Sastra Bangsa-Bangsa

Otobiografi Annemarie Schimmel (Islamolog dari Jerman)

Pada suatu masa, hiduplah seorang gadis kecil di Erfurt, sebuah kota kecil nan indah di Jerman tengah. Sebuah kota yang dihiasi katedral-katedral bergaya Gothik dan sekaligus pusat industri holtikultura. Mistikus besar abad pertengahan, Meister Eckhart, pernah berkhotbah di sini; Luther pernah menunaikan sumpahnya untuk menjadi biarawan dan menghabiskan hidupnya beberapa tahun di balik dinding biara Augustine. Goethe sang sastrawan besar Jerman pun pernah bertemu dengan Napoleon di Erfurt karena jarak kota ini dari pusat kesusastraan Jerman, Weimar dan Jena, hanya beberapa jam ditempuh dengan berkuda atau berkereta.

Gadis kecil itu amat menyukai membaca dan menggambar, namun sama sekali tak menyukai kegiatan di luar ruangan. Karena ia adalah satu-satunya anak, pun lahir agak lambat, kedua orangtuanya selalu menaunginya dengan segenap kasih sayang dan penjagaan. Ayahnya yang berasal dari kota lain, juga di Jerman tengah tak jauh dari Erzgebirge, adalah seorang pegawai di Kantor Pos dan Telegraf; sementara ibunya yang dibesarkan di bagian utara negeri itu, tak jauh dari perbatasan Belanda, adalah putri dari keluarga yang selama berabad-abad hidup dari bisnis pelayaran. Ayah gadis cilik itu adalah seorang lelaki yang memiliki pembawaan lembut dan baik hati. Kesukaannya terhadap bacaan-bacaan tasawuf dari berbagai agama seakan melengkapi kecenderungan beragama istrinya yang dibesarkan dalam tradisi keagamaan kaku khas Kristen Protestan Jerman Utara, yang berjalin dengan kemampuan meramal—sebuah kelebihan yang tidak jarang dimiliki oleh mereka yang hidup berdampingan dengan laut yang sifatnya sering tak terduga.

Gadis cilik itu senang menghabiskan liburan musim panasnya di desa neneknya, mendengarkan kisah-kisah mengenai keluarga mereka yang dengan gagah berani menantang gelombang besar antara Cape Horn ke India. Atau tentang kakeknya yang kehilangan perahu kecilnya di dekat Rio Grande del Sul sesudah lebih dari seratus hari berlayar dengan membawa barang-barang berharga. Semua cerita ini selalu lekat dengan keluarganya. Belakangan, adik ibunya menulis novel dan sejumlah naskah sandiwara radio mengenai kehidupan masyarakat tepi laut. Kedua orangtuanya menyukai puisi. Ayahnya sering membacakan puisi-puisi Jerman dan, belakangan, puisi klasik Prancis untuk keluarga kecilnya pada hari Minggu sore.

Si gadis kecil itu memiliki sebuah buku dongeng tentang peri-peri terbitan tahun 1827. Pada usia tujuh tahun ia mulai senang memeriksa kesalahan-kesalahan ejaan yang ia temui di buku itu: sebuah metode ortografis kuno yang kerap digunakan sebelum bahasa Jerman mengalami reformasi tahun 1900. Kebiasaan ini ternyata menjadi semacam persiapan untuk meneliti ribuan lembar naskah yang harus ia baca di kelak kemudian hari.

Di dalam buku itu ada satu cerita yang nyaris dihafalnya di luar kepala –sebuah cerita yang tak ada duanya dan tak dijumpainya dalam semua buku yang ia baca sepanjang hidupnya. Dongeng itu berjudul “Padmanaba dan Hasan”, yang menceritakan kunjungan seorang suci India (Padmanaba) ke Damaskus, di mana ia mengenalkan seorang bocah Arab (Hasan) kepada misteri kehidupan batin dan dunia bawah tanah, tempat di mana peti jenazah raja yang mulia diletakkan di tengah hamparan permata. Di atas peti itu terdapat tulisan “Orang-orang tertidur, dan ketika mati baru mereka terjaga.” Sepuluh tahun kemudian, ketika gadis kecil itu berusia 18 tahun, ia mengetahui bahwa kata-kata itu adalah sebuah kalimat yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad: sosok yang teramat dicintai oleh para sufi besar di dunia Islam.

Gadis kecil itu menyukai sekolah, terutama pelajaran bahasa seperti Prancis dan Latin. Ia pernah mengejutkan guru sekolah menengahnya dengan esai pertamanya yang berjudul “Surat untuk Bonekaku” yang bercerita mengenai pemberontakan Boxer di China. Di dalam esai itu ia mengutip beberapa karakter asing dari sebuah buku terbitan British Bible Society berjudul God’s Wordin Many Languages. Seperti ayahnya, ia juga menyukai puisi. Salah satu penyair favoritnya adalah Friedrich Rickert (1788-1866), seorang penyair Orientalis terkemuka yang karya-karyanya dalam bahasa Arab dan Persia sangat memukau gadis itu.

Cita-cita terbesar gadis itu adalah belajar lebih banyak mengenai kebudayaan Timur. Kekuatan mimpinya itulah barangkali yang mempertemukannya dengan guru bahasa Arabnya yang pertama, ketika ia berusia 15 tahun. Baru seminggu ia langsung tergila-gila dengan pelajarannya, karena sang guru tidak hanya mengajarinya tata-bahasa Arab tetapi juga sejarah dan kebudayaan Islam. Bagi gadis itu, seminggu berarti dari Kamis ke Kamis, hari ketika dia pergi ke kelas bahasa Arab, meskipun ia menyimpan semua minat yang menyala itu dalam hati saja. Siapa di antara teman sekelasnya yang akan mengerti, atau siapa di antara keluarga dan kenalannya yang akan menghargai seorang gadis yang mempelajari bahasa Semit pada waktu fanatisme politik dan nasionalisme begitu memekatkan udara?

Gadis itu kemudian melompati dua kelas dan lulus sekolah menengah pada usia 16 tahun. Sayang sekali untuk itu dia harus melahap materi tujuh tahun bahasa Inggris hanya dalam waktu enam bulan, dan itu membuat nilai bahasa Inggrisnya terendah di antara nilai-nilai cemerlang pelajaran lainnya. Tapi mungkin ini alasan mengapa Tuhan yang Maha Baik menganggap perlu mengirim gadis itu ke Harvard kelak untuk memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Sebelum masuk ke universitas, si gadis harus menjalani Arbeitsdienst, masa kerja wajib di mana seorang ditempatkan di pedesaan untuk bekerja sebagai pembantu dan pekerja pertanian di wilayah miskin tanpa dibayar. Di situlah saya belajar hal-hal penting seperti membersihkan kandang babi dan memanen bit seraya bersusah payah mempertahankan bahasa Arab yang pernah saya pelajari. Tekad yang membara dan terus menggenggam erat idealisme, barangkali itu yang membuat saya menjadi satu-satunya gadis yang tidak langsung didaftarkan sebagai anggota partai Nazi –sesuatu yang sangat lumrah dijalani ketika seseorang mencapai usia 18 tahun.

Di dalam kamp kerja wajib itulah kami mendengar kabar pecahnya Perang Dunia Kedua. Peristiwa itu menjadi alasan bagi pemimpin kami untuk dengan bangga mengumumkan bahwa kami bisa tinggal lebih lama dari waktu enam bulan yang ditetapkan untuk melayani herrlicher Führer. Hormat yang tidak pernah ada untuk Führer membuat saya tak punya alasan untuk bergembira mendengar berita ini.

Ayah saya dikirim ke Berlin pada hari pertama perang pecah. Tak lama kemudian ibu mendapat kabar bahwa saya bisa dikeluarkan dari Arbeitsdienst sekiranya saya mau mempelajari ilmu-ilmu pasti. Mengapa tidak? Lagi pula, saya menyukai fisika dan membayangkan segera setelah itu saya bisa mempelajari ilmu Islam, terutama mineralogi. Setelah tiba di Berlin dan mendaftar ke Fakultas Seni dan Sains, saya melanjutkan pelajaran bahasa Arab dan mengambil kursus Seni Islam. Pada akhir trimester pertama (setiap semester ketika itu terpaksa diperpendek), pada Natal 1939, Profesor Kühnel, guru paling senior dalam bidang Seni Islam, sambil tersenyum mendorong saya untuk melupakan sains dan berkonsentrasi pada ilmu-ilmu Islam. Beliau juga berjanji akan mengangkat saya sebagai asistennya begitu studi doktoral saya selesai. Namun ini semua tak lebih dari impian. Setelah berhasil meraih gelar Ph.D pada November 1941, saya bergabung dengan Departemen Luar Negeri sebagai penerjemah. Hanya saja karena museum bukan hal penting pada masa perang, tugas saya dialihkan ke angkatan bersenjata. Tapi 40 tahun kemudian, mimpi pertama itu benar-benar terwujud, ketika saya diundang untuk bergabung dengan Metropolitan Museum sebagai pekerja paruh waktu melakukan apa yang dulu diinginkan Kühnel, yakni bekerja di bidang kaligrafi Islam, bidang yang saya ajarkan di Harvard selama beberapa tahun.

Belajar di Berlin pada masa perang –setidaknya untuk saya– adalah seperti hidup di pengasingan yang jauh dari realitas politik. Para professor saya adalah ahli-ahli terkemuka di bidangnya masing-masing. Salah satu yang paling penting untuk saya adalah seorang perempuan professor, Annemarie von Gabain (w. 1993). Saya sangat berutang budi kepadanya karena telah memperkenalkan kepada bidang Turkologi. Saya menganggapnya sebagai kakak sendiri. Kalau Richard Hartmann mengajarkan kepada kami mengenai pendekatan sejarah-kritis untuk mendalami sejarah dan kebudayaan Turki-Arab dan Turki-Usmani, maka Hans Heinrich Schaeder, si jenius, yang membawa kami ke pantai-pantai terjauh sejarah dan kebudayaan secara umum. Ketika mengetahui mengenai minat saya kepada Maulana Rumi (yang diawali dari membaca terjemahan bebas Rückfert atas karya-karya Rumi), beliau menyarankan saya membaca Selected Poems from the Divan-I Shams-i Tabriz karya R.A Nicholson (yang saya salin dengan tangan), dan studi-studi Louis Massignon tentang sufi-martir Al-Hallaj (yang dihukum mati di Baghdad pada tahun 922).

Tiga bulan kemudian, tepatnya pada Natal 1940, saya memberinya kejutan dengan terjemahan karya Rumi dan Hallaj yang sampai saat ini saya anggap masih sangat berharga. Setelah perang usai, Schaeder memperkenalkan saya kepada puisi-puisi T.S Eliot, dan alih-alih melakukan kunjungan singkat ke Göttingen untuk menghadiri forum-forum diskusi mengenai puisi Persia, kami membaca Four Quartets yang baru saja tiba di mejanya. Sebagai kelanjutannya ia menyarankan saya membaca John Donne, yang puisi-puisinya sangat memukau saya. Sedemikian terpukaunya sehingga 20 tahun kemudian saya menerbitkan koleksi puisi tersebut dalam bahasa Jerman. Gaya puisi John Donne sangat mirip dengan puisi-puisi mistik Persia yang amat saya gandrungi.

Baik Schaeder maupun Kühnel menikah dengan perempuan-perempuan baik hati yang mendorong saya menekuni bidang ini. Mungkin ini karena sebagai perempuan saya tidak pernah merasa menjadi orang asing di dunia akademis, di mana perempuan memainkan peran yang sama seperti laki-laki.

