Diari Sulaiman Djaya

Sastra dan Lakon: dari Yunani hingga Henrik Ibsen

“Kami adalah airmata

Yang tak kunjung terteteskan….

Kami adalah lagu-lagu

Engkau seharusnya telah menyenandungkan kami

Di kedalaman hatimu…..

Kami adalah pekerjaan-pekerjaan

Engkau telah meninggalkan tak terselesaikan

Tercekik sudah oleh kebingungan…”

(Henrik Ibsen dalam Eleven Plays of Henrik Ibsen, New York, The Modern Library, Random House, Inc. Act V).

Esai singkat ini, sebagaimana beberapa tulisan saya yang lainnya, yang pada mulanya berupa catatan pengalaman membaca, ditulis ulang demi kebutuhan saat ini, agar selaras dengan praktik berbahasa dan penulisan sekarang. Juga, berbicara tentang pengalaman membaca buku-buku sastra dan filsafat, sebagaimana juga tulisan-tulisan diaris saya yang lain, yang menceritakan ihwal pembacaan atas teks dan dunia buku, semacam ziarah intelektual. Dan kali ini catatan diaris saya berkenaan dengan sastra dalam hubungannya dengan sisi lain dari dunia teater dan seni pertunjukkan, masih tentang seni dan sastra. Baiklah saya mulai saja.

1

Seni pada mulanya adalah ‘mimikri’, meniru dan menyalin alam dan kehidupan. Termasuk diantara cabang seni itu adalah Seni Lakon, yang kini lazim disebut ‘Seni Pertunjukkan’, dan seni pertunjukkan ini banyak ragamnya pula, mulai dari drama hingga deklamasi puisi. Lalu apa hubungannya Sastra dengan Lakon?

Begini. Kehidupan manusia adalah sebuah kisah dan riwayat, lalu para penyair dan penulis (yang acapkali pada jaman dulu kala adalah para dramawan juga seperti Aeschylus, Sophocles, Aristophanes dan lain-lain) menyalinnya menjadi puisi dan drama, lalu dipertontonkan ke hadapan khalayak secara langsung dalam sebuah pentas atau panggung.

Naskah-naskah drama karya mereka itu disebut juga sebagai karya-karya sastra, seperti karya-karya berjudul Oedipus, Antigone, Lysistrata, dan masih banyak lagi yang lainnya, dan juga bahwa baik puisi, cerpen, novel, dan naskah drama ditulis oleh para penulisnya dalam ruang bernama dunia dan kehidupan dengan latar kultural dan sejarahnya. Artinya, sebuah karya tidak lahir dari langit dan ahistoris.

Dalam kadar yang demikian, sebuah karya seni atau pun karya sastra sudah bersifat sosial, bahkan politis, karena ia lahir dari ruang yang tak imun atau tak lepas dari peristiwa historis, kultural, dan politis, dan karenanya pula, sebuah karya acapkali merupakan cerminan dokumentasi sosial, selain tentu saja, juga dokumentasi kebudayaan.

Sewaktu saya masih di Ciputat dulu, menjalani kehidupan di kampus bernama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (waktu itu masih IAIN), dan aktif di sebuah lembaga kajian di luar kampus, Forum Mahasiswa Ciputat, diantara buku-buku yang saya baca adalah buku-buku naskah drama karya dramawan klasik (kuno) Yunani, drama-drama modern Eropa dan Amerika, semisal Eugene Ionesco dan Henrik Ibsen, selain membaca buku-buku Studi Islam dan Filsafat.

2

Bersamaan dengan saya membaca buku-buku drama karya para dramawan Yunani kuno itu, kemudian saya pun mulai tertarik untuk menonton teater, biasanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat itu teater-teater pimpinan Rendra dan Putu Wijaya masih boleh dibilang cukup sering dipentaskan, yang kalau tak salah, tema-temanya tak jauh-jauh amat dari satir dan kritik sosial, dengan metode dan cara mereka masing-masing.

Nah, ketika saya membaca buku-buku drama dan menonton teater itulah, saya tak ubahnya sedang membaca serta menyaksikan kisah dan riwayat manusia. Bahwa pusat interest-nya adalah manusia, sejarah dan kehidupannya, yang mengajarkan saya untuk peka, bersimpati, dan atau berempati pada penderitaan, kemalangan, atau kisah dan riwayat orang lain yang adalah juga manusia seperti halnya saya.

Maka disebutlah hal demikian sebagai katalisator, di mana salah-satu fungsi seni, jika meminjam filsafatnya Aristoteles, adalah fungsi katartif, semacam cermin pinjaman bahwa kita dapat merenungkan dan merefleksikan kehidupan kita sendiri dengan berkaca dan menyaksikan pentas-pentas teater tersebut, selain dengan membaca buku-buku drama seperti yang telah saya sebutkan, yang sekaligus mengajak kita untuk merenungkan dan merefleksikan diri kita sebagai manusia dalam kosmos atau dunia.

Bahwa tema, materi gagasan, dan isu yang diangkat dan lalu dipentaskan oleh pertunjukkan teater adalah juga hal-hal yang sama diangkat dan dituliskan dalam sastra, yaitu tadi: manusia dan kehidupannya, sejarahnya serta kesehariannya. Karenanya dikatakan bahwa karya drama atau pun karya sastra adalah sesuatu yang lahir dari pergulatan manusianya dalam mengarungi bahtera eksistensi-nya, baik sebagai individu atau sebagai masyarakat dan bangsa.

Maka tak salah, jika kemudian dikatakan, bahwa sebuah karya seni atau pun karya sastra, adalah sebuah refleksi tentang kehidupan manusia itu sendiri sebagai pencipta dan penghasil karya seni atau karya sastra. Karena kita hidup di dalam dunia, bila meminjam filsafatnya Kierkegaard dan Heidegger, bukan di luar dunia. Dan dunia (kehidupan) kita tak lepas dari perkembangan serta gejolak kultural dan sosial.

Dalam sejarah seni (dan kebudayaan) dunia (juga Indonesia), para dramawan hebat sudah dengan sendirinya adalah para penulis hebat, tak jarang mereka adalah para penyair, sastrawan, penulis, dan bahkan filsuf, semisal Shakespeare, George Bernard Shaw, Albert Camus, Eugene Ionesco, Henrik Ibsen, Rendra, Putu Wijaya, dan masih banyak yang lainnya sebagaimana para dramawan Yunani kuno itu adalah juga para penyair dan bahkan filsuf, sehingga drama-drama mereka begitu kaya renungan dan merefleksikan takdir dan sejarah manusia yang kemudian mereka hadirkan di panggung pertunjukkan.

