Penulis

Halte, Hujan, Senja

Ojek Payung di Halte Busway

Setiap pengalaman yang membuatmu merasa kecewa atau bahagia, membuatmu merasakan kebosanan atau gembira, tentu akan menjadi sesuatu yang menurutmu indah dan karena itu kau akan mengenangnya, atau kau ingin melupakannya jika membuatmu merasa kecewa, meski acapkali pengalaman rasa kecewa juga tak dapat dihilangkan dari benak dan ingatanmu. Salah-satu pengalaman itu adalah tentang hujan dan senja –setidak-tidaknya disebut pengalaman yang menjadi ingatan bagiku.

Di hari itu, untuk kesekian kalinya, aku terjebak hujan saat hendak pulang dari sebuah kawasan perkantoran di Kebon Sirih, Jakarta, tempatku bekerja sebagai salah-satu peserta dari tiga orang yang sedang magang jurnalistik, sebuah pekerjaan yang kulakukan demi dapat makan di Ibukota, demi survival.

Dalam keadaan hujan dan kemudian tersisa gerimis saja itu, aku hanya bisa duduk di halte, merasakan kejenuhan dan kebosanan, merenung sembari memandangi butir-butir air yang jatuh dari langit, di saat senja tampak gelap, dan dingin berhasil masuk menembus benang-benang baju, juga rasa gigil di kaki karena sepatu yang basah. Meski akhirnya, ada peristiwa tak terduga saat itu, yang tak ingin kuceritakan di catatan harianku kali ini, barangkali ingin kusimpan untuk kuceritakan di kesempatan yang lain, di lembar-lembar yang lain.

Bagiku, dan mungkin juga bagimu, setiap kenyataan dan peristiwa akan senantiasa dialami dan dirasakan secara berbeda –tidak akan pernah sama. Begitu pula suatu “sunnah alam” yang sama, semisal hujan yang dibicarakan dalam diari singkat ini, tak selamanya memberikan dan menghadirkan keintiman dan suasana yang seragam ketika ia hadir dan datang kepada kita untuk yang pertama-kalinya atau untuk yang kesekian-kalinya.

Bagiku sendiri, dan tentu saja aku tidak tahu bagimu, hujan kupahami sebagai waktu dan semesta yang tumpah, sebagai aksara yang lahir untuk menjadi kata, menjadi kalimat, singkatnya menjadi sajak. Ini adalah momen ketika aku berada di ruang baca dan meja menulisku, bukan ketika aku menunggu hujan reda sembari menunggu bus yang lewat yang akan membawaku pulang ke tempat di mana aku akan beristirahat dan membaca buku-buku yang kusuka.

Pada saat itu, lewat jendela kaca, aku menyempatkan diri untuk merenungi dan memandangi mereka. Menyimak riuh dan gemericik suara mereka, persis ketika kelahiran dan kematian hadir bersamaan dalam waktu –persis ketika waktu sedang berhenti.

Dan tentu saja, adakalanya mereka menawanku dalam momen-momen yang lain, seperti ketika aku duduk atau menunggu di halte busway, di kota Jakarta yang tak bahagia ini, dalam keadaan kedinginan –dan aku yakin kau pun pernah mengalami momen seperti yang kualami ini. Ketika mereka mengguyur jalanan aspal dan gedung-gedung bertingkat yang angkuh dan bisu.

Dalam keadaan seperti itu, kau barangkali merasa kesal, jenuh, atau bosan, tak lain karena pada momen itu, mereka menghadirkan dan menghunjamkan kesepian ke dalam perasaan dan hatimu, kedalam jantung eksistensimu yang rentan. Kecuali jika kau menerima dan mengintiminya sebagai momen puitik.

Kehadiran mereka, setidak-tidaknya menurutku, ternyata “menciptakan” ragam momen eksistensial dan suasana bathin bagi ragam orang di ragam tempat dan “waktu”. Momen eksistensial bagi seorang kekasih yang memiliki janji atau jadwal untuk bertemu kekasihnya, contohnya. Bagi mereka yang hendak ke tempat kerja atau bagi mereka yang hendak pulang dari tempat kerja, dan lain sebagainya.