Enam semester waktu belajar adalah periode yang sangat tenang. Setiap tiba waktu libur kami harus bekerja di pabrik. Sepuluh jam per-hari. Saya sering pulang dengan tangan berdarah untuk meneruskan menulis disertasi mengenai sejarah Mamluk. Saya belajar banyak dari beratnya kehidupan para perempuan di pabrik. Saya juga bersyukur atas penerimaan mereka terhadap perempuan asing yang kehadirannya memastikan beberapa orang di antara mereka bisa mengambil cuti dengan tetap dibayar. Setelah menyelesaikan masa studi, saya tidak hanya bekerja di Kementerian Luar Negeri, namun juga menyiapkan indeks mengenai sejarah Arab abad ke-16 setebal 1500 halaman yang kemudian diterbitkan di Istanbul ketika perang masih berkecamuk.

Awan kelam peperangan semakin mencekam, bom-bom semakin sering diledakkan. Saya ingat pernah berjalan kaki selama empat jam melalui jalan-jalan yang dipenuhi kobaran api untuk mencari seorang kolega, menyediakan tempat berteduh bagi teman-teman yang kehilangan segalanya, dan terus membaca situasi politik yang kian memburuk melalui tumpukan telegram yang harus kami terjemahkan di kantor. Namun, di sela-sela waktu yang ada, saya tetap setia dengan bahan-bahan mengenai dinasti Mamluk dan menulis Habilitationsschrift. Saya menyerahkan tulisan itu pada 1 April 1945, tepat pada hari kantor kami harus pindah ke Jerman tengah untuk alasan keamanan.

Di sebuah desa berciri khas Sakson kami ditawan oleh tentara Amerika dan terpaksa mendekam selama seminggu di sebuah penjara bawah tanah sebelum dikirim ke Marburg. Pada saat itu pihak-pihak yang bertikai sepakat melakukan gencatan senjata. Selanjutnya kami menjadi tawanan yang dipekerjakan di asrama-asrama pelajar. Itu adalah hal terbaik yang bisa kami harapkan terjadi: setidaknya sekarang ada tempat berteduh dan makanan, meskipun sangat ketat dijatah. Segera setelah itu kami membentuk semacam universitas di pengungsian, belajar dan mengajar untuk menyesuaikan diri dengan komunitas kecil yang sebenarnya aneh itu.

Suatu hari seorang tamu penting datang mengunjungi kami. Ia adalah Friedrich Heiler, seorang ahli sejarah agama yang terkenal dan Dekan Fakultas Seni di Universitas Marburg yang kabarnya akan segera dibuka. Ia berbicara mengenai Nathan Söderblom, Ketua Gerakan Ekumenis, Uskup Agung Swedia, dan juga seorang sejarawan agama (w. 1931). Meskipun kesan saya bahwa pembicara yang sangat terpelajar itu tidak memperhatikan kehadiran saya selama diskusi, namun ternyata dua bulan kemudian, ketika masa kerja di situ akan segera berakhir, ia mengundang saya datang ke rumahnya. Apakah saya bersedia untuk tinggal di Marburg? Mereka memerlukan seorang professor dalam bidang bahasa Arab dan studi-studi keislaman, menggantikan professor aktif yang ternyata adalah pengikut Nazi militan. Saya bisa dibilang sama sekali tidak siap. Dan hanya karena saya membawa satu kopian Habilitationsschrift di kopor saya –serta beberapa naskah berbahasa Persia dan Arab– saya akhirnya setuju. Akhirnya setelah tiga bulan tinggal bersama bibi saya di Jerman utara, saya menyampaikan pidato pelantikan saya pada 12 Januari 1946, ketika usia saya belum genap 24 tahun.

Peristiwa itu bisa dibilang sebuah momen penting di kota sekecil Marburg. Satu-satunya perempuan di fakultas, Luise Berthold, seorang ahli Jerman Abad Pertengahan, menyambut saya dengan mengatakan, “Putriku sayang, ingatlah satu hal –lelaki adalah musuh kita!”

Meskipun demikian, saya sangat menikmati waktu-waktu mengajar di sana. Tak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana bahagianya para guru dan murid selama tahun-tahun tersebut. Tak ada lagi perang, hanya ada kebebasan untuk berbicara, membaca buku yang sebelumnya tidak pernah kami dengar sama sekali, menyimak kuliah-kuliah mencerahkan mengenai kembalinya kaum imigran, dan meskipun perut kami hampir tak pernah kenyang, kami terus “makan” dan minum dari mata air ilmu pengetahuan. Setiap kelas –apakah itu bahasa Arab, Persia atau Turki, atau kelas pengantar kesusastraan dan seni Islam– menjanjikan petualangan, termasuk karena beberapa mahasiswa saya pasca perang itu lebih senior dibanding saya. Selain itu saya pun semakin erat berhubungan dengan Heiler dan bekerja sama dengannya untuk bidang studi sejarah agama, membantu di kelasnya untuk materi-materi keislaman dan belajar banyak mengenai pendekatan fenomenologi terhadap agama, Sejarah Gereja dan pelik-melik yang menyertai perkembangannya. Saya juga menikmati persekutuan doa Jerman yang biasa diadakan Heiler setiap hari Minggu di sebuah kapel kecil di rumahnya.

Tapi masa itu sekaligus adalah masa ketika kami harus belajar mengenai berbagai trauma yang berasal dari masa kanak-kanak maupun sesudahnya. Trauma yang terlalu perih untuk diakui, tapi sekaligus hampir tak pernah disadari.

Diterjemahkan dari Bahasa Ingris oleh Nurul Agustina. Foto: Persepolis, Iran.

Iklan
Sastra Bangsa-Bangsa

Kisah Selir Sultan Turki

Sultan-sultan Turki memiliki tradisi tidak menikah, tapi memelihara para selir untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka. Hingga akhirnya tradisi itu dihentikan oleh Suleiman Agung.

Sebagaimana ditulis para sejarahwan dan para pujangga, termasuk oleh penulis Turki sendiri, semisal Orhan Pamuk, Turki Utsmani dikenal sebagai Kekaisaran Fasis terbesar dalam sejarah. Imperium itu acapkali membawa perempuan-perempuan dari ragam negeri secara paksa atau dibeli ‘dengan paksa’ untuk dibawa ke Istanbul (Konstantinopel). Sementara itu, banyak pemuda Kristen direkrut, yang seringkali dicuri dan diambil paksa dari keluarga mereka, untuk dijadikan tentara dan prajurit oleh Turki Utsmani, justru untuk memerangi orang-orang Kristen.

Singkat kata, Turki Utsmani telah menancapkan luka yang teramat dalam bagi bangsa-bangsa Bizantium, Bizantium yang dulu kala dipuji dan dijadikan sekutu oleh Nabi Muhammad saw. Dan inilah salah-satu kisah sisi lain Turki Utsmani.

Alexandra Anastasia Lisowska adalah gadis kecil yang suka mengejar kupu-kupu bersayap beludru ketika ayahnya memimpin misa harian di gereja. Pada masa kecilnya itu, ia sangat terpesona dengan cerita Cleopatra, wanita cantik nan tangguh, yang sanggup meluluhkan hati dua lelaki penguasa, Alexander dan Mark Anthony. Alexandra tumbuh dengan cita-cita yang muluk: menjadi seperti Cleopatra yang dikaguminya sejak kecil itu.

Namun sebuah peristiwa tak terduga tiba-tiba terjadi di Rohatyn, di tenggara lviv, barat Ukraina. Alexa yang tenggelam dalam keputusasaan dikejutkan oleh kehadiran segerombolan lelaki di rumahnya. Ketika membuka mata, ia sudah berada di ruangan tertutup. Ia diculik.

Pada masa itu, Imperium Turki Utsmani yang menguasai hampir seluruh bekas kekuasaan Romawi dan Bizantium mengadopsi tradisi harem dalam istana yang dihuni oleh selir-selir cantik yang mengelilingi tahta sang penguasa. Pola ini dimanfaatkan oleh beberapa kalangan dengan menculik para wanita untuk dijadikan pemuas atau dijual sebagai budak.

Keberuntungan ternyata berpihak pada Alexa. Saat ia dipamerkan untuk dijual, seorang kasim (laki-laki yang sudah dikebiri dan bekerja di istana) melihat potensi dan kecantikan gadis itu. Transaksi terjadi dan Alexa pun dibawa ke istana untuk mengawali hidup barunya sebagai odalik (pembantu selir).

Harem yang dihuni oleh ratusan wanita cantik dan para kasim itu tidak bebas dari konflik. Sebagian dari mereka saling menjatuhkan secara diam-diam. Tidak ada ketulusan atau kawan sejati.

Kala itu Alexa menjadi odalik (pembantu selir) Aysel Zge, wanita yang menjadi iqbal (selir favorit) Sultan. Meskipun bagi Alexa yang polos, persahabatan itu penuh arti, Aysel Zge hanya memanfaatkan kepolosan Alexa demi menjegal siapa pun yang mendekati Sultan.

Untung saja Alexa bertemu dengan kasim yang baik, Samiye, yang banyak membatu Alexa untuk beradaptasi dengan kondisi di istana. Samiye menjelaskan hal-hal apa saja yang harus dilakukan Alexa. Menurut kebiasaan, kasim yang membantu selir menjadi orang penting di istana, turut kecipratan keuntungan alias posisinya menjadi naik.

Suatu hari, karena kepandaiannya, Alexa akhirnya berhasil sampai ke atas ranjang Sultan, dan dari sanalah ia memulai petualangan barunya “menjadi perempuan kesayangan”. Alexa pun mendapat nama baru yang dihadiahkan Sultan kepadanya, HUREM ROXELANE, yang artinya adalah WANITA YANG TERTAWA. Konon Hurem aka Alexa dapat membuat baginda selalu merasa nyaman dan tertawa setiap kali bersamanya.

Sayangnya banyak orang di istana yang ingin sang Hurem Roxelane itu lenyap. Apalagi ketika ia mulai mendapat perhatian sang sultan. Salah satunya adalah MAHIDEVRAN GULBEHAR, seorang haseki (Selir yang melahirkan putra). Menggunakan kuasanya, Mahidevran meminta bantuan kiral berk-kizlar agha (pemimpin kasim hitam), Ugur Yildrim-Kapi agha (pemimpin kasim putih), Ibrahim Pasha, sahabat Sultan Suleiman, sekaligus wazir agung.

Namun, Hurem (Alexa), gadis yang kemudian menjadi cerdik dan tak mudah putus asa itu berkembang sebagai perempuan yang selalu belajar dengan baik untuk membawa dirinya. Ia menggunakan seluruh akalnya untuk mencapai impiannya menjadi Cleopatra. Kecantikannya pun sanggup membuat Sultan Suleiman tak berpaling. Hingga satu hal, pencapaian terbesar seorang selir, berhasil ia dapatkan. Pencapaiannya ini mengukuhkan posisinya di depan banyak orang dan membuatnya tak lagi bisa disentuh (dijahati orang).

Singkat kata, mimpinya telah terwujud.

Posisi Hurem Roxelane semakin kuat ketika ia melahirkan 6 orang anak, 5 putra dan 1 putri diantaranya: Mehmed, Selim ll, Mihrimah Sultan, Beyazid, Abdullah, Cihangir. Dan hal yang terbilang luar biasa dari Hurem Roxelane adalah satu diantara anak anaknya itu merupakan tokoh penting dunia, yaitu Selim ll, yang akan menggantikan posisi sang ayah, Sultan Suleiman.

Suleiman yang Agung dikenal sebagai sultan yang menduduki tampuk pemerintahan pada masa kejayaan Kesultanan Utsmani. Ia menjadi sultan untuk menggantikan ayahnya, Selim Khan, pada tahun 1520 dan berkuasa sampai saat kematiannya, 5 September 1566. Suleiman yang Agung juga dikenal sebagai pendobrak tradisi Turki Utsmani yang menyatakan bahwa seorang sultan tidak bisa menikah. Perempuan yang berhasil memaksa Suleiman untuk mengikatkan diri dalam pernikahan adalah Roxelana atau Russelana.