Dalam kadar yang demikian, ketika mengulas kecerdasan dan kejeniusan para dramawan Yunani yang adalah juga para filsuf kehidupan, dalam buku pertamanya yang ia beri judul The Birth of Tragedy itu, seperti tentang Sophocles, Friedrich Nietzsche menyatakan: “Sophocles melihat karakter paling menderita di atas panggung Yunani, Oedipus si nestapa yang tak bahagia, sebagai manusia mulia yang ditakdirkan untuk menanggung kesalahan dan kesengsaraan tanpa memedulikan kebijaksanaannya….”

Dengan pernyataannya itu, Nietzsche sang filsuf dan penyair Jerman itu, sesungguhnya hendak mengemukakan bahwa para dramawan (yang acapkali para penyair dan filsuf itu) adalah para penyingkap sisi ironis dari takdir dan sejarah manusia, berbicara tentang bagaimana kehidupan manusia bertaburan dengan sebaran perspektif yang tidak hitam-putih. Segaris dengan wawasan ini, drama Yunani itu merupakan upaya reflektif yang dilakukan para penyair dan dramawan untuk menghadirkan sisi-sisi ironis manusia dan kehidupannya di atas panggung pertunjukkan. Sejumlah karya dan pementasan yang kemudian sarat renungan dan mewedarkan hikmah bagi para penyimaknya.

Komentar Nietzsche yang ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul The Birth of Tragedy itu, lahir setelah ia membaca Oedipus di Kolonus, yang berkisah tentang laki-laki lanjut usia yang menderita oleh banyaknya nestara dan kesengsaraan, mengarungi bahtera kemalangan hidup. Nietzsche sepertinya ingin menyatakan bahwa karya drama yang bagus biasanya dihasilkan oleh seorang dramawan yang sanggup memahami relung-relung eksistensi manusia dan kehidupan, karena seni mestilah memiliki kapasitas reflektif.

Lalu ada juga buku-buku drama yang saya baca yang kocak dan menggelitik, seperti karya-karyanya Moliere, seperti yang kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berjudul Akal Bulus Scapin itu. Bercerita tentang bagaimana manusia juga punya watak dan kebiasaan hipokrit dan menipu. Moliere tentu saja melancarkan kritik pada realitas sosial di jamannya, seperti tentang hipokritas kaum bangsawan dan para petinggi agama, termasuk juga lembaga-lembaga keagamaan, sehingga beberapa drama Moliere sempat ‘dicekal’ atau dilarang untuk dipentaskan oleh otoritas setempat.

Lagi-lagi, seperti halnya juga karya-karya para dramawan Yunani antik, drama-drama Moliere yang saya baca itu pun masih manusia sebagai center of view dan lokus utama interest-nya, dan konon karya yang baik adalah yang menggugah dan mencerahkan para pembaca dan penyimaknya, meski tentu juga tidaklah sama antara membaca buku drama dengan menonton pentas teater secara langsung. Bisa jadi naskah drama yang sebenarnya biasa saja menjadi bagus ketika dipentaskan oleh para seniman yang ahli dan mahir, dan sebaliknya, sebuah karya drama yang bagus malah tidak jadi bagus ketika dipentaskan oleh para seniman yang tidak ahli dan tidak cerdas mewujudkan di atas panggung.

Namun, baik membaca buku drama dan menonton pentas secara langsung, adalah sama-sama mengapresiasi, ‘membaca’, dan menghayati sebuah karya, yang akan melahirkan tafsir dan persepsi yang tak sama pula bagi masing-masing penonton, tergantung kadar pencerapan dan kemampuan intelek mereka. Pengalaman membaca buku-buku drama itu, bagi saya, tak jauh berbeda ketika saya membaca buku-buku novel. Bedanya, novel lebih dominan redaksi naratifnya, sedangkan drama didominasi oleh narasi dialog antar tokoh, yang meski di lembar-lembar kertas, masih tetap tak ubahnya menyaksikan pentas ketika membaca buku-buku drama.

Beberapa karya drama bahkan ditulis dengan bentuk puitik, atau minimal menyisipkan puisi di dalamnya, seperti Faust-nya Johann Wolfgang von Goethe, Peer Gynt-nya Henrik Ibsen, dan hal serupa tentu saja, sebelumnya telah berlaku pada drama-drama karya para dramawan Yunani antik, seperti yang telah disebutkan. Dalam Peer Gynt-nya Henrik Ibsen contohnya:

Kami adalah pikiran

Engkau seharusnya telah memikirkan kami,

Kaki-kaki kecil, untuk kehidupan.

Engkau seharusnya telah membawa kami

Kami seharusnya telah bangkit

Bersama suara agung

Namun di sini bagai bola-bola benang

Kami terikat bumi

Yang berbicara tentang kehampaan manusia modern yang disibukkan oleh rutinitas untuk mencari uang dan rutinitas kerja harian, memenuhi egoisme sekular dalam masyarakat industri dan perkotaan. Sebuah ironi ketika kerja, misalnya, malah menciptakan keterasingan, sebab kemudian manusia pun tak ubahnya mesin semata pula di jaman dan kondisi masyarakat birokratis dan industri.

3

Haruslah jujur saya akui, kebanyakan buku-buku drama yang saya baca adalah buku-buku drama karya para dramawan Barat yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, misalnya oleh Rendra, Asrul Sani, dan yang lainnya. Karena memang pada kenyataannya, buku-buku drama kebanyakan ditulis oleh para dramawan Barat, dan dapat dikatakan ‘hampir tidak ada’ buku-buku drama yang ditulis oleh para dramawan Indonesia, meski sejumlah pentas teater pimpinan beberapa dramawan Indonesia mementaskan naskah karya mereka sendiri.

Ketika itu saya paling sering membaca buku-buku drama terjemahan karya para dramawan Yunani antik, sebelum kemudian membaca pula drama-drama modern, seperti yang ditulis oleh William Shakespeare, Albert Camus, Henrik Ibsen, Samuel Becket, dan yang lainnya.

Sebagai sebuah karya sastra, drama bagi saya, tak ubahnya prosa (sesekali bercampur puisi) yang dituliskan dan dikisahkan melalui upaya memaksimalkan dialog antar-tokoh, tempatnya diterangkan secara jelas dan detil, unsur metaforisnya diwedarkan melalui ‘perayaan ujaran’ dan melalui tema yang diangkat dalam drama tersebut, semisal tragedi Yunani yang merupakan upaya reflektif untuk menyelami realitas eksistensial kehidupan manusia sebagai makhluk yang bergelut dengan budaya dan sejarahnya, dalam terpaan sejarah dan teka-teki takdir yang kadang tak selalu bisa dipahami dan diterangkan.

