Ekologi

Tanah, Pasar, dan Enclosure Model Neoliberal

oleh Haroon Akram-Lodhi

Reforma agraria yang dipandu oleh pasar (Market-Led Agrarian Reform = MLAR) didasarkan pada dua asumsi: bahwa tanah merupakan sumberdaya ekonomi; dan pasar merupakan insititusi dimana partisipan yang terlibat di dalamnya adalah setara. Asumsi ini terbukti gagal, karena mengabaikan adanya karakter yang melekat secara sosial (socially embedded character) pada tanah dan pasar.

TANAH DAN PASAR: ASUMSI-ASUMSI YANG SALAH
Versi awal MLAR dimulai sejak tahun 1970an dan 1980an. Pada tahun 1990an, MLAR dilaksanakan di bawah bimbingan World Bank, di negara-negara seperti Brazil, Kolumbia, Afrika Selatan dan Filipina. Mengikuti dalil-dalil hak milik pribadi, MLAR yang bergaya text-book dilakukan dengan cara: membeli tanah milik para tuan tanah untuk dijual secara sukarela pada para petani kecil dan petani tak bertanah. Para pembeli biasanya dibebani biaya penuh untuk pengalihan hak milik tanah itu, dalam bentuk hutang kepada institusi keuangan pedesaan atau kepada negara, yang harus dibayarkan kembali sepanjang waktu. Namun, dalam beberapa versi MLAR yang ‘non-textbook’, seperti di Afrika Selatan, biaya pengalihan kepemilikan tanah ini mengambil bentuk “one-off non-repayable grant”. Pendeknya, dalam dua kasus tersebut, MLAR berupaya untuk menggantikan pola reforma tanah dan agraria sebelumnya, yaitu yang dipandu oleh negara (state-led land and agrarian reform) dengan model ‘kesukarelaan pembeli, kesukarelaan penjual’ dimana hal itu dijalankan berdasar pada transaksi yang difasilitasi pasar (market-facilitated) dan dimediasi oleh harga (price-mediated) untuk mendorong efisiensi ekonomi dan kesejahteraan sosial.

MLAR merupakan bagian dari seperangkat kebijakan yang lebih luas yang berupaya untuk meliberalisasi perdagangan internasional dalam hal pangan dan produk-produk pertanian; melakukan deregulasi operasi pertanian domestik; memprivatisasi industri pedesaan, dan memformalisasi kepemilikan dan kontrol hak milik yang bersifat privat namun monopolistik. Jadi, MLAR merupakan salah satu elemen dalam proyek yang lebih luas yang memfasilitasi restrukturisasi neoliberal dalam bidang agraria. Proyek ini pertamakali diberlakukan dalam bentuk program penyesuaian struktural (structural adjustment programmes) dan terus berlanjut dalam bentuk Strategi Pengentasan Kemiskinan (Poverty Reduction Strategy Papers). Dalam konteks restrukturisasi agaria neoliberal, apa yang membuat MLAR berbeda adalah program penyesuaian struktural tidak memiliki program tentang distribusi tanah secara lebih adil. MLAR kemudian diperkenalkan di negara-negara yang memiliki imperatif politik yang kuat untuk melakukan redistribusi tanah kepada petani kecil dan tuna tanah. Dorongan itu bisa ditopang dari bawah, oleh gerakan sosial pedesaan, atau dari atas, oleh elit-elit dominan yang berupaya untuk membangun pasar. Lalu, MLAR merupakan suatu upaya neoliberalisme untuk merekayasa suatu redistribusi aset dalam konteks reforma yang berorientasi pasar.

Restrukturisasi agraria neoliberal didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa tanah merupakan suatu sumberdaya ekonomi yang dapat dialokasikan untuk memaksimalkan keuntungan bertambah dari kepemilikan dan kontrol atas tanah.

Hal ini tentu berbeda dengan pemahaman alternatif dari para antropolog yang biasanya lebih dekat dengan gerakan sosial pedesaan yang mendefinisikan tanah sebagai ‘landscape’. Landscape terdiri dari empat elemen yang berbeda: elemen fisik yang terdiri dari bentuk tanah yang aktual; elemen-elemen hidup, termasuk flora, fauna dan aspek alam yang lain; elemen-elemen abstrak, seperti sinar dan cuaca; elemen manusia. Elemen-elemen ini bertinteraksi dalam berbagai bentuk, yang membentuk seperangkat relasi sosial di mana bentuk-bentuk kebudayaan akhirnya terbangun. Jadi dalam landscapes tertanam sekian relasi sosial.

Dan salah satu aspek kunci dalam pembangunan kapitalis adalah merubah karakter yang melekat secara sosial dari tanah itu untuk hanya menjadi sekedar komoditas.

Asumsi kedua dalam restrukturisasi agraria neoliberal adalah bahwa di dalam pasar yang berfungsi dengan baik, orang-orang bertemu secara sukarela dan setara untuk saling bertukar komoditi, dan melakukan pertukaran yang didasarkan pada keunggulan komparatif dan spesialisasi.

Dalam paradigma neoklasik dikatakan bahwa pasar merupakan suatu mekanisme untuk mengatur secara setara margin keuntungan yang akan diperoleh baik oleh produsen maupun konsumen. Pasar memiliki semacam ‘invisible hand’ yang mengatur mekanisme harga untuk menolak intervensi dari negara maupun monopoli ekonomi.

Tetapi argumen yang mendasarkan diri pada pandangan Adam Smith itu memiliki kelemahan. Di antaranya adalah pasar tak bisa meregulasi dirinya sendiri. Ia selalu membutuhkan institusi non-pasar untuk mengatur alokasi dan kontrol sumberdaya. Jadi pasar, sebagaimana halnya tanah, terikat pada proses dan relasi sosial yang lebih luas.

Pandangan di atas memiliki implikasi bagi MLAR dan tempatnya dalam restrukturisasi agraria neoliberal. MLAR membutuhkan seperangkat intervensi pemerintah yang berkaitan dengan reforma pemerintahan yang menjadi bagian dari restrukturisasi neoliberal. MLAR karenanya dibangun di atas institusi non-pasar untuk mengatur alokasi dan kontrol sumberdaya.