Sebelum Russelana, Suleiman hanya mempunyai satu perempuan yang dijadikan sebagai haseki atau selir, yaitu Gülbehar. Gülbehar dikenal sebagai perempuan paling cantik dalam sejarah Turki Utsmani. Perempuan berambut cokelat dan bermata hijau ini memberikan Suleiman seorang putra, Mustafa. Mustafa adalah Shahzade, satu-satunya anak yang akan menjadi sultan berikutnya. Sebuah kenyataan yang tidak merusuhkan hati Suleiman mengingat sejarah Utsmani yang berlumuran darah. Saat Suleiman diangkat menjadi sultan, ayahnya terpaksa membunuh semua saudara lelakinya agar tidak mendapatkan batu sandungan dari dalam keluarga.

Posisi Gülbehar (dalam bahasa Turki berarti Mawar Musim Semi) tidak tergoyahkan hingga Russelana mulai menebarkan ambisinya. Mantan budak itu berhasil menyingkirkan Gülbehar sebagai perempuan kesayangan Suleiman setelah terjadi pertengkaran di antara mereka. Russelana akan memberikan Suleiman lebih dari satu anak, tiga anak laki-laki yaitu Selim, Bayezid, si cacat Cehangir, dan Mithrimah, seorang anak perempuan. Tapi tetap saja, Mustafa yang akan menjadi sultan berikutnya, bukan salah satu dari ketiga anak laki-laki Russelana. Bila Mustafa yang benar-benar menjadi sultan berikutnya, Russelana percaya nasibnya dan nasib anak-anaknya akan berada di ujung tanduk.

Harem (Harem Sang Sultan) adalah novel historis karya Colin Falconer, yang mengangkat kehidupan Suleiman yang Agung, kisah cintanya dengan Gülbehar dan Russelana, serta kehidupan anak-anaknya.

Konflik dimulai saat Hürrem dimunculkan. Ia seorang gadis Ukraina yang cantik, berkulit pucat, bermata hijau, dan berambut merah. Setelah menjadi salah satu penghuni harem, ia terperangkap dalam kebosanan. Sultan tetap mempertahankan Gülbehar sebagai haseki, dan itu berarti tidak ada tempat bagi para gadis harem lainnya, termasuk Hürrem. Maka, ia pun bertekad mengubah kondisinya saat itu, mencari jalan masuk ke dalam kamar tidur Suleiman. Sejak tekadnya mengeras, ia berubah menjadi perempuan jahat dan licik yang tidak ada bandingannya.

Di tempat di mana tidak ada seorang pun laki-laki diperkenan masuk kecuali sultan sendiri, Hürrem melihat peluang untuk memanfaatkan Kapi Aga, si Kasim Kulit Putih. Ia segera melancarkan rayuan sekaligus ancaman yang membuat Kapi Aga terpojok dan mau tidak mau harus berusaha mendukung ambisi Hürrem. Jalan Hürrem menuju kamar tidur Suleiman pun terbuka lebar. Valide Sultan (Ibu dari Sultan) berhasil dihasut untuk mengecam kehidupan Suleiman dengan Gülbehar yang hanya mempunyai satu anak.

Jika dipanggil sultan untuk melayaninya di tempat tidur, secara otomatis kehidupan si gadis harem akan mengalami perubahan. Ia akan mendapatkan kedamaian dan tunjangan hidup sendiri sebagai iqbal. Hanya saja, menjadi iqbal bukanlah tujuan akhir Hürrem. Ketika Suleiman tidak lagi mengundangnya ke tempat tidur, Hürrem memutuskan segera bertindak. Siapa lagi yang dipilihnya untuk membuat dirinya hamil selain Kapi Aga? Hürrem pun hamil, dan menjadi kadin kedua.

Sebagai perempuan pilihan sultan, Hürrem memberikan Suleiman pengalaman seksual yang selalu menggairahkan. Selanjutnya, di atas tempat tidur, mereka tidak hanya bercinta tapi juga membicarakan masalah politik dan berbagai kebijakan Suleiman. Hubungan Hürrem dan Suleiman menjadi jauh lebih kuat dibandingkan hubungan Gülbehar dengan Suleiman. Apalagi setelah Hürrem berhasil membuat Suleiman murka pada Gülbehar dan akhirnya mengasingkan perempuan cantik itu.

Konflik tidak pernah surut karena pemicunya tidak pernah berdiam diri. Setelah menjadi satu-satunya kadin, Hürrem tetap tidak merasa puas. Ia masih punya dua obsesi: menjadikan dirinya istri Suleiman dan salah satu anak kandungnya sebagai calon sultan. Obsesi yang pertama tidak terlalu sukar untuk direalisasikan berkat tabiatnya yang licik dan manipulatif. Tapi obsesi kedua bukan hal yang gampang dicapai. Tidak ada jalan lain yang harus ditempuh selain mengusahakan kematian Mustafa. Padahal Mustafa seorang pangeran yang baik hati dan bijaksana. Mustafa telah bertekad menghindari pertumpahan darah anggota keluarga bila diangkat menjadi sultan.

Sementara itu, di Venesia, Italia, Abbas Mahsouf, pemuda Moor yang tampan, jatuh cinta pada pandangan pertama tatkala melihat Julia Gonzaga di sebuah gereja. Cintanya tidak mendapatkan respons positif dari Antonio, ayah Julia, yang hendak menikahkan putrinya dengan laki-laki uzur. Ludovici Gambetto, sahabat Abbas, menjadi saksi bagaimana cinta Abbas berkembang menjadi sesuatu yang membahayakan hidupnya sendiri. Abbas diculik oleh orang sewaan Antonio, dirusak wajahnya, dikebiri, kemudian dijual sebagai budak di Istanbul.

Lama setelah kejadian itu, Julia pun menikahi Serena, laki-laki renta yang diinginkan Antonio. Sekian lamanya hidup bersama, Julia tetap seorang perawan yang tidak pernah ingin disentuh suaminya. Saat Serena pergi ke Siprus dan Julia diminta menyusulnya, kapal yang ditumpangi Julia diserang bajak laut Turki. Julia ditangkap, dibawa ke perdagangan budak, kemudian dijual ke dalam harem Suleiman yang Agung. Di sana, Julia mengalami gegar budaya begitu menyaksikan ketelanjangan perempuan dan lesbianisme menjadi sesuatu yang lumrah dipertontonkan. Selanjutnya, sebelum takdir membawanya ke atas tempat tidur Suleiman di Istana Topkapi, ia terlibat hubungan sejenis dengan gadis harem lain, Sirhane dari Suriah.

Diam-diam ada seseorang yang sedang mengamati gerak-gerik Julia di dalam harem. Orang itu tidak ingin Julia melayani Suleiman di atas tempat tidurnya. Ia bertekad mengeluarkan Julia dari harem sekaligus menjauhkannya dari persaingan para gadis harem. Keinginannya seolah-olah tidak akan terwujud manakala sultan akhirnya memilih Julia untuk menghangatkan tempat tidurnya.

Atas campur tangan Hürrem yang tidak ingin disaingi perempuan manapun, Julia gagal memuaskan Suleiman. Gairah sang sultan untuk menyetubuhi gadis Italia itu gembos. Marah karena kegagalan ereksinya, Suleiman mengeluarkan perintah untuk menceburkan Julia ke dalam Selat Bosphorus. Orang yang diam-diam mengamati gerak-gerik Julia dengan saksama melihat kesempatan untuk memberikan Julia kebebasan. Tanpa disadarinya, Hürrem mengetahui semua yang dilakukannya, dan menjadikan rahasia orang itu sebagai senjata fatal yang memaksanya tunduk pada setiap perintah Hürrem .

Tentu saja, Harem tidak sekadar memunculkan konflik dan intrik asmara seputar kehidupan Suleiman yang Agung. Masih ada tokoh-tokoh lain yang dimunculkan untuk membuat plot kisah dalam novel ini semakin rumit dan menarik untuk diikuti tanpa peduli pada ketebalan bukunya. Semakin lama, seiring perguliran plot, Suleiman yang Agung digambarkan mulai merasa jenuh dengan perannya sebagai pemimpin perang dengan alasan eksistensi Utsmani dan nama Allah. Hürrem pun kian ganas menyingkirkan semua hambatan yang merintangi obsesinya menjadi Valide Sultan.

Pembunuhan demi pembunuhan terjadi dan darah membasahi sejarah kehidupan Suleiman yang Agung, termasuk darah yang mengalir dari pembuluh darah anak-anaknya. Diantara semua kerunyaman yang terjadi, Abbas Mahsouf dipaksa kembali ke masa lalunya ketika dendam kesumat dalam dadanya mendapatkan kesempatan dituntaskan dengan kemunculan Antonio Gonzaga di Istanbul. Apakah Abbas akan mendapatkan kesempatan untuk memiliki gadis yang sangat dicintainya dalam keadaannya sebagai kasim? Ataukah nasib mempunyai rencananya sendiri? Tahun-tahun telah berlalu, Abbas yang muda dan tampan telah tiada. Ia menjelma manusia tambun yang terjebak dalam panasnya konspirasi dan intrik politik Turki Utsmani.

Sastra Bangsa-Bangsa

Semesta Karya Sastra Charles Dickens

Jika diibaratkan sebagai dunia atau semesta, isi kepala Charles Dickens adalah semesta atau dunia yang tak pernah usang dan membosankan. Bukti nyatanya adalah apa yang tertuang dari sana – serangkaian karya sastra yang berkisah tentang banyak hal, mulai dari cinta, persahabatan, kekeluargaan, dan masalah sosial-politik yang meski ditulis di konteks jamannya, namun tetap relevan bagi dunia kita saat ini.

Dari sekian banyak novel yang ditulis Charles Dickens, selalu ada satu topik yang menjadi benang merah, yaitu jurang sosial, sehingga dapat dibilang karya-karya Dickens memang refleksi dari kehidupan nyata keseharian. Tak jarang dalam hal demikian, Dickens menyisipkan pesan moral, tetapi tak apa selagi pesan moral tersebut bergunan bagi visi pedagogis. Contoh pesan moral ketika kita membaca novel-novel Charles Dickens adalah bahwa kebahagiaan tidak selamanya berasal dari kekayaan, tetapi dari bagaimana cara memandang hidup itu sendiri.

A TALE OF TWO CITIES
Novel Dickens yang berkisah dari kota ke kota ini, dari Prancis hingga Inggris, tidak berbicara tentang wisata indah, namun sejumlah getir. Berkisah tentang Dokter Manette yang dibawa pulang oleh Tuan Jarvis Lorry setelah 18 tahun dipenjara di Bastille atas kesalahan yang tidak dia lakukan, ‘A Tale of Two Cities’ menggambarkan bagaimana tertindasnya rakyat sipil, dan semena-menanya hukum pada mereka.

Meskipun sekadar fiksi, tetapi apa yang disajikan ‘A Tale of Two Cities’ adalah juga kenyataan kehidupan keseharian sebuah bangsa. Mulai dari penguasa kejam dan sosiopat, hingga penyerbuan penjara Bastille oleh rakyat dengan semangat kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Hari penyerbuan tersebut lantas menjadi awal dari revolusi Prancis yang masih diperingati sampai sekarang sebagai La Fête Nationale atau Perayaan Nasional. Konon, novelnya ini terinspirasi buku French Revolution-nya Thomas Carlyle: sejarawan, filsuf, kritikus, dan juga sastrawan dari Skotlandia.

A CHRISTMAS CAROL
Sebagai sebuah karya prosa, novel ‘A Christmas Carol’ sudah pernah diadaptasi menjadi film animasi berjudul sama pada tahun 2009. ‘A Christmas Carol’ berkisah tentang seorang lelaki tua yang kaya dan kikir bernama Ebenezer Scrooge. Setelah kematian rekan kerjanya, Jacob Marley, Scrooge dihampiri oleh berbagai hantu di malam hari, yang bukannya mengerikan, justru menyadarkannya akan sikap culas dan anti-sosialnya. Bukan hanya itu, Scrooge pun teringat kembali akan masa kecilnya yang kurang perhatian dari orang-orang sekitar.

