cukup membuat gentar bahkan untuk pembaca yang paling suntuk sekalipun. Toynbee merupakan penulis besar, menghasilkan karya yang tidak terhitung jumlahnya tentang agama, sejarah kuno dan modern, peristiwa kontemporer, dan hakekat sejarah. Toynbee berpikiran besar, orang terkesan sebab dia berusaha menyatukan seluruh tempat dan masa dalam satu jaringan.

Toynbee lahir pada 14 April 1889 di London. Arnold Joseph Toynbee adalah anak dari Henry Valpy Toynbee, seorang pengimpor teh yang beralih menjadi pekerja sosial, dan Sarah Edith Marshall, sarjana unofficial di bidang sejarah dari Universitas Cambridge. Semasa kecil, Toynbee dididik oleh ibunya dan seorang guru privat perempuan. Kemudian dia meneruskan ke Wotton Court di Kent dan Winchester College. Dia cemerlang dalam studinya, dan mendapatkan beasiswa untuk disiplin sastra Yunani dan Romawi Kuno ke Balliol College, Oxford. Ketika menggeluti sastra Yunani dan Romawi kuno, Toynbee berambisi menjadi “sejarawan besar dan masyhur –bukan semi popularitas lantaran banyak tugas di dunia yang mesti dituntaskan, dan saya ingin sekali menunaikannya sebanyak yang saya bisa” (Marnie Hughes-Warrington, 2008: 612).

Setelah menamatkan studinya pada tahun 1912, Toynbee menjelajahi situs-situs sejarah di Yunani dan Italia. Meskipun Toynbee menikmati perjalanannya, namun dia harus memperpendek kunjungannya untuk mengobati disentrinya. Setelah keluar dari rumah sakit dia mulai bekerja sebagai tutor sejarah kuno di Baliol. Meskipun dia mempunyai harapan mampu membantu murid-muridnya ‘mengenal keragaman kehidupan dan peradaban’, tak seorang pun dari mereka mampu memenuhi harapan sang guru. Dia kemudian mengalihkan energinya untuk melakukan sesuatu yang kemudian menjadi pekerjaan seumur hidupnya: menulis. Dia mulai menulis sebuah buku tentang sejarah Yunani dari masa prasejarah sampai masa Bizantium, namun sebelum buku tersebut selesai dia terganggu oleh peristiwa yang terjadi di masanya, seperti Perang Balkan pada 1912 dan 1913.

Ketika banyak teman Toynbee dimilisikan saat Perang Dunia I meletus dan pada akhirnya meninggal, dia dibebaskan dari wajib militer lantaran kondisi kesehatannya yang buruk. Entah lantaran merasa bersalah atau bersyukur sebab tidak meninggal bersama-sama temannya, dia memutuskan membantu mewujudkan perdamaian sejati yang langgeng dengan memberi informasi kepada masyarakat tentang kejadian-kejadian masa lalu dan politik perang. Dalam Nationality and the War, misalnya, Toynbee berusaha membeberkan ide dan kejadian yang ada di balik pembunuhan Archduke Franz Ferdinand di Sarajevo dan menunjukkan bahwa penyelesaian konflik dengan Jerman yang telah kalah
akan menjauhkan orang-orang Eropa dari nasionalisme dan mendekatkan mereka kepada kerjasama.

Pada tahun 1915, Toynbee menerima tawaran bekerja di unit propaganda pemerintah yang baru berdiri di London. Di situ dia bekerja dengan Lord Bryce untuk menarik perhatian internasional terhadap pembantaian orang-orang Armenia oleh orang-orang Turki. Toynbee bersusah payah mencari data yang bisa dipercaya, namun lantas bermasalah dengan laporan-laporan dia dan Bryce yang berat sebelah. Bryce dan Toynbee lantas diminta untuk menyelidiki laporan-laporan tentang kekejaman Jerman pada pihak lain.

Pada bulan Mei 1917, Toynbee kembali bertugas di Political Intelligence Department, yang didirikan untuk merancang kebijakan luar negeri Inggris selama fase akhir perang dan pada konferensi damai Versailles. Toynbee menghadiri konferensi Versailles selaku penasehat Kerajaan Ottoman dan The Muslims of The Central Asia (Persaudaraan Muslim Asia Tengah). Setelah kembali ke Inggris dia menerima tawaran mengajar dalam bidang sejarah dan sastra Yunani dan Bizantium modern di Universitas London. Namun, Toynbee dipaksa meninggalkan posisi itu pada tahun 1942, sebab ketua donatur Yunani tersinggung oleh laporan-laporan korannya mengenai perang antara Yunani dan Turki di Anatolia (1921-1922) yang memihak Turki. Tidak lama kemudian, dia ditugasi oleh British (kini Royal) Institute for International Affairs untuk menulis sebuah buku hasil riset lama dan mendalam tentang paristiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak Perjanjian Versailles. Buku tersebut, Surveys of International Affairs 1920-1923 (1925), menjadi buku hasil survey mendalam pertama yang dia hasilkan sampai dia pensiun pada tahun 1953.

Tiap tahun, Toynbee berusaha mengabadikan banyak informasi (kebanyakan dari sura kabar) lewat catatan-catatan tentang peristiwa kontemporer di seluruh dunia. Dia menulis penuh percaya diri bahkan tentang tempat yang tidak dikenal (terpencil) dan menghubungkan mereka dengan tempat-tempat lain dari masa-masa yang berbeda pula. Di waktu luangnya, dia memberi kuliah dan menulis artikel. Dia juga mulai mengumpulkan bahan-bahan buat karyanya yang kemudian terkenal: A Study of History (12 Jilid, 1934-1961).

Keilmuan sejarah kontemporer, menurut Toynbee, kurang sempurna sebab para sejarawan Eropasentris, meniru saintis, dan melakukan riset tentang topik-topik kecil yang sepele (A Study of History, Vol. 9, hlm. 9). Menurut Toynbee, yang gagal mereka mengerti adalah bahwa ‘alam semesta menjadi bisa dipahami sejauh kia memahaminya sebagai sebuah kesatuan’ (Civilisation on Trial, hlm. 11). Dalam semangat itu, Toynbee bermaksud ‘mempelajari seluruh peradaban yang dikenal, yang masih ada maupun yang sudah punah’ (Civilisation on Trial, hlm. 143). Dalam sejumlah besar detail sejarah, menurutnya, sebuah pola bisa diungkap dan diketahui.

PEMIMPIN KREATIF
Satu dari ide-ide dasar falsafah Toynbee adalah peran yang dimainkan oleh kreativitas pemimpin. Dalam masyarakat manapun orang-orang yang kreatif selalu dalam kelompok kecil, dan tindakan para genius terhadap masyarakat umum terlaksana melalui semacam latihan sosial di kalangan orang kebanyakan dengan cara meniru-niru saja. Dengan demikian mayoritas yang tidak kreatif dapat memperoleh banyak hal dengan sekadar meniru-niru pemimpin yang berasal dari minoritas, dan bukan dengan melaksanakan gagasannya sendiri (Siddiqi, 2003: 190).