Argumen bahwa pasar terikat pada relasi sosial merupakan aspek yang penting dalam perspektif ekonomi-politik. Hal ini diungkapkan oleh Marx, ketika ia mendiskusikan pembelian dan penjualan tenaga kerja, yang mengatakan bahwa adanya kesetaraan antara dua anggota kelas yang berbeda pada pasar tenaga kerja dalam modus produksi kapitalisme adalah ilusi.

Ada empat faktor yang bisa dipakai untuk menganalisa bahwa asumsi semacam itu bersifat ilusif. PERTAMA, adalah menganalisa proses memasuki pasar. Bernstein mengatakan bahwa kelas-kelas yang dominan mengontrol secara tidak proporsional sebagian besar alat-alat produksi, yang memungkinkannya untuk memasuki pasar dari sebuah posisi dimana mereka dapat meregulasi operasi pasar untuk keuntungan mereka. Ketika pasar didominasi oleh kelas-kelas dominan, kelas yang subordinat memasuki pasar dengan alat-alat produksi yang terbatas maka ia akan diatur oleh keuntungan-keuntungan material dari kelas dominan. KEDUA, menganalisa bagaimana kepemilikan alat-alat produksi yang tidak berjalan secara proporsional itu akan berpengaruh pada kondisi-kondisi dimana pasar bekerja. KETIGA, memahami bagaimana peranan sentral yang dimainkan oleh para kapitalis di dalam pasar. KEEMPAT, menganalisa kondisi-kondisi di mana pengaturan koordinasi-berbasis-pasar diperlengkapi dan digantikan oleh tindakan langsung dari institusi-institusi non pasar seperti perusahaan besar atau negara.

EKONOMI POLITIK AGRARIA DAN ENCLOSURE
Politik ekonomi agraria berfokus pada pemahaman tentang hukum-hukum pergerakan kapitalisme kontemporer dan hubungannya dengan pedesaan. Sebagaimana dijelaskan oleh Kautsky, ekonomi politik agraria berkaitan dengan bagaimana ‘kapital’ mengambil alih pertanian, merevolusinya, menghancurkan bentuk-bentuk produksi lama untuk menetapkan bentuk produksi yang baru.

Dalam konteks ekonomi politik agraria, maka yang harus dipertanyakan dalam agenda MLAR adalah ‘pertanyaan soal tanah”: siapa yang mengontrolnya; bagaimana tanah dikontrol; dan bagaimana tujuan-tujuan dimana ketika tanah dikontrol akan menentukan dan mencerminkan distribusi kekuasaan, hak milik, dan privelese di wilayah pedesaan.

Istilah enclosure dalam literatur ekonomi-politik biasanya dianggap sebagai kondisi bagi terciptanya pembangunan kapitalisme. Pentingnya pemagaran akses tanah pada struktur relasi sosial pedesaan telah disoroti oleh Karl Marx. Menurutnya, perubahan ke arah kapitalisme dimulai dari hancurnya pertanian pedesaan dengan mencerabut petani dari alat subsistensinya, yaitu tanah, dan akibatnya menjadikan petani untuk secara terpaksa menjual tenaga kerjanya, dan seketika berubah dari produsen menjadi proletar. Di Inggris-lah fenomena semacam ini terjadi.

Meskipun istilah penutupan/pemagaran akses tanah itu dekat dengan gagasan tentang privatisasi tanah, atau apa yang disebut oleh David Harvey sebagai akumulasi aset publik dengan perampasan (‘accumulation by dispossession’), tetapi konsep enclosure yang digunakan disini berbeda. Enclosure bukan hanya tentang privatisasi asset, dalam bentuk fisik atau geografisnya—meskipun dimensi ini juga penting untuk dimaksudkan; tetapi enclosure juga bukan soal hasil-hasil perubahan dalam industri pertanian; enclosure juga bukan merupakan konsekuensi dari lahirnya kapitalisme industri. Namun, sebagaimana ditekankan oleh Wood, enclosure berfokus pada bagaimana munculnya kapitalisme berakar dari perubahan dalam isi dan makna dari relasi kepemilikan sosial. Dalam makna ini maka kapitalisme dimaknai sebagai sebuah relasi sosial, dan lahirnya kapitalisme melalui proses enclosure mencerminkan suatu proses yang lebih dalam. Ia tidak sesederhana pengalihan kepemilikan pribadi dalam aset material dalam kurun sejarah waktu tertentu. Jadi, enclosure bukan melulu soal tanah.

Pendapat semacam ini juga sangat ditekankan oleh Massimo De Angelis. De Angelis berpendapat bahwa ‘pemisahan produsen dan alat produksinya merupakan kategori sentral dalam kritik ekonomi-politik Marx’, pemisahan itu bukan hanya soal ‘proses-proses sejarah pemisahan antara produsen dengan alat produksinya, yang disebut oleh Marx sebagai ‘akumulasi pimitif’, melainkan ‘ketika kapitalisme eksis, modus produksi kapitalis berupaya sekuat mungkin untuk menjaga dan mereproduksi pemisahan itu dalam skala yang terus bertambah secara konstan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa ‘enclosures merupakan karakteristik yang berkelanjutan (continuous characteristic) dari kapitalisme dan bukan hanya feonemena historis dalam kurun waktu tertentu. Jika kapitalisme adalah sebuah relasi sosial, maka akumulasi kapital adalah ‘akumulasi relasi sosial’; ‘proses relasi ekonomi itu berjalan berdasarkan pada dominasi kapitalis terhadap kelas pekerja dan secara beriringan dan berkelanjutan sejalan dengan adanya kekuatan ekstra-ekonomi (direct extra-economic force).

Dalam modus produksi kapitalis saat ini maka enclosure adalah ‘perebutan secara paksa akses-akses untuk kesejahteraan sosial yang dimiliki oleh rakyat yang tidak semata-mata dilakukan dengan dimediasi oleh pasar yang kompetitif atau uang sebagai kapital’. Ada dua modus dimana perebutan secara paksa itu dilakukan: yaitu yang terjadi karena adanya kekuatan ekstra-ekonomi; dan yang terjadi sebagai suatu hasil dari proses akumulasi.