Sehingga dapat dikatakan, dalam drama, tentu menurut subjektivitas saya, metafornya adalah manusia itu sendiri: tokoh-tokoh yang menghidupkan kisah dan dialognya, sebuah riwayat ‘yang sudah dipentaskan’ melalui tulisan, sebelum akhirnya dipentaskan pula di panggung pertunjukkan. Ketika dipentaskan itu, drama telah direbut dari bentuk tulisan ke dalam laku gerak dan tubuh yang konkrit, yang bukan lagi dibaca, tetapi disaksikan secara langsung, sehingga penonton menjadi terlibat dengan jalannya pementasan drama itu sendiri. Maka wajar jika dikatakan bahwa drama adalah karya sastra untuk dipentaskan, yang kemudian dapat diadaptasi ulang sesuai konteks dan kebutuhan zamannya.

Hal itu pun dilakukan juga, misalnya oleh Rendra, sebagaimana juga oleh yang lainnya. Dan kini, barangkali mengikuti kebutuhan dan perkembangan jaman pula, banyak pentas teater yang hanya menggunakan skript saja, hanya mengeksplorasi gerak saja, menggali tradisi lokal, selain ada juga yang absurd, sehingga ‘naskah drama’ bukanlah acuan utama bagi pentas teater, dan lalu sudah merupakan kewajaran, konon, bila banyak para pegiat teater ‘tidak mesti’ menulis naskah drama-nya sendiri, dan sudah cukup mementaskan naskah drama yang telah ada, atau tak perlu naskah sama sekali.

Bila demikian, tak perlu diherankan, jika jagat sastra kita pun hanya mengenal dua genre saja: puisi dan prosa, tanpa drama, karena memang, kalau pun ada, yang menulis drama, bisa dihitung dengan jari, dibanding yang menulis puisi dan prosa.

Namun, setidak-tidaknya, pengalaman saya membaca buku-buku drama, telah ‘memperkenalkan’ saya kepada dunia teks ‘yang lain’ di luar bacaan studi Islam dan filsafat, ketika saya pun membaca novel dan puisi, di mana ketika membaca buku-buku drama tersebut, saya seakan diajak untuk merenungi dan menjumpai kehidupan manusia itu sendiri dalam arungan bahtera eksistensi hidup dan jalan-jalan berliku sejarahnya. Karena konon sastra adalah ‘wajah lain sains dan ilmu pengetahuan’ yang digali dan dikomunikasikan sembari menampilkan keindahan demi menyentuh jiwa manusia yang paling dalam.

Sulaiman Djaya 

Penyair Sulaiman Djaya

Iklan
Diari Sulaiman Djaya

Hidup Bersama Alam ©Sulaiman Djaya (2011)

Di sebuah hari……

Kuarahkan dua mataku menembus lembab kaca jendela, memandangi dinding-dinding langit dan cakrawala. Rumput-rumput dan jalan basah seakan dunia-dunia yang terbaring dalam sapuan gelombang-gelombang angin yang mengirimkan dingin pada tubuh dan wajahku.

Sepasukan burung-burung kuntul melintasi keheningan menempuh perjalanan migrasi mereka, yang kuandaikan sebagai perubahan hidup dan pengulangan, atau tak ubahnya kesementaraan dan usia yang menghitungi dirinya sendiri, laiknya komposisi-komposisi musik jazz yang kurenungi.

Di saat yang sama, gerimis kebisuan dan keheningan cuaca masih membasahi pepohonan dan tiang-tiang lampu sepanjang jalan. Sang waktu pun lelap bersama mimpi-mimpinya di antara buih-buih dan kabut…..

Di sebuah Desember yang lugu….

Meski dedaunan kadang-kadang bergeletar pelan, seakan apa saja yang diciumi gerimis yang kanak-kanak itu membeku dalam pandangan kedua mataku, mirip tangan-tangan gaib para malaikat yang ada dalam angan-angan dan khayalan.

Barangkali, bila waktu dan masa silam, yang orang-orang menyebutnya sebagai usia, dapat diringkas, tentu hanya puisi yang sanggup menerjemahkannya dalam kata. Tetapi waktu yang kupahami itu dapat pula dikiaskan sebagai maut yang tertunda.

Sebab, waktu yang kupahami itu tak lain adalah burung-burung di pagi hari, lidah-lidah cahaya di dahan-dahan basah, jari-jari lembut matahari yang setia menyentuh bumi, dan tanah-tanah lembab yang ditinggalkan hujan….

Dan tentang ingatan masa kanak-kanak, ketika aku duduk berteman selampu minyak di antara hujan selepas isya….Karena, ketika kurenungkan segala yang pernah kulakukan di masa kanak-kanak, serasa tak ada yang berubah, dan itulah yang akan kunamakan sebagai waktu dan usia……

Diari Sulaiman Djaya

Khazanah Sastra dan Tradisi Intelektual

Sebagai seorang yang pernah akrab dengan kitab kuning di dunia pesantren, saya mendapatkan hal baru ketika berjumpa literatur dan buku-buku filsafat, dari ateisme hingga Marxisme ketika beberapa tahun numpang duduk di kelas di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat sebuah kampus Islam di Ciputat, yang bersamaan dengan itu saya ikut aktif dalam sebuah forum studi dan kajian para mahasiswa di kawasan Semanggi-Ciputat. Kemudian segera mengenal seni atau khazanah dan produk-produk kultural yang terkait dengan Marxisme dan gerakan-gerakan kiri, semisal mengenal penyanyi yang bernama Nathalie Cardone dan Ibrahim Ferrer yang menyenandungkan lagu tentang Che Guevara: Hasta Siempre. Sejak itu, yang namanya Marxisme, ateisme, buku-buku para filsuf Iran bukan lagi sebagai bacaan-bacaan yang tabu bagi saya –sembari menikmati lagu-lagunya Ibrahim Ferrer dan Nathalie Cardone.

Begitulah, ada masa-masa ketika saya mencampakkan Islam, masa-masa ketika saya bergairah mencandra filsafat Barat dan khazanah ateisme. Masa-masa itu kemudian berakhir ketika saya membaca buku-buku yang ditulis para intelektual Islam di Iran -dan segera saya pun kembali menemukan Islam, dan tentu saja dengan pemahaman yang berbeda, bahkan merasa menemukan Islam yang memang sudah lama hilang dan disembunyikan dari narasi sejarah tradisi Islam saya sebelumnya.