Mempersoalkan perbedaan antara suatu masyarakat yang sedang tumbuh dan masyarakat yang runtuh, Toynbee menunjukkan bahwa perbedaannya bukan pada masalah ada tidaknya kreativitas. Toynbee (Siddiqi, 2003: 191) menyatakan:

Karena kalau sementara hal itu benar bahwa salah satu gejala kerusakan sosial dan penyebab-penyebab kerusakan sosial adalah merosotnya minoritas yang memimpin, karena kreativitasnya menjadi minoritas yang memimpin berdasarkan kekuasaan fisik, kita juga telah melihat bahwa kemunduran kaum proletar –yang merupakan jawaban bahwa golongan kecil dominan yang bangkit dari masyarakat yang dilepaskannya kini merupakan kelompok yang tertutup dan memiliki hak istimewa– dicapai di bawah kepemimpinan orang-orang kreatif yang kegiatannya hanya ada dalam oposisi terhadap kekuasaan yang kreatif.

Jadi perubahan dari pertumbuhan sosial ke kehancuran sosial tidak dibarengi dengan lenyapnya nyala kreatif dalam jiwa orang-seorang atau dengan suatu perubahan dari kepemimpinan kreatif ke tidak kreatif. Orang-orang kreatif terus-menerus dan senantiasa muncul dalam setiap keadaan.

Tugas pemimpin kreatif dalam masyarakat yang berkembang menurut Toynbee (Siddiqi, 2003: 191) adalah memainkan peranan sebagai penakluk yang menghadapi tantangan dengan tanggapan yang memberikan harapan dan menjanjikan. Tetapi dalam masyarakat yang runtuh, ia diminta untuk memainkan sebagai ratu adil atau juru selamat yang turun untuk menyelamatkan masyarakat yang telah gagal menghadapi tantangannya. Kegagalan mereka dengan tantangan itu telah merusak minoritas yang tidak lagi kreatif dan telah berubah menjadi sekadar penguasa saja.

Para penyelamat ini, yang bangkit dari kalangan miskin dalam suatu masyarakat yang runtuh, memiliki empat macam pilihan untuk menyelamatkan masyarakatnya. PERTAMA, mereka yang mencoba mencari tempat pelarian ke masa silam, disebut golongan arkais. KEDUA, mereka yang membangun gambaran khayali ke masa depan dan berusaha menyelamatkan dari kondisi yang sekarang dengan membawanya ke arah masa depan yang ideal, disebut golongan Futuris. KETIGA, mereka yang melarikan diri dari kenyataan sekarang dengan jalan pelepasan; tampil sebagai seorang filsuf yang bersembunyi di balik topeng raja.

KEEMPAT, mereka yang mengikuti perubahan ujud bagaikan dewa yang menjelma manusia. Di sini tampaknya Toynbee membayangkan tokoh Jesus Kristus seperti yang digambarkan oleh para penulis keempat Injil. Dalam analisisnya yang terakhir, Toynbee mengatakan bahwa penyelamat yang menggunakan pedang akan gagal. Toynbee memberikan alasan atas dasar apa yang dikatakan dalam Injil: “Semua orang yang menggunakan pedang akan musnah bersama pedangnya” (Siddiqi, 2003: 192).

PERKEMBANGAN FASE PERADABAN
Menurut Toynbee, peradaban cenderung menempuh dan melewati empat fase: masa pertumbuhan, masa sukar, sebuah negeri bersama, dan peralihan atau kehancuran. Faktor penting dalam paradaban pada ‘masa pertumbuhan’ adalah apa yang dia sebut dengan ‘tantangan dan jawaban’. Secara singkat, jika sebuah ‘masyarakat primitif’ ingin tumbuh menjadi sebuah ‘peradaban’, ia harus tertantang. Ini serupa dengan ‘seorang pemanjat yang belum mencapai titik di atasnya sedangkan dia ingin sekali mencapainya…maka dia harus terus memanjat untuk mencapainya, kecuali kalau ajal keburu menjemputnya’ (A Study of History, vol. 9, hlm. 373). Tantangan pada fase ini, tegas Toynbee, datang dari unsur-unsur eksternal seperti iklim dan kondisi daerah. Setiap respon yang berhasil akan memperkuat peradaban. Namun, jika tantangan yang ada bukan main kerasnya, masyarakat jatuh ke masa kemandekan. Pada masa seperti itu, tegas Toynbee, masyarakat bisa diumpamakan seperti suku Eskimo yang hidup dalam iklim yang keras.

Kesulitan yang dihadapi peradaban pada ‘masa sukar’, sebaliknya, disebabkan oleh masalah-masalah internal seperti perhatian yang berlebihan pada masa lalu atau masa depan, nasionalisme, peniruan terhadap respon yang diambil peradaban lain (mimesis), pengidolaan terhadap tokoh, teknik, atau lembaga, rasa puas diri terhadap prestasi atau capaian masa lalu, dan ketiadaan kreativitas secara umum. Inilah alasan mengapa Toynbee menegaskan bahwa kematian sebuah peradaban adalah soal kematian bunuh diri. Pada fase ini, perang demi perang meletus dan sebuah negeri bersama didirikan oleh ‘minoritas dominan’. Perdamaian tercapai, begitu pula kesejahteraan jangka-pendek, namun harapan-harapan untuk menjadi peradaban suram. Pendirian sebuah negeri bersama adalah semata-mata tindakan penyelamatan dan selalu terbukti menjadi fase terakhir masyarakat sebelum kehancurannya (A Study of History, vol. 9, hlm. 54).

Meskipun Toynbee tidak seyakin Oswald Spengler bahwa peradaban Barat tengah merosot, namun dia yakin bahwa ia sedang memperlihatkan sejumlah ‘kecenderungan bunuh diri’: pemujaan terhadap teknologi; proliferasi senjata nuklir; konflik terus-menerus; nasionalisme; konsumerisme ekstrem; kerakusan; kurangnya perhatian pada negeri-negeri sedang berkembang; egosentrisme (A Study of History, ikhtisar, 1972, pendahuluan dan bab 1). 105

AGAMA DAN PERADABAN
Toynbee, seperti yang disadarinya, telah membuat perubahan radikal berkaitan dengan hubungan antara agama dan peradaban. Menurutnya, agama tidak lagi dapat dianggap sebagai tanggapan manusia terhadap tantangan sosial. Tujuan utama agama tidak lagi untuk mendukacitakan kematian atau menolong kelahiran peradaban. Agama tidak dapat dijelaskan menurut peradaban; sebaliknya, peradaban itu sendiri muncul, hadir, berdiri hanya untuk menghasilkan agama. Lebih dari itu, cara memandang terhadap hubungan agama dan masyarakat seperti ini memang mengabaikan kenyataan penting bahwa kesempurnaan yang diusahakan oleh agama adalah kesempurnaan bagi setiap individu lewat masyarakat (Siddiqi, 2003: 193).

Individu dan masyarakat, keduanya sama penting untuk perkembangan masing-masing dan karena itu agama menyadari pentingnya keduanya. Tetapi agama tidak langsung memusatkan usaha penciptaan suatu peradaban, meskipun peradaban dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agama, taraf-tarafnya tergantung pada keluasan dan kedalamannya. Peradaban tidaklah terlalu perlu bagi agama, meskipun agama mungkin telah melahirkan peradaban. Ini menunjukkan bahwa peradaban bukanlah objek utama dari perhatian Tuhan (Siddiqi, 2003: 193).