Restrukturisasi agraria neoliberal, termasuk di dalamnya MLAR, menunjukkan dua aspek pengambilalihan secara paksa seperti dijelaskan di atas. Jadi pasar dapat membangkitkan enclosure, yaitu perebutan akses tanah yang berdasar pada akumulasi atau perebutan tanah yang dipandu pasar oleh kelas-kelas dominan, dan pada saat yang sama pencurian/perebutan tanah itu dapat dibantu atau digantikan oleh tindakan langsung dari negara atau kelas dominan yang berupaya untuk mengatur alokasi sumberdaya melalui reformasi ekonomi dan pemerintahan yang mendukung komodifikasi tanah.

PEMAGARAN ASET (ENCLOSURE) MODEL NEOLIBERAL
Pemagaran aset (enclosure) melalui kekuatan ekstra-ekonomi dan akumulasi kapital terus berlanjut hingga masa globalisasi neoliberal. Globalisasi neoliberal telah menyebabkan perebutan akses pada kehidupan masyarakat pedesaan di negara-negara Selatan sejak tahun 1980an. Araghi bahkan menjulukinya sebagai “perebutan akses yang terbesar di masa kini”. Klas-klas dominan di Selatan bekerjasama dengan kelompok dominan neokonservatif di Utara, menggunakan kebijakan program penyesuaian struktural, (structural adjustment programmes) untuk menekan negara, dan meningkatkan peranan pasar dalam kehidupan sosial dan budaya, dan memperluas serta memperdalam peranan kapital dan modus produksi kapitalis di negara-negara Selatan.

Globalisasi neoliberal, karenanya, berakibat pada perubahan karakter ekonomi pedesaan di Selatan. Perubahan ini dimulai dari perubahan dalam kebijakan legislatif yang berupaya menghentikan berbagai reforma agraria yang dipandu negara (state-led agrarian reforms) yang terjadi selama awal abad 20, sebagaimana terjadi di negara-negara seperti China dan Vietnam. Model reforma agraria di kedua negara ini berwatak counter-enclosure, dengan ciri dekolektivisasi pertanian, utamanya karena kolektivisasi pertanian model Soviet akhirnya runtuh. Neoliberalisme juga mengakibatkan perubahan dari model reforma agraria yang dipandu negara yang membagikan tanah kepada individu petani, sebagaimana terjadi di Bolivia, Brazil, Chili, Mesir, India, dan yang lainnya.

Pendeknya, globalisasi neoliberal telah mengakibatkan perubahan yang menyusun-ulang proses produksi pedesaan, dan mengakibatkan ketidakadilan dalam hal akses kepada tanah, dan sebagai hasilnya melanjutkan pola akmulasi pedesaan yang hanya menguntungkan sekelompok minoritas kecil.

Perebutan aset model neoliberal dapat dibedakan dari pola perebutan aset di masa sebelumnya, di mana perebutan aset model neoliberal bertujuan untuk memperdalam separangkat relasi kepemilikan sosial kapitalis yang telah ada sebelumnya dengan memperlemah kekuasaan petani dan kelas pekerja. Hal ini utamanya dilakukan melalui proses berbasis pasar yang dilakukan oleh aksi langsung dari negara. Perebutan aset model neoliberal membutuhkan panduan negara dalam menstrukturkan hak-hak kepemilikan dalam wilayah yuridis dan legal yang berbentuk monopoli.

Jadi begitulah konteks lahirnya MLAR: perubahan karakter negara di wilayah yuridis telah memfasilitasi kapasitas kelas dominan untuk menjalankan perebutan aset model neoliberal, dan mempromosikan kegunaan rasionalitas ekonomi kapitalis, dan sebagai akibatnya adalah semakin mendalamnya relasi kepemilikan sosial kapitalis di negara-negara Selatan sebagai akibat dari neoliberalisme.

Perebutan aset model neoliberal itu terjadi dalam beberapa pola, misalnya berdasar geografis-spesifik. Ini terjadi di Santa Cruz Bolivia, Punjab dan Haryana di India, di wilayah selatan Mozambique, atau Dataran Tinggi Vietnam. Atau bisa juga berdasar pada komoditas-spesifik, sebagaimana terjadi dalam kasus produksi buah-buahan di Ekuador dan Tunisia, produksi kopi di Nikaragua dan Vietnam, atau di Namibia. Juga bisa berdasar produksi pertanian berorientasi-ekspor sebagaimana kasus di Chile, Iran, Kenya, Filipina dan Uzbekistan. Bisa pula berdasar kepemilikan-spesifik sebagaimana dalam kasus perusahaan yang dimiliki negara di Vietnam, perusahaan-agro di Uzbekistan. 

 

Iklan
Ekologi

Mencipta Masa Depan Yang Sangat Luar Biasa Bagi Bumi

oleh John R. Audette*

Jelas, kita tidak hidup di dunia “satu untuk semua dan semua untuk satu”. Ya, ada beberapa indikator harapan bahwa kantong pemikiran ini ada di sana-sini, dan itu sangat menggembirakan. Namun, ada lebih banyak bukti bahwa perilaku “setiap orang untuk dirinya sendiri” hari ini masih di planet Bumi, dan ini bisa menjadi kegagalan kita sebagai spesies jika terus mendominasi perilaku banyak manusia, terutama mereka yang mengendalikan sebagian besar sumber daya dan banyak pengambilan keputusan global finansial, militer, dan politik yang berdampak pada sebagian besar umat manusia.

Orang bisa berpendapat bahwa ini adalah pandangan dunia yang dominan saat ini. Bukti berlimpah bahwa ini memang demikian, dan dapat dimengerti bahwa materialisme telah menjadi pandangan dunia yang berlaku sejak pernyataan Isaac Newton dan René Descartes. Seseorang dapat dengan masuk akal menyatakan bahwa pemikiran Newtonian dan Cartesian sebagian besar bertanggungjawab atas sifat dan karakter dunia yang kita hidupi saat ini, di mana model dominan adalah “setiap orang untuk dirinya sendiri” dan bukan “satu untuk semua dan semua untuk satu.”