Saya mengenal Islam, dan kemudian “menghidupinya”, mula-mula tentulah karena saya lahir dari keluarga muslim –yang seperti nanti akan saya paparkan, berbeda dengan ketika saya berkenalan dengan sastra secara khusus, dan kesenian secara umum. Saya dididik dalam tradisi Islam sejak kanak-kanak oleh almarhumah ibu saya sendiri –sebelum saya belajar Islam, utamanya al Qur’an, kepada ustad-ustad saya di kampung, dan belajar fikih, nahwu, sharaf di pesantren selepas saya lulus sekolah menengah pertama. Namun, ada persamaan mendasar: Islam dan Sastra yang saya kenali dan saya akrabi ada dan hadir dalam sebuah “tradisi”, yang pertama tradisi keagamaan dan yang kedua tradisi pendidikan sekuler.

Awalnya, saya mengenal dan mengakrabi Islam dengan anggapan bahwa Islam merupakan agama yang hanya berkenaan dengan tauhid dan ibadah ritual semata –yang kemudian anggapan itu berubah ketika saya menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi Islam di Ciputat. Di fase inilah, saya menjadi seorang yang kembali mencari Islam –setelah saya berkenalan dengan Islam yang telah saya katakan itu, yang kemudian tanpa sengaja, saat saya bergelut dengan dunia kajian mahasiswa di Ciputat, saya menjumpai Islam yang demikian luas: sebagai sebuah khazanah sekuler dan wawasan peradaban.

Dengan apa yang saya paparkan itu, dapatlah dikatakan, perkenalan saya dengan Islam, setelah perkenalan dari tradisi di kampung dan dalam keluarga sendiri, yang kemudian juga perkenalan saya dengan sastra, kemudian karena sebuah pergulatan, meski mula perjumpaannya bisa dibilang sebagai kebetulan, yang barangkali dengan bahasa lain dapat disebut karena “takdir”. Adalah juga sebuah kebetulan –yang barangkali memang takdir, saya berkenalan dengan dunia kajian di luar kuliah dan kemudian merasa nyaman dengan dunia tersebut, setelah salah-seorang teman saya, yang justru kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Diryarkara, mengajak saya untuk hadir di sebuah diskusi tentang Karl Marx.

Saya merasa perlu memaparkan hal tersebut tak lain karena perjumpaan dengan dunia dan “tradisi” yang lain itu telah memperkaya pemahaman saya tentang Islam, sebelum bersamanya pula saya berkenalan dan kemudian akrab dengan sastra –juga terjadi di Ciputat. Bila di keluarga sendiri dan di pesantren saya hanya belajar al Qur’an, fikih, nahwu, sharaf, di Ciputat itulah saya jadi tahu bahwa Islam juga berkenaan dengan sejarah, peradaban, pemikiran, bahkan seni, dan tentu pula kesusastraan. Itu semua merupakan hal-hal baru, juga khazanah baru –yang kemudian memancing minat saya, ditambah lagi forum kajian yang saya ikuti menyelenggarakan jadwal kajian Islamic Studies secara berkala seminggu sekali.

Andai saya tidak memilih Ciputat, mungkin ceritanya akan lain. Sekedar informasi, saya juga mendaftarkan diri saya ke IAIN Maulana Hasanuddin Banten, selain ke Ciputat, dan kebetulan diterima di kedua kampus tersebut. Namun, entah karena dorongan apa, yang saya tak ingat lagi, saya memutuskan untuk memilih Ciputat, memilih IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat, dan kemudian menjalani masa-masa yang bersahaja namun bergairah dalam dunia kajian mahasiswa di luar jam kuliah –mengakrabi filsafat, bahkan sempat meninggalkan tradisi ritual keagamaan saya karena terpengaruh wacana-wacana filsafat ateisme, hingga tak jarang saya melontarkan hal-hal yang “tabu” menyangkut Islam.

Tetapi waktu memang terus berjalan, dan saya diberi kesempatan menikmati rahmat terbesar saya dari Tuhan –yaitu usia, hingga saya kemudian berkenalan dengan khazanah dan diskursus pemikiran Islam, “dunia” filsafat dan pemikiran dari para penulis Islam di Iran, semisal Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari, Syahid Sayid Muhammad Baqir Sadr, dan Ali Syari’ati –yang pelan-pelan mengembalikan saya ke Islam. Demikian lah perkenalan saya berlanjut hingga membaca buku-bukunya Mohammed Arkoun, Syed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, dan yang lainnya. Dari sanalah, saya menjumpai Islam sebagai kekayaan yang lain, dalam arti bukan semata wacana fikhiyyah –dan yang tak diragukan lagi, telah membuka mata saya tentang keberadaan khazanah ilmu Islam yang sebelumnya tidak saya ketahui.

Di Ciputat itulah, saya berkenalan dengan pemikiran dan tulisan-tulisan Karl Marx dan Marxisme, yang kemudian tanpa sengaja, beberapa bulan kemudian, berkenalan dengan Marx-nya Islam, yaitu Ali Syari’ati. Sembari terus mengakrabi filsafat Barat dan kesusastraan, saya membaca tulisan-tulisan para filsuf, ulama, dan penulis Islam Iran, tentu juga khazanah Islam lainnya. Inilah fase di mana saya “kembali berjumpa” dengan Islam –setelah dalam waktu yang cukup lama saya mencampakkannya ketika asik dengan khazanah filsafat sekuler dan ateisme.

Sebab, haruslah saya akui, ketika saya asik dalam khazanah materialisme, ateisme, dan sekulerisme itulah saya mulai berani meragukan agama, dan bahkan mulai berani meninggalkan ritual Islam saya. Sementara itu, khazanah kesusastraan saya kenal lewat jurnal dan majalah berkala, semisal majalah sastra Horison dan jurnal Kalam –yang selebihnya dari lembar-lembar koran –alias harian, di setiap hari minggu, karena kebetulan tempat kajian di mana kemudian saya tinggal, berlangganan semua terbitan itu.

Bersamaan dengan itu semua, saya mulai terbuka dengan khazanah Islam yang lain, semisal Islam di Iran –yah lewat pembacaan tekstual, lewat buku dan tulisan. Dengan sendirinya saya mulai memandang tinggi tradisi menulis, tak lain karena saya berjumpa dengan khazanah yang sebelumnya saya tidak ketahui tersebut dapat saya kenali, saya akrabi, saya kaji, singkatnya: saya baca, tak lain lewat buku dan tulisan.