‘Gereja Universal’, menurut Toynbee, menggantikan masyarakat dan peradaban primitif. Dalam jenis masyarakat ini –dicirikan oleh kasih sayang dan kemampuan berbagi– para individu berhubungan erat dengan ‘realitas spiritual mutlak’, atau apa yang sebelumnya dia sebut Tuhan. Dalam sudut pandang baru sejarah sebagai kemajuan spiritual inilah Toynbee mengubah pandangannya tentang peradaban. Peradaban ini merupakan ‘upaya untuk menciptakan kondisi masyarakat di mana seluruh manusia akan bisa hidup bersama secara harmonis, sebagai anggota dari sebuah keluarga yang benar-benar inklusif (A Study of History, vol. 12, hlm. 307-308).

KEHANCURAN PERADABAN
Toynbee juga mengubah dan meluaskan deskripsinya tentang bagaimana peradaban merosot. Dia menyatakan bahwa memburuknya peradaban adalah proses tiga tahap yang melibatkan tiga kelompok orang: minoritas dominan, proletariat internal, dan proletariat eksternal. Istilah proletariat yang dimaksudkan Toynbee adalah sebagai ‘unsur atau kelompok yang lantaran beberapa kondisi ‘berada dalam’ namun ‘bukan bagian’ masyarakat tertentu pada fase tertentu sejarah masyarakat tersebut (A Study of History, vol. 12, hlm. 1). ‘Minoritas dominan’, tegas Toynbee, adalah para individu yang memperoleh kekuasaan pada ‘masa pertumbuhan’ lantaran keberhasilan mereka merespon tantangan.

Pada ‘masa sukar’ mereka berusaha memelihara kekuasaan mereka. Usaha untuk memelihara dominasi ini memicu beberapa individu untuk menarik diri dari masyarakat dan menjadi ‘proletariat internal’. Pada saat yang sama, kelompok-kelompok di luar peradaban (proletariat ekternal) mulai mengancam ‘minoritas dominan’. Pada akhirnya ‘proletariat internal’ kembali ke masyarakat untuk membujuk mayoritas tak kreatif agar mengikuti langkah-langkah yang telah mereka bentangkan (A Study of History, vol. 5, hlm. 29). Dalam kebanyakan kasus, menurut Toynbee, agamalah kontribusi yang ditawarkan oleh internal proletariat ketika mereka kembali ke masyarakat (A Study of History, vol. 9, hlm. 3; lihat juga vol. 12, hlm. 609).

RESPON TERHADAP KARYA TOYNBEE
Penerimaan terhadap A Study of History, begitupun isi buku tersebut, berubah berkali-kali seiring berubahnya waktu. Jilid 1-3, dan pada taraf yang lebih rendah jilid 4-6, disambut baik oleh kaum akademis Inggris. Namun, setelah penerbitan volume 7, popularitasnya di kalangan sarjana mulai memudar. Sungguhpun begitu, ini diikuti oleh tumbuhnya popularitas karya-karya Toynbee di kalangan khalayak luas, terutama di Amerika Serikat. Peringatan Toynbee akan gejala-gejala bunuh diri Barat dan seruannya pada Amerika Serikat untuk mengambil tindakan terhadap urusan-urusan internasional menimbulkan perhatian khalayak. Ringkasan pemikiran dan esai-esai muncul di banyak koran dan majalah, dan Toynbee digembar-gemborkan sebagai nabi. Ide-idenya juga populer di kalangan para penulis fiksi-sains seperti Isaac Asimov, Charles Harness, dan Ray Bradbury. Bahkan ketika ide-idenya kehilangan popularitasnya di Amerika Serikat, reputasinya tumbuh di belahan dunia lain yang lain seperti di Jepang.

Banyak sarjana berkesimpulan bahwa pernyataan-pernyataan Toynbee berpijak pada bukti yang tidak meyakinkan, dan bahkan keliru. Sarjana yang lain berpendapat bahwa konsep dia tentang ‘peradaban’, ‘tantangan dan respons’, dan sebagainya sangat tidak jelas dan tidak memadai jika harus diterapkan pada hampir seluruh keadaan. Namun yang lain lagi menganggapnya sebagai nabi, dan bukan sejarawan. Bahkan, banyak orang mungkin merasa tertarik dengan ide-ide Toynbee sebagaimana yang dirasakan oleh Peter Geyl, seorang pengritiknya yang paling keras: Seseorang mengikuti Toynbee dengan penuh suka cita, dengannya orang-orang tersebut mengikuti sebuah tali penolong buat berjalan yang sangat kuat dan luwes. Orang tersebut spontan memekik: ‘C’est magnifique, mais ce n’est pas (‘histoire’) (Marnie Hughes-Warrington, 2008: 627).

Iklan
Urban Review

Apa yang Harus Dilakukan Jika Agen Perbatasan Menuntut Akses ke Perangkat Digital Anda

oleh Katina Michael*

Bayangkan ketika Anda kembali ke Australia atau Selandia Baru setelah penerbangan jarak jauh, Anda kelelahan dan mata Anda merah. Anda baru saja mengambil kembali bagasi Anda setelah melewati imigrasi ketika Anda dihentikan oleh petugas bea cukai yang meminta Anda menyerahkan smartphone dan kata sandi Anda. Apakah Anda tahu hak-hak Anda?

Baik petugas bea cukai Australia dan Selandia Baru diizinkan secara hukum untuk mencari tidak hanya bagasi pribadi Anda, tetapi juga isi ponsel pintar, tablet, atau laptop Anda. Tidak masalah apakah Anda seorang warga negara atau pengunjung, atau apakah Anda melintasi perbatasan melalui udara, darat atau laut.

Hukum baru yang berlaku di Selandia Baru pada 1 Oktober memberikan agen perbatasan:…kekuatan untuk melakukan pencarian penuh atas instrumen yang tersimpan (termasuk kekuatan untuk meminta pengguna instrumen untuk memberikan informasi akses dan informasi atau bantuan lain yang masuk akal dan diperlukan untuk memungkinkan seseorang mengakses instrumen).

Mereka yang tidak mematuhi bisa menghadapi tuntutan dan denda sebesar lima ribu dollar Selandia Baru. Agen perbatasan memiliki kesamaan kekuatan di Australia dan tempat lain. Di Kanada, misalnya, menghalangi atau menghalangi penjaga perbatasan dapat membebani Anda 50,000 dollar Kanada atau lima tahun penjara.

TREN YANG SEDANG BERKEMBANG
Australia dan Selandia Baru saat ini tidak mempublikasikan data tentang jenis-jenis pencarian ini, tetapi ada tren peningkatan pencarian perangkat dan penyitaan di perbatasan AS. Ada lebih dari lima kali lipat peningkatan jumlah pemeriksaan perangkat elektronik antara 2015 dan 2016 – membawa jumlah total hingga 23,000 per tahun. Dalam enam bulan pertama tahun 2017, jumlah pencarian sudah hampir 15,000.