Tentunya tidak bisa sebaliknya, karena jika kita benar-benar peduli tentang kesejahteraan generasi masa depan, akankah kita telah mengizinkan Bumi, “satu-satunya rumah yang pernah kita kenal,” seperti kata Carl Sagan, untuk kelebihan penduduk dan over-polusi melewati titik alasan atau keberlanjutan? Akankah kita terus menolak perubahan iklim dan menolak untuk memperbaikinya? Apakah kita akan terus berperilaku tidak bertanggungjawab dan sembrono dengan secara arogan bertahan dalam proliferasi nuklir dan produksi senjata pemusnah massal? Akankah kita melanjutkan akumulasi utang ekonomi global yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah secara efektif membangkrutkan beberapa generasi masa depan yang berturut-turut di Amerika, Eropa, Jepang, dan di tempat lain, yang beberapa menyebutnya “senjata pemusnah massal”? Apakah kita akan terus menutup mata dan telinga untuk menyadari lebih dari 50 persen populasi yang saat ini menderita kelaparan dan kemelaratan? Tidak memahaminya, dan mengkaji bahwa hal-hal ini membuktikan kurangnya perhatian, kasih sayang, dan altruisme di planet kita saat ini, yang jika dibiarkan tanpa perbaikan kemungkinan akan menjadi penyebab kegagalan kita.

MERENUNGKAN PERTANYAAN GATEWAY
Jika ada waktu ketika semua orang di planet ini harus merenungkan pertanyaan-pertanyaan gateway ini dan mencari jawaban yang masuk akal dan dapat diandalkan untuk mereka, sekaranglah saat kita masih memiliki waktu, sebelum kita menghancurkan diri sendiri. Kita hidup dalam masa-masa sulit yang sangat dalam, dengan kelangsungan hidup kita dalam bahaya. Hanya ada satu penyebab yang mendasari semua gejolak ini. Ini tidak lain adalah pemikiran yang salah yang lahir dari persepsi realitas yang keliru.

Jika suatu hari persepsi yang keliru tentang realitas dan pemikiran yang salah yang mereka kemukakan ternyata menjadi akar penyebab kepunahan spesies kita, maka ketidaktahuan kita yang keras kepala akan disalahkan, karena bukti ilmiah yang kuat ada yang seharusnya memotivasi kita untuk sepenuhnya mengevaluasi kembali siapa kita, mengapa kita ada di sini, dan apa hubungan sejati kita satu sama lain dan semua makhluk hidup.

Ketidaktahuan yang membandel adalah penolakan keras untuk membuka pikiran seseorang dan mengubah pandangan seseorang dan perilaku seseorang dalam menghadapi fakta-fakta tak terbantahkan tertentu, bahkan ketika pengetahuan dan bukti yang kredibel tersedia. Ini menyiratkan kebodohan yang paling buruk.

Ini akan membantu kita untuk secara seksama memeriksa penolakan bandel kita sendiri untuk berevolusi dengan merangkul pengetahuan yang dapat dipercaya yang tersedia bagi kita dari ilmu kesadaran. Menuju tujuan itu, kerangka teoritis berikut dipostulasikan untuk dipertimbangkan dengan harapan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kecenderungan manusia yang paling menyedihkan ini.

LIMA JENIS KEPRIBADIAN DALAM PENCARIAN MAKNA MANUSIA
Untuk menstimulasi perenungan masalah landasan yang berat ini, saya berhipotesis bahwa ada lima tipe kepribadian utama yang bersama-sama dapat menggambarkan bagaimana dan mengapa kebanyakan manusia mengelola pertimbangan dan mengejar pengetahuan mereka tentang pertanyaan-pertanyaan gateway kehidupan, atau mungkin terutama, penolakan mereka untuk melakukannya.

Tipe KEPRIBADIAN PERTAMA disebut “Kepribadian Materialis.” Ateis, nihilis, eksistensialis, dan banyak ilmuwan konvensional, tradisional, dan arus utama termasuk dalam kategori ini, yang mempertahankan bahwa materi fisik, serta informasi dan energi dalam alam kuantum, adalah semua yang ada pada realitas.

Materialis berpendapat bahwa tidak ada alam suci dan tidak ada kehidupan setelah mati dan tidak ada pencipta. Kita hanyalah makhluk fisiologis/biologis di planet yang mengorbit bintang dalam kosmos acak yang penuh dengan miliaran bintang, ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang relatif singkat, yang ditakdirkan untuk dilupakan. Alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, termasuk kita, adalah salah satu mesin besar yang benar-benar terjadi.

Kaum Materialis menegaskan bahwa seumur hidup ini semua ada bagi kita sebagai individu. Tidak ada apa pun sebelum itu dalam hal kesadaran individu yang terpisah dan tidak ada yang datang setelah itu kecuali ketiadaan.

Kami manusia di sini, Kaum Materialis berpendapat, hanya untuk mengalami apa pun yang satu ini, seumur hidup menyendiri membawa kepada kita. Mereka merasa satu-satunya tujuan hidup adalah untuk bereproduksi dan juga untuk mengumpulkan harta terbesar yang mungkin ditinggalkan bagi ahli waris sebagai warisan mereka, lebih baik keturunan kita, yang akan melanggengkan garis keturunan dan kolam gen kita, atau lebih baik lagi, keturunan laki-laki yang juga akan mengabadikan nama keluarga dan lambing keluarga.

Dan ketika selesai, semuanya berakhir. Akhir dari cerita. Ketiadaan. Tidak ada satupun.

