Prosa Sulaiman Djaya

Gelandangan oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Kabar Banten, 07 Juni 2010)

lukisan-karya-iman-maleki

Saat saya pertamakali melihatnya, ia selalu tersenyum pada setiap orang yang turun dari angkutan umum yang saya tumpangi ketika saya berangkat menuju studio tempat saya biasa On Air setiap malam Rabu untuk materi Seni dan Gaya Hidup yang pemandunya tak lain adalah teman saya sendiri.

Semula, saya menganggapnya sebagai pengalaman yang biasa saja. Katakanlah pengalaman dan kenyataan hidup yang seringkali terjadi ketika saya hidup di kota-kota di Indonesia.

Saat itu, ia sebenarnya tak hanya tersenyum-senyum sendiri yang adakalanya diselingi tawanya yang samar. Ia juga bergerak-gerak atau lebih tepatnya bergoyang-goyang ke samping kiri dan kanan mirip seorang bocah perempuan yang sedang belajar bernyanyi dengan malu-malu. Hanya saja saya tak lagi memikirkannya ketika angkutan umum yang saya tumpangi kembali melaju. Sebab yang sebenarnya adalah karena pikiran saya sibuk mematangkan materi seputar Minat Baca dan Gaya Hidup Remaja Kota, sebuah materi yang sebenarnya membuat saya cukup terbebani dan menguras pikiran, terlebih karena sejauh pengalaman saya remaja-remaja di kota kecil tidak mencerminkan remaja-remaja yang mau menyisihkan uang jajan mereka untuk membeli buku-buku bacaan di luar buku wajib mereka di sekolah.

Sesampainya di studio tempat biasa saya On Air, saya berdiskusi terlebih dahulu dengan teman saya yang sekaligus pemandu saya seputar tema yang akan kami udarakan malam itu. Tak saya sangka, teman saya berpendapat bahwa alangkah lebih baiknya bila tema yang akan diangkat disisipi dengan muatan yang dapat membangkitkan minat remaja pada kenyataan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya sering mereka jumpai. Kontan saja pikiran saya tertuju pada perempuan gelandangan yang saya lihat dalam perjalanan menuju studio yang telah saya katakan itu.

Setelah obrolan singkat kami itu kami pun memasuki studio dan langsung melenturkan tema dan materinya menjadi “Menjumpai Keseharian”. Kami tak menyangka, selama kami On Air malam itu, ada puluhan pemirsa yang menelepon untuk bertanya dan menyumbangkan pendapat mereka. Maka jadilah On Air malam itu sebagai On Air yang menempati rating paling tinggi dibanding sebelum-sebelumnya. Dan tentu saja kami pun merasa bahagia dan senang.

Di hari Selasa sore minggu berikutnya saya kembali berangkat untuk kembali On Air dengan materi yang berbeda. Dalam perjalanan saya di hari Selasa yang untuk kesekian kalinya itu saya tak melihat perempuan gelandangan yang telah saya lihat sebelumnya.

Saya pun mulai bertanya-tanya ke mana gerangan si perempuan gelandangan itu sekarang? Di dalam angkutan umum yang saya tumpangi hari itu saya mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia berada. Tapi sepanjang perjalanan itu saya tak melihatnya.

Pada kesempatan On Air untuk yang kesekian kalinya itu, saya memutuskan untuk menginap di ruang rekaman yang bersebelahan dengan ruang studio. Mungkin karena malam itu saya terlampau lelah untuk melakukan perjalanan pulang setelah saya ngobrol dengan salah satu penyiar perempuan yang minta ditemani sampai tiba gilirannya On Air pada jam dua belas malam. Meski selepas jam sebelas malam itu saya sebenarnya sudah merasakan kantuk akibat kelelahan.

Keesokan harinya saya pun berangkat pulang pada jam sembilan pagi setelah sarapan nasi uduk dan menghabiskan segelas Cappuccino. Juga tentu saja, menghisap sebatang rokok kretek kesukaanku.

Saat saya telah masuk angkutan umum, awalnya saya duduk tenang saja di dalam angkutan umum yang saya tumpangi. Tapi karena macet yang cukup lama dan membuat tubuh saya gerah, saya pun ingin mengetahui penyebab kemacetan. Dan ketika saya menanyakannya pada si sopir, si sopir menjawabnya bahwa ada kecelakaan beberapa ratus meter di depan.