Dalam beberapa contoh ini, orang telah diancam akan ditangkap jika mereka tidak menyerahkan kata sandi. Dalam kasus di mana mereka mematuhi, orang-orang kehilangan perangkat mereka untuk waktu yang singkat, atau perangkat disita dan dikembalikan beberapa hari atau minggu kemudian.

Di atas pencarian perangkat, ada juga pencarian akun media sosial. Di tahun 2016, Amerika Serikat memperkenalkan sebuah Pertanyaan Tambahan pada formulir aplikasi visa online, meminta orang untuk membocorkan nama pengguna media sosial. Karena formulir ini biasanya diisi setelah tiket penerbangan telah dipesan, para pelancong mungkin merasa bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain berpisah dengan informasi ini daripada risiko ditolak visa, meskipun pertanyaannya bersifat opsional.

ADA SEDIKIT PENGAWASAN
Agen perbatasan mungkin memiliki alasan yang sah untuk mencari penumpang yang masuk – misalnya, jika penumpang diduga membawa barang terlarang atau produk pertanian dari luar negeri.

Tetapi mencari smartphone berbeda dengan mencari koper. Smartphone kami membawa pikiran terdalam, gambar intim, dokumen tempat kerja yang sensitif, dan pesan pribadi.

Praktek mencari perangkat elektronik di perbatasan bisa dibandingkan dengan polisi yang memiliki hak untuk mencegat komunikasi pribadi. Tetapi dalam kasus-kasus seperti di Australia, polisi membutuhkan sebuah surat perintah untuk melakukan intercept. Itu berarti ada pengawasan, dan mekanisme di tempat untuk melindungi dari pelecehan. Dan kejahatan yang dicurigai harus sebanding dengan tindakan yang diambil oleh penegak hukum.

APA YANG HARUS DILAKUKAN JIKA ITU TERJADI PADA ANDA
Jika Anda berhenti di perbatasan dan diminta untuk menyerahkan perangkat dan kata sandi Anda, pastikan Anda telah mendidik diri Anda sebelumnya tentang hak-hak Anda di negara yang Anda masukkan.

Cari tahu apakah yang ditanyakan adalah opsional atau tidak. Hanya karena seseorang berseragam meminta Anda melakukan sesuatu, itu tidak berarti Anda harus mematuhinya. Jika Anda tidak yakin tentang hak Anda, mintalah untuk berbicara dengan seorang pengacara dan jangan mengatakan apa pun yang mungkin memberatkan Anda. Tetap tenang dan jangan berdebat dengan petugas bea cukai.

Anda juga harus pintar tentang bagaimana Anda mengelola data Anda secara umum. Anda mungkin ingin mengaktifkan otentikasi dua faktor, yang memerlukan kata sandi di bagian atas kode sandi Anda. Dan menyimpan informasi sensitif di cloud pada server Eropa yang aman saat Anda bepergian, mengaksesnya hanya berdasarkan kebutuhan. Perlindungan data diambil lebih serius di Uni Eropa sebagai hasil dari yang baru-baru ini diberlakukan: Peraturan Perlindungan Data Umum.

Microsoft, apel serta Google semuanya menunjukkan bahwa penyerahan kata sandi ke salah satu aplikasi atau perangkat mereka melanggar perjanjian layanan, manajemen privasi, dan praktik keselamatan mereka. Itu tidak berarti adalah bijaksana untuk menolak mematuhi pejabat perbatasan, tetapi itu menimbulkan pertanyaan tentang posisi pemerintah menempatkan wisatawan ketika mereka meminta informasi semacam ini.

*Profesor Sekolah untuk Masa Depan Inovasi dalam Masyarakat & Sekolah Komputasi, Teknik Informatika dan Sistem Keputusan, Arizona State University

Urban Review

Sastra di Radio

Sastra Malam di Udara atau SAMARA adalah program bincang sastra tiap Kamis pukul 20.00 -23.00 WIB di Serang Gawe 102.8 FM yang dikemas secara rileks dan santai, ngobrolin sastra dalam hubungannya dengan banyak hal yang ada dan hadir dalam hidup kita. Program ini merupakan kerjasama Serang Gawe 102.8 FM dengan Forum Seniman Banten (FSB) yang diasuh oleh Sulaiman Djaya (penyair, esais, dan penulis prosa).

Samara Edisi Perempuan

Sosial Politik, Urban Review

Mahmoud Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad

Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai figur secara global karena keberaniannya untuk bersuara lantang melawan “hegemoni” dan unilateralisme politik dan ekonomi “Barat”, yang dalam hal ini digawangi Amerika, yang selama ini didiamkan. Juga tentu saja kesahajaannya. Jika kita baca biografinya, ia terlahir dari keluarga dengan ayah seorang pandai besi, mungkin semacam perajin atau bengkel, di kawasan pertanian Aradan, Iran.

Singkatnya, ia memang lahir dari sebuah tempat dan keluarga yang sederhana, dan rupa-rupanya kesederhanaan ini kemudian menjadi karakter jiwa dan kepribadiannya. Ia tak pernah menggunakan dasi ketika menjabat sebagai presiden, bahkan dalam salah-satu foto terlihat jelas bagian ketiak bajunya sobek saat berangkulan dengan koleganya dari Venezuela, dan salah-satu propertinya hanya Peugeot 504 tahun 1977, sebuah kendaraan yang tentu saja terbilang sangat buruk untuk ukuran seorang presiden.

Tapi siapa sangka, dia adalah figur yang punya nyali besar dan berani menantang arogansi unilateralisme: “Jika nuklir ini dinilai buruk dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika tekno-nuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami juga tidak boleh memakainya?” Demikian ucapnya dengan lantang dalam salah-satu pidatonya ketika Negara yang dipimpinnya di-embargo karena program nuklir-nya untuk kepentingan damai itu.

Lalu seperti apa dan bagaimana Mahmoud Ahmadinejad yang disanjung oleh para pendukung dan pencintanya dan sekaligus dicaci dan dibenci oleh mereka yang merasa terancam dengan langkah-langkah politiknya ini? Logis, jelas, dan tegas, itulah gambaran yang cukup tepat bagi seorang lelaki yang mengaku dirinya pelayan rakyat Iran ini, yang terbilang memiliki wajah yang kalem dan sejuk. Kesehariannya tentu saja sebagai seorang presiden, sebagaimana kita tahu seringkali hanya mengenakan kemeja putih atau yang berwarna terang, dibalut dengan jas, dan sesekali dengan jaket.

Dan seperti telah dikatakan, yang dalam hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh lain, ia tidak pernah memakai dasi, meskipun dalam pertemuan resmi kenegaraan sekalipun. Barangkali kita dapat menyimpulkan bahwa pakaian seseorang mencerminkan visi dan kepribadiannya, di mana dapatlah kita menebak bahwa ia tidak ingin menjadi ke-Barat-barat-an ala kaum snobis atau para epigon yang kehilangan identitas mereka.

Dan sebagaimana dapat kita lihat, meski perawakannya tidak terlalu besar, kesungguhan dan adab terpancar kuat dari wajahnya yang sejuk dan bersahaja. Tatapan matanya dalam dan membatin, sementara tangannya tampak kekar seperti pekerja kasar. Rambutnya pun tidak terlihat memakai minyak rambut, yang akan membuat rambutnya tampak klimis.