Tipe KEPRIBADIAN YANG KEDUA disebut “Kepribadian Yang Tidak Peduli,” Yang merupakan kepribadian” penghindar “, yang membuat sedikit atau tidak ada usaha untuk mengatasi pertanyaan besar kehidupan. Ini adalah postur yang lemah, dangkal, dan santai, bahkan meremehkan, dalam hal itu hanya sedikit atau tidak ada waktu untuk masalah ini. Agnostik, saya masukkan, termasuk dalam tipe kepribadian ini, sejauh mereka mengundurkan diri ke posisi netral yang menyatakan bahwa mereka tidak tahu dan tidak dapat mengetahui jawaban atas pertanyaan besar kehidupan.

The Nonchalant Personality memilih untuk menjalani hidup tanpa menghiraukan atau menghindari pertanyaan-pertanyaan besar sebaik mungkin, memilih untuk berpura-pura bahwa isu-isu ini secara ajaib akan memilah sendiri selama waktu tanpa membutuhkan kerja batin atau persiapan. Dasar pemikiran mereka pada dasarnya adalah salah satu fatalisme, seolah-olah mengatakan, memang seperti itu dan itu adalah apa pun itu, jadi tidak perlu khawatir tentang itu selama masa hidup seseorang. Lebih baik menyisihkan semuanya. Sindrom yang sama ini sering berlaku untuk tipe kepribadian Materialis juga.

Tipe KEPRIBADIAN KETIGA adalah “Kepribadian Abdicator.” Tipe kepribadian ini tepat dijelaskan oleh CS Lewis, yang dikenal sebagai penulis seri The Chronicles of Narnia. Dalam gaya yang sesuai dengan kecerdasan dan kreativitasnya yang luar biasa, ia menawarkan dalam karya tajamnya yang berjudul Penghapusan Manusia, diskusi yang jujur tentang “Para Kondisioner,” yang secara klasik memungkinkan tipe Kepribadian Abdicator.

The Conditioners, menurut Lewis, “Tahu bagaimana menghasilkan hati nurani dan memutuskan hati nurani seperti apa yang akan mereka hasilkan….mereka adalah motivator, pencipta motif. ”Dalam kamus hari ini, Conditioners akan dianggap sebagai pemimpin pemikiran, pembuat opini, trendsetter, pembuat gaya, yang memprogram pandangan kita, sikap, preferensi, nilai, prioritas, keyakinan, prasangka, praktik, dan banyak lagi.

Individu dengan tipe kepribadian Abdicator melepaskan keputusan mereka tentang pertanyaan besar kehidupan kepada orang lain, Kondisioner. Mereka menyerahkan kekuatan pribadi mereka, sebaliknya memilih untuk menggantikan kekakuan intelektual dan analisis untuk keyakinan buta pada seseorang atau sesuatu yang lain, Kondisioner, apakah pantas atau tidak layak dari kepercayaan dan kepercayaan mereka (sering yang terakhir). Kondisioner dapat datang dalam bentuk pemerintahan atau lembaga sosial lainnya, ideologi politik, agama, pemimpin spiritual, demagog karismatik, ritual, media modern, uang dan materialisme (pemujaan “Anak Sapi Emas”), atau beberapa gangguan eksternal lainnya.

Abdicator diindoktrinasi oleh Conditioners mereka, menerima informasi apa pun yang mereka sangsi, bahkan jika itu salah. Abdicators sengaja meninggalkan kapasitas bawaan mereka untuk berpikir kritis, mengirimkan kepada pengaruh memikat dan patuh Kondisioner yang mereka pilih. Abdicators menghalalkan penilaian independen mereka dan menggantinya dengan ketergantungan penuh pada ajaran, sastra, teologi, dan nasihat dari Kondisioner mereka kepada siapa yang mereka telah mengalah. Mereka puas untuk tetap berada di bawah payung keyakinan total dan keyakinan pada Kondisioner pilihan mereka, yakin bahwa jawaban yang diberikan oleh mereka benar-benar dapat dipercaya dan valid.

Banyak Abdicator mewarisi orientasi ini dari orang tua mereka, diwariskan dari generasi ke generasi. Perspektif mereka sering murni hasil dari pendidikan, sosialisasi, dan pengkondisian budaya mereka.

Tipe KEPRIBADIAN KEEMPAT adalah “Kepribadian Experiential. “Tipe kepribadian ini, untuk dikagumi jika tidak ditiru, umumnya muncul dari pengalaman spiritual langsung yang kuat dari satu jenis atau yang lainnya yang memberikan pengetahuan langsung tentang pertanyaan besar kehidupan. Ini bisa terjadi dari satu atau lebih dari sejumlah faktor penyebab, biasanya disebut sebagai epiphanies, pengalaman mistik, pengalaman puncak, pengalaman luar biasa, dan sejenisnya.

Ini termasuk pengalaman transformasi spiritual seperti pengalaman mendekati kematian, komunikasi setelah kematian, kesadaran mendekati kematian, ingatan masa lalu, pengalaman di luar tubuh, dan banyak lagi. Selain itu, mereka termasuk pengalaman kesadaran non-lokal seperti penyembuhan spontan, telepati, precognition, clairvoyance, komunikasi menengah, dan banyak lagi. Juga, mereka termasuk pengalaman yang berasal dari praktik spiritual yang disiplin seperti meditasi, doa, puasa, nyanyian, gerakan berulang berirama (tarian suku), perampasan sensorik, self-hypnosis, perjumpaan luar angkasa, pertemuan malaikat, konsumsi obat psikedelik, seksualitas transenden, dan yang lainnya.

Individu dengan tipe kepribadian ini diberkati dengan kilasan sisi lain, yaitu, dimensi transenden atau kekuatan alam. Mereka tidak lagi takut pada kematian. Mereka tidak lagi bertanya-tanya tentang pertanyaan besar kehidupan. Mereka menemukan jawaban untuk diri mereka sendiri selama pengalaman yang mengubah hidup mereka. Mereka sekarang berada di tempat mereka untuk mengetahui kepastian, berdasarkan pengalaman pribadi langsung mereka.