“Oh, begitu,” ujar saya.

Setengah jam kemudian angkutan umum mulai melaju. Begitulah selanjutnya. Di hari Selasa berikutnya lagi saya pun kembali berangkat menuju studio seperti sebelum-sebelumnya. Lagi-lagi saya tak melihat si perempuan gelandangan di tempat pertamakali saya melihatnya. Tapi beberapa ratus meter kemudian saya melihatnya tengah bersandar di sepohon besar pinggir jalan. Kali ini gaun dekil yang dikenakannya terlihat berubah dan sangat berbeda. Lengan kiri gaun yang dikenakannya kali ini robek dan bagian yang menutup dadanya sedikit terbuka hingga menampakkan sebagian dadanya.

Dan yang membuat saya penasaran dan bertanya-tanya adalah ketika tangan kanannya seolah tengah meraba-raba dan meremas-remas bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung dua pahanya.

Melihat hal tersebut saya pun mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan yang dialaminya.

“Mungkinkah ia telah diperkosa?” Tanya saya dalam hati. Karena ketika itu ia seperti tengah menahan kesakitan di saat ia menyandarkan kepalanya dan mendongakkan wajahnya ke atas, mirip seseorang yang tengah berdoa kepada langit yang ditatapinya.

“Jika benar ia telah diperkosa, terkutulah orang yang telah memperkosanya,” bathin saya.

Tanpa saya sadari sepanjang perjalanan itu pikiran saya sibuk menerka-nerka kejadian apa yang menimpanya.

“Ah, mungkin saja ia lapar,” saya menduga-duga dalam hati.

“Atau mungkin juga hanya merasakan kesakitan, tapi bukan karena diperkosa,” saya terus membathin.

Namun, lamunan saya berhenti ketika si sopir mengingatkan saya bahwa saya telah sampai di tempat yang saya minta padanya untuk berhenti jika telah sampai. Dan tentu saja seperti biasanya, malam itu kami kembali On Air, dan saya pun kembali menginap di studio sambil menemani seorang penyiar perempuan yang biasa dipanggil Mbak Mela.

Selama Mbak Mela On Air malam itu saya menemaninya sembari membaca koran-koran yang telah saya bawa ke studio dari tempatnya. Di sela-sela iklan siaran saya pun mulai meminta pendapat Mbak Mela bagaimana bila seorang perempuan gelandangan diperkosa. Saat itu saya ingin tahu perasaan dan empati Mbak Mela sebagai sesama perempuan.

“Misalkan, ini hanya seandainya lho!,” papar Mbak Mela, “Misalkan yang diperkosa itu adalah saya, tentu saya akan mengalami trauma,” lanjutnya.

“Meski yang diperkosa itu perempuan gila alias perempuan tak normal?”, tanya saya.

“Saya pikir itu tak akan ada bedanya sepanjang ia memiliki perasaan seperti halnya saya,” lanjut Mbak Mela.

“Kalau boleh tahu, kenapa kau menanyakan hal itu?”, tanya Mbak Mela.

“Bukan apa-apa sih”, kilah saya, “Hanya saja saya melihat seorang gelandangan yang saya pikir telah mengalami perkosaan ketika saya dalam perjalanan menuju ke sini”, papar saya,

“Maksudnya kamu melihatnya diperkosa?”, tanya Mbak Mela.

“Tidak juga sih”, jawab saya, “Saya hanya mengambil kesimpulan dari ekspresi wajahnya dan kondisi tubuhnya juga pakaiannya ketika saya melihat dirinya yang meraba-raba bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung kedua pahanya dengan tangan kanannya, sementara ia mendongakkan wajahnya ke atas”, lanjut saya.

“Mungkin saja ia diperkosa, tapi mungkin saja hal lain yang menimpanya”, ujar Mbak Mela, “Sebab bisa jadi kesimpulan kamu itu keliru di saat kamu tak melihatnya diperkosa, apalagi kecendrungan orang adalah membenarkan anggapannya sendiri, tapi saya percaya kamu tidak seperti itu.”

Saya tak melanjutkan perbincangan itu karena khawatir mengganggu tugas Mbak Mela untuk siaran, dan saya pun kembali membaca koran yang bertumpuk di hadapan saya, di meja studio malam itu.