Yah, dia adalah Mahmoud Ahmadinejad, sosok yang tidak disukai Israel dan Amerika, salah-satunya karena mau berdiri tegak terhadap mereka, bahkan seringkali melontarkan pernyataan-pernyataan politik yang kontroversial dan, tentu saja, menyulut rasa kesal Amerika, Israel dan para sekutunya. Mungkin karena hal itu pula, Hugo Chavez, Presiden Venezuela, mengagumi dan menjadi sahabat kentalnya. Pada November 2010, misalnya, Ahmadinejad mengunjungi perbatasan Libanon, tidak jauh dari sarang para tentara Israel. Lautan manusia datang menyambut kedatangan Ahmadinejad yang pemberani, visioner, kontroversial, tegas, dan bersahaja ini.

Di panggung yang besar itu, ada dua mimbar yang tersedia. Yang pertama adalah mimbar anti peluru yang disediakan untuk sang presiden, dan yang kedua mimbar biasa untuk penerjemah. Ketika tiba saatnya memberikan sambutan di atas panggung, sang presiden pun naik dengan diikuti beberapa pemuda berkecamata hitam yang terlihat sibuk memperhatikan lautan manusia yang menumpahkan tepuk tangan, dan tak jarang memandang jauh ke arah jendela-jendela beberapa gedung tinggi yang berdiri di sekeliling lapangan pertemuan akbar itu.

Panitia pelaksana tersentak ketika Ahmadinejad memilih untuk berpidato di mimbar biasa. Semua orang tahu, ini adalah pilihan berisiko apalagi presiden berada di zona ‘rawan’. Namun kekhawatiran itu tidak tampak ketika Ahmadinejad berpidato dengan sangat tenang dan berhasil membakar semangat perjuangan rakyat Timur Tengah dan Iran, sekaligus mengutuk secara terbuka penjajahan serta penindasan di muka bumi ini.

Jika kembali pada sejarah Islam, kita tentu akan teringat pada Imam Husain cucu Muhammad saw dan para sahabatnya yang dengan setia dan tidak gentar sedikit pun menghadapi kepungan bala tentara prajurit Yazid bin Muawwiyah bin Abu Sufyan yang selalu haus dengan kedzaliman dan penindasan. Bagi mereka, kematian bukanlah pilihan, tapi sebuah jalan yang harus dilalui. Namun kematian akan lebih indah dengan syahid untuk sebuah keadilan.

Apakah Anda masih ingat ketika hampir semua negara malu-malu kucing, segan bahkan takluk dengan Paman Sam (Amerika), namun Mahmoud Ahmadinejad tampil tegak untuk menyarankan debat terbuka: “Saya menyarankan, kami berdebat dengan tuan Bush, Presiden Amerika Serikat, di televisi yang disiarkan langsung mengenai masalah-masalah yang terjadi, termasuk pandangan Amerika, juga Iran. Debat ini tidak boleh disensor agar publik Amerika tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Keberanian seperti ini pernah hanya dimiliki orang-orang yang akan mengukir sejarah, seperti Imam Husain sang cucu tercinta Muhammad saw sekaligus tonggak Islam dan keadilan ummat manusia, yang bersama kudanya, Zuljannah yang setia dan perkasa, dengan gagah berani meninggalkan kemah keluarganya menghampiri Pasukan Yazid yang sudah haus dengan darah. Imam Husain sekali lagi mengumandangkan seruan perdamaian, persatuan untuk kemaslahatan dan visi kemanusiaan.

Namun melihat Imam Husain hanya seorang diri, pasukan Yazid pura-pura tuli mendengar seruan dari cucu Nabi itu, dan tidak sabar lagi membantai orang yang tentangnya Rasulullah bersabda: “Husain dariku, dan aku dari Husain”. Lepas dari siapa yang menang di mega tragedi ini, Imam Husain telah mewariskan keberanian dengan darah dan sejarah untuk melawan tirani penindas kepada generasi-generasi Islam dari masa ke masa. Imam Husain adalah simbol revolusi yang dirindukan para kaum tertindas dan ditakuti oleh para imperialis yang dicontohkan oleh Yazid.

Setidak-tidaknya, Ahmadinejad telah menunjukkan kepada dunia bahwa persitiwa 10 Muharram masih ada dalam sejarah kekinian ummat manusia. Dan kita masih berada di tengah-tengah Padang Karbala, yang mau tidak mau harus memilih antara keadilan dan kezaliman. Ketika kita memilih menyuarakan keadilan, maka resiko apapun harus dihadapi dengan berani dan penuh keikhlasan.

Ahmadinejad telah membuktikan bahwa ia tidak gentar sedikitpun dengan segala kemungkinan resiko, ketika ia berani menentang unilateralisme Israel dan Amerika. Semangat prajurit Imam Husain menghadapi kaum penindas di Karbala benar-benar terpancar dari dirinya. Sesuatu yang terbilang unik karena dia bukan lahir dan besar dari militer. Singkatnya, kita dapat menyimpulkan bahwa pribadi dan integritasnya yang berani tegak berhadapan dengan politik unilateralisme itu tak ragu lagi karena ia meneladani perjuangan dan spirit Islam Husain sang cucu tercinta Nabi saw di Karbala yang memilukan itu.

Sosial Politik, Urban Review

Bizantium, dari Istanbul hingga Moskow

istanbul_turkey_1920x1200

Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang” (Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 2-3)

Byzantium adalah sebuah kota Yunani Kuno yang menurut legenda didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada tahun 667 Sebelum Masehi, dan dinamai menurut nama raja mereka: Byzas atau Byzantas. Nama Byzantium merupakan latinisasi dari nama asli kota tersebut yaitu Byzantion, yang mana kota ini kelak menjadi pusat kekaisaran Byzantium (kekaisaran Romawi menjelang dan pada abad pertengahan dengan nama Konstantinopel), yang kini bernama Istanbul.

Pada tahun 196 M, kota ini dikepung oleh pasukan Romawi dan menderita kerusakan parah. Di kala itulah Byzantium kemudian dibangun kembali oleh Septimus Severus, yang pada saat itu telah menjadi kaisar dan dengan segera memulihkan kemakmurannya.

Lokasi Byzantium menarik perhatian Kaisar Romawi Konstantinus I yang pada tahun 330 M, membangun ulang kota itu menjadi Nova Roma. Setelah meninggalnya kaisar tersebut, kota ini disebut Konstantinopel (Kota Konstantinus). Kota ini selanjutnya menjadi ibukota Kekaisaran Romawi Timur atau yang kemudian dikenal juga dengan nama Kekaisaran Byzantium.

Kombinasi dari sejarah imperialisme dan letak strategis lokasi ini yang merupakan pintu gerbang Asia dan Eropa mempengaruhi peran Konstantinopel sebagai titik penyeberangan antara dua benua Eropa dan Asia. Kota ini merupakan sebuah magnet komersial, kultural dan diplomatik. Dengan letak strategisnya itulah Konstantinopel mampu mengendalikan rute antara Asia dan Eropa, serta pelayaran dari Laut Mediterania ke Laut Hitam.