Tetapi lain di kota lain pula di desa, berbeda dengan di kota di mana sebuah kosmik ruang-waktu ketika aku menulis diari singkat ini, di desa hujan adalah momen puitik dan peristiwa bahasa, sejumlah perumpamaan kosmis dan spiritual, di mana kematian dan kelahiran, hadir dan datang secara serentak, persis ketika waktu berhenti, dan bahasa kembali ke rahimnya sebagai puisi. Bahasa itu adalah perpaduan kematian dan kelahiran –yang kita sebut waktu.

Sulaiman Djaya (2011)

Ojek Payung di Jakarta

Iklan
Penulis

Siapakah Manusia Berbudaya?

Anton Chekhov 1888

oleh Anton Chekhov (pujangga Rusia)

Manusia berbudaya, setidak-tidaknya, memiliki 8 ciri dan karakter berikut:

[1] Menghormati kepribadian manusia. Orang berbudaya selalu bersikap baik hati, lembut, sopan, dan siap memberi. Jika mereka hidup dengan seseorang yang tidak disukainya, mereka tidak akan mengatakan “tak ada seorangpun yang bisa hidup denganmu.” Mereka juga memaafkan kebisingan, udara dingin, serta kehadiran orang asing di rumah mereka.

[2] Memiliki simpati. Tidak hanya kepada pengemis ataupun kucing saja, tapi kepada setiap makhluk.

[3] Menghargai apa yang dimiliki oleh orang lain.

[4] Jujur dan tak pernah berbohong. Orang berbudaya tak akan berbohong, meski pada hal kecil sekalipun. Mereka menganggap kebohongan sebagai tindakan yang menghina dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih rendah. Mereka juga tidak berpura-pura, dan tidak takut bertingkah laku di jalan seperti layaknya di rumah. Mereka tidak pernah pamer di hadapan rekan mereka yang lebih papa. Mereka tidak mengoceh dan memaksakan kepercayaan diri mereka pada orang lain.

[5] Tidak merendahkan diri sendiri demi mendapat belas kasihan dari orang lain. Orang berbudaya tidak akan mempermainkan hati orang, hanya untuk membuat mereka simpati.

[6] Tidak sombong. Orang berbudaya tidak akan peduli pada perhiasan ataupun selebriti-selebriti terkenal. Mereka juga tidak akan membangggakan sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Orang yang benar-benar berbakat akan menempatkan diri mereka jauh dari keramaian dan publisitas.

[7] Menghargai bakat. Orang berbudaya akan menghargai dan bangga akan bakat mereka.

[8] Mengembangkan rasa estetika pada diri sendiri. Orang yang berbudaya tidak bisa tidur nyenyak dengan pakaian mereka jika melihat retakan di dinding yang penuh dengan serangga, ataupun menghirup udara kotor. Mereka tidak memandang wanita sebagai teman tidur saja.

Penulis, Seni dan Sastra

Fiksi dan Diari

Puisi Inspiratif Sulaiman Djaya

Anaïs Nin adalah salah satu penulis diari (jurnal pribadi atau catatan harian) yang paling lama dalam sejarah. Ia menulis diari atau catatan harian pada umur sebelas tahun dan tetap melanjutkan kebiasaannya tersebut hingga kematiannya di usia 74 tahun dengan menghasilkan 16 volume jurnal (diari atau catatan harian).

Ketika memberikan kuliahnya di kampus Dartmouth, Amerika, tahun 1946, ia berbicara tentang peran diari atau catatan harian (jurnal pribadi) sebagai pembelajaran yang tak ternilai harganya dalam mengasah kemampuan menulis.

Kebiasaan menulis diari atau catatan harian juga dapat melatih kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan yang konsisten dan berkesinambungan. Menulis diari adalah latihan menulis yang paling murah dan dapat dilakukan dengan bebas, termasuk melatih penulis untuk ‘merenung’ dengan dirinya sendiri atas keseharian dan dunia.

Dalam pengalamannya, menulis diari atau catatan harian membantu untuk menemukan elemen dasar sebagai kekuatan dalam menulis, menggali penemuan dari kebiasaan-kebiasaan tertentu yang ditransformasikan kedalam jenis penulisan tertentu dengan kewajaran dan spontanitasnya.

Selain itu yang sebenarnya menarik adalah apa yang dirasakan paling kuat oleh penulis pada momen ketika menulis diari itu sendiri, yang kemudian akan memberikan suatu semangat, antusiasme yang menghasilkan gambaran hidup, improvisasi, kestabilan mood, potret, deskripsi, sketsa, dan eksperimen yang mendukung materi penulisan.