Setelah Mbak Mela selesai siaran, saya langsung menuju sofa ruang tamu dan membaringkan tubuh saya hingga tertidur tanpa saya sadari.

Keesokan harinya saya pun berangkat pulang. Pagi itu saya tak lagi memikirkan keingintahuan saya pada apa yang menimpa si perempuan gelandangan yang sempat membuat saya gelisah itu. Mungkin karena saya terpengaruh oleh pendapat Mbak Mela.

Tapi di pagi itu saya menyimak perbincangan, lebih tepatnya cerita sopir angkutan umum yang tengah saya tumpangi kepada temannya yang sama-sama duduk di depan bersama si sopir. Si sopir itu bercerita bahwa ia hampir saja menabrak perempuan gelandangan di hari yang sama ketika saya melihatnya untuk yang kedua kalinya itu. Untung saja, cerita si sopir, ia hanya menyerempetnya ketika ia hendak melaju setelah menurunkan beberapa penumpang.

Saya hanya bisa tersenyum ketika mendengar cerita si sopir, atau lebih tepatnya saya berusaha untuk tidak tertawa agar tidak dituduh gila oleh sesama penumpang.

Ilustrasi: Lukisan karya seniman realis Iran, Iman Maleki.

Iklan
Prosa Sulaiman Djaya

Teringat Sonia Marmeladov

crime-and-punishment-1935

Rumah mungil beratap seng itu terasa gerah sekali ketika kami akhirnya berbincang dan melakukan tanya jawab, meski saat itu hujan baru saja reda, tak lama setelah aku turun dari bus yang menurunkanku di dekat jembatan penyebrangan itu. Bahkan, di hari ketika aku mendatangi lingkungan kumuh itu, gelap langit mendung masih terus meneteskan butiran-butiran air, dan angin dari sudut-sudut gang becek sesekali mengirimkan bau tak sedap dan aroma anyir dan busuk yang menyengat lubang hidung, yang jika tak kutahan-tahan dan kututupi dengan menjepitkan jari-jemariku ke ujung hidungku, niscaya aku telah muntah berkali-kali.

Di hari itu, meski jam di tanganku menunjukkan pukul lima kurang beberapa menit, mendung, gerimis kecil, dan cuaca bulan Desember telah merubah senja menjadi malam yang datang lebih awal. Orang-orang di kawasan yang kudatangi itu pun telah menyalakan lampu-lampu bohlam dan lampu-lampu neon listrik mereka lebih cepat demi memecah dan mengusir kegelapan dengan cahaya-cahaya berwarna kuning dan putih itu.

Kedatanganku ke lingkungan yang telah akrab dengan bau tak sedap, aroma anyir, dan semerbak asam itu karena memang ditugaskan oleh sebuah lembaga survey di Jakarta untuk melakukan wawancara lapangan dengan sample sepuluh orang atau sepuluh responden, sesuai jumlah kuesioner yang kubawa di dalam tasku.

Di senja lembab dan basah serta terasa dingin yang terus menitik dan menjelma malam lebih awal itu, aku melakukan wawancara dengan seorang bapak, yang menurut pengakuannya sendiri, telah berusia empat puluh tahun lebih, dan bekerja sebagai kuli bangunan di sejumlah tempat dan kawasan di Jakarta, sesuai dengan permintaan dan kebutuhan sewaktu-waktu jika ada orang yang menyewa dan membayar tenaganya untuk bekerja sebagai pekerja bangunan, seperti membangun rumah, gedung, atau menggali lubang sejumlah pipa atau kabel listrik dan kabel komunikasi.

Ketika wawancara dimulai, aku bersandar pada pintu agar dapat merasakan hembusan angin dari luar dan supaya tak terlalu merasa gerah yang membuat benang-benang bajuku bertambah basah setelah sebelumnya terkena gerimis, meski harus menghirup aroma-aroma tak sedap yang dikirim angin yang datang dan melintas ke arah kami dari sejumlah sudut dan tempat, yang tak ayal lagi, membawa juga aroma-aroma tak sedap dan anyir dari mana mereka datang itu.