Pada tanggal 29 Mei 1453, kota ini jatuh ke tangan Bangsa Turki Ottoman dan sekali lagi menjadi ibukota dari Negara yang kuat, yakni Monarkhi Ottoman. Demikianlah, bangsa Turki kemudian menyebut kota ini dengan nama Istanbul (meskipun tidak secara resmi sampai tahun 1930) dan terus menjadi kota terbesar dari Republik Turki, sekalipun yang menjadi ibukota Turki adalah Ankara.

Di tahun 670 SM, warga kota Byzantium menjadikan bulan sabit sebagai lambang Negara mereka, sesudah sebuah kemenangan penting. Akan tetapi, asal usul bulan sabit dan bintang sebagai lambang berasal jauh dari zaman sebelumnya, yaitu zaman Babylonia dan Mesir Kuno tempat dimana dewa HORUS (Luciferian) berasal. Sekalipun demikian, Byzantium adalah Negara berpemerintahan pertama yang menggunakan bulan sabit sebagai lambang nasionalnya.

Pada tahun 330 M, Konstantinus I menambahkan bintang Perawan Maria pada bendera bulan sabit tersebut.

Bulan sabit dan bintang tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh dunia Kristen usai jatuhnya Konstantinopel (Istanbul) ke tangan Monarkhi Ottoman. Sampai sekarang bendera resmi dari Patriark Ortodoks Yerusalem adalah sebuah labarum putih, sebuah gedung gereja dengan dua menara, dan pada bagian atas terlukis sebuah bulan sabit hitam yang menghadap ke tengah dan sebuah bintang bersinar.

Ketika Konstantinopel (Istanbul) yang merupakan ibukota Imperium Romawi Timur (Bizantium) ditaklukkan Turki Utsmani itulah, ibukota Romawi Timur (Bizantium) pun dipindahkan ke Moskow, Rusia oleh pemimpin mereka. Bersamaan dengan itu pula, banyak bangunan-bangunan yang dibangun oleh Kekaisaran Bizantium diambil-alih oleh Turki Utsmani, semisal Hagia Sophia atau Aya Sofia yang megah dan indah itu.

Kala itu, alias ketika Kekaisaran Bizantium dikalahkan Turki Utsmani saat itu, Ivan III merasa mempunyai hak untuk mewarisi kekaisaran tersebut, yang mana tidak lama kemudian Ivan III menyatakan dirinya sebagai ahli waris kekaisaran Bizantium. Keadaan dan kondisi politik-ekonomi Rusia pun semakin kuat setelah Ivan IV (1535-1584) naik tahta, menggantikan Basil III (1505-1535).

Saat ini, banyak rakyat Rusia menganggap Vladimir Putin sebagai Kaisar Bizantium abad ini, di saat Erdogan bermimpi untuk menjadi Sultan Turki Utsmani abad ini juga, yang sayangnya mimpi Erdogan tersebut belum kesampaian, alih-alih Turki menjadi perpanjangan tangan politik Amerika, NATO dan Israel paska keruntuhan Turki Ottoman.

Bangsa Rum (Romawi Timur atau Bizantium) inilah yang pernah dinubuatkan dalam sejarah Islam sebagai bangsa yang akan berkoalisi dengan ummat Islam. Berdasarkan sejumlah teks, ciri yang paling mendekati bangsa Rum itu adalah mereka menganut Kristen Ortodoks alias Kristen Timur yang tidak mengalami ‘pem-Barat-an’.

Demikianlah, saat ini, terkait dengan kasus Perang Suriah, banyak yang menganggap koalisi Rusia, Iran, China, Hizbullah, Suriah, Palestina dkk saat ini di Suriah dianggap sebagai KOALISI BANGSA RUM yang pernah dinubuatkan dalam Sejarah Islam itu.

Hagia Sophia Moskow

Russian Military Parade in Moscow

Sosial Politik, Urban Review

Hitler dan Israel

Syi'ah Muslim

Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Kabar Banten, 5 Agustus 2014)

Pendudukan yang dilakukan Zionisme Israel atas tanah Palestina yang kita ketahui hingga dewasa ini sesungguhnya pada mulanya dilatarbelakangi oleh perjanjian Balfour dalam situasi Perang Dunia Pertama. Perjanjian ini dilakukan oleh Arthur James Balfour dengan Pemimpin Zionisme Internasional di Britania Raya yaitu Lord Rothchilds atau Walter Rothschilds pada tanggal 02 November 1917. Gagasan untuk pemberian tanah kepada Yahudi di Palestina ini telah disepakati oleh Inggris dan Perancis, di mana Palestina waktu itu dibawah kekuasaan Turki Usmani (Ottoman).

Perselingkuhan imperialisme dan Zionisme ini dapat terjadi karena Inggris pada waktu itu membutuhkan bantuan Amerika dalam menyudahi perang dunia pertama dimana Kaum Zionis menjanjikan untuk melobi Amerika agar bersekutu dengan Inggris pada perang dunia pertama demi melawan Jerman. Selain itu, pelobi Zionis, DR Chaim Weismann, sang ahli kimia yang menemukan Aseton guna membuat Cordite, yaitu zat pembakar yang mendorong peluru dengan teknologi yang terbilang canggih di jaman itu, menjadi tokoh kunci bagi Inggris mengalahkan Jerman dalam Perang Dunia Pertama. Dengan barter ini pulalah persetujuan bagi pembentukan negara Israel kemudian berlanjut.

Buah dari perjanjian inilah yang kemudian menjadi sumber legitimasi atau dukungan bagi terbentuknya negara Israel yang di proklamirkan oleh David Ben Gurion pada tanggal 14 Mei 1948, yang selanjutnya menjadi Perdana Menteri Pertama Israel.

Namun di sisi lain, selain orang-orang Yahudi yang mendukung berdirinya Negara Israel di Yerusalem yang kemudian disebut dengan Zionisme, Kelompok Yahudi Ortodoks Neturei Karta justru menentang pendirian negara Israel ini. Mereka berpendapat bahwa pendirian negara Israel oleh Zionisme Internasional justru mengangkangi Taurat. Mereka berpendapat bahwa bangsa Yahudi memang telah ditakdirkan terpecah, digariskan menjadi kaum diaspora dan tidak bernegara, yang pada saat bersamaan justru memiliki banyak Negara, tanpa harus mengklaim satu Negara eksclusif, yang bagi Yahudi Neturei Karta takdir ini malah merupakan anugerah bagi keturunan Israil yang sejati: “Tidak di mana-mana, tapi ada di mana-mana”. Mereka, kaum Yahudi Neturei Karta ini, menuding Talmud yang dipegang oleh Zionisme Internasional adalah Kitab yang telah mengalami penyimpangan, heretisme, dan mengadopsi paganisme yang bertentangan dengan Judaisme sejati. Singkatnya, mencemari Kitab Taurat yang diturunkan oleh Tuhan kepada Musa As.

Maka bila diamati dari latar belakang tersebut, pendirian Negara Israel oleh Zionisme Internasional merupakan tindakan gegabah, bahkan mendapat tentangan dari orang-orang Yahudi sejati itu sendiri.