Tipe KEPRIBADIAN KELIMA disebut “Kepribadian Empiris.” Tipe kepribadian ini secara obyektif dan tanpa perasaan, digerakkan oleh data dan berbasis bukti dalam pencarian jawaban mereka. Mereka hanya tertarik pada fakta berdasarkan bukti yang tak terbantahkan dan tak terbantahkan. Mereka hanya mencari kebenaran yang masuk akal dan dapat diandalkan, bukan pendapat tentangnya atau distorsi berdasarkan itu. Mereka tidak punya waktu untuk membuang-buang ilusi, kebohongan, fantasi, atau setengah kebenaran. Sebaliknya, mereka merangkul kebijaksanaan tak terbantahkan dan pengetahuan tertentu, serta fakta yang tak terbantahkan.

Seorang Empiris percaya bahwa seseorang harus merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar berdasarkan pengawasan obyektif dari semua bukti yang tersedia. Pandangan, pendapat, dan keyakinan harus didasarkan dan didasarkan pada data – pada pengetahuan – dianggap dapat diandalkan dan kredibel oleh standar ilmu.

Empirisme memiliki batasnya, tentu saja. Ini bukan cara sempurna untuk mengetahuinya. Data bisa cacat dan interpretasi data bisa salah. Tetapi tidak seperti pikiran dogmatik, pikiran empiris akan berubah dengan penemuan pengetahuan baru. Ketika data baru muncul, dan interpretasi baru bersamaan dengan itu, maka demikian pula Empirisis mengubah pandangan, pendapat, perspektif, dan persepsinya, secara bersesuaian dan proporsional.

BERSIKAPLAH TERGESA-GESA DI JALAN ANDA SENDIRI
Saya mendorong Anda untuk bergegas dalam jalan Anda sendiri untuk menemukan kebenaran karena jelas untuk melihat bahwa model materialis mencuri atau pasti mengorbankan masa depan manusia, mengkondisikan banyak manusia untuk terlibat dalam konsumsi obsesif dan eksploitasi tanpa henti dari sumber daya berharga Bumi.

Semakin cepat kita meninggalkan materialisme sebagai cacat dan tidak valid, semakin cepat kita dapat menciptakan masa depan yang sungguh luar biasa bagi Bumi dan semua penghuninya. Takdir yang luar biasa ini akan menghindarkan kita, bagaimanapun, sampai kita menemukan identitas spiritual kita yang sebenarnya dan peran kita dalam realitas yang lebih besar di mana semua hal adalah benar-benar satu, saling bergantung dan saling terkait, datang dari dan kembali ke Sumber yang sama.

Hak Cipta 2017 oleh Ervin Laszlo. Seluruh hak cipta. Dikutip dengan izin dari penerbit: Tradisi Batin Internasional. http://www.innertraditions.com

*John R. Audette meraih gelar master sains dari Virginia Tech. Dia adalah pendiri utama dari Asosiasi Internasional untuk Near-Death Studies, Inc. (IANDS.org) bersama Raymond Moody, Bruce Greyson, Kenneth Ring, dan Michael Sabom. Saat ini ia menjabat sebagai CEO Eternea, Inc. (eternea.org) yang ia dirikan dengan ahli bedah saraf terkemuka dan penulis buku laris Eben Alexander dan dengan Edgar Mitchell, astronot Apollo 14. Dia adalah veteran yang diberhentikan dengan hormat dengan lebih dari enam tahun layanan sukarela di AS. Tentara selama era Vietnam.

Ekologi

WTO Menindas Petani

oleh Intan Hapsarini

Isu pertanian kembali menjadi prioritas pemerintah Indonesia dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-10 World Trade Organization (WTO) di Nairobi, Kenya (15-18 Desember 2015). Pemerintah didesak memikirkan secara kritis posisinya di WTO, jika memang serius hendak melaksanakan program kedaulatan pangan dan Nawacita.

KTM ke-10 WTO membahas Program Kerja Pasca Bali untuk menyusun langkah implementasi Paket Bali yang dicapai pada saat KTM Ke-9 WTO di Bali pada 2013. Ada 3 agenda yang akan dirundingkan, yakni penyelesaian Proposal Public Stockholding, pengadopsian Perjanjian Trade Facilitation ke dalam WTO Marakesh Agreement Annex 1, dan Post-Bali Work Program yang akan menyusun prioritas basis untuk menghasilkan Keputusan Bali Ministerial lainnya (LDCs package and development issues) yang mengikat secara hukum (legally binding).

Knowledge Management Indonesia for Global Justice (IGJ) Priska menilai bahwa kesepakatan Paket Bali merupakan kesepakatan terburuk yang pernah diambil oleh Indonesia. Pemerintah telah menggadaikan kepentingan pertaniannya pada kepentingan negara maju yang mendorong Perjanjian Trade Facilitation. Liberalisasi perekonomian mengganggu stabilitas harga pangan nasional serta menghilangkan kontrol negara atas sistem pangan yang berdaulat.

Selama ini keputusan yang dihasilkan WTO tidak pernah adil bagi negara berkembang dan hanya mengutamakan kepentingan negara-negara maju. Seperti keputusan melarang negara berkembangan untuk memberikan subsidi ke sektor pertaniannya yang membuat sektor pertanian Indonesia tidak kunjung maju. Hal ini diperparah dengan paket deregulasi yang dikeluarkan pemerintah yang melonggarkan ketentuan impor. Akibatnya banjir impor pangan semakin tak terbendung.

Proposal Cadangan Pangan Publik yang berpotensi memajukan sektor pertanian Indonesia, dan mekanisme pengamanan khusus (Special Safeguard Mechanism/ SSM), instrumen yang memungkinkan negara berkembang melindungi sektor pertanian domestik pun tak kunjung menjadi kesepakatan karena selalu ditentang oleh negara-negara maju.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, fakta yang terjadi forum multilateral itu telah gagal meningkatkan kesejahteraan rakyat di negara anggotanya, kemiskinan di desa meningkat hingga 17,94 juta jiwa. Selama 20 tahun petani tertindas, WTO membunuh petani.

Sementara itu pemerintah sepertinya tidak terlalu peduli pada masalah yang mengancam sektor pertanian, pemerintah malah terus mentandatangani perjanjian-perjanjian perdagangan bebas.