OLIVER TWIST
Masih tentang kritik sosial, novel Charles Dickens yang lain, Oliver Twist, berkisah tentang seorang anak yatim piatu bernama Oliver yang mengalami kepahitan hidup sejak diadopsi oleh seorang keluarga kejam, berkenalan dengan para penjahat di London, dan pada akhirnya hidup bahagia setelah melewati setiap cobaan hidup dengan penuh kesabaran. Oliver Twist berlatarkan kota London pada masa Revolusi Industri, yang digambarkan penuh dengan ketidakadilan akibat curamnya kesenjangan sosial di periode tersebut.

GREAT EXPECTATIONS
Seperti judulnya, ‘Great Expectations’ menceritakan seorang anak lelaki yatim piatu bernama Pip yang tinggal bersama kakak iparnya. Pip mencintai Estella, seorang anak gadis berperilaku kasar yang ia temui di rumah Mrs. Havisham. Sejak mengenal Estella, Pip ingin sekali menjadi seorang gentleman, alias lelaki sejati. Dalam perjalanannya menjadi lelaki sejati, ada banyak hal yang harus Pip temui. Semuanya membuat Pip menyadari berbagai macam kenyataan, mulai dari masa lalu Estella, hingga bagaimana karakter lelaki sejati sesungguhnya.

MARTIN CHUZZELWIT
Dibandingkan novel-novel sebelumnya, para pembaca akan menemukan bahwa ‘Martin Chuzzelwit’ memiliki narasi lebih ringan dan nuansa yang lebih riang. Berkisah tentang Martin Chuzzelwit, seorang anak egois dan keras kepala, cucu dari seorang kakek kaya raya yang mewarisinya dua sifat tersebut. Pada ‘Martin Chuzzelwit’, terasa kental sindiran-sindiran tajam Charles Dickens terhadap keluarga-keluarga dengan kekayaan melimpah. Ada anak-anak yang berusaha menjilat ayahnya agar mendapat harta warisan, dan ada juga hubungan kurang harmonis antar anggota keluarga.

DAVID COPPERFIELD
Mungkin kalau mendengar nama di atas, umat manusia di planet Bumi akan teringat pada seorang pesulap populer. Sayang, novel Charles Dickens berikut ini, bukan bercerita tentang sosok pesulap tersebut. Berlatar tempat di Blunderstone, novel ini menceritakan hidup seorang penulis, bernama David Copperfield, mulai dari kelahirannya, penderitaannya setelah sang ibu menikah lagi, hingga pertemuannya dengan bibi yang baik hati dan berperan penting dalam kesuksesannya.

DOMBEY AND SON
Pada ‘Dombey and Son’, Charles Dickens menyajikan stereotype orang kaya di masa pra-industri, yang digambarkan sombong dan lebih menyukai anak lelaki ketimbang anak perempuan. Paul Dombey, saudagar kaya pemilik perusahaan pelayaran, sangat bahagia saat istrinya melahirkan anak lelaki. Meski sebelumnya Paul sudah memiliki anak perempuan bernama Florence, tetapi dia membenci anak itu karena dia selalu mengharapkan anak laki-laki. Rupanya, beberapa tahun kemudian sang anak lelaki meninggal dunia, dan nantinya, setelah Paul menua dan jatuh miskin, justru Florence yang akan merawatnya.

LITTLE DORRIT
Novel yang sempat diangkat menjadi mini seri ini berkisah tentang Amy alias Little Dorrit, seorang penjahit miskin yang bekerja demi menghidupi dirinya sendiri dan ayahnya, yang dipenjara akibat tidak mampu membayar utang. Amy bekerja pada Mrs. Clennam, yang memiliki anak lelaki bernama Arthur dan rupanya menyimpan rahasia besar. Pada pertengahan novel, hidup semakin memihak Amy karena ternyata ayahnya berhak mewarisi kekayaan besar. Namun kekayaan yang tiba-tiba itu justru membuatnya tidak bahagia.

Sebagai seorang sastrawan besar, Charles Dickens juga memiliki bacaan yang simpatik dan benar tentang Islam di saat tak sedikit kaum muslim malah tersesat dalam memahami sejarah figur-figur suci agama mereka, semisal bacaan Dickens tentang kepahlawanan Husain bin Ali di Karbala: “Jika Husain berperang karena hasrat dunia, maka aku tak mengerti mengapa saudaranya, istrinya, dan anak-anaknya menemaninya. Husain berkorban murni demi Islam.”

Sastra Bangsa-Bangsa

Thomas Carlyle

A loving heart is the beginning of all knowledge (Hati yang penuh belas kasih adalah awalan dari semua ilmu pengetahuan), demikian dinyatakan Thomas Carlyle.

Thomas Carlyle merupakan seorang filsuf, penulis satire, esais, sejarawan, pengajar, dan jurnalis Skotlandia. Ia hidup di era Victorian dan banyak memberikan pidato-pidato soal keadaan-keadaan di jaman tersebut.

Pidato terkenal yang pernah ia berikan berjudul On Heroes, Hero-Worship, and The Heroic in History. Karya-karya tersebut banyak menjelaskan bahwa sejarah dibuat oleh tindakan dan usaha yang dilakukan orang-orang hebat, seperti Muhammad saw, Ali bin Abi Thalib, dan Husain bin Ali.

“Kemenangan Husain adalah ketika ia tidak menghiraukan jumlah pasukannya yang sedikit,” demikian pernyataannya ketika ia mempelajari Revolusi Husain bin Ali di Karbala. Sedangkan tentang Muhammad saw, Carlyle menyatakan,

“Betapa menakjubkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Badui) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade. Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia. Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa masih ada saja orang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.

Saudaraku, apakah kalian pernah menyaksikan, dalam sejarah, seorang pendusta yang mampu menyampaikan sebuah agama yang sedemikian kokoh dan menyebarkannya ke seluruh dunia? Saya yakin bahwa manusia harus bergerak sesuai dengan UU dan logika. Jika tidak maka ia tidak akan mungkin mencapai tujuannya. Mustahil bahwa manusia besar ini adalah seorang pembohong. Karena pada kenyataannya, kebenaran dan kejujuran adalah dasar semua kerjanya dan fondasi semua sifat utamanya. Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya.”

Thomas Carlyle menulis buku The French Revolution: A History. Buku ini kemudian mengilhami seorang penulis besar, Charles Dickens untuk menulis buku A Tale of Two Cities pada tahun 1859. Novel Sartor Resartus tahun 1836 disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik di abad ke 19.

Tak hanya soal pidato, tulisan, dan sastra, Thomas Carlyle juga terkenal akan Carlyle Circle, sebuah metode untuk menyelesaikan persamaan kuadrat pada matematika.

KEHIDUPAN
Thomas Carlyle lahir di Acclefechan, Dumfriesshire. Ayahnya adalah seorang penganut Calvinist yang sangat setia. Ia selalu memberikan ilmu keagamaan pada Thomas Carlyle dari sejak kecil. Ajaran Calvinist inilah yang akhirnya menjadi pengaruh besar dalam filosofi Thomas Carlyle.

Pendidikan awal seorang Thomas Carlyle tidaklah mulus. Ayahnya pernah memasukkan Thomas Carlyle ke Annan Academy. Di sana, ia mengalami bullying dan penyiksaan oleh siswa lainnya. Ia kemudian keluar dari sekolah tersebut setelah 3 tahun menjalani sekolah.

Ia kemudian menjadi seorang mahasiswa di University of Edinburgh pada tahun 1809 hingga lulus. Setelah lulus, Thomas Carlyle memiliki banyak tujuan dalam hidupnya.

Di saat ia ingin bekerja di kementerian, jalan hidup mengarahkannya menjadi seorang guru matematika di kota Annan dan Kirkcardy.

Akhirnya, ia malah menekuni pekerjaannya sebagai seorang penulis. Ia menjadi seorang esais dan ahli Sastra Jerman. Ia juga menerjemahkan novel Wilhelm Meisters Lehrjahre karya Johann Wolfgang von Goethe.

Tahun 1821, Thomas Carlyle semakin yakin akan karir penulisannya. Ia kemudian mempublikasikan karya pertamanya Cruthers and Johnson. Ia juga mempublikasikan esainya Signs of the Times and Characteristics yang mendiskusikan mengenai budaya modern.

Thomas Carlyle membuat gebrakan besar dengan mempublikasikan novel Sartor Resartus tahun 1836. Melalui novel ini, ia turut membangun aliran Trancendentalism bersama dengan Ralph Waldo Emerson di Amerika, penyair yang juga banyak menimba khazanah Timur terutama Persia dan Islam.

Tahun 1837, Thomas Carlyle mempublikasikan bukunya yang lain The French Revolution: A History. Buku ini sangat terkenal hingga Charles Dickens menjadikan buku ini sebagai inspirasi utama dalam penulisan novel A Tale of Two Cities.

Thomas Carlyle semakin mengukuhkan dirinya sebagai seorang tokoh sastra pada Era Victoria melalui buku On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History (1841) dan Past and Present (1843).

Tahun 1849, esainya yang berjudul Occasional Discourse on the Negro Question menuai banyak kontroversi.

Kebanyakan tulisan Thomas Carlyle sungguh memukau banyak orang. Pujian mengalir deras atas karya-karyanya tersebut. Selain itu, kegemarannya dalam beramal untuk orang miskin juga menjadi satu aspek yang dipuji oleh orang di sekitarnya.

Sastra Bangsa-Bangsa

Hidup dan Karya Penyair dan Filsuf Tagore: Raksasa Sastra dari Asia (Bagian Kedua)

“Semua yang telah kucapai
Telah dibawa keatas perahu emas
Tinggal aku yang berada di belakang.”

CERITA PENDEK
Masa empat tahun Tagore dari 1891 hingga 1895, dikenal sebagai periode “Sadhana” (salah satu nama majalah yang diterbitkan oleh Tagore). Pada masa ini merupakan masa paling produktif dalam berkarya, menghasilkan lebih dari setengah karya yang dikemas dalam tiga volume Galpaguchchha, yang merupakan kumpulan karya cerita, memuat delapan puluh empat karya.

Sebagaimana biasa ceritanya merupakan cerminan Tagore atas kehidupan dan lingkungannya, dituangkan dalam ide-ide modern dan potongan potongan cerita yang dirajut dalam pikiran sebagai sebuah cerita utuh dan mengesankan. Tagore umumnya menghubungkan satu cerita dengan cerita sebelumnya dengan kekuatan dari kegembiraan dan keriangan yang spontan; karakteristik ini terkoneksi dengan sangat baik sekali dengan kehidupan sehari hari Tagore di Patisar, Shajadpur dan Shilaidaha saat dia mengelola tanah milik keluarganya yang sangat luas.

Di sana, ia melindungi kehidupan masyarakat miskin; yang dengan cara ini Tagore menganalisa kehidupan mereka dengan memasuki kehidupan mereka lebih dalam. Dalam karya “The Fruitseller from Kabul”, Tagore berbicara sebagai penduduk kota dan novelis yang juga menjadi pedagang dari Afganistan. Ia mencoba untuk menyelami rasa-memiliki oleh para penduduk urban di India yang lama terjebak dalam keduniawian dan dibatasi oleh kemelaratan, memberi impian dalam kehidupan yang lain yang dibatasi oleh jarak dan kejamnya alam pegunungan.

“Di suatu pagi di musim gugur, pada tahun ketika raja tua datang dan pergi untuk menaklukan; dan aku, yang tak pernah beranjak dari pojokan di Kolkata, membiarkan pikiranku mengembara ke seluruh dunia. Dalam setiap persinggahan di negara lain, hatiku tak pernah berubah…takkan jatuh untuk merajut jaringan mimpi: pegunungan, celah, hutan…”.

Banyak cerita Galpaguchchha yang lainnya ditulis pada periode “Sabuj Patra” (1914-1917; juga merupakan nama majalah Tagore yang lainnya).