Dengan berdirinya Negara Israel yang mencaplok Palestina, terjadi Eksodus besar-besaran sebagian bangsa Yahudi yang pro dengan janji dan propaganda Zionisme ke Palestina dan mengusir bangsa Palestina keluar dari Negaranya. Pada awalnya, yaitu di tahun 1945, hanya sedikit saja tanah Palestina yang didiami oleh Israel. Setelah Deklarasi berdirinya negara Israel, kemudian terjadi eksodus besar-besaran dari bangsa Yahudi ke Palestina, yang dalam waktu singkat saja sejak Proklamasi berdirinya Negara Israel 14 Mei 1948, sudah hampir setengah tanah Palestina dikuasai.

Dan sampai dengan saat ini sampai dengan tahun 2000, Israel telah menguasai hampir seluruh tanah Palestina, membatasinya dan dibuatkan pemukiman bagi bangsa Israel. Sehingga bangsa Palestina sendiri hampir kehilangan sama sekali tanah tumpah darahnya dalam posisi terkepung oleh Israel. Paling tidak lebih dari 5 juta orang Palestina terusir dari negaranya dan mengungsi ke negara sekitar, yaitu Syria, Lebanon, Mesir, Jordan, Iran, Bahrain, dan lain-lain. Bangsa Palestina yang terusir kemudian menjadi pengungsi, dan yang masih tinggal di Palestina tentu saja dalam posisi tidak juga kalah mengenaskan, namun dalam keadaan selalu merasa terancam penggusuran pada saat bersamaan.

Dapat dikatakan, klaim atas Palestina adalah upaya kolaborasi politik Inggris dan Perancis dengan Zionisme Internasional, di mana Inggris membutuhkan sekutu AS dan tekhnologi mesiu demi memenangkan perang dunia pertama atas Jerman. Sedangkan sebagian Bangsa Yahudi, utamanya yang berada di kawasan Eropa yang terancam dengan politik Hitler, membutuhkan dukungan klaim tanah yang dapat membuat mereka terlindung. Dalam hal ini, secara tidak langsung, Adolf Hitler sendiri-lah yang menjadi rahim kelahiran gerakan politk, serta kebangkitan militer Zionisme Internasional.

Dan seperti kita tahu sekarang ini, segala upaya mendamaikan tanah Palestina yang kemudian diikuti dengan pengakuan terhadap keberadaan Negara Israel dapat dikatakan senantiasa mengalami kebuntuan, sebuah resiko yang tak terbayangkan sebelumnya dari perselingkuhan Imperialisme Eropa dengan inisiatif sejumlah para pendiri Zionisme.

Dan selanjutnya, Zionisme Internasional pun terus mengembangkan kampanyenya dalam melunakkan sikap dunia internasional terhadap isu ini. Terutama dengan isu Holocaust yang dilakukan oleh Nazi terhadap bangsa Yahudi guna menarik simpati atas nasib bangsa Yahudi dan melunakkan sikap dunia internasional, yang pada akhirnya tujuan dari itu semua adalah pengakuan atas keberadaan negara Israel, yang terus-menerus dieksposkan dan disebarkan, semisal dengan dan melalui film-film Hollywood, seperti film Anne Frank, Schidler’s Lists dan yang sejenisnya, dan lain sebagainya, di mana pada saat bersamaan, kita jadi lupa dengan penderitaan Palestina yang justru lebih parah ketimbang peristiwa Holocaust yang dilakukan Nazi itu sendiri.

Hikmah, Seni dan Sastra, Sosial Politik, Urban Review

Merdeka Ala Romo Mangun

Esai Tentang Romo MangunOleh Sulaiman Djaya (Sumber: Banten Raya, 16 Agustus 2014)

Sebagai seorang penulis, arsitek, budayawan, sekaligus rohaniwan, YB Mangunwijaya merupakan sosok penulis yang prolifik sekaligus figur inter-(multi) disipliner. Secara pribadi, Romo Mangun adalah salah-satu penulis Indonesia yang merupakan tempat saya belajar (membaca), tentu saja melalui tulisan-tulisannya yang humoris itu. Tentu ada beberapa alasan kenapa saya belajar darinya. Contohnya, saya justru menemukan spirit Islam saya melalui sikap dan tulisannya yang mempraksiskan agama dan spirit religius keteladanan. Romo Mangun, demikian akrab disebut dan disapa, menjadikan praksis agama sebagai rahmat bagi mereka yang hidup, membela mereka yang lemah dan tertindas. Sebuah spirit dan praksis religius yang juga tentu saja saya dapatkan pada diri Rasulullah, Imam Ali, dan Imam Husain, yang dalam bahasa kerennya adalah agama yang membebaskan dan mencerahkan, yang kalau dalam bahasa para mahasiswa/i” disebut “theology of liberation” alias teologi pembebasan atau yang dalam bahasa Romo Mangun sendiri disebut “teologi pemerdekaan”.

Dalam tulisan-tulisan dan sikap Romo Mangun, saya menemukan dan mendapatkan kesepadanan nilai dan spirit apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa yang diam di hadapan penindasan dan kezaliman, maka sama saja bekerjasama dengan penindasan dan kezaliman”, yang edisi lengkapnya dapat kita baca dalam Nahjul Balaghah. Dan juga perkataan Imam Ali lainnya, “Jadikanlah dirimu sebagai timbangan dalam hubunganmu dengan orang lain, dan cintailah orang lain itu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri”.

Akan tetapi, mengingat banyak dan beragamnya minat dan konsen tulisan-tulisan dan karya-karya Romo Mangun, tulisan ini tak hendak mengeksplorasi atau mengkespose spirit dan praksis religius Romo Mangun secara khusus, namun lebih pada upaya untuk mencoba menziarahi visi dan ideologi estetik Romo Mangun sebagai penulis dan sastrawan, meski spirit dan praksis religius dan minat lain Romo Mangun lainnya dalam tulisan ini pada akhirnya akan terbicarakan juga dengan sendirinya sebagai pelengkap dan cermin pinjaman untuk meneropong “dunia” tulisan-tulisan Romo Mangun. Tak lain karena spirit dan praksis religius Romo Mangun itu sendiri merupakan kosmos dan wawasannya yang akan membentuknya sebagai seorang penulis dan pemikir kebudayaan, juga erudisinya dalam isu-isu yang lain.

Sebagaimana ia ungkapkan dalam salah-satu esainya berjudul “Novel Saya dan Lakon Wayang” (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal. 54-58) itu, Romo Mangun secara gamblang menegaskan visi dan posisi estetiknya yang yang berusaha menjembatani dan melampaui dua ideologi besar yang populer dalam sastra Indonesia: Lekra dan Manikebu, meski ia tak menyebut dua ideologi estetik itu secara eksplisit. Dalam esainya itu Romo Mangun menegaskan diri bahwa ikhtiarnya dalam menulis prosa tidak ingin jatuh pada gagrak “sastra pop” namun pada saat yang sama berusaha menjadikan realitas kehidupan keseharian, terutama dunia dan kehidupan wong cilik, sebagai bahan dan materi tulisan prosa-prosanya, bahkan juga esai-esainya. Visi dan pilihannya itu, seperti telah disebutkan, tak terlepas dari spirit religius Romo Mangun sendiri, terlebih posisinya sebagai seorang imam diosesan Katolik, yang berusaha “membumikan” ajaran dan nilai-nilai keagamaan dalam praktek emansipatif, pencerahan, dan pembebasan masyarakat, yang dalam istilah theology of liberation lazim disebut sebagai teologi yang berpihak kepada mereka yang tertindas dan terpinggirkan.