Di sebuah sudut tikungan yang tak terlalu jauh dari tempat kami berbincang dan melakukan tanya jawab, beberapa orang tampak asik bergoyang dangdut di depan sebuah warung kopi. “Mereka adalah orang-orang kampung sini, teman-teman saya juga sesama kuli bangunan dan para pekerja dadakan,” kata si bapak yang kuwawancara sambil sedikit tertawa tanda keramahan ketika aku menengok ke arah orang-orang yang tengah asik berjoget dangdut yang suaranya sampai juga ke tempat kami melakukan perbincangan dan tanya jawab dengan santai.

Itulah kali pertama aku benar-benar merasa kagum, akrab, juga heran dengan orang-orang yang hidup di sebuah tempat yang terbiasa dengan bau anyir dan aroma-aroma tak sedap seusai hujan. Si bapak yang kuwawancarai itu memiliki seorang anak gadis belia berusia belasan tahun, yang kebetulan duduk di samping bapaknya ketika kami berbincang seputar kehidupan sehari-hari mereka. Sebutlah gadis belia itu bernama Santi, seorang gadis belia yang masih bersekolah di sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari lingkungan kumuh itu, yang seperti dikatakan bapaknya, kadang-kadang membantu ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci pakaian orang-orang yang mau membayar mereka. Aku sempatkan berbicara kepadanya seusai aku mewawancara bapaknya.

“Berapa usiamu, dek?” tanyaku.

“12 tahun, kak….!” jawabnya.

“Kalau sudah besar nanti, ingin jadi apa?”

“Hmmmm…..ingin bekerja agar dapat membantu orang tuaku”

“Kerja apa?”

“Apa saja! Yang penting ada uangnya.”

“Sekarang, kamu mengerjakan apa saja bila tidak sekolah?”

“Membantu ibuku.”

“Contohnya?”

“Membantu ibuku mencuci pakaian orang-orang yang mau membayar.”

“Oh….gituh.”

Saat mendengar cerita si bapak tentang anak gadis satu-satunya itu dan saat aku tahu apa yang dilakukannya setelah ia sekolah, aku jadi teringat tokoh Sonia Marmeladov dalam novel Crime and Punishment-nya Fyodor Dostoevsky itu. Meski tentu saja perihal keseharian Santi dan Sonia tidak sama, namun, setidak-tidaknya, dunia Santi dan Sonia-nya Dostoevsky itu menggambarkan situasi yang sama.

“Kenapa kamu membantu ibumu?” tanyaku.

“Biar aku punya uang untuk sekolah” jawabnya.

Ia selalu menjawab dengan tangkas setiap pertanyaan yang kuajukan padanya. Ia begitu jujur dan polos yang membuatku semakin prihatin, dan aku khawatir rasa ibaku kepadanya justru akan merendahkan ketegarannya sebagai seorang gadis belia yang hidup dalam lingkungan yang terbilang cukup keras dan memprihatinkan untuk gadis seusianya, yang kehidupannya tentu saja tidak sama dengan anak-anak para pejabat, sebagai contohnya.

Karena khawatir ia merasa takut, aku pun tak berlama-lama untuk berbicara dengannya dan menanyakan sejumlah pertanyaanku kepadanya, sebab memang ada rasa ingin tahuku tentang bagaimana gadis sepertinya menjalani hidup di lingkungan yang terbilang semrawut dan apa pendapatnya tentang hidup yang ia jalani itu.

Ia boleh dikatakan gadis yang cukup cantik dan cerdas. Matanya hitam besar, dan rambut hitamnya lurus lebat. Gadis belia yang memiliki wajah oval, yang aku yakin akan menjadi perempuan cantik untuk waktu 10 tahun berikutnya. “Ah, tapi bukan tugasku untuk terlampau peduli dengannya, di saat aku sendiri sedang bertarung dengan peruntungan nasibku sendiri,” bathinku ketika ia menjadi subjek yang membuat pikiranku tiba-tiba sibuk.

Haruslah kuakui, meski pekerjaan mewawancara orang-orang di sejumlah tempat telah beberapa kali kulakukan sebelum-sebelumnya, rasa-rasanya di tempat itulah aku merasa yang paling cukup melelahkan dan menguras tenagaku. Mungkin karena harus berjuang dengan cuaca yang telah bercampur dengan bangkai-bangkai sampah dan gang-gang becek yang bila tak kutahan-tahan, niscaya aku telah beberapa kali muntah.