Golpoguchchho (Kumpulan cerita) merupakan kesusastraan fiksi Bengali yang paling populer, dijadikan sebagai subyek dalam banyak karya film dan seni teater yang meraih sukses. Film Charulata garapan Satyajit Ray, diangkat dari karya novela yang penuh kontroversi, Nastanirh (The Broken Nest). Dalam Atithi (yang juga diangkat ke film), seorang Brahmana muda belia, Tarapada, berbagi tumpangan perahu dengan seorang zamindar.

Anak muda ini menyatakan bahwa dia dulu kabur dari rumah, dan kemudian mengembara berkeliling. Merasa kasihan zamindar tersebut kemudian mengadopsi secara mngejutkan, menjodohkan dengan anak gadisnya sendiri. Yang mana, pada malam sebelum acara pernikahan, Tarapada kabur dari rumah zamindar. Strir Patra (“The Letter from the Wife”) mngisahkan akan emansipasi wanita, yang pada masa itu sangat jarang diangkat dalam kesusastraan Bengali.

Sang tokoh wanita, Mrinal, istri dari seorang pria kalangan menengah yang menganut pola patriarki — (ayah memiliki kekuasaan penuh dalam keluarga) menulis surat ketika ia melakukan perjalanan (bagian dari keseluruhan cerita). Yang menceritakan kekurangan dalam hidup dan perjuangannya; dia akhirnya mengambil keputusan untuk tidak kembali kepada suaminya, dengan sebuah pernyataan “Amio bachbo. Ei bachlum” (“And I shall live. Here, I live”).

Dalam karya Haimanti, menggambarkan tentang perkawinan dalam Hindu yang penuh dengan kemalangan dan penderitaan dalam perkawinan wanita Bengali, “penyakit” bermuka dua dalam kehidupan kelas menengah di India, dan bagaimana Haimanti, seorang wanita muda yang sensitif, harus mengorbankan hidupnya.

Di bangian akhir, Tagore menyerang secara langsung adat Hindu yang meng-agungkan Sita melakukan pengorbanan diri sebagai menentramkan keraguan dari suaminya, Rama. Tagore juga mengungkap ketegangan Hindu-Muslim dalam karya Musalmani Didi, yang dalam beragam cara pandang adalah pewujudan dari sari pati sisi kemanusiaan Tagore.

Dalam karya yang lainnya, Darpaharan mewedarkan kesadaran diri, bercerita tentang anak muda yang punya kemauan dan ambisi dalam dunia kesusastraan. Yang meskipun dia mencintai istrinya, ia berharap bisa meniti karier kesusastraannya.

PUISI
Sajak dan puisi karya Tagore — sangat bervariasi dalam gaya, dari gaya klasik formal hingga gaya jenaka, penuh khayalan maupun riang gembira — meneruskan aliran yang didirikan pujangga Vaiṣṇava (Bujangga Waisnawa) pada abad 15-16.

Tagore juga mendapat pengaruh unsur kebatinan dari para Rsi-Pujangga — termasuk dari Vyasa — yang menulis Upanisad, Bhakta-Sufi mistik Kabir dan Pamprasad. Malahan karya puisinya menjadi penuh inovasi dan dewasa setelah ia membongkar musik tradisional Bengali, termasuk lagu balada yang dinyanyikan oleh para penyanyi tradisional dari Bāul khususnya penyair Lālan Śāh.

Ini — yang digali kembali dan kemudian dipopulerkan oleh Tagore menyerupai kidung pujian Kartābhajā (populer pada abad 19) yang menekankan pada Ketuhanan dan berontak pada keyakinan dan kehidupan sosial ortodok.

Pada masa menetap di Shelidah, karya puisinya menekankan pada kekuatan lirik, berbicara lewat maner manus (man within the heart) atau meditasi dalam jivan devata (Tuhan di dalam jiwa). Figur ini kemudian membentuk hubungan dengan ketuhanan melalui permohonan kepada semesta alam dan keadaan emosional yang saling memengaruhi dalam drama kehidupan umat manusia.

Tagore menggunakan beberapa teknik dalam puisi Bhānusiṃha (yang menguraikan rentetan romantisme antara Radha dan Krishna), dimana ia berulangkali melakukan perbaikan-perbaikan melalui pembelajaran selama kurun waktu tujuh puluh tahun. Belakangan, Tagore memberi respon atas kemunculan dari modernisasi dan realisme dalam kesusastraan Bengali dengan menulis karya eksperimental pada tahun 1930-an.

Contoh karyanya seperti: Africa and Camalia. Ia juga kadang menulis puisi memakai Shadu Bhasha (salah satu dialek Bahasa Sanskerta di Bengala); kemudian belakangan ia mulai menggunakan Cholti Bhasha (dialek yang lebih populer). Karya lain yang patut dicatat adalah Manasi, Sonar Tori (Golden Boat), Balaka (Wild Geese judulnya merupakan metafora untuk perpindahan jiwa), dan Purobi.

Sonar Tori merupakan karya puisi yang paling terkenal. “শূন্য নদীর তীরে রহিনু পড়ি / যাহা ছিল লয়ে গেল সোনার তরী” (“Shunno nodir tire rohinu poŗi / Jaha chhilo loe gêlo shonar tori” semua yang telah kucapai, telah dibawa keatas perahu emas — tinggal aku yang berada di belakang). Bagaimanapun juga, Gitanjali (bahasa Bengali: গীতাঞ্জলি) merupakan karya yang paling dikenal, membawa Tagore meraih Penghargaan Nobel dalam Sastra.

Pandangan politik Tagore sangat kompleks, di mana ia mengkritik penjajahan bangsa-bangsa Eropa, serta mendukung kaum nasionalis India. Namun, ia juga mengkritik gerakan Swadeshi yang dilakukan oleh para pemimpin gerakan nasionalis.

Di lain pihak ia memberikan tekanan atas peningkatan taraf pendidikan masyarakat dan bantuan atas diri sendiri bagi bangsa India. Ia juga menghimbau bagi rakyat India untuk menerima bahwa “tidak ada yang perlu dipertanyakan atas revolusi, tetapi pendidikan yang kokoh dan penuh tujuan”. Namun banyak orang yang tidak menyukai pemikirannya ini.

Pada tahun 1916, beberapa orang India mencoba melakukan pembunuhan atas dirinya saat ia berada di sebuah hotel di San Francisco, Amerika Serikat. Namun mereka urung melakukan pembunuhan, setelah mereka mendengarkan dan adu argumentasi dengan Tagore.

Tagore juga membuat banyak lagu-lagu perjuangan dan pujian atas gerakan kemerdekaan India. Tagore juga mengembalikan gelar kehormatan yang diberikan oleh Kerajaan Inggris, sebagai bentuk protes atas pembantaian massal di Amritsar pada 1919 yang dikenal dengan Jallianwala Bagh Massacre.

Dua buah komposisi musik Tagore yang berbau politik adalah Chitto Jetha Bhayshunyo (“Where the Mind is Without Fear”) dan Ekla Chalo Re (If They Answer Not to Thy Call, Walk Alone), mendapatkan perhatian dari masyarakat luas, yang mana belakangan disukai dan dipuji oleh Gandhi. Walaupun hubungannya dengan Gandhi mengalami pasang surut, Tagore merupakan kunci keberhasilan dalam memperbaiki hubungan Gandhi-Ambedkar yang berselisih, bersangkutan dengan pemilahan bagi kaum kasta rendahan dalam pemilihan umum.

Tagore juga mengkritik pendidikan ortodok, menyerang dalam karya cerpen “The Parrot’s Training”, di mana seekor burung — yang akhirnya mati — dikurung dalam sangkar oleh pengajarnya dan dijejali dengan pelajaran dari buku. Pandangan ini membawa Tagore — saat ia mengunjungi Santa Barbara, California pada 11 Oktober 1917 —: untuk memikirkan sebuah pola universitas baru, berhasrat untuk “menjadikan [ashram miliknya] di Shantiniketan sebagai benang penghubung antara India dengan dunia….pusat pendidikan umat manusia…..yang melintasi batas bangsa dan geografis. Sekolah — yang kemudian ia namakan Visva-Bharati; dilakukan peletakan batu pertamanya pada 22 Desember 1918; dan pembukaannya pada 22 Desember 1921.

Di sini ia menerapkan stuktur pedagogi brahmacharya dengan menyediakan para guru guna memberikan bimbingan individu bagi para siswa. Tagore bekerja keras untuk mendapatkan dana dan staf pengajar bagi sekolah ini, termasuk mengontribusikan semua hadiah yang didapatkan dari Penghargaan Nobel yang ia menangkan. Tugasnya sebagai mentor dan pembantu di Shantiniketan membuat ia sibuk; di pagi hari, ia mengajar di kelas dan menyusun buku pelajaran bagi para siswa di siang dan malam harinya. Tagore juga menggalang dana dari Eropa dan Amerika Serikat, antara tahun 1919 hingga 1921.

WARISAN SANG MAESTRO
Dampak yang dapat dirasakan pasca kematian Tagore adalah dilaksanakan berbagai festival di seluruh dunia sebagai bentuk penghormatan terhadapnya — sebagai contoh adalah festival tahunan Kabipranam (Ulang Tahun Tagore) di Benggala, Festival Tagore yang digelar setiap tahun di Urbana, Illinois, Amerika Serikat, Rabindra Path Parikrama yaitu sebuah acara napak tilas perjalanan suci dari Kolkatta menuju Shantiniketan, dan acara pembacaan kembali karya-karya sastra Tagore dalam perayaan-perayaan tahunan.

Warisan budaya ini terlihat begitu gamblang dalam kehidupan bangsa Bengali, yang menyentuh dalam segenap aspek kehidupan, dari bahasa dan seni hingga sejarah dan kehidupan politik; tentunya juga Amartya Sen, yang juga penerima Anugerah Nobel, memberikan catatan, bahkan bagi masyarakat Bengali modern, Tagore adalah tokoh besar, seorang pemikir kontemporer yang amat sangat relevan. Tagore mengumpulkan tulisan berbahasa Bengali — Rabīndra Racanāvalī, 1939 — yang merupakan salah satu harta kekayaan budaya Bengali yang amat berharga, di mana Tagore sendiri diproklamirkan sebagai “pujangga terhebat yang dilahirkan India”. Ia juga sangat dikenal di Eropa, Amerika Utara dan Asia Timur.

Ia adalah kunci dalam pendirian Dartington Hall School, sebuah institusi pendidikan progresif; di Jepang, ia memberi pengaruh pada Yasunari Kawabata, seorang penerima penghargaan Nobel Sastra juga. Karya-karya Tagore diterjemahkan kedalam banyak bahasa-bahasa di Eropa — sebuah proses yang diawali oleh pakar Indologi berkebangsaan Ceko, Vincent Slesny dan penerima penghargaan Nobel Sastra dari Perancis, André Gide — termasuk juga dalam bahasa Rusia, Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol dan yang lainnya. Di Amerika Serikat, Tagore populer saat memberikan kuliah (khususnya pada masa 1916-1917) yang banyak dihadiri pengunjung.

Karya Tagore yang diterjemahkan kedalam bahasa Spanyol membawa pengaruh bagi figur-figur sastra Spanyol, termasuk di antaranya Pablo Neruda dan Gabriela Mistral, sastrawan Meksiko, Octavio Paz dan sastrawan berkebangsaan Spanyol José Ortega y Gasset, Zenobia Camprubí dan Juan Ramón Jiménez. Antara tahun 1914 dan 1922, pasangan suami istri Jiménez-Camprubí menterjemahkan tidak kurang dari duapuluh dua buah karya Tagore dari bahasa Inggris ke bahasa Spanyol.

Pengaruh Tagore, tidak hanya berkisar di Eropa dan Amerika, di Indonesia pun Tagore dikenal dan di kota Surakarta, salah satu ruas jalan diberi nama sang maestro. Pengaruh-pengaruh Tagore dalam dunia pendidikan, banyak diadopsi oleh para pejuang kemanusiaan, termasuk salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

Shantiniketan menjadi sumber inspirasi dia dalam mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Selain itu, beranjak dari karya besarnya pula, taman pendidikan Shantiniketan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam sistem pelaksanaan pendidikan di Pondok Gontor selain Universitas Al-Azhar di Kairo (yang didirikan oleh Jauhar As-Siqiliy dari Dinasti Syiah Islam Fatimiyah), Mesir, Pondok Syanggit di Afrika Utara, Universitas Aligarh di India.