Ekologi

Indonesia, Ironi Negeri Agraris

Setiap tanggal 1 Juli, dunia memperingati Hari Buah Internasional. Peringatan ini dirayakan pertama kali tahun 2007 di Berlin, Jerman. Ide utama perayaan Hari Buah adalah untuk berbagi buah dan sayur dengan sesama dalam sebuah hidangan, demi terjalinnya solidaritas dan menciptakan pertukaran budaya.

Khusus bagi Indonesia yang kaya akan buah-buahan tropis, buah-buahan Nusantara menghadapi tantangan dalam untuk dikembangkan secara swasembada.

Indonesia merupakan negara agraris yang kaya buah-buahan. Indonesia bahkan merupakan salah satu produsen buah terbesar di dunia. Tapi sayangnya, orang Indonesia masih jarang makan buah, jauh dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Pola konsumsi buah dan sayur Indonesia ternyata rendah. WHO merekomendasikan warga dunia untuk makan buah secara teratur minimal 65 kg/kapita/tahun. Rata-rata, tingkat konsumsi buah dan sayur orang Indonesia sekitar 30 kg/kapita/tahun atau kurang dari 50 gram per hari. Jumlah itu kira-kira setara dengan setengah buah apel ukuran sedang.

Jika dibandingkan dengan orang Eropa yang mengonsumsi buah lebih dari 130 kg/kapita/tahun, Indonesia sangat jauh tertinggal. Rata-rata orang Indonesia belum memprioritaskan makan buah seperti makan nasi. Buah tak kalah pentingnya dengan nasi, bahkan sebenarnya lebih sehat. Ini membuat kondisi kesehatan masyarakat Indonesia masuk dalam salah satu negara dengan pola makan tidak sehat.

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan mengonsumsi buah secara teratur. Menurut WHO ada sekitar 1,7 juta kematian di seluruh dunia disebabkan rendahnya konsumsi buah dan sayuran. Buah kaya akan serat, vitamin, mineral dan yang terpenting adalah zat warna buah (phytochemical). Phytochemical sangat penting sebagai antioksidan yang dapat menangkal segala macam penyakit, terutama penyakit degeneratif seperti kanker, jantung dan stroke.

Daya beli juga menjadi alasan. Menurut sebagian orang buah-buahan itu harganya mahal. Indonesia masih menjadi pengimpor buah naga dari Vietnam, jeruk dari Australia, durian dari Thailand, pir dari Tiongkok, anggur dari Amerika, dan lain-lain.

Sebagai negara agraris yang kaya, Indonesia belum mampu menghasilkan buah-buahan yang memadai bagi kebutuhan masyarakatnya. Impor buah dan sayur sebaiknya bisa ditekan dengan produksi yang ada dalam negeri.

Regulasi impor buah dan sayur di Indonesia tidak berpihak pada petani nasional. Buah dan sayur dari luar dengan mudah dapat masuk ke Indonesia. Memang sampai saat ini sepertinya kita masih kalah dalam persaingan bahkan dengan negara tetangga.

Ekologi, Sosial Politik, Urban Review

Dilema Sosial Ekologis Dunia Modern

bunga-putih.jpg

Oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Kabar Banten, 23 November 2012)

Cara pandang atau wawasan manusia dalam memandang dan memahami dirinya di dalam dan terhadap alam, ternyata akan berdampak pada bagaimana manusia itu sendiri bersikap atau memperlakukan alam dan lingkungannya dalam hidup keseharian. Soal ini juga sangat terkait erat dan berdampak langsung dalam soal-soal ekologis dan persoalan-persoalan penanganan sampah di sekitar lingkungan kita, utamanya di tempat-tempat dan kawasan perkotaan yang paling banyak memproduksi sampah setiap harinya. Inilah yang menjadi keprihatinan para pemikir dan aktivis lingkungan, semisal Fritjof Capra, terkait tidak berimbangnya antara produksi sampah dan penanganannya secara memadai.

Sebenarnya, jauh sebelum Fritjof Capra menuliskan pandangan-pandangan yang ditimbanya dari Taoisme dan sejumlah khasanah filsafat Timur lainnya itu, masyarakat-masyarakat di negeri kita sudah sejak lama memiliki dan memelihara kearifan-kearifan mereka, yang ternyata berkaitan dengan lingkungan, baik dalam bentuk mitos atau pun kepercayaan-kepercayaan sacral mereka menyangkut alam dan benda-benda yang mereka anggap sebagai sesuatu yang sakral dan keramat, semisal kearifan lokal masyarakat Baduy tentang hunian yang selaras dengan lingkungan mereka, selain mereka juga memiliki kearifan pangan. Kearifan seperti itu juga dimiliki masyarakat-masyarakat di Banten Selatan lainnya, semisal masyarakat Cisungsang, Citorek, dan Ciptagelar.

Mengkritik Antroposentrisme
Belakangan, semakin disadari, seperti yang pernah dikemukakan Capra atau para pengusung kearifan Timur lainnya, itu bahwa “egoisme” manusia yang terlampau menuruti hasratnya demi memuaskan dirinya sendiri itu sebenarnya sudah tercermin lewat cara berpikir antroposentrisme manusia itu sendiri. Sebagaimana kita tahu, antroposentrisme merupakan suatu sikap ilmiah dan wawasan yang terlampau menganggap manusia sebagai ukuran cara pandang atau terlampau mendudukkan manusia sebagai pusat semesta. Antroposentrisme ini lahir dan berkembang terutama di Barat, semisal dicontohkan dengan filsafat Cartesianisme dan sains Newtonian.

Sementara itu, manusia Timur sebenarnya tidak mengenal wawasan-sikap antroposentris seperti itu, sebab mereka, terutama bila kita membaca dengan seksama mitos-mitos masyarakat adat dan masyarakat tradisional yang berkaitan dengan alam, lebih seringkali memandang alam sebagai sesuatu yang mistis, magis, dan akan marah bila kita mencederainya. Wawasan itu misalnya tercermin dalam kepercayaan masyarakat tradisional, semisal masyarakat Baduy, sebagaimana dapat dibaca dalam khasanah sastra lisan, berupa pantun dan mantra, yang mereka bacakan dan mereka pergelarkan setiap kali mengadakan upacara keagamaan atau pun ruwatan.