Rasa pening pun menyerang kepalaku saat aku berjalan menyusuri gang-gang yang dirundung gerimis itu. Rasa jenuh dan lelah itu pun harus ditambah dengan lalu-lintas Koja yang padat, sementara kali-nya yang berwarna hitam itu tak kalah asamnya menyebarkan bau tak sedap seperti di lingkungan kumuh di mana aku melakukan wawancara dengan si bapak yang berusia 40-an tahun dan anak gadisnya, yang mengingatkanku pada tokoh Sonia Marmeladov dalam novel Crime and Punishment-nya Fyodor Dostoevsky itu.

Kutinggalkan rumah sederhana beratap seng yang hanya memiliki tiga ruangan itu meski langit masih saja meneteskan butiran-butiran air yang membuat kepalaku terasa berat, juga dingin angin yang membuat tubuhku terus menggigil di saat aku terus melangkah dengan sepasang sepatu yang terasa lembab dan basah.

Sulaiman Djaya (2002). Ilustrasi: Marian Marsh dalam Crime and Punishment (1935)

annex-marsh-marian-crime-and-punishment_01

Prosa Sulaiman Djaya

Ibunda

Claude Monet

Di saat-saat senggang, bila ia tidak sibuk di sawah, dianyamnya daun-daun pandan di pagi hari hingga azan zuhur berkumandang dari sebuah mesjid yang dilantangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, lalu setelah zuhur dan setelah menyiapkan makan siang bagi anak-anaknya, ia mulai menganyam lagi, dan daun-daun pandan kering yang dianyam dengan jari-jemari tangannya yang cekatan dan sabar itu telah menjelma tikar di saat senja.

Di hari yang lain ia akan mencari kayu-kayu kering yang jatuh dari pohon-pohon sepanjang pinggir jalan atau mematahkannya jika ranting-ranting dan dahan-dahan kering itu masih bertengger di pohon, dan adakalanya ia memotong sejumlah dahan pohon, yang kemudian ia potong-potong dan ia belah untuk dijemur dan dikeringkan. Kayu-kayu kering itu ia gunakan untuk menyalakan dapur bila ia memasak.

Di malam harinya, yang ia lakukan setiap malam selepas sholat magrib, ia akan mengajari anak lelakinya yang kala itu masih berusia lima tahun untuk menyebutkan dan mengeja huruf-huruf hijaiyyah dan membacakan surat-surat pendek dalam Al-Quran kepada anak lelakinya yang masih balita itu.

Sebagai seorang perempuan desa, ia hanya lulus sekolah dasar saja, yang di masanya disebut Sekolah Rakyat (SR). Meskipun ia hidup sederhana dan bersahaja, orang-orang di kampungnya menghormati dan mencintainya, orang-orang kampung tidak akan menghina karena kesederhanaan dan kesahajaannya, karena kakek dari anak-anaknya adalah lelaki terpandang, dan terbilang cukup kaya.

Ia juga perempuan berusia 30-an lebih yang setia dan akrab bersama pohon-pohon rosella yang ditanam dan dirawatnya, selain pohon-pohon lainnya yang ia tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarganya dan untuk dijual, seperti kangkung, tomat, kacang dan jenis tumbuh-tumbuhan sayur lainnya.

Setelah itu, selepas ia sholat isya, ia akan berdoa, yang terdengar seperti keluhan yang samar, seperti seseorang yang mengadu kepada malam yang sunyi, basah, dan senyap. Kesabaran dan ketabahan yang dimilikinya pastilah karena cintanya kepada anak-anaknya –selain rasa tanggungjawabnya sebagai seorang ibu.

Hari itu ia hanya menyediakan sambal, nasi, dan sayur saja, tanpa tempe dan ikan asin seperti biasanya. Ia berkata kepada anak-anaknya bahwa tak ada lagi uang untuk membeli kebutuhan makan mereka, dan karena sejumlah tanaman yang ditanam dan dirawatnya belum waktunya untuk dipanen, dan karena itu tak ada yang bisa dijual.

Tapi, barangkali, bagi orang-orang desa yang terbiasa hidup sederhana dan bersahaja itu, sayur berkuah banyak, nasi, dan sambal saja sudah cukup bagi mereka sekedar untuk menghilangkan rasa lapar.