Di dalam diari, penulis menuangkan kenyataan dengan jujur dan apa adanya sesuai fakta yang terjadi. Semakin intens sebuah diari, akan semakin dalam juga observasi yang dilakukannya.

W.H. Auden, sebagai contohnya, menggambarkan jurnalnya sendiri sebagai: “Kedisiplinan untuk mengatasi kemalasan dan kekurangan observasi dalam dirinya”. Menulis diari adalah pembelajaran praktis untuk seseorang secara sadar hadir sebagai dirinya sendiri, menjadi saksi atas pengalaman-pengalaman, dan benar-benar mendiami kehidupan.

Sebagaimana dipaparkan Andre Gide dan Emerson, selain berguna untuk memberi gambaran yang jelas mengenai keterjadian, diari juga melatih observasi dalam hal pemikiran.

Buku diari atau catatan harian (jurnal pribadi) berguna secara sadar dan disengaja dalam perkembangan kemampuan menulis dan menceritakan kejadian dan detil-detil peristiwa. Dengan menulis diari, penulis lebih dapat melatih penglihatannya untuk melihat lebih jelas tentang apa yang terjadi dalam diri seseorang dan dunia sekitar.

Dalam hal ini Emerson menyatakan, ‘Penulis yang baik terlihat seperti menulis tentang dirinya sendiri, tetapi matanya selalu tertuju pada kehidupan semesta yang terjadi melintasi dirinya dan segala hal’.

Filsafat, Penulis

Montaigne

Lukisan Jules Breton

Ratusan tahun silam, di sebuah ruang perpustakaan kastil indah di Bordeaux, seperti yang diceritakan kembali oleh Alain de Botton, Michel de Montaigne menulis tentang Thales, yang terdengar sebagai sebuah sindiran dengan jalan memuji sahabat sang filsuf, ketimbang filsuf itu sendiri:

“Aku selalu merasa senang pada gadis dari Miletus yang memandangi sang filsuf, ketika sang filsuf dengan matanya yang menerawang ke atas mengukur kubah langit, seolah hendak mengingatkan sang filsuf bahwa sudah cukup waktu untuk menentukan sesuatu di atas awan bila ia telah menghitung segala sesuatu yang berada di depan kakinya”, ujar Montaigne dalam Essays-nya.

“Kau pun dapat melakukan celaan yang sama sebagaimana gadis dari Miletus itu melakukannya kepada Thales, untuk menghadapi setiap orang yang mendalami filsafat dalam pelupaan, orang yang gagal melihat dan menyaksikan kenyataan yang terletak di depan kakinya”, lanjut Montaigne.

Orang yang membaca fragmen yang ditulis Montaigne tersebut tanpa terlebih dahulu mengetahui siapa sesungguhnya Montaigne, mungkin akan terlalu dini menilainya sebagai orang yang anti-teori atau pun anti-pemikiran. Tetapi Montaigne sendiri tentulah tidak demikian. Ekstremitas kejujuran Montaigne biar bagaimana pun lahir dari seseorang yang cukup lama menggeluti dunia baca dan pemikiran.

Di usia tujuh tahun ia telah menamatkan Metamorphoses-nya Publius Ovidius Naso alias Ovid, dan sejak usia enam belas tahun, ia telah menamatkan seri lengkap karya-karya Publius Virgilius Maro alias Virgil si penulis Aeneid. Dengan demikian, skeptisisme Montaigne tetaplah didasarkan pada pengalaman pembacaan dan empirisisme perjalanan hidupnya yang memang kemudian menggemari petualangan dan bepergian ke daerah-daerah terpencil dan pegunungan.

Masa-masa muda Montaigne dijalani dengan membaca karya-karya Plautus, Homer, Plutarch, dan tentu saja Al-Kitab terutama Kitab Si Pengchotbah alias Ecclesiastes.

Montaigne memang ingin menginstropeksi pemikiran yang malah menjauhkan manusia dari kehidupan dan hasratnya untuk bebas dari penderitaan yang tidak produktif. Meski demikian, kesangsian dan instrospeksi Montaigne itu tetap merupakan ikhtiar dan kerja intelektual demi mencari perspektif dan paradigma baru pemikiran dan kerja-kerja intelektual, memberinya relevansi pragmatis dan kesepadanan dengan kenyataan keseharian yang dijalani manusia, hingga dapat mengurangi kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan keseharian manusia itu sendiri.