Tagore meninggalkan warisan yang teramat besar pada dunia, tidak hanya dengan karya-karya sastra, seni dan budaya, namun pemikiran, filsafat dan kehidupannya terus berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi dunia dan umat manusia.

Editor: Marcel Rombe Baan

Sastra Bangsa-Bangsa

Hidup dan Karya Penyair dan Filsuf Tagore: Raksasa Sastra dari Asia

Meski lebih dikenal sebagai penyair, Rabindranath Tagore adalah pelukis, pencipta riibuan lagu, penulis drama, esais handal, penulis novel, dan cerita pendek yang mempesona. Ia adalah jenius akbar dari Asia dan orang Asia pertama yang mendapat anugerah Nobel Sastra. Ia adalah contoh bangsawan dari kasta tertinggi yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, pemikiran dan kebudayaan. Mari kita awali tulisan ini dengan puisinya yang diterjemahkan oleh Amir Hamzah.

TANGAN BERPEGANGAN TANGAN

Tangan berpegangan tangan dan mata bertukar pandang: demikianlah mulanya cerita hati kita.

Purnama penuh di bulan Maart; harum henna memenuh udara; sulingku lupa terhantar di atas bumi dan karangan bunga tuan tiada sudah.

Kasih antara tuan dan aku ini, maha bersahaja seperti nyanyi.

Selendang kumkuma tuan memabukkan mataku.

Karangan melur, yang tuan untaikan daku, menyinarkan hatiku laku dipuji.

Inilah main beri dan tahan, tunjuk dan buni; senyum sekilau, malu sedikit, dan beberapa rangkuman-manis-percuma.

Kasih antara tuan dan aku ini, maha bersahaja seperti nyanyi.

Tiada rah’sia lebih dari hari ini; tiada tujuan pada yang tiada mungkin; tiada bayang di belakang berahi; tiada uluran ke lubuk gelap.

Kasih antara tuan dan aku ini, maha bersahaja seperti nyanyi.

Tiada kita sesat dari kata ramai ke sunyi abadi; tiada kita ulurkan tangan kita ke dalam ketiadaan, kepada benda jauh dari segala harapan.

Cukuplah bahwa kita memberi dan mendapat.

Tiada kita hancurkan kesukaan itu sepecur-pecurnya untuk memeraskan anggur-duka dari dalamnya.

Kasih antara tuan dan aku ini, maha bersahaja seperti nyanyi.

Rabindranath terlahir dalam keluarga Brahmana Bengali, yaitu Brahmana yang tinggal di wilayah Bengali, daerah di anakbenua India antara India dan Bangladesh. Tagore merupakan orang Asia pertama yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra (1913).

Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun, ia menggunakan nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) untuk penerbitan karya puisinya yang pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mengenyam pendidikan dasar di rumah (Home Schooling), dan tinggal di Shilaidaha, serta sering melakukan perjalanan panjang yang menjadikan ia seorang yang pragmatis dan tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat.

Rasa kecewa kepada British Raj membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi. Dan juga dikarenakan rasa kehilangan hampir segenap keluarganya, serta kurangnya penghargaan dari Benggala atas karya besarnya, Universitas Visva-Bharati.

Beberapa karya besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World), serta karya puisi, cerita pendek dan novel yang dikenal dan dikagumi dunia luas. Ia juga seorang reformis kebudayaan dan polymath yang memodernisasikan seni budaya di Benggala. Dua buah lagu dari aliran Rabindrasangeet (sebuah aliran lagu yang ia ciptakan) kini menjadi lagu kebangsaan Bangladesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana).

MASA MASA AWAL (1861 – 1901)
Tagore memiliki nama kecil “Rabi”, lahir di Jasanko Mansion, adalah putra dari Debendranath Tagore dan Sarada Devi, anak bungsu dari empat belas bersaudara. Setelah menjalani upacara Upanayanam di usia sebelas tahun, (suatu prosesi upacara yang menandai bagi seorang anak laki-laki untuk memasuki masa Brahmacari, masa menuntut ilmu) Tagore bersama ayahnya meninggalkan Kolkata pada tanggal 14 Februari 1873 untuk melakukan perjalanan panjang di India selama beberapa bulan, mengunjungi Shantiniketan dan Amritsar sebelum mencapai Dalhousie, sebuah bukit peristirahatan di kaki Himalaya.

Di sini, Tagore belajar sejarah, ilmu perbintangan (astronomi), ilmu pengetahuan modern dan Bahasa Sanskerta dan mempelajari serta mendalami karya sastra klasik dari Kālidāsa. Pada 1877, ia menjadi orang terkemuka ketika menghasilkan beberapa karya, termasuk puisi panjang dalam gaya Maithili, yang dirintis oleh Vidyapati.

Sebagai sekadar lelucon, ia menyatakan bahwa ini merupakan karya yang hilang dari Bhānusiṃha, sebuah sastra dari aliran Vaiṣṇava. Ia juga menulis “Bhikharini” (1877; “Wanita Pengemis” — cerita pendek pertama dalam Bahasa Bengali) dan juga “Sandya Sangit” (1882) — termasuk di dalamnya puisi yang sangat terkenal “Nirjharer Swapnabhanga” (The Rousing of the Waterfall).

Karena ingin menjadi seorang pengacara, Tagore mendaftar di sekolah umum di Kota Brighton, Inggris pada tahun 1878; kemudian melanjutkan di University College London, tapi pada tahun 1880 ia kembali ke Bengali tanpa gelar sarjana, dikarenakan ayahnya telah menjodohkannya dengan seorang gadis, bernama Mrinalini Devi, yang kemudian dinikahi pada 9 Desember 1883; mereka memiliki lima orang anak, empat di antaranya meninggal sebelum menginjak usia dewasa.

Pada tahun 1890, Tagore mulai mengelola usaha keluarganya di Shelidah, sebuah wilayah yang sekarang masuk bagian negara Bangladesh. Dikenal sebagai “Zamindar Babu”, Tagore melakukan perjalanan melintasi perkebunan yang sangat luas, untuk mengumpulkan uang sewa, serta memberi berkat pada para penduduk desa.

Dalam periode ini, periode Sadhana (1891 — 1895, diambil dari salah satu majalah yang diterbitkannya) ia berada dalam masa-masa yang sangat produktif, di mana lebih dari setengah dari tiga volume dan delapan puluh empat karya “Galpaguchchha” ditulis.[4] Dengan gaya ironi dan emosional yang kental, ia menggambarkan kehidupan di Benggala, kebanyakan adalah kehidupan di pedesaan.

SHANTINIKETAN (1901—1932)
Pada tahun 1901, Tagore meninggalkan Shelidah dan pindah ke Shantiniketan (Benggala Barat), tinggal di Ashram yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1863, dan di sini mendirikan sebuah sekolah percobaan, sekolah di ruang terbuka, dengan pohon rindang, taman yang indah dan perpustakaan.[9] Dan di sini pula, istri ia serta dua orang anaknya meninggal.

Ayah ia juga meninggal pada 19 Januari 1905. Setelah kepergian ayahnya, ia mulai menerima pendapatan bulanan sebagai bagian dari warisan orang tuanya; ia juga menerima pendapatan dari Maharaja Tripura, hasil dari penjualan perhiasan keluarga, dari rumah sewa di daerah Puri serta hak royalti atas karya-karyanya.

Melalui karya-karyanya ia memiliki banyak pengikut baik masyarakat Bengali, maupun pembaca di luar, dan ia mempublikasikan beberapa karya seperti “Naivedya” (1901) dan “Kheya” (1906) dan karya-karya puisinya digubah menjadi puisi bebas, yang tidak lagi mengikuti pakem dan irama, tanpa menghilangkan ciri sebagai sebuah karya puisi.

Pada tanggal 14 November 1913 Tagore memenangkan Penghargaan Nobel di Bidang Sastra. Menurut pihak Akademi Swedia sebagai penyelenggara, Tagore memenangkan Penghargaan Nobel berkat idealisme dalam berkarya dan karya-karyanya yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang mudah diterima bagi pembaca di Barat, termasuk di antaranya adalah: Gitanjali: Song Offerings (1912).

Sebagai tambahan, Kerajaan Inggris menawarkan gelar kebangsawanan pada tahun 1915; yang diterimanya, namun belakangan dilepaskan sebagai bentuk protes terhadap pembantaian massal di Amritsar, di mana tentara kolonial melakukan penembakan terhadap rakyat sipil tanpa senjata, membunuh sekitar 379 orang.

Pada 1921, Tagore bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, mendirikan sekolah yang belakangan diberi nama Shriniketan di Surul, sebuah kampung dekat Asrama di Shantiniketan. Melalui ini ia sendiri bermaksud menyediakan tempat alternatif, bagi gerakan Swaraj, yang digalang Mahatma Gandhi yang mana sebelumnya gerakan ini sempat ia kritik.

Ia merekrut para sarjana, penyumbang dana serta pekerja dari berbagai negara untuk menjalankan sekolah ini. Membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan dengan cara memperkuat diri di sektor pendidikan. Pada tahun 1930-an ia juga memberikan perhatian lebih terhadap kaum Dalit (kelompok kasta rendahan).

MASA SENJA (1932—1941)
Dalam dasawarsanya yang terakhir, Tagore tetap mendapat sorotan publik, secara terbuka mengkritik Gandhi karena mengatakan bahwa gempa bumi yang hebat pada 15 Januari 1934 di Bihar merupakan pembalasan ilahi karena menindas kaum Dalit. Ia juga meratapi kemerosotan sosial-ekonomi yang mulai terjadi di Bengali dan kemiskinan yang merajalela di Kolkata.

Ia mengungkapkannya secara terinci dalam sebuah puisi tak berirama yang terdiri seratus baris dengan teknik visi ganda yang kering dan kelak digunakan oleh Satyajit Ray dalam filmnya Apur Sansar.

Tagore juga menyusun 15 jilid tulisan, termasuk karya-karya prosa liris Punashcha (1932), Shes Saptak (1935), dan Patraput (1936). Ia terus bereksperimen dengan mengembangkan lagu-lagu prosa dan sendratari, termasuk Chitrangada (1914), Shyama (1939), dan Chandalika (1938), dan menulis novel-novel Dui Bon (1933), Malancha (1934), dan Char Adhyay (1934).

Tagore mengembangkan minatnya terhadap sains dalam tahun-tahun terakhirnya, dan menulis Visva-Parichay (kumpulan esai) pada 1937. Ia menjelajahi biologi, fisika, dan astronomi; sementara itu, puisinya — yang mengandung naturalisme yang luas — menggarisbawahi rasa hormatnya terhadap hukum-hukum ilmiah. Ia juga menjalin proses sains (termasuk naratif para ilmuwan) ke dalam banyak cerita yang terkandung dalam buku-buku seperti Se (1937), Tin Sangi (1940), dan Galpasalpa (1941).

Empat tahun terakhir hidup Tagore (1937–1941) ditandai oleh rasa sakit yang kronis dan dua penyakit yang lama dideritanya. Hal ini dimulai ketika Tagore kehilangan kesadaran pada akhir 1937; ia tetap berada dalam keadaan koma dan hampir meninggal selama waktu yang panjang. Hal ini diikuti tiga tahun kemudian pada akhir 1940 dengan penyakit yang sama, dan ia tidak pernah pulih kembali.

Puisi yang ditulis Tagore pada tahun-tahun ini adalah salah satu yang paling indah, dan sangat menonjol karena perhatiannya yang mendalam terhadap kematian. Pengalaman-pengalaman yang jauh lebih mendalam dan mistis ini memungkinkan Tagore dicap sebagai “penyair modern”.