Anak perempuannya yang telah bersekolah di sekolah menengah pertama tampak kecewa ketika mendengar apa yang ia ucapkan, karena si anak perempuannya itu semula hendak meminta uang kepadanya untuk membeli buku bagi keperluan sekolahnya, sekedar buku catatan, di saat buku-buku catatan sekolah anak perempuannya itu memang sudah penuh dengan catatan-catatan pelajaran sekolahnya.

“Tunggulah sampai kakakmu mendapat gaji pertamanya sebagai karyawan,” demikian ia menghibur si anak perempuannya itu, “tinggal beberapa hari lagi kakakmu akan mendapat gaji pertamanya.”

Memang ia mengandalkan anak lelaki tertuanya yang telah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kertas yang baru beroperasi untuk membantunya menghidup anak-anaknya yang masih kanak-kanak dan yang sudah bersekolah di sekolah menengah pertama itu.

Haruslah ia akui, hasil penjualan dari sejumlah tanaman yang ditanam dan dirawatnya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah, seperti untuk membeli buku-buku paket dan buku mata pelajaran wajib, setelah kebutuhan untuk makan sehari-hari, dan karena itu ia mengandalkan anak lelaki tertuanya yang telah bekerja di sebuah pabrik dengan gaji bulanan yang didapat anak lelaki tertuanya itu.

Namun, yang barangkali haruslah pembaca ketahui, sebelum anak lelakinya lulus sekolah menengah pertamanya dan kemudian bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik kertas itu, ia adalah perempuan yang harus berjuang dengan sabar untuk mempertahankan keluarganya, meski harus menjalani kehidupan yang sederhana dan bersahaja.

Barangkali, dapatlah dikatakan, ia adalah seorang perempuan yang haruslah diistilahkan sebagai ibu dalam segala hal bagi keluarganya yang dicintainya dan dipertahankannya dengan kesabaran dan ketabahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan sebagai orang desa –orang yang sudah terbiasa akrab dengan keterbatasan.

Sulaiman Djaya (2002). Ilustrasi: Lukisan karya Claude Monet 

Sketsa Sulaiman Djaya

Prosa Sulaiman Djaya

Lelaki Hujan

Buku Diari

Ini adalah secuil kisah tentang seorang lelaki remaja. Suatu ketika, di sebuah masa kala lampu-lampu listrik belum hadir di rumahnya, di tengah perjalanan pulangnya dari sekolah menengah pertamanya, tiba-tiba turun hujan lebat, dan ia berteduh di bawah naungan ranting-ranting, dahan-dahan, dan daun-daun sepohon lebat di tepi jalan. Dan ia bersyukur dengan kehadiran pohon besar saat hujan lebat turun tanpa ia duga itu.

Memang, selama separuh perjalanannya saat ia pulang sekolah dari sebuah sekolah menengah pertamanya dengan berjalan kaki itu, langit tampak mendung, dan ia pikir hujan baru akan turun sesampainya ia di rumah, sebuah praduga dan perkiraan sepihak yang sungguh keliru dan ia sesali. Maklum, kala itu ia ingin segera pulang ke rumah, di saat ia merasa lapar, dan kekurangan uang jajan di sekolah.

Dan malangnya ia saat itu. Hujan yang merundungnya itu ternyata berlangsung cukup lama, sekira setengah jam lebih. Dan saat itulah ia dihunjam kesepian dan ketakutan di saat seluruh tubuhnya menggigil kedinginan.

Tak ada kendaraan atau orang yang melintas selama hujan lebat itu turun dan tercurah cukup deras dan riuh. Saat itulah ia serasa tengah berada di dalam dunia yang sangat sunyi. Barangkali pada saat itu pula hatinya berdo’a tanpa henti selama hujan itu turun dengan derasnya.

Saat itu ia mungkin berpikir bahwa manusia ternyata harus bersabar dan berdo’a ketika kejadian dan peristiwa yang tak menyenangkan menimpanya. Bahkan, kebahagiaan yang kita alami dan kita rasakan akan lebih bermakna setelah kita mengalami dan merasakan penderitaan.

Setelah hujan lebat itu reda, ia menggerakkan dan melangkahkan kedua kakinya dalam keadaan tubuh menggigil kedinginan, hingga gigi-giginya sesekali bergemeretak.