Dan sebagaimana kita tahu, bertahun-tahun kemudian, esei-esei yang ditulis Montaigne itu, di kemudian hari dibaca dan disuarakan kembali oleh Nietzsche, sang fisluf Jerman yang kontroversial itu.

Dalam Essays-nya itu, Montaigne memang seringkali berbicara tentang celah, kerentanan, dan bahkan ketidakmemadaian ilmu pengetahuan yang terlampau menjauhkan diri dari kenyataan kehidupan manusia itu sendiri: paradigma yang kadang sepihak, perspektif yang kadang memilih dan semena-mena.

Instropesksi dan kritik Montaigne itu mengingatkan saya pada Epicurus dalam hal penekanannya untuk mempertimbangkan dan tidak mengabaikan sisi manusiawi dari ilmu pengetahuan dan kerja intelektual. Sebuah anjuran yang belakangan ini menjadi wawasan filosofis-nya Richard Rorty dalam konteks masyarakat demokratis-liberal.

Dalam esei-esei yang ditulisnya itu, Montaigne bertanya: “Apakah kita berani mengakui bahwa manfaat akal yang kita junjung tinggi dan karenanya kita menganggap diri kita sebagai penguasa segala makhluk? Apakah manfaat pengetahuan, jika demi dirinya sendiri, kita kehilangan ketenangan dan kepercayaan diri yang mestinya kita miliki? Apa guna akal jika sikap kita tak lebih baik dari babi yang diceritakan Pyrrho?”

Seberapa pun ekstrem dan kekanakkannya pertanyaan-pertanyaan Montaigne tersebut, tetaplah merupakan kejujuran untuk mengakui unsur-unsur yang begitu akrab dengan kondisi manusiawi kita: “Kita telah menunjukkan ketidakkonsistenan, kekhawatiran, keraguan, kepedihan, takhayul, ketakutan mengenai apa yang terjadi”, tulisnya.

Seperti kita tahu, esei-esei Montaigne salah-satunya merupakan upayanya untuk mengkritik pandangan-pandangan konvensional yang dia baca dan yang dia alami dalam keseharian yang dia saksikan dan yang dia dengar. Bahkan menurutnya apa yang dipercayai orang-orang semasa hidupnya tak lebih merupakan sejumlah kekeliruan yang diiyakan begitu saja tanpa pemeriksaan.

Bahkan pada konteks-konteks esei-eseinya yang lain, Montaigne berbicara layaknya seorang antropolog-naturalis bahwa kehidupan manusia seperti halnya makhluk-makhluk hidup lainnya dapat juga dipahami sebagai sejumlah adaptasi-adaptasi yang berkesinambungan, dan pemikiran hanyalah salah-satu caranya.

Nada-nada yang disuarakan Montaigne tersebut di kemudian hari kembali didengungkan dalam esei-esei pendeknya Nietzsche yang aforistis, yang adalah salah-seorang pengagum kecerdasan Montaigne sebagai pengamat dan penulis yang nakal dan tangkas dalam mencerap pemikiran dan kenyataan keseharian.

Setelah beberapa tahun menghabiskan waktu-waktu kesehariannya di ruang perpustakaan pribadinya itu, Montaigne yang ingin mengisi masa-masa pensiunnya dengan membaca dan mendedikasikan dirinya demi ilmu pengetahuan, merasa gelisah dan tak puas dengan buku-buku yang dibacanya, lalu mengekspresikan kejengkelan dan kegelisahannya dengan menulis esei, mengkritik Cicero yang menurutnya kurang memperhatikan hal-hal remeh dalam keseharian kehidupan manusia itu sendiri: “Lelaki adalah makhluk celaka yang cuma mendengar dirinya sendiri dengan angkuh”, keluhnya, “Pada kenyataannya, ribuan perempuan desa hidup lebih cerdas dan bahagia, lebih meyakinkan dan lebih konsisten ketimbang Cicero”.

Di ruang perpustakaan pribadi yang terletak di lantai tiga kastil indah miliknya itu, demikian sebagaimana dinarasikan kembali oleh Alain de Botton, Montaigne tiba-tiba dibanjiri skeptisisme setelah melahap buku-buku kanon yang dibacanya selama berjam-jam di hampir setiap hari kehidupan masa pensiunnya tersebut, ia meragukan keabsahan dan relevansi tulisan-tulisan para pemikir dan filsuf yang dikaguminya, dan ia berusaha menengok ke aspek-aspek manusiawi itu sendiri, hingga ia pun sempat menulis sebuah puisi satir yang sarkastis:

Di atas singgasana tertinggi di dunia, kita bertahta, tetapi tetap di atas anus kita”.