Sastra dan Wayang
Dalam esai berjudul Novel Saya dan Wayang yang menerang-jelaskan ihwal visi estetik dan proses kreatifnya itu Romo Mangun berusaha mengkomunikasikan spirit, visi, dan bentuk prosa-prosanya yang banyak mengambil khazanah dan wawasan dari wayang. Sebagai seorang yang lahir, hidup, dan akrab dengan kebudayaan Jawa, Romo Mangun adalah penulis yang berhasil, minimal dalam beberapa novel-nya semisal Burung-burung Manyar, menuliskan dan menarasikan relevansi dan universalisme nilai-nilai humanistik kebudayaan lokal bangsa sendiri. Ia sendiri dengan terus-terang menyatakan dalam esainya tersebut bahwa lakon dan tokoh prosa-prosanya tak lain “nasion Indonesia” dengan jalan menggambarkan dan menarasikan wong cilik, meski dalam kritik dan ulasan B. Rahmanto (Y.B. Mangunwijaya: Dunia dan Karyanya, Grasindo 2001, hal. 87) wong cilik atau masyarakat bawahnya novel-novelnya Romo Mangun bukanlah para tokoh utama, tetapi lebih merupakan tokoh-tokoh tambahan. Tetapi menurut saya hal itu tidak berlaku bagi sejumlah cerita pendek yang ditulisnya yang memang menjadikan orang-orang kelas bawah, seperti pengamen, pelacur, gembel, badut, gelandangan dan lainnya di kelas yang sama, sebagai tokoh-tokoh utama sejumlah cerpennya, seperti dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Rumah Bambu (KPG, Mei 2006). Dan bila dilihat dari segi visi estetik, pilihannya pada wayang sebagai khazanah dan wawasan kosmologis prosa-prosanya, sebagaimana ia nyatakan langsung dengan lantang dan blak-blakkan, lebih karena menginginkan prosa-prosanya sebagai sastra adilihung, seni yang berpamor:

“Kita tahu bahwa dalam penghayatan pertunjukkan wayang kulit cara melihat siluet-siluet serba asbtrak itu diharapkan terasa pemaknaannya yang lebih dalam daripada bila orang melihat boneka-boneka wayang secara konkret wadak. Berkat pencahayaan blencong boneka wayang yang terbuat dari kulit dihadirkan sebagai bayangan, dengan kata lain bebas dari kewadakannya, alias dirohanikan. Bukan wujud, bentuk, warna dan cerita wadaknya yang punya arti dan dicari, akan tetapi pemaknaan serta pelambangannya. Itulah mengapa lakon yang dipilihnya pun tidak sembarangan. Selalu disesuaikan dengan peristiwa yang sedang dirayakan: kelahiran bayi atau pernikahan, hari ulang tahun kemerdekaan dst. Demikianlah wayang, kita tahu semua, lebih dari cuma pertunjukan, melainkan sebenarnya suatu upacara ibadat sakral yang memiliki pamor rohani” (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal.55).

Tampak jelaslah kepada kita, wayang yang diterangkan, diimajinasikan, dan diangankan Romo Mangun tersebut adalah wayang dalam mulanya yang ideal dan klasik, bukan yang dekaden seperti beberapa pentas dan pegelaran wayang belakangan ini. Dan ia mengkritik keras wayang yang telah dekaden tersebut:

“Kini pertunjukan wayang kulit sayang sekali sudah dibuat dekaden, hanya dilihat sebagai pertunjukan hiburan belaka, serba dagelan bahkan pemenuhan nafsu-nafsu haus sensasi dan sering pelampiasan porno, pop komersial belaka dan dangkal karena unsur sakralnya sudah dilempar keluar. Keris tanpa pamor. Hanya besi runcing saja” (Ibid).

Beberapa kali, dalam esainya itu, Romo Mangun menekankan “pelambangan” dalam wayang yang menurutnya sepadan dengan simbolisme dalam sastra, yang kemudian ia perbandingkan dengan arsitektur Borobudur:

“Setiap lakon pasti mempunyai makna serta pelambangannya. Namanya saja wayang, yang tentulah punya arti umum: bayangan, ialah bayangan yang menunjuk kepada sesuatu yang meng-atas-i cerita. Dalam seni tari ada istilah greget. Dalam pertunjukan wayang kulit, rakyat duduk di sisi dalang, pesinden, para penabuh gamelan, dan boneka-boneka wayang kulit yang biasanya tampak dilukis beraneka-warna dan emas perada; jadi wayang dalam bentuk wadaknya yang konkret (rupa-datu: bagian bawah candi Borobudur). Sedangkan tuan rumah dan para tamu terhormat di balik kelir melihat wayang dalam bentuk bayangan-bayangan siluet saja pada kain kelir, tanpa warna-warni serta bentuknya yang konkret (a-rupa-datu: bagian teratas candi Borobudur)” (Ibid, h. 54).

Memadukan kosmos wayang dan lanskap visi estetik sastra yang digali dari kosmos wayang tersebut dalam pandangan Romo Mangun tak lain karena baik wayang maupun sastra menampilkan sejumlah tokoh, cerita, dan kosmos atau dunia cerita yang pada dasarnya tidak berbeda, hingga dalam konteks ini baik wayang atau pun prosa, terutama novel, sama-sama menyuguhkan kisah dan adegan yang melibatkan tokoh-tokoh dalam suatu konteks pengisahan dan “kosmos”, yang pada saat bersamaan baik kisah dan adegan dalam wayang dan kisah serta adegan dalam prosa (novel) merupakan cermin moral dan refleksi pemahaman dan penghayatan bathin yang dipinjam sebagai pelambangan hidup dan dunia tempat kita berada ini. Namun, tentu saja, unsur dan spirit moral dan reflektif prosa-prosa Romo Mangun tidak serta-merta terjebak atau jatuh dalam “moralisme” yang dangkal dan artifisial alias verbal semata. Seperti dapat kita baca dalam beberapa novelnya dan sejumlah cerita pendeknya itu, prosa-prosa Romo Mangun lebih merupakan dunia-dunia dan kisahan-kisahan yang menyentil kita untuk peka, bersimpati, dan sekaligus berpihak kepada mereka yang kalah dan tidak beruntung, “yang bernasib sunyi” dan yang tertindas. Meskipun demikian, prosa-prosanya tidak kehilangan humor di saat berkisah dan bercerita tentang sebuah jaman, dunia dan tokoh-tokoh yang acapkali tragis. Suasana humor yang rileks sekaligus satiris, komedis, dan parodis itu, misalnya, dapat kita baca dan kita rasakan dalam “Pohon-pohon Sesawi” (KPG 2006).