Art

Sulaiman Djaya Dalam Fotografi

Foto 1: Penyair Sulaiman Djaya Membaca Puisinya di hadapan khalayak di Padepokan Kupi Kota Serang, Banten 18 Februari 2018 oleh Aliyth Prakarsa

Iklan
Art

Menjumpai Ayat-ayat Kauniyah: Sebuah Esai Fotografi

Segala yang ada adalah ayat bagi yang peka dan mampu membaca. Daun-daun yang digerakkan udara, bunyi gemerisiknya yang lembut bagi telinga yang menyimak.

Air yang merenung dalam diam dan sesekali bergelombang adalah bahasa, meski lebih banyak menyimpan rahasia yang bercanda dengan cahaya.

Ilalang dan bunga-bunga liar, juga para serangga adalah kosakata-kosakata yang dapat ditulis menjadi sajak: sisa gerimis pun enggan menguap.

Mereka semua adalah siklus tasbih dan tahmid bagi hati yang tulus membaca, seperti juga matahari sebagai obor agung tak ubahnya nyawa bagi hidup

Segala yang tumbuh di tanah. Kaana, yakuunu, kauniyat…..mereka yang ada, mengada, dan wujud sebagai hamparan ayat-ayat semesta bagi mata yang tidak buta.

Begitulah penyair mengintimi hidup: merenung dengan hati, menyimak dengan mata, dan melihat dengan telinga…seluruh jiwa dan raganya bekerja ketika menjumpai semesta.

Aku mendapatkan larik dan kalimat dari mereka, meski kata-kata yang kutulis sudah disediakan oleh bahasa. Mereka lah yang menyusun bait-bait sajak

Dan aku hanya dipinjam oleh mereka untuk menyatakan di lembar-lembar kertas, di layar komputer dengan memainkan tuts-tuts keyboard.

Keintiman pada keberadaan mereka itulah yang membuatku sanggup menyusun paragraf, menggubah komposisi, sanggup bersuara melalui kata-kata yang kutuliskan.

Fotografi: Kragilan, Serang, Banten oleh Sulaiman Djaya (penyair).

Art

Ieu Kula (It’s Me): Mata Batin Banten

by Suci Dian 

Gebar Sasmita, The Maestro and the Masks, mixed media, 120x60x75 cm

(Gebar Sasmita, The Maestro and the Masks, mixed media, 120x60x75 cm)

How do these artists view Banten? A nest of political dynasty of Ratu Atut? A nest of mystical reigns?

Fifty four artists gather around in National Gallery of Indonesia (GNI), on the previous Tuesday (22 October 2013). They bring various artworks together; in forms of paintings, photographs, statues, and installation in an exhibition titled “It’s Me: Banten’s Inner Eye(s)” (Ieu Kula: Mata Batin Banten). They try to break the perception that there is no such thing as Banten’s fine arts.

Tubagus-Patoni_-Evolusi_acrylic-on-canvas_uk-140-x-100-cm_tahun-2013

(Tubagus Patoni, ‘Evolusi’, acrylic on canvas, 140 x 100 cm, 2013)

“This exhibition can at least let the artists breathe since they are finally visible to the rest of the world,” said the Chief of Fine Arts Development of Banten – Gebar Sasmita, at the opening night of exhibition held until 4 November 2013.

Dirot-Khadirah_Pelabuhan-Hati_oil-on-Canvas_uk-120-x-150_tahun-2013

(Dirot Khadirah, ‘Pelabuhan Hati’, oil on Canvas, 120 x 150 cm, 2013)

In Banten Sundanese language, Ieu Kula literally means “It’s Me”. It is chosen to depict the spirit of Banten artists, to tell the world that Banten’s fine arts are exist, despite its unrepresented voice.

“We (the Banten artists) are here! We tread consistently to be equal with the art development of other provinces, which of course have gone beyond our own,” said Gebar passionately.

Banten artistry identity, Kuss Indarto; a curator; said, is often discussed due to the absence of the artists in Indonesian fine arts world. There were only two artists – Agus Djaya and Otto Djaya – brothers that contribute to Indonesian fine arts for a short while.

A.-Muhsoni_Menikmati-Perjalanan_uk-100-x-140-cm_tahun2013_oil-on-canvas

(A. Muhsoni, Enjoying the Journey, 100 x 140 cm, 2013, oil on canvas)

In this exhibition, the artists chose to address this identity issue. Some of those are paintings of Bantenese fighting against the Dutch, the life of Baduy people against the current of modernity, until the suffocating air of industrial development.