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2008). Ilustrasi: Lukisan karya Jules Breton.

Penulis

Sulaiman Djaya dan Dinamika Kesusastraan

Sulaiman Djaya dan Dinamika Kesusastraan

oleh M. Rois Rinaldi (penulis dan penggiat sastra di Cilegon, Banten)

Kerja-kerja sastra sangat menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Karena dituntut mengerahkan kecerdasan emosional, kedalaman bathin, dan keluasan berpikir dalam setiap karya, bahkan dalam setiap tindakan –meski tak dapat dipastikan bahwa semua penyair demikian. Sementara di sisi lain, paling tidak hingga tulisan ini ditulis, kesusastraan (khususnya puisi) masih di-anak tirikan, di mana toko-toko buku tidak begitu saja menerima antologi puisi, syarat dan ketentuan yang diajukan dibuat berat dan bertele-tele.

Jika pun ada buku puisi yang tersebar di toko-toko buku, sebatas kata-kata cinta ala anak-anak remaja (ABG). Hal semacam itu memang aneh sekaligus tidak aneh, karena manusia di jaman sekarang orientasinya selalu keuntungan, maka yang diprioritaskan kehendak pasar, kualitas menjadi nomor keseratus.

Kenyataan yang dihadapi sastrawan seperti buah simalakama: mengerahkan seluruh hidupnya dalam kesusastraan yang minus pendapatan material atau gantung pena, lalu memilih profesi lain yang lebih menghasilkan. Dilatarbelakangi oleh pangsa pasar pula, membuat beberapa sastrawan berpindah-pindah genre, seperti Motinggo Busye. Novel-novelnya laku keras seperti kacang goreng di area layar tancap. Belum lagi sastrawan dihadapkan pada kemalasan guru-guru bahasa yang tidak berusaha mencari dan menemukan data baru mengenai sastrawan yang hari ini berkarya.

Sebetulnya perkara-perkara semacam itu tidak akan membuat sastrawan sejati tumbang. Karena bagi sastrawan yang bebas jiwa dan badannya, keadaan tidak untuk diikuti, melainkan ditanggapi dengan matang dan tenang –toh kemenangan selalu di tangan orang-orang yang tenang. Berbeda dengan sastrawan yang tahunya soal-soal eksistensi dan selebritas kesusastraan, biasanya rapuh dan kalah oleh keadaan. Sepanjang waktu akan ditakut-takuti kegelisahan eksistensi, apalagi sampai tidak laku dan tidak menulis kemudian menjadi pilihan.

Sulaiman Djaya salah satunya –sastrawan ini selalu riang gembira dalam pelbagai kesempatan. Ia termasuk sastrawan yang produktif. Terakhir ia menerbitkan antologi puisinya yang berjudul Mazmur Musim Sunyi. Sastrawan yang lebih pas disebut penyair ini, selain menulis puisi dan esai sastra, juga kerap menulis tentang kajian-kajian kebudayaan. Sehingga belakangan ia juga disebut budayawan. Tetapi sekali lagi, ia lebih pas disebut penyair. Puisi-puisinya memiliki warna airmuka yang begitu dekat kaitannya dengan “hakikat kehidupan”. Jika sekilas dibaca, puisi-puisinya seperti puisi cinta biasa, akan tetapi jika diselami lebih dalam, ada warna “teologis”, semisal yang bercitarasa sufistik.

Begitulah sekilas tentang Sulaiman Djaya dan karya-karyanya. Seperti kata pepatah: “Tak kenal maka tak sayang” melihat konsistensinya di dunia kesusastraan. Menyoal proses kreatif, sastrawan ini kerap memberikan “wejangan” kepada penyair-penyair muda untuk membaca dan memahami Al-Qur’an –karena di dalam Al-Qur’an aspek-aspek kesastraan begitu paripurna. Begitulah obrolan ringan mengenai kesusastraan bersama Sulaiman Djaya sambil ngopi dan makan ubi rebus.

Sumber: Tabloid Ruang Rekonstruksi Edisi Desember 2013.