Akhirnya, dapatlah dikatakan bahwa perjumpaan saya dengan kesusastraan dan perjumpaan kembali saya dengan Islam, tak lepas dari pembacaan, “tradisi yang lain”, pergulatan serta pencarian intelektual itu sendiri –yang memang tidak terlepas dari buku-buku, tulisan, singkatnya dengan “teks”, setelah sebelumnya saya juga menjumpainya, yang dalam hal ini sisi keagamaan saya, dalam “tradisi”, dalam sebuah dunia yang tidak terlepas dari “situasi epistemiknya” serta wawasan dan khazanahnya. Dalam hal ini, “pembacaan” dan “penulisan” merupakan sebuah ikhtiar dalam rangka “menghidupkan” sekaligus merawat, dan tentu juga dalam rangka menghindari “kemalasan intelektual” sejauh menyangkut keduanya.

Sulaiman Djaya 

Seni Visual Mohsen Jafari (Iran) 2

Seni Visual Mohsen Jafari (Iran)

Seni Visual Mohsen Jafari (Iran)
Puisi Sulaiman Djaya
Potret Sulaiman Djaya
Diari Sulaiman Djaya

Kunang Kunang oleh Sulaiman Djaya (2010)

Kunang-Kunang adalah sebuah pertanda tentang kesunyian yang bahagia di kala malam, cahaya-cahaya mungil yang memecah keheningan dan kegelapan, meski tak semua Kunang-Kunang memiliki cahaya di tubuh mereka.

Sahabat-sahabat masa kanak dan masa remajaku itu kini tak lagi kujumpai ketika aku telah menjadi lelaki dewasa, sejak deru dan bising mesin menjadi bagian dari kehidupan keseharian, dan cerobong-cerobong asap industri telah mengotori udara, dan mereka pun kini hanya tinggal ingatan dan kenangan saja.

Namun ada masa-masa ketika aku setia menanti kedatangan dan kehadiran mereka di kala magrib dan isya menjelma menjadi keheningan yang kental. Aku berdiri di depan pintu dan mengarahkan kedua mataku ke arah jalan yang berdempetan dengan sungai, yang seakan saling menenggelamkan diri dalam kesunyian, dalam senyap kebisuan yang memanen keakraban yang tak kupahami –di masa-masa ketika belum ada lampu-lampu bohlam dan neon seperti sekarang.

Kadang aku memandangi mereka dari pintu dapur, dan mereka kulihat berkerumun di atas pematang-pematang sawah, di antara lalang dan pohon-pohon yang berselimutkan kegelapan.

Aku selalu menyukai cara mereka berpindah-pindah tempat di setiap malam, seakan ingin mempermainkanku yang memang selalu bahagia dengan kehadiran mereka di saat malam, di saat aku merasa kesepian sebagai bocah dan lelaki remaja yang tak memiliki penghiburan di pedesaan.

Barangkali, pada saat itu, mereka sedang mengajariku secara langsung untuk bersikap intim kepada apa yang ada dan hadir di sekitar keberadaanku. Katakanlah sebuah tamsil untuk direnungkan –tapi itu kesadaran yang baru kumengerti saat ini, bukan saat itu, sebuah kesadaran post factum yang terpikirkan kemudian, setelah kenyataan dan peristiwa hanya sekedar menjadi ingatan dan kenangan yang berusaha direkonstruksi ulang menjadi sebuah fiksi.

Adakalanya mereka hadir selepas hujan senja pergi ke balik malam, dan seolah-olah mereka ingin menerangi hamparan kegelapan yang dingin dengan cahaya-cahaya foton di tubuh mereka, yang bagiku tampak berkelap-kelip seperti tebaran-tebaran bintang di angkasa nun jauh di atas kepalaku yang gaib bila selepas hujan mengguyur rumah, halaman, dan pematang-pematang sawah, juga pohon-pohon dan lalang-lalang liar.

Mereka memberiku sensasi dan pencerapan keindahan bagi kedua mataku dan bagi sepi, juga sunyi hatiku yang acapkali dilanda rasa jenuh dan bosan yang hadir dan datang tanpa kuduga, bagi seorang bocah dan remaja yang hidup di pedesaan yang tak memiliki banyak aktivitas di waktu malam selain mengerjakan PR yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah.

Aku jenuh dan bosan bila hanya bertemankan selampu minyak di meja belajarku, dan karena itulah aku akan membuka pintu dan menanti kedatangan mereka.

Kupikir di masa-masa itu ibuku paham, dan karenanya ibuku hanya bisa membiarkanku berdiri cukup lama di depan pintu untuk memandang dan merenungi mereka.

Kadangkala aku berjalan keluar ke dekat kebun, di dekat barisan tanaman Rosella yang ditanam dan dirawat ibuku di belakang dan di samping rumah, atau ke halaman di depan rumah, tergantung di mana ketika itu mereka berada dengan cahaya-cahaya di tubuh mereka yang mungil, lembut dan terang itu, agar aku dapat melihat mereka dari dekat.

Dan pernah suatu kali seekor kunang-kunang mendekatiku, hinggap di pundakku, yang tak ayal lagi membuatku menjadi bahagia dan merasa akrab dan intim karenanya. Kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya kumengerti ketika itu.

Aku kira keintiman dan keakrabanku secara bathin dengan mereka memang tak lain sebuah ikhtiar untuk memerangi kesepian dan kesunyianku sendiri sebagai seorang bocah dan lelaki remaja di masa-masa itu. Aku intim dan akrab dengan mereka sebelum perangkat tekhnologi informasi dan internet atau perangkat-perangkat gadget merebut keintimanku pada alam dan kesekitaran keseharian yang polos dan bersahaja.

Aku tak hendak memberikan penilaian atau tuduhan, hanya saja memang, relung-relung bathinku terasa bebal, seperti kehilangan kepekaan dan keakraban yang tulus dan jujur sejak tak lagi bercengkerama dan mengintimi mereka.

Mungkin kau akan menganggapku berlebihan dan mengada-ada ketika aku mengatakan hal ini, tetapi tidak, karena aku bicara apa adanya, sebagai seseorang yang bertahun-tahun hidup di pedesaan yang sepi dan tak mengenal hingar-bingar kehidupan kota. Di masa-masa ketika deru dan bising mesin belum menjadi keseharian kehidupan seperti sekarang ini.