Menyelaraskan Ekonomi dan Ekologi
Wawasan-sikap antroposentris itu pula lah yang saat ini tercermin dalam hasrat ekonomis dunia kapitalis dan konsumeris untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan memandang persoalan ekologis hanya akan menghambat upaya ekonomis tersebut. Di saat yang sama, upaya “manusia eknomis” modern untuk menciptakan efisiensi dan kecepatan, sebagai contohnya, telah menghasilkan produk-produk yang bertentangan dan melawan alam, semisal sampah-sampah plastik yang yang sulit didaur-ulang.

Kenyataan yang demikian akan berbeda dengan sikap dan wawasan masyarakat tradisional. Sebagai ilustrasi kita dapat mencontohkan bagaimana masyarakat tradisional di pedesaaan di waktu dulu menggunakan daun jati atau daun pisang untuk membungkus bekal dan makanan mereka, yang ketika sisa bungkus itu dibuang di kebun atau ladang akan menjelma pupuk atau humus seiring dengan proses alam dalam peleburannya. Hal itu tentu saja berbeda dengan produk-produk instan masyarakat modern, seperti plastik, yang tidak mudah hancur, dan tak ragu lagi akan menjelma sampah, terutama sekali di wilayah-wilayah perkotaan. Meski belakangan, dilema sampah modern, seperti plastik itu, juga sampai ke sudut-sudut pedesaan.

Dengan ilustrasi itu, kita dapat mengetahui bahwa sampah jenis pertama adalah sampah yang harmonis dari segi biologis dan ekologis, karena tidak bertentangan dengan proses alam alias sejalan dengan hukum ekosistem alam, sementara tidak demikian dengan “sampah modern” yang memang telah mewujud sebagai entitas yang secara nyata melawan alam. Dan ternyata, soal antroposentrisme itu tak hanya tercermin dari sikap dan wawasan “manusia ekonomis” yang melawan ekologi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tersebut, tapi juga tercermin dalam sikap manusia modern dalam upaya mereka untuk menangani sampah yang menganggap sampah sebagai objek dan realitas di luar diri mereka, bukan “dampak” dari sikap dan gaya hidup mereka itu sendiri sebagai manusia konsumtif.

Sampah dan Gaya-Hidup
Jika demikian, persoalan sampah sebenarnya adalah persoalan gaya hidup “manusia modern” itu sendiri yang memang senantiasa menghasilkan sampah secara terus-menerus tanpa dibarengi oleh suatu kesadaran bahwa perilaku mereka itu sendirilah yang menjadi rahim bagi sampah itu sendiri. Berbeda dengan manusia modern, yang gaya hidupnya merupakan pabrik sampah itu, manusia atau masyarakat tradisional, sebutlah masyarakat ada terpencil, justru hidup harmonis dengan alam dan lingkungan mereka. Singkatnya, persoalan sampah dapat dikatakan merupakan persoalan modern yang muncul bersamaan dengan maraknya industri dan gaya hidup konsumtif. Sebab masyarakat tradisional yang hidupnya selaras dengan ritme dan ekosistem alam, tidak mengenal sampah sebagaimana sampahnya orang modern tersebut.

Secara ilmiah dan analogis dapat dikatakan bahwa residu atau sampah adalah fenomena modern, terutama dalam masyarakat konsumeristis. Sampah, selain karena dampak dari upaya industri dalam memproduksi ragam barang dan kemasan demi efektivitas dan efisiensi, seperti plastik, juga merupakan dampak langsung dari gaya hidup masyarakat konsumeristis, yang tak hanya datang dari kerja dan limbah industri tapi juga dari dapur-dapur rumah tangga. Sementara itu, alam sebagai contohnya, tidak menghasilkan residu karena alam memiliki mekanisme tersendiri dalam “mendaur-ulang” dirinya sendiri, seperti ketika daun-daun yang jatuh ke tanah menjadi humus.

Pentingnya Eco-literacy
Persoalan tersebut, seperti telah kita ketahui dan kita rasakan belakangan ini, semakin mendesak dan menjadi keharusan untuk menanganinya dengan serius dan seimbang. Fritjof Capra, contohnya, memandang penting menyebarkan wawasan eco-literacy atau sadar lingkungan dalam kehidupan masyarakat modern. Tak hanya itu saja, Capra juga menawarkan eco-design, yaitu bagaimana pembangunan dan penciptaan masyarakat perkotaan dapat semaksimal mungkin menjaga keharmonisan ekologis itu sendiri, demi menciptakan masyarakat yang sehat dan selaras.

Secara singkat, eco-literacy adalah sebuah wawasan yang akan memungkinkan kita semakin sadar akan dampak sosial jika alam dan sebuah lingkungan menjadi rusak, semisal maraknya kekeringan dan krisis air bersih karena banyaknya penggundulan hutan atau penebangan pohon secara liar. Hal itu dikarenakan, lagi-lagi meminjam wawasannya Capra, alam dan lingkungan kita ini tak ubahnya jarring-jaring kehidupan atau Web of Life, yang saling terhubung atau terkoneksi satu sama lainnya, sehingga bila yang satu rusak maka akan berakibat pada yang lainnya.

Jika demikian, maka tak diragukan lagi, sadar lingkungan atau gerakan-gerakan lingkungan dan pentingnya penerapan eco-design dan green economy seperti yang dipaparkan Prof. Dr. Surna Tjahja Djajadiningrat merupakan sebuah keniscayaan modern pula bila kita ingin membangun dan mengembangkan kawasan perkotaan dan ekonomi kita, di satu sisi, tetapi dengan tetap menjaga dan merawat alam dan lingkungan itu sendiri secara bersamaan di sisi lainnya. Sejumlah negara dan kota bahkan telah menerapkan pembangunan dan pengembangan kawasan perkotaan dan industi yang sesuai dengan wawasan eco-literacy dan eco-design seperti ini. Atau yang juga kita kenal dengan istilah green economy.