Galeri

Rene Magritte

 

Rene Mgritte (21 November 1898 – 15 Agustus 1967) adalah salah satu seniman Belgia yang paling terkenal di abad ke-20. Rene Magritte mendapatkan banyak sanjungan atas pendekatannya yang istimewa terhadap Surealisme. Namun sebelum menjadi seniman, untuk menunjang kehidupannya ia menghabiskan bertahun-tahun bekerja memproduksi dan mendesain cover buku.

Magritte tertarik pada keberadaan kelas menengah, kelas yang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja dan menghabiskan uangnya untuk bertahan hidup. Kurang miskin untuk disubsidi oleh pemerintah, namun tidak mampu membeli kebutuhan pokok seperti rumah. Sebuah kehidupan yang ia lambangkan melalui pria yang mengenakan topi bowler.

A Rene Magritte oil painting, estimated to be worth $800,000, will be auctioned Thursday, October 29 in J. Levine Auction & Appraisal's Fall Catalog Auction in Scottsdale, Arizona. http://www.jlevines.com (PRNewsFoto/J. Levine Auction & Appraisal)
Iklan
Galeri

Galeri Program Sastra Malam di Udara

 

Sastra Malam di Udara atau SAMARA adalah program bincang sastra tiap Kamis pukul 20.00 -23.00 WIB di Serang Gawe 102.8 FM yang dikemas secara rileks dan santai, ngobrolin sastra dalam hubungannya dengan banyak hal yang ada dan hadir dalam hidup kita. Program ini merupakan kerjasama Serang Gawe 102.8 FM dengan Forum Seniman Banten (FSB) yang diasuh oleh Sulaiman Djaya (penyair, esais, dan penulis prosa).

Galeri

Membincang Kopi dan Segala Ihwal Tentangnya

Tidak seperti forum sebelumnya, kali ini Forum Seniman Banten menggelar diskusi seputar kopi, dari sejarahnya hingga permainan korporasi global. Di Diva Coffee (Banyu Biru Nusantara) Ciceri, Kota Serang, Banten pada 31 Mei 2018 mulai pukul 21.00 WIB itu, Kang Ari sebagai narasumber yang dipandu seniman grafis Wahyu Widyantono, mengupas banyak aspek tentang kopi. Mulai dari menerangkan di mana kopi bisa tumbuh, jenis-jenis kopi, hingga permainan korporasi global yang meraup untung dari komoditas dagang, yang ternyata telah diperebutkan sejak era kolonial, selain tak lupa juga Kang Ari Banyu Biru mempraktekkan bagaimana meracik kopi asli yang enak untuk dinikmati.

Dalam diskusi yang akrab itu, Kang Ari Banyu Biru juga memaparkan segala sisi ironis tentang negeri kita Indonesia, sebagai penghasil kopi terbesar keempat di dunia, namun belum punya brand sebagaimana kopi Brazil atau Vietnam, padahal segala macam kopi yang ada di dunia berasal dari Indonesia, seperti dari Gayo, Kerinci, Jawa Barat, Bali, Flores dan masih banyak lagi tempat-tempat di Indonesia sebagai penghasil kopi.

Dan ternyata, yang lebih mengenaskan lagi, kepemilikan penanaman dan pengolahan hingga distribusi dan penjualan kopi Indonesia yang banyak ragam dan jenisnya itu masih dikuasai PMA (Penanaman Modal Asing), hingga nyaris asing lah yang paling mendapat keuntungan ekonomi dari keberadaan kopi Indonesia. Belum lagi, seperti dipaparkan Kang Ari Banyu Biru, kelompok-kelompok separatis di Indonesia, semisal OPM dan yang lainnya itu adalah boneka asing (yang dalam hal ini Amerika) dalam rangka mengamankan lahan bisnis mereka agar tak ada investor lain yang datang. Itulah kenapa gerakan-gerakan separatis di Indonesia tidak merongrong aset-aset Amerika, Freeport misalnya.

Tidak luput pula dipaparkan Kang Ari Banyu Biru, bagaimana korporasi-korporasi global mengerahkan modal mereka untuk menguasai bisnis kopi ini, semisal Starbucks, yang lagi-lagi berani mengeluarkan dana yang tak kecil untuk menguasai kopi Indonesia, tapi tidak mencantumkan nama Indonesia sebagai brand mereka. Miris sekali! Namun, selain membahas itu semua, Kang Ari Banyu Biru, tak lupa menerangkan bagaimana seorang barista yang piawai dalam meracik kopi bisa dimaknai sebagai seorang seniman yang butuh kepekaan rasa.

Diskusi yang dihadiri para seniman, yang diantaranya adalah Edi Bonetski, Qbro Pandamprana, Deden Mulyana, Kang Uki, Peri Sandi, juga dari kalangan dosen seperti Hendra Sutan Pangeran, penggerak ekonomi kreatif seperti Kang AG, fotografer Ade Wahyu, jurnalis Kabar Banten Gito Waluyo juga yang lainnya, tampak khidmat meski dalam suasana rileks diselingi canda tawa sembari menikmati hidangan kopi yang disediakan para barista Diva Coffee (Banyu Biru Nusantara). Sementara itu, pihak penyelenggara yang diwakili Sulaiman Djaya (penyair) menyatakan bahwa obrolan itu kemungkinan akan dilanjutkan dalam bentuk acara yang lebih cair untuk publik yang lebih luas.

Galeri

Membincang Strategi Kebudayaan

Poin-poin Hasil Diskusi Strategi Kebudayaan di Padepokan Kopi Kota Serang, Banten 26 Mei 2018

Bahwa kebudayaan adalah hakikat nilai dan harus dikelola dengan laku berbudaya. Salah-satu ciri dan penanda utama laku berbudaya adalah humanis, jujur, dan transparan.

MC dan Wakil Penyelenggara: Sulaiman Djaya (Mantan Ketua Komite Sastra DKB)

Narasumber: Jajuli Abdillah (Staf Khusus Gubernur Banten), Ujang Rafiudin (Kabid Kebudayaan Dindikbud Banten), dan Suhaya (Ketua Prodi Pendidikan Sendratasik Untirta)

Moderator: Aliyth Prakarsa (Sessi Pertama) dan Purwo Rubiono (Mantan Ketua Komite Musik DKB di Sessi Kedua)

Atraksi Seni: Peri Sandi Huizche dan Bedjo Cakil Iswara

1. Perlunya regulasi dan political will Pemerintah untuk pemajuan kebudayaan, yang didalamnya mencakup penyusunan Cetak Biru Kebudayaan Banten oleh Pemerintah Banten dan para seniman

2. Perlunya pendirian Institut Kesenian Banten (IKB) dan pembangunan Gedung Kesenian Banten (GKB)

3. Harus segera dibentuk tim ahli untuk merumuskan regulasi kebudayaan yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, dan para seniman

4. Harus dilakukan pembenahan terhadap kelembagaan Dewan Kesenian Banten (DKB) secara manajemen agar dapat menjalankan prinsip transparansi, lebih partisipatif serta terbuka secara eksternal dan mengadopsi prinsip dan kerja kelembagaan yang modern secara internal, sehingga tidak terjadi kesemrawutan pengelolaan anggaran dan job description.