Memang, aku tak hanya merasa akrab dengan Kunang-Kunang, sebab di waktu pagi, siang, dan di kala senja, aku juga acapkali mendapatkan rasa nyaman ketika memandangi kerumunan para Capung yang menggetarkan sayap-sayap mereka dengan samar, namun keindahan Kunang-Kunang karena mereka memiliki cahaya mungil yang terang di tubuh-tubuh mereka, cahaya yang bagiku terlihat lembut dan puitik, yang seperti telah kukatakan, mirip tebaran bintang-bintang di angkasa malam yang jauh, dan karena itulah Kunang-Kunang adalah bintang-bintang yang hadir di Bumi –setidak-tidaknya bagiku.

Diari Sulaiman Djaya

KAMPUNG HALAMAN oleh Sulaiman Djaya

kragilan-serang-banten-oleh-sulaiman-djaya

Batu-batu dan bunga pandan adalah rindu masa kanakku
dan waktu adalah garis-garis cahaya di dahan-dahan basah.
Bila hujan datang aku pun bergegas ke arah lampu-lampu
duduk bersandar dan mulai membuka lembar-lembar buku“.

(Nyanyian Tanah Kelahiran dalam Mazmur Musim Sunyi: Kumpulan Sajak Sulaiman Djaya, Kubah Budaya 2013, halaman 31)

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan.

Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang sederhana. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru hingga saat ini.

Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

sungai-ciujung-kragilan-serang-banten-oleh-sulaiman-djaya

Kebetulan keluarga saya memiliki tanah yang cukup luas untuk menanam Rosella, atau tanaman apa saja yang dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bila panen tiba, ibu saya akan menggoreng biji-biji Rosella tersebut dan anak-anaknya (termasuk saya) akan membantu menumbuknya hingga menjadi bubuk kopi yang kami kemas dalam plastik-plastik mungil yang kami beli dari pasar. Bila kami selesai mengemas bubuk Rosella tersebut, ibu saya lah yang akan menjajakannya alias menjualnya, kadangkala ada saja orang-orang yang datang sendiri ke rumah untuk membelinya.

Seingat saya, selain menanam Rosella, keluarga kami juga menanam kacang panjang. Dari hasil penjualan bubuk kopi Rosella dan kacang panjang itulah keluarga kami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami dan membiayai sekolah kami. Saya, misalnya, bisa membeli buku tulis atau buku-buku yang diwajibkan di sekolah. Singkatnya, kami hidup dari hasil mengolah tanah dan menjual komoditas yang dihidupkan oleh tanah dan alam, sebab ketika itu belum ada sejumlah pabrik seperti sekarang.

Saya juga masih ingat ketika ibu saya membuat sambal dari kulit buah Rosella yang berwarna merah itu agar sambal yang dibuat ibu cukup untuk semua anggota keluarga, sebab cabe rawit yang kami tanam tidak sebanyak seperti kami menanam singkong, ubi jalar, kacang panjang, dan Rosella.

Di saat saya sudah kuat memegang cangkul, kalau tak salah ketika saya telah duduk di sekolah menengah pertama, sesekali saya lah yang mengolah tanah dan membuat gundukan batang-batang pematang di mana kami menanam kacang dan Rosella. Tak jarang saya juga yang menyiraminya di waktu sorehari.

Itu adalah masa-masa di tahun 80-an ketika kami menggunakan batang-batang kayu kering untuk menyalakan dapur dan memasak. Sebab kami hanya mampu membeli minyak tanah cuma untuk bahan bakar lampu-lampu damar kami.

Selepas magrib, saya akan membawa salah-satu lampu damar tersebut ke langgar atau ke rumah seorang ustadz kami untuk belajar membaca dan mengeja Al-Quran. Itu saya lakukan setelah ibu saya sendiri yang mengajari saya tentang beberapa doa penting dan mengenalkan huruf-huruf hijaiyyah dan mengajarkan saya membaca dan mengeja Al-Quran sebelum saya duduk di sekolah dasar yang kebetulan ada di depan rumah. Selain itu, ibu saya juga mengajarkan saya beberapa sholawat-sholawat pendek.

kragilan-serang-banten-oleh-sulaiman-djaya

Aktivitas lain yang saya lakukan adalah menunggui padi-padi dari serbuan para burung di sorehari selepas sekolah, di saat biji-biji padi itu mulai menguning. Seingat saya, saya suka sekali duduk (mungkin dari situlah saya terbiasa merenung dalam kesendirian) di dekat serimbun pohon bambu yang tumbuh rindang dan asri di dekat sawah. Saya juga menarik ujung tali yang saya pegang, beberapa meter tali yang ujung lainnya yang terikat ke orang-orangan sawah yang dibuat oleh ibu saya. Kami menyebut orang-orangan sawah dari jerami, bilahan-bilahan bambu, dan kain-kain bekas itu, dengan nama jejodog.

Demikian, dalam rekonstruksi saya saat ini, ingatan dan kenangan saya tentang kampung halaman atau tanah kelahiran saya, membathin dan menyatu dengan saya di saat-saat saya merenung dalam kesendirian di saat saya duduk di serimbun bambu tersebut.

Dalam kesendirian itulah, sesekali saya suka sekali mengarahkan pandangan mata saya ke arah langit senja. Ke arah burung-burung yang beterbangan bersama hembus udara sore hari, udara yang juga mengerakkan pepohonan bambu di mana saya berada demi menjalankan perintah ibu saya sebagai seorang anak. Dan bila masa panen tiba, saya pun akan membantu ibu saya memotong batang-batang padi dengan alat pemotong yang mirip celurit kecil yang kami sebut arit. Dengan demikian, kehidupan masa kanak dan masa remaja saya telah sedemikian akrab dengan langit dan sawah-sawah.

kragilan-serang-banten-oleh-sulaiman-djaya-2

Tak hanya itu saja yang membuat saya tanpa sengaja begitu terikat dengan kampung halaman dan tanah kelahiran saya. Barangkali yang dapat dikatakan sebagai “kepedihan” pertama saya adalah ketika adik perempuan yang bermata indah dan berwajah cantik meninggal karena demam. Seingat saya, saya menangis di belakang rumah karena peristiwa tersebut. Mungkin kesedihan saya adalah karena ia adalah orang yang pertama yang begitu dekat dan akrab dengan saya, yang senantiasa bersama saya dan senantiasa menangis bila saya tinggalkan.

Dengan sedikit paparan itu, kampung halaman dan tanah kelahiran bagi saya adalah tempat di mana saya menyimpan sebuah cerita dan pengalaman “kepedihan” saya bersamanya. Ia adalah sebuah konteks dan tempat di mana ingatan dan kenangan saya berada dalam ketakhadirannya di waktu sekarang. Ia adalah sebuah bingkai dan kanvas yang belum digambar, yang hanya bisa saya rekonstruksi saat ini ketika saya mulai belajar untuk menarasikannya dalam sekian fiksi, dalam sejumlah puisi-puisi yang saya tulis.