Untungnya kala itu, ada mobil truck pengangkut pasir melintas, dan ia dibolehkan duduk menumpang di kursi sopir dan temannya –dan itulah berkah yang tak ia duga setelah mengalami siksaan dan penderitaan bathin dan fisik selama satu jam lebih dalam rundungan kesepian dan kesunyian yang bercampur ketakutan.

Sesampainya di rumah, ia segera melepaskan baju seragam sekolahnya dan langsung ia serahkan kepada ibunya tersayang, dan ibunya segera menjemur baju seragam sekolahnya itu di dapur, di sebatang bambu yang melintang di atas dapur agar cepat kering dengan bantuan suhu dapur bila ibunya memasak dengan menggunakan kayu bakar di tungku-tungku dapur, karena keesokan harinya ia harus mengenakan baju seragam sekolahnya tersebut.

[Sulaiman Djaya 2001]

Ketika Gerimis Terus Berbisik Karya Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya Sketch

Prosa Sulaiman Djaya

Lampu Minyak

Puisi Lampu Sulaiman Djaya

Masa-masa itu adalah masa-masa di tahun 1980-an, ketika ia masih kanak-kanak, masa ketika ia menggunakan penerangan selampu minyak di meja belajarnya, lampu minyak yang juga digunakan untuk rumah-rumah orang-orang di kampungnya. Di rumah dan keluarganya sendiri, yang setiap hari melakukan tugas menyediakan lampu-lampu minyak untuk belajarnya itu adalah ibunya.

Setiap menjelang malam, kira-kira beberapa menit sebelum adzan magrib berkumandang, ibu-nya lah yang mulai bekerja mengisi tabung lampu-lampu minyak dengan minyak tanah atau minyak kelapa yang dibuat ibunya. Antara dua minggu atau satu bulan, karena ia tak lagi ingat dengan tepat, ibunya juga akan mengganti sumbu lampu-lampu minyak yang terbuat dari kain-kain bekas pakaian.

Lampu-lampu minyak itu, bila keluarganya sedang menjalani malam-malam di musim hujan, harus bertarung dengan hembusan angin ketika hujan turun di waktu malam. Biasanya, ibunya akan melindungi nyala-nyala api lampu-lampu minyak itu dengan menggunakan pelindung dari plastik yang juga dibuat oleh ibunya.

Pada saat itulah, ia yang tengah belajar di meja belajarnya, diberi anugerah untuk mendengarkan pecahan-pecahan hujan di halaman dan di genting-genting rumah. Mungkin, saat itu, ia membayangkan pecahan-pecahan hujan itu sebagai para peri yang tengah riang menari dan bernyanyi di hening malam.

Kadang-kadang, sebagaimana angan-angannya merekonstruksinya saat ini, kala ia telah menjadi seorang lelaki dewasa, ia berhenti sejenak untuk sekedar menyimak suara-suara riuh angin dan gerak dedaunan yang diombang-ambing angin dan hujan. Sesekali ia juga membiarkan saja tetes air hujan yang menitik di ruangannya, hingga ibunya merasa kecewa dengan sikap diamnya itu.

Di masa-masa itu, di tahun 1980-an itu, ia hanya dibolehkan bermain dengan teman-temannya sampai jam delapan malam saja. Berbeda dengan sekarang ini, ketika itu jam delapan malam sudah terasa sangat sunyi dan hening sekali. Apalagi dengan keberadaan pepohonan rindang sepanjang jalan dan sungai yang terasa sunyi dan terjaga dalam kebisuan.

Baginya, masa-masa itu adalah masa-masa ketika ia sedemikian akrabnya dengan kesunyian dan keheningan malam. Terlebih di bulan-bulan selama musim hujan, ketika hujan adakalanya turun di waktu subuh atau tengah malam. Sedemikian akrabnya dengan selampu minyak yang asap hitamnya menghitamkan bilahan-bilahan bambu penyangga genting-genting rumahnya.

Dan, bila hujan malam itu usai, maka giliran binatang-binatang malam, semisal para serangga dan katak, yang akan mengambil alih keheningan yang dingin itu dengan suara-suara riuh mereka. Namun anehnya, suara-suara mereka itu malah semakin menambah keheningan itu sendiri sedemikian nyata dan akrab.