Setelah penderitaan yang panjang, Tagore meninggal pada 7 Agustus 1941 (22 Shravan 1348) di ruang atas dari gedung Jorasanko tempat ia dibesarkan. Hari kematiannya masih tetap diperingati dalam acara-acara publik di seluruh dunia berbahasa Bengali.

SEBUAH PETUALANGAN
Tagore memiliki jiwa petualangan yang sangat besar. Antara tahun 1878 dan 1932, ia mengunjungi lebih dari tigapuluh negara di lima benua, perjalanan ini sangat penting artinya dalam mengenalkan karya-karyanya, serta memaparkan ide-ide politiknya kepada kalangan non-Bengali. Sebagai contoh, pada tahun 1912, ia mengirimkan karya-karya yang telah diterjemahkan ke Inggris, yang mengesankan para misionaris, dan anak didik Gandhi; Charles F. Andrews, William Butler Yeats; seorang sastrawan dari Irlandia, Ezra Pound, Robert Bridges, Ernest Rhys, Thomas Sturge Moore, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dan kemudian, Yeats menulis kata pengantar untuk Gitanjali yang diterjemahkan dalam bahasa inggris, sementara Andrews bergabung dengan Tagore di Santiniketan. Pada 10 November 1912, Tagore melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan Inggris Raya, tinggal di Butterton, Staffordshire.Dari tanggal 3 Mei 1916 sampai April 1917, Tagore ceramah dan kuliah keliling Jepang dan Amerika Serikat. Ia juga menulis esai “Nasionalisme di India”, yang menerima kritikan dan juga menuai pujian, (termasuk para pasifis termasuk dari Romain Rolland).

Setelah kembali ke India, Tagore, 63 tahun, mengunjungi Peru atas undangan pemerintahan Peru, dan dilanjutkan dengan mengunjungi Meksiko setelahnya. Kedua Negara itu mengucurkan sumbangan senilai $100,000 bagi sekolah Shantiniketan (Visva-Bharati) sebagai penghargaan atas kunjungaannya ke kedua negara tersebut.

Setelah itu, ia mengadakan kunjungan ke Buenos Aires, Argentina pada 6 November 1924, dan tinggal di Villa Miralrío dan menjadi tamu dari Victoria Ocampo; seorang intelektual dari Argentina. Selanjutnya ia pulang ke Bengali pada Januari 1925.

Pada 30 Mei 1926, Tagore menginjakkan kakinya di Napoli, Italia; ia bertemu dengan diktator berkuasa Benito Mussolini di Roma pada hari berikutnya. Pada awalnya mereka memiliki hubungan yang hangat, dan berakhir saat Tagore dengan terang-terangan berbicara menentang Mussolini pada 20 Juli 1926.

Pada 14 Juli 1927, Tagore beserta dua sahabatnya berangkat menuju Asia Tenggara selama empat bulan — mengunjungi Bali, Jawa, Kuala Lumpur, Malaka, Penang, Siam dan Singapura. Catatan perjalanan ini terkumpul dalam karya yang berjudul “Jatri”. Pada awal 1936, ia meninggalkan Bengala untuk sebuah perjalanan panjang menuju Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam kunjungan kembali ke Inggris, dimana saat itu lukisannya sedang dipamerkan di London dan Paris, ia tinggal di Birmingham. Di sana ia menulis materi kuliah untuk kelas yang dikenal sebagai “Kuliah Hibbert” di Universitas Oxford dan menjadi pembicara di pertemuan tahunan Perkumpulan Kristen London.

Di sini, (dialamatkan pada hubungan antara Inggris dengan India, sebuah topik yang ia terus perjuangkan dan pertahankan selama lebih dari dua tahun kedepan) ia berbicara mengenai “dark chasm of aloofness”. Kemudian ia mengunjungi Aga Khan III, tinggal di Dartington Hall, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Denmark, Swiss, dan Jerman dari bulan Juni hingga pertengahan September 1930, lalu berlanjut hingga Uni Soviet.Terakhir, pada bulan April 1932, Tagore yang sebelumnya telah mengenal mistikus Persia terkenal, Hafiz — diundang secara pribadi sebagai tamu kehormatan Shah Reza Pahlevi untuk mengunjungi Iran.

Sebagai seorang petualang, Tagore bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang orang penting dan kenamaan, termasuk di antaranya Henri Bergson, Albert Einstein, Robert Frost, Thomas Mann, George Bernard Shaw, H.G. Wells and Romain Rolland.Perjalanan terakhir Tagore tersiar dengan luas, termasuk saat mengunjungi Persia (Iran), Irak (pada tahun 1932) dan Sri Lanka pada tahun 1933, menajamkan opini-opininya berkenaan dengan nasionalisme dan kemanusiaan.

KARYA SANG MAESTRO
Stempel dari kayu, “Ra-Tha” (dalam bahasa Bengali) Tagore sering menghiasi manuskripnya dengan lukisan/gambar-gambar buatannya sendiri. (Dyson 2001)

Reputasi Tagore di dunia sastra sangat menonjol terutama pada karya-karya puisinya, meskipun ia juga menulis novel, esai, cerita pendek, catatan perjalanan, cerita drama, dan ribuan lagu. Mengenai karya-karya prosa yang dihasilkan, cerita pendek adalah yang paling mendapatkan perhatian; tentu saja, ia tercatat sebagai orang yang merintis karya cerita pendek dalam Bahasa Bengali.

Karya-karyanya sering menjadi perhatian karena irama yang unik, lirik-lirik yang mengandung pujian bagi alam semesta, serta lirik-lirik yang bernada optimis. Dan juga, banyak dari cerita yang ditulisnya diambil dari kehidupan sehari-hari yang sederhana — kehidupan manusia biasa.

NOVEL DAN NON FIKSI
Tagore menulis delapan novel dan empat novela, termasuk Chaturanga, Shesher Kobita, Char Odhay dan Noukadubi. Ghare Baire (The Home and the World) — melalui kacamata Nikhil seorang zamindar idealis — bercerita tentang kebangkitan nasionalisme di India, terorisme dan semangat keagamaan dalam gerakan Swadeshi; sebuah ungkapan jujur dari seorang Tagore atas apa yang berkecamuk dalam hatinya.

Dan tentu saja, karya novel ini ditutup dengan kesuraman, pertentangan dan kekerasan antara sektarian Hindu-Islam, dan Nikhil terluka parah.Gora mengambil tema yang sama, yang akhirnya menjadi sebuah kontroversi berkenaan dengan “Identitas India”. Sebagaimana hal-nya dengan Ghare Baire, permasalahan tentang identitas diri (Jāti), kebebasan pribadi dan agama dikemas dalam sebuah cerita keluarga dengan bumbu cinta segitiga.

Karya lain yang tak kalah hebatnya adalah Yogayog (Nexus), dimana Kumudini sang pahlawan wanita terkoyak di antara konflik dalam diri maupun dari luar. Di sini Tagore mencoba mencurahkan sisi feminin dalam dirinya, melalui kesedihan ia menggambarkan kesengsaraan dan kematian seorang wanita Bengali yang terperangkap dalam kehamilan, kewajiban sebagai wanita serta kehormatan wanita; secara simultan, ia mengungkapkan penolakan atas sistem oligarki di tanah Bengala.

Karya-karya novel yang lainnya, menggambarkan suasana yang lebih menggembirakan: Shesher Kobita (diterjemahkan dua kali — Puisi Terakhir dan Lagu Perpisahan) banyak mengandung puisi dan rangkaian irama yang ditulis oleh karakter utamanya.

Juga mengandung element satir — sindiran — bergaya post-modern yang kontroversial, dimana karakter pembantu dengan senang hati menyerang nilai-nilai lama, yang ketinggalan zaman, yang secara kebetulan, atas nama Rabindranath Tagore.

Walaupun karya novel-nya adalah karya yang paling sedikit mendapat apresiasi di antara karya yang lainnya pada masa itu, pada masa kini malah mendapat perhatian untuk diangkat dan diadaptasi ke dalam karya film, oleh para sutradara seperti Satyajit Ray.

Di antara karya novel yang diangkat ke film adalah Choker Bali dan Ghare Baire; banyak soundtrack yang dipakai dari film ini merupakan lagu-lagu yang diciptakan olehnya yang juga menciptakan aliran dalam berlagu yang dikenal dengan R’abindrasangit’.

Tagore juga banyak menghasilkan karya-karya non-fiksi, yang dalam penulisannya banyak mengambil topik dari Sejarah India hingga ilmu bahasa (Linguistik), dan juga termasuk karya otobiografi, catatan perjalanan, esai dan materi kuliah dan ceramah di berbagai belahan dunia yang dikumpulkan dalam beberapa bagian, ikut di dalamnya adalah Iurop Jatrir Patro (Surat dari Eropa) dan Manusher Dhormo (Agama Manusia)

Tagore juga seorang musisi dan pelukis yang berbakat, yang telah mencipta dan menulis sekitar 2,230 lagu. Termasuk di antaranya ‘Rabindrasangit’ (Inggris: “Tagore Song”), yang mana kini telah menjadi bagian dalam kebudayaaan Bangsa Bengali. Karya-karya musik Tagore, tidak dapat dipisahkan begitu saja dari karya sastranya, kebanyakan dari karya sastra tersebut menjadi lirik untuk lagu ciptaannya.

Utamanya terpengaruh oleh gaya thumri, musik klasik dari Hindustani, mereka memainkan seluruh tangga nada dari emosi jiwa manusia, dimulai dari lagu-lagu pujian yang bergaya Brahmo, hingga komposisi yang bergaya erotis.

Karya musiknya mengemulasi gaya warna musik klasik india, raga; dimana pada saat yang bersamaan, lagu-lagunya cenderung menirukan melodi dan irama raga secara tepat, dia juga memasukkan berbagai unsur ‘musik raga’ dalam karya musiknya dalam mencipta karya musik yang penuh inovasi.

Tagore juga menjadi satu-satunya orang di dunia yang menulis dan menciptakan dua lagu kebangsaan bagi dua negara yang berbeda. Lagu kebangsaan India (Jana Gana Mana) dan Bangladesh (Amar Sonaar Baanglaa). Dan juga, Rabindrasangit banyak memengaruhi gaya dari beberapa musikus seperti, Vilayat Khan seorang maestro sitar, Buddhadev Dasgupta, seorang maestro sarod (alat musik tradisional india) dan juga komposer Amjad Ali Khan.

Pada usia enam belas tahun, Tagore mulai menggambar dan melukis; pameran-pameran lukisannya banyak menuai sukses — yang dimulai saat tampil dalam pameran di Paris atas desakan para seniman yang ditemui di Perancis bagian selatan — dilangsungkan di seluruh daratan Eropa.

Tagore — yang sepertinya penderita buta warna (protanopia), dalam kasus Tagore, kurang dalam melihat warna merah-hijau — melukis dengan gaya yang “nyeleneh” dalam keindahan dan pemilihan warna.

Namun begitu, Tagore mencoba menggabungkan beberapa gaya dalam berkarya, termasuk karya pahat dari suku Malanggan di New Ireland, Papua Nugini, seni pahat dari orang-orang Haida di Kanada serta gaya ukiran kayu Max Pechstein.Tagore juga memiliki cita rasa seni dengan memberi motif-motif sederhana dalam tulisan tangannya, menghiasi catatan kecilnya, memberi sentuhan tata-letak dalam naskahnya.

DRAMA DAN TEATER
Pengalaman Tagore di dunia teater dimulai pada usia enambelas tahun, saat itu ia mendapatkan peran utama dalam karya adaptasi yang berjudul Molière’s Le Bourgeois Gentilhomme yang merupakan arahan dari saudaranya sendiri, Jyotirindranath. Saat menginjak usia dua puluh tahun, ia menulis karya drama-opera yang pertama kali Valmiki Pratibha (Sang Jenius, Walmiki) yang menceritakan bagaimana seorang bandit Walmiki, memperbaiki hidupnya, mendapat anugerah dari Saraswati, dan menggubah Rāmāyana.