Ingatan dan kenangan itu memang tak ubahnya hanya upaya untuk “merekonstruksi” sebuah peristiwa dan konteks yang sebenarnya sudah tidak ada, namun jejak bathinnya masih senantiasa ada ketika saya berusaha merekonstruksinya demi sebuah fiksi –demi sejumlah puisi yang saya tulis. Singkat kata, kampung halaman atau tanah kelahiran adalah sebuah “historiografi personal” sekaligus sebuah fiksi yang membuat saya begitu terikat dengannya. Ia adalah latar dominan yang membentuk relung bathin saya karena di sanalah saya pernah mengalami “kepedihan” saya. Foto: Kragilan, Serang, Banten oleh Sulaiman Djaya.

kragilan-serang-banten-2-oleh-sulaiman-djaya

Diari Sulaiman Djaya

Catatan Harianku

Ihwal Cinta Sejati

Aku lahir menjelang fajar. Suatu ketika, saat aku sendirian menjelang siang, aku merangkak sampai di tengah jalan di depan rumah. Padahal di tepi jalan itu ada saluran irigasi yang cukup lebar dan dalam, yang barangkali aku dapat saja tercebur jika tak diketahui oleh orang kampung yang lewat dan segera mengangkatku dan menggendongku –demikian menurut cerita beberapa orang di kampung kepadaku ketika aku telah menjadi lelaki dewasa.

Aku terlahir dari keluarga sederhana, sebagaimana banyak orang desa hidup, dan rumahku berada sendirian di tepi jalan dan sungai, tidak seperti orang-orang kampung lainnya. Mayoritas keluarga dari pihak ibuku tidak merestui pernikahan orang tua kami –karena mereka tidak menyukai bapakku, termasuk uwa-ku yang seorang lurah di desanya, dan karenanya aku selalu dikucilkan oleh mereka dalam hal-hal urusan keluarga kakekku dari pihak ibuku.

Meskipun demikian, orang-orang di kampungku, terutama kaum perempuan dan ibu-ibu, sangat menghormati ibuku dan aku. Kakek dari pihak ibuku mirip orang Arab dan Timur Tengah –berhidung mancung, dan tipikal fisik kakek dari pihak ibuku itu menurun (diwariskan) kepada anak-anak pamanku (adik ibuku) yang semuanya berhidung mancung –hingga sepupu-sepupuku (anak-anak paman, adik ibuku) mirip orang-orang Iran dan Arab, yang mana mereka semua berhidung mancung.

Dan memang, semua orang di kampungku mengatakan bahwa pamanku (adik ibuku) adalah lelaki paling ganteng di kampungku, hingga banyak perempuan yang suka kepadanya. Hanya saja, Tuhan menjodohkannya dengan perempuan Betawi.

Nama kakekku dari pihak ibuku adalah Haji Ali, orang yang pendiam dan sangat tekun bekerja sebagai petani dan perajin perabot rumah-tangga dari bambu dan pohon-pohon pandan. Seringkali, bila ibuku menyuruhku untuk meminjam beras kepadanya, ia sedang menganyam bakul dan tampah dari bilah-bilah pohon-pohon bambu, dan hanya berhenti bekerja bila waktu sholat saja. Sesekali aku harus menunggunya pulang dari sawah, dan pada saat itu aku diajak ngobrol oleh nenek tiriku (yang kurang kusukai). Maklum, nenekku dari pihak ibuku sudah meninggal ketika aku lahir.

Berkat kekayaan kakekku dari pihak ibuku itulah, pamanku (adik ibuku) bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta di Jakarta hingga menjadi sarjana strata satu, hingga ia menjadi satu-satunya orang di kampungku yang kuliah, dan kakekku tentu saja satu-satunya orang di kampungku yang bisa meng-kuliahkan anaknya di perguruan tinggi.

Namun demikian, meski kakekku orang kaya, keluargaku hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan karena keluargaku tidak mau mengandalkan kekayaan kakekku. Menurutku hal itu terjadi karena keluarga kami “disisihkan” oleh keluarga besar kami karena mereka tidak menyetujui pernikahan orang tua kami –seperti yang telah kusebutkan itu. Dan karena itu ibuku harus bekerja keras menjadi petani dan menanam apa saja yang dapat dijual dan menghasilkan uang, seperti menanam sayur-sayuran, kacang dan rosella.

Ibuku adalah perempuan yang dicintai oleh orang-orang di kampungku –terutama oleh kaum perempuan. Dan setelah ia wafat, penghormatan orang-orang kampung itu beralih kepadaku. Barangkali karena orang-orang di kampung tahu bahwa yang seringkali bersamanya saat ibuku bekerja di sawah-sawah mereka adalah aku.

Ia adalah tipe perempuan yang tidak suka mengobrol dan bergosip, dan hanya akan keluar rumah jika ada keperluan penting saja atau jika hendak membeli kebutuhan bagi dapur dan untuk mendapatkan bahan pelengkap makanan untuk makan kami. Ia sempat mengajar ngaji beberapa tahun sebelum akhirnya berhenti karena alasan harus mengoptimalkan keluarga dan harus istirahat karena telah banyak bekerja.

Di masa-masa sulit, ibu-ibu atau perempuan-perempuan di kampung akan bertanya kepada ibuku apakah kami punya beras untuk kebutuhan keluarga, dan karena itulah aku seringkali membawakan gabah-gabah mereka ke tempat penggilingan –yang berkat kerjaku membawa gabah mereka dengan menggunakan sepeda itu, kami mendapatkan beberapa liter beras sebagai upah.

Di masa-masa panen, ibu-ibu dan kaum perempuan di kampungku juga akan mengajak kami untuk turut memanen padi di sawah-sawah mereka, dan aku pula yang selalu ikut dengan ibuku. Dari pekerjaan itulah kami mendapatkan beberapa karung gabah (mendapatkan 1/4 bagian) –sesuai dengan kemampuan kami memanen padi di sawah-sawah mereka, sebagai bagi hasil dari kerja kami membantu memanen padi mereka.

Demikianlah cara-cara orang-orang di kampung menolong kami. Itu adalah masa-masa ketika adik-adikku belum lahir, dan bapakku seringkali tidak ada di rumah, yang karenanya sampai saat ini, aku adalah orang yang kurang menghormati bapakku. Sehingga, dalam banyak hal, ketidaksetujuan keluarga besar kami dari pihak ibuku, akhirnya dapat kumaphumi.