Adakalanya ia membayangkan suara-suara mereka tak ubahnya sebuah orkestrasi yang tengah digelar di sebuah tempat yang jauh, meski mereka hanya beberapa meter jaraknya dari belakang rumah. Suara-suara konser yang datang dari pematang-pematang kegelapan malam itu sendiri –yang ditafakkurinya dari meja belajarnya bertemankan senyala mungil lampu minyak, yang seperti secuil waktu yang terjaga itu.

Tanpa sadar, ia dan nyala mungil selampu minyak di meja belajar ternyata sama-sama tengah saling merenungi diamnya waktu kala itu. Waktu, yang saat ini, ia pahami sebagai keabadian itu sendiri –ingatan dan kenangan.

Sulaiman Djaya (2010)

Prosa Sulaiman Djaya

Kebetulan

Sketsa Perempuan

Pada suatu hari, menjelang siang, aku bertemu seorang perempuan ketika aku ingin menemui temanku di sebuah kampus. “Ada si…….gak?” tanyaku padanya yang saat itu berdiri di depan pintu. “Gak ada…..” jawabnya. “Kamu siapa?” aku kembali bertanya, dan ia pun menyebutkan namanya.

“Aku kan sudah menyebutkan namaku…..gak adil donk kalau situ gak menyebutkan nama situ….” protes-nya. “Ah….kamu gak perlu tahu-lah namaku,” jawabku, “toh kamu juga gak sungguh-sungguh ingin tahu….”. Aku tahu dia merasa tersinggung dengan sikapku itu. Hal itu terlihat dari perubahan warna wajah dan sorot matanya yang tiba-tiba menjadi tajam, mirip orang yang ingin meluapkan amarah.

Aku bilang padanya bahwa namanya terkesan sangat orang desa sekali, dan ia pun cemberut. Tetapi sesungguhnya ia cukup manis, meski tak terlalu cantik. Pastilah ia merasa sangat tidak nyaman dengan sikapku itu yang sungguh-sungguh membuatnya merasa diremehkan –pertanyaanku padanya dan caraku menjawab pertanyaannya yang seakan menunjukkan bahwa dirinya tak penting dibanding temanku yang ingin kutemui.

“Kamu aktif di sini?” tanyaku. “Ya……” jawabnya. “Memang kenapa?” tanyanya setelah menjawab pertanyaanku, tapi aku tak mempedulikan dan tak menjawab pertanyaannya.

Aku sungguh-sungguh tidak mengenalnya, dan baru kusadari belakangan bahwa justru ia tahu siapa aku, dan pantas saja jika ia tidak marah dengan sikap kurang ajarku yang meremehkannya, karena ia pernah menjadi peserta pelatihan menulis yang narasumbernya adalah aku.

Sungguh ia tidak cantik, tapi ia memiliki daya tarik pada sepasang matanya dan bentuk pipinya, manis dan bersahaja, dan itu baru kusadari ketika akhirnya aku malah mengisi kegiatan bersama di sebuah sekolah, karena ternyata ia adalah anggota sebuah komunitas di mana aku lebih dulu menjadi bagiannya.

Ketaktahuanku bahwa ia anggota baru tak lain karena memang untuk beberapa tahun terakhir aku jarang nimbrung bersama teman-teman, kecuali kalau diminta untuk mengisi acara-acara formal, seperti menjadi pembicara dalam diskusi atau ketika diminta menjadi kurator.

Harus kuakui aku jadi malu sendiri karena aku pernah bersikap kurang layak kepadanya di saat pertama kali aku bertemu dengannya secara kebetulan seperti yang telah kukatakan itu.

Karena beberapa kali bertemu dan terlibat dalam kegiatan bersama di sebuah sekolah itu, aku diam-diam semakin sering juga mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan dia secara diam-diam, dan ternyata dia perempuan yang cukup menarik –dan bersamaan dengan itu, aku pun jadi sadar bahwa ia cantik.

Sejak itu aku berusaha untuk menghilangkan kesan buruk di benaknya tentangku karena kekurangajaranku pada pertemuan pertamaku dengannya itu. Sebuah kebetulan yang tak kurencanakan. Aku pun mulai bersikap ramah padanya, suatu upaya, yang katakanlah, untuk menebus kesalahan dan kekeliruanku pada pertemuan pertamaku yang gagal itu.

Sulaiman Djaya