Kemudian, Tagore makin bersemangat menggali berbagai aspek dalam seni drama dan teater. Berbagai gaya, aliran dan emosi dalam sebuah seni drama dipelajari secara mendalam, termasuk dalam menggubah kirtans dan mengadaptasi musik-musik tradisional dari Barat — utamanya dari Inggris dan Irlandia — untuk dipakai sebagai musik pengantar minum.

Karya lain yang patut dicatat adalah Dak Ghar (Kantor Pos), yang menggambarkan bagaimana usaha seorang anak berusaha melepaskan dari batasan batasan yang keras dan kaku yang pada akhirnya “jatuh tertidur” (yang menggambarkan kematian badaniah). Cerita yang menjadi daya tarik dunia (mendapat sambutan hangat di Eropa), Dak Ghar berbagi dengan kematian, dalam bahasa Tagore, “kebebasan rohani” dari keduniawian dan simbol-simbol keyakinan.

Karyanya yang lain — menekankan pada perpaduan antara alur dari lirik-lirik naskah dengan irama emosional yang begitu fokus pada inti dari ide dasar — tidak seperti drama dalam budaya Bengali sebelumnya. Karya-karyanya semata-mata hanya mengeluarkan pemikiran-pemikiran , dalam bahasa Tagore, “bermain dengan perasaan, yang tanpa aksi”.

Pada 1890 ia menulis Visarjan (Pengorbanan Suci), yang dikenal sebagai karya drama terbaiknya. Menggunakan bahasa Bengali asli termasuk sub-plot yang pelik dan monolog yang panjang. Belakangan karya dramanya bertemakan filosofi dan penuh kiasan; ini termasuk Dak Ghar.

Yang lainnya adalah Chandalika (Gadis yang Tak Tersentuh), mengambil figur dari legenda Buddha kuno, menceritakan bagaimana Ananda, murid dari Buddha Gautama dalam mencari Gadis yang Tak Tersentuh.

Terakhir, di antara karya dramanya yang paling terkenal adalah, Raktakaravi (Oleander Merah), yang bercerita mengenai raja korup yang memperkaya diri dengan mengakui semua yang ada diwilayahnya adalah milik pribadi. Sang lakon wanita, Nandini menggalang kekuatan massa untuk menundukkan sang penguasa.

Karya-karya yang lainnya adalah Chitrangada, Raja, dan Mayar Khela. Seni drama dan tari yang biasa disebut Sendratari, berdasarkan dari karya Tagore biasanya dikenal dengan istilah rabindra nritya natyas……(Bersambung)

Sastra Bangsa-Bangsa

Baltasar dan Blimunda

Cerpen Jose Saramago*

Kini mereka siap berangkat. Pastor Bartolomeo merenungi langit biru cerah yang terbentang luas di atas, tak berawan, dengan matahari yang berkilau cemerlang. Ia menatap ke arah Baltasar yang tengah memegang tali penutup layar, kemudian pada Blimunda, dan berharap bahwa gadis itu dapat meramalkan masa depan macam apa yang akan mereka hadapi.

“Mari kita percayakan diri kita pada Tuhan, jika memang ada,” gumamnya pada diri sendiri, lalu dalam nada tertahan ia berkata, “Tarik, Baltasar.”

Tetapi Baltasar tak langsung bereaksi karena tangannya gemetar, hal ini seperti mengucapkan doa Fiat, tak segera terjadi begitu diucapkan. Seseorang menariknya dan kita berakhir entah di mana. Blimunda mendekat dan meletakkan kedua tangannya di atas tangan Baltasar dan, dengan isyarat persetujuan, mereka berdua menarik tali itu. Layar melengkung ke satu sisi, membuat matahari bersinar secara langsung pada bola-bola keemasan.

“Kini apa yang akan terjadi pada kita?”

Mesin bergetar lalu bergoyang-goyang seakan-akan benda itu mencoba menjaga keseimbangannya. Terdengar suara gesekan keras plat logam dan tongkat kumparan, lalu tiba-tiba, seolah-olah disedot oleh sebuah pusaran berkilau, benda itu menikung tajam dua kali lalu membumbung naik melewati dinding rumah latihan, mengendalikan keseimbangannya, mendongak ke atas bagaikan seekor anjing laut dan meluncur seperti sebatang anak panah, tegak lurus dengan langit.

Tergoncang oleh pusaran cepat itu, Baltasar dan Blimunda terjerembab di dek kayu tempat mesin, namun Pastor Bartolomeo Lourenco telah meraih salah satu bandul penahan layar yang membuatnya dapat melihat bumi menjauh dalam kecepatan luar biasa, daratan kini terlihat telanjang, lalu hilang di tengah bebukitan, dan nun di kejauhan sana, Lisabon, tentu saja, dan sungai.

Ah, laut, lautan yang pernah aku, Bartolomeo Lourenco de Gusmao, layari dua kali dari Brasil, lautan tempat aku berlayar ke Belanda, menuju begitu banyak daratan dan udara yang mengantarku, Passarola, angin bergemuruh di telingaku, dan tak seekor burung pun yang melesat tinggi, seandainya Sang Raja bisa melihatku saat ini, seandainya Tomas Pinto Brandao yang melecehkanku bisa melihatku kini, jika saja Dinas suci Inkuisisi bisa menyaksikanku saat ini, mereka semua akan menyadari bahwa aku adalah anak Tuhan yang terpilih 3, ya, aku, Pastor Bartolomeo Lourenco, yang melesat ke angkasa dibimbing kejeniusanku, dibantu pula oleh sepasang mata Blimunda, jika memang ada mata di surga, dan juga dibantu oleh tangan kanan Baltasar.

“Di sini Tuhan bersama kita, seseorang yang selalu kehilangan tangan kirinya. Blimunda, Baltasar, datang dan lihatlah. Bangkitlah, jangan takut.”

Mereka tidak takut, mereka bahkan takjub pada keberanian mereka sendiri. Pendeta itu tertawa dan berteriak. Dia berjaga-jaga dengan berpegangan pada pegangan tangga dan berjalan mondar-mandir melintasi dek mesin untuk mengawasi daratan di bawah sana, di utara, selatan, timur, dan barat, bumi terlihat begitu luas, dan kini mereka begitu jauh darinya. Baltasar dan Blimunda akhirnya jatuh terduduk, dengan gugup berpegangan pada temali, lalu pada pegangan tangga, silau oleh cahaya dan angin, tiba-tiba mereka tak lagi merasa takut.

“Ah,” pekik Baltasar, “Kita telah melakukannya!”

Dia memeluk Blimunda dan menangis tersedu-sedu bagaikan seorang anak yang hilang. Seorang tentara yang telah mengalami perang, yang telah membunuh seorang musuh di Pegoes dengan belatinya, dan kini menangis bahagia seraya memeluk Blimunda yang menciumi wajahnya yang dekil. Pendeta itu menghampiri mereka dan ikut berpelukan.

Tiba-tiba lelaki itu merasa gelisah oleh analogi orang Itali yang menggambarkan bahwa penderita itu seperti Tuhan, Baltasar anaknya, dan Blimunda adalah roh kudus, dan kini mereka bertiga terbang di angkasa bersama-sama.

“Hanya ada satu Tuhan,” teriaknya, namun angin merenggut kata-kata dari mulutnya.

Kemudian Blimunda berkata, “Bila kita membuka layar, kita akan terus membumbung dan mungkin bahkan bisa membaur dengan matahari.”

Kita tak pernah bertanya pada diri sendiri apakah ada sedikit kebijaksanaan dalam kegilaan, bahkan saat mengenali bahwa kita semua memang gila. Inilah cara menjaga sisi kegilaan ini, dan bayangkanlah apa yang akan terjadi jika orang-orang gila menuntut diperlakukan seakan-akan mereka sejajar dengan orang waras, yang hanya sedikit gila, dengan dalih bahwa mereka sendiri masih memiliki sedikit kebijaksanaan, sebagai batas penghalang eksistensi mereka seperti Pastor Bartolomeo Lourenco.

“Jika kita membuka layar dengan tiba-tiba, kita akan jatuh ke bumi seperti segumpal batu, dan bila kita memanjangkan tali dan mengatur kekencangannya agar layar terkembang perlahan, akan tersisa bayangan pada bola-bola keemasan dan mesin pun mengendur.”

Mesin itu telah berhenti memanjat dan bergerumuh di angkasa, sayap-sayapnya dilebarkan, menuju arah utara, dan tampak bagaikan tak bergerak. Pendeta membuka layar sedikit lebih lebar, tiga per empat bola keemasan telah tertutup bayangan dan mesin mulai menurun perlahan, rasanya seperti berlayar melintasi sebuah danau yang tenang dengan perahu kecil.

Perlahan-lahan daratan mulai muncul, Lisabon membayang dalam pandangan, Lapangan Istana yang berbentuk bujur sangkar tak rapi, liku-liku lorong jalanan, dekorasi beranda tempat tinggal pendeta dan tempat para petugas Dinas Suci Inkuisisi memaksa masuk untuk menahannya.

Mereka datang terlambat, para petugas yang amat teliti dalam urusan langit, namun lupa menengok ke langit biru di mana mereka akan menemukan mesin itu, setitik bulatan mungil jauh di sana, namun bagaimana mungkin mereka bisa mendongakkan mata apabila mereka dihadapkan pada ketakutan mereka, pada selembar halaman Injil yang dirobek, pada Al-Quran yang disederhanakan menjadi serpihan-serpihan tak terbaca. Mereka langsung pergi ke Rossio dan markas Dinas Suci Inkuisisi unuk melaporkan sang pendeta telah kabur menghindari penangkapan, dan tak pernah terpikir oleh mereka bahwa orang itu berlindung di kubah langit raksasa, yang tak akan pernah mereka ketahui, karena cukup jelas bahwa Tuhan memiliki kemurahan pada orang-orang gila, cacat, dan eksentrik, namun nyaris tidak bagi para petugas Dinas Suci Inkuisisi.

Passarola itu menurun sedikit lebih rendah hingga tanah Pangeran Aveiro muncul dalam pandangan, dan ketiga penerbang ini tampak jelas merupakan para pemula, mereka kurang pengalaman untuk bisa membedakan dataran-dataran penting dengan sekali pandang, sungai-sungai dan parit, danau-danau, desa-desa yang berkilauan bagai bintang-bintang di bumi, hutan-hutan lebat, mereka dapat melihat keempat dinding rumah latihan, bandara tempat mereka meluncur terbang.

Angin selatan berhembus, sebuah tiupan yang mengacak-acak rambut Blimunda. Dengan angin semacam ini mereka tak akan bisa pergi ke mana-mana, akan seperti mencoba berenang melintasi samudera.

Baltasar bertanya, “Apakah aku sebaiknya menggunakan bagian bawah?”

Setiap koin memiliki dua sisi, pertama yang dikatakan oleh pendeta, “Hanya ada satu Tuhan.” Kini Baltasar ingin tahu, “Apakah sebaiknya aku menggunakan sisi bagian bawah?”

Apabila Tuhan menolak untuk terlibat, manusia harus mencoba berusaha. Tetapi Pastor Bartolomeo Lourenco tampak termangu-mangu, dia tak berbicara ataupun bergerak, menatap nanar pada bentang alam; sungai dan laut, pegunungan dan dataran.

Keheningan begitu menyesakkan, angin berhenti berhembus, tak sehelai rambut pun di kepala Blimunda terusik.

“Gunakan bagian bawah, Baltasar,” pendeta itu memutuskan.

*José de Sousa Saramago lahir 16 November 1922 – meninggal 18 Juni 2010 pada umur 87 tahun adalah seorang penulisyang berasal dari Portugal. Ia menerima Penghargaan Nobel Sastrapada 1998. Umumnya karya-karyanya menghadirkan sudut pandang subversif pada peristiwa bersejarah, menekankan faktor manusia daripada cerita resmi.