Sementara itu, di masa-masa senggang dari musim panen padi hingga waktunya menanam padi kembali, ibuku akan menanam kacang, kacang panjang, kangkung, dan juga rosella, yang kemudian akan ia jual kepada orang-orang kampung, dan tak jarang-orang di kampungku dan orang-orang di kampung tetangga datang langsung kepada kami untuk membeli bahan-bahan pangan yang dihasilkan ibuku itu.

Dari penjualan kacang, kacang panjang, kangkung, dan rosella (yang diolah menjadi kopi oleh ibuku dan kami itu)-lah, kami mendapatkan uang untuk membiayai sekolahku dan sekolah kakak perempuanku –sebelum akhirnya kakak perempuanku itu tinggal bersama pamanku (adik ibuku) dan meneruskan sekolah menengah pertamanya di Jakarta.

Jika aku lebih dekat dan lebih menghormati ibuku, tentu karena bagiku ibuku-lah yang dapat kukatakan sebagai orang yang setia dan punya komitmen, ketimbang bapakku yang ber-poligami dan sering tidak ada di rumah di masa kanak-kanak dan remajaku.

Selain menanam sejumlah sayuran dan yang lainnya, ibuku juga berusaha beternak, seperti memelihara ayam dan unggas, yang ketika besar dapat dijual kepada orang-orang yang lewat yang hendak ke pasar atau sepulang mereka dari pasar. Ternak-ternak kami itu terutama sekali akan banyak yang membelinya di hari-hari besar keagamaan, atau bila orang-orang di kampung hendak melaksanakan pesta pernikahan anak mereka atau mengkhitankan anak mereka.

Dan aku pula yang seringkali membantu ibuku untuk menangkap ayam-ayam itu bila mereka kebetulan sedang dikeluarkan dari kandang saat ada orang yang hendak membelinya tanpa diduga. Begitulah masa kanak dan masa remajaku yang lebih banyak dihabiskan dengan ibuku –selain ibuku juga lah orang pertama yang mengajariku membaca dan mengaji Al-Quran serta mengajariku tatacara sholat.

Di era 80-an itu, selain ibuku, yang bekerja keras mencari uang untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhan keluarga kami adalah kakak pertamaku (aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara), seperti mengangkut batu-bata ke mobil truck, mencetak batu-bata, dan yang lainnya. Dapat dikatakan, di masa-masa itu, aku dan kakak pertamaku (lelaki) berbagi kerja dan tugas sesuai dengan kemampuan kami, di mana aku sering bertugas membantu ibuku bekerja di sawah atau menyirami tanaman yang ia tanam di samping rumah kami, di saat kakak pertamaku mencari uang dengan pekerjaan-pekerjaan lain.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya di era 90-an, ketika industri mulai banyak yang hadir di sekitar tempat kami (meski agak jauh), yaitu ketika kakak pertamaku yang hanya bersekolah sampai di sekolah menengah pertama, diterima menjadi karyawan (buruh) di sebuah perusahaan kontraktor yang tengah membangun sebuah pabrik kertas.

Keberuntungan pun terus berlanjut, kala masa kerja kakakku di perusahaan kontraktor tersebut berakhir karena pembangunan pabrik itu telah rampung, ia pun lalu diterima sebagai karyawan pabrik kertas (yang dibangun perusahaan kontraktor itu), siap beroperasi dan melakukan produksi.

Tak ragu lagi, keadaan itu telah memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kami dan aku pun bisa meneruskan pendidikanku ke sekolah menengah pertama setelah lulus sekolah dasar, tepatnya di SMPN 1 Kragilan. Aku termasuk orang yang beruntung dapat melanjutkan di sekolah menengah pertama negeri, karena dengan demikian, aku dapat melanjutkan pendidikanku dengan cukup murah, di saat sejumlah kawanku banyak yang harus di sekolah swasta, semisal di SMP PGRI Kragilan (yang biayanya lebih tinggi).

Sekedar informasi tambahan, pendidikan sekolah dasarku hanya kutempuh selama lima tahun, karena aku tak perlu menempuh kelas dua sekolah dasar berdasarkan pertimbangan kepala sekolah dan para guru. Selama lima tahun menempuh pendidikan sekolah dasar itulah aku selalu mendapatkan ranking (peringkat pertama) dan lulus di sekolah dasar (SDN Jeruk Tipis 1 Kragilan) itu dengan peringkat pertama dan mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan murid-murid yang lain.

Di saat aku duduk di kelas lima sekolah dasar di SDN Jeruk Tipis 1 itu pula, aku sempat menjadi juara pertama lomba cerdas cermat untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Umum di tingkat Kecamatan dan prestasi-prestasi lainnya.

Sementara itu, selama dua tahun menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, aku harus berjalan kaki sejauh lima kilometer lebih menuju sekolahku. Bila ada mobil truck yang lewat atau melintas di saat aku berangkat atau pulang sekolah, aku pun akan menumpang mobil tersebut. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali memiliki sepeda ketika melihat banyak teman-temanku di sekolah memiliki sepeda, namun aku tak berani memintanya kepada ibuku. Bagiku aku sudah sangat beruntung dapat meneruskan pendidikanku, yang seringkali aku pun telat membayar iuran sekolah, seperti membayar SPP atau biaya ujian.

Masalahnya adalah ketika aku harus bersekolah dengan jalan kaki itu harus kujalani di masa-masa musim hujan. Di masa-masa hujan itulah biasanya ketidakhadiranku di kelas lebih banyak. Sebagai gantinya aku harus belajar di rumah lebih keras untuk mengejar materi-materi mata pelajaran mata pelajaran yang tertinggal ketika aku tidak dapat hadir di kelas. Tentu saja, prestasiku di sekolah menengah pertamaku tidak sama ketika aku di sekolah dasar. Ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama, paling-paling peringkatku di antara 7 atau 9, kalah dengan anak-anak kota yang buku-buku mata pelajarannya lebih lengkap.

Tak jarang aku harus meminjam buku-buku teman-temanku untuk sehari atau dua hari agar dapat kusalin di buku-buku catatanku, yang dengan demikian aku tak mesti membeli buku-buku paket yang seringkali diwajibkan sekolah untuk membelinya dari sekolah. Pihak sekolah pun menjadi maklum ketika kujelaskan keadaan yang sebenarnya ketika aku sering tidak membeli sejumlah buku paket –kecuali untuk buku matematika dan fisika yang mau tak mau aku harus membelinya dari uang jajan yang kutabung diam-diam alias tak kugunakan untuk jajan.

Sulaiman Djaya (2011)

Sulaiman Djaya Young Portrait