In A. Muhsoni’s “Enjoying a Journey”, for instance, four Baduy men are painted on their way to the city. Uniquely, these young Baduy men are not walking, like what Baduy is famous for. They are sitting quietly in a public transportation.

This painting seems to show the painter’s turmoil when he see the current of modernity ‘embracing’ the Baduy’s indigenous people in the name of humanity, but it is engulfing their cultural roots.

The same theme can be applied to the artwork of Dedi Haryadi Said (Roots and Cultures); Caca Chandra Rosselinni (Two Baduy Men); Azis Winasis (I am a Baduy Man); Sudrajat (Partying Rawayan); and Tato Kastareja (Part of Banten’s Idealek).

Apart from the group is the style of Tubagus Patoni titled Evolution (2013) raising the issue of industrial development in Banten’s province. Four heavily-pregnant women are sitting whilst using oxygen masks in the middle of industrial field which destroys the surrounding forests in the painting. Tubagus would like to paint the anxiety of Banten’s people of the industrial activity, which threatens their forests.

An interesting image is painted by Sujiyanto in his artwork titled The Rainbow Nation, displaying figures of workers trapped working in an industry. Uci Sanoesi (The Stadt Bantam 1670) and Leonardo SK (Sultan Ageng Tirtayasa), displaying the struggle of Banten people against the Dutch.

However, Gebar Sasmita’s artwork titled The Maestro and the Masks (2013), manages to attract the attention of many visitors. The reason behind it is that the model of the statue is his mentor – maestro Hendra Gunawan. The statue has details, forms, and colors that are not straying too far with the artwork of Hendra Gunawan.

AWAITING SUPPORT
After Agus Djaya and Otto Djaya, Banten fine arts seemed to lose its vibrant. Though some artists continuously produce artworks, their voices have never been as much as heard. It resulted in the development void of ideas and thoughts.

It is not caused by the lack of an art community. There had been various community recorded such as PSB (Banten’s Artists Unity), Sanggar Embun, Sanggar Krakatau Art “Painting Fundamental”, Sanggar Ki Mas Djong, and Komunitas Bunga Rumput in Pandeglang. Unfortunately, many of those have shut down presently.

The inexistence of supporting facilities of art activities, namely gallery and museum, it makes fine arts even more unnoticeable. This is very sad, remembering the close distance of the province with Jakarta and Bandung. The mayor of Banten, Rano Karno, states his apparent surprise at the condition.

“This is my first time finding a city without any art facilities like museums” said Rano Karno, with cheers from the artists as the response. He promises that Banten artists will acquire their own places. A place able to support various cultural and fine arts activities, expected to shed a new identity of Banten artists in Indonesian fine arts.

Art, Dongeng dan Folklore

Pakar Alkemi dan Sang Raja

Salah El Brogy

Di sebuah negara di negeri dan jazirah Timur ada seorang Raja yang hendak mencari orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak orang datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak mampu mengubah besi menjadi emas.

Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi.

Segera saja Raja mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu.

Sesampainya di istana, Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan memberikan apa pun yang diminta oleh orang itu.

Tetapi orang desa itu berkata, “Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit pun ilmu yang Tuan Raja maksudkan.”

Raja berkata, “Setiap orang memberitahuku bahwa kau mengetahui ilmu itu.”

“Tidak, ya Tuan Raja,” jawabnya bersikeras. “Tuan Raja mendapatkan orang yang keliru.”

Mendengar apa yang dikatakan orang desa itu Raja pun mulai murka dan mengancam. “Dengarkan baik-baik!” kata Raja. “Bila kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur hidup.”

“Apa pun yang Tuan Raja hendak lakukan, lakukanlah. Tuan Raja mendapatkan orang yang keliru”.

“Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan, selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu keenam kau masih berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu.”

Akhirnya orang desa itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja datang ke penjara dan bertanya, “Apakah kau telah berubah pikiran? Maukah kau mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat, berhati-hatilah. Ajari aku pengetahuan itu.”

Orang desa itu selalu menjawab, “Tidak! Tuan Raja. Carilah orang lain. Carilah orang lain yang memiliki apa yang Tuan Raja inginkan, saya bukanlah orang yang Tuan Raja cari.”

Setiap malam ada seorang pelayan yang melayani orang desa itu dalam penjara. Pelayan itu berkata bahwa Raja mengirimnya untuk melayani orang itu sebaik-baiknya. Pelayan itu menyapu lantai serta membersihkan ruangan penjara itu. Pelayan itu juga selalu mengantarkan makanan dan minuman untuk orang itu, memberikan simpati kepadanya, melakukan apa saja yang diminta oleh orang itu, dan bekerja apa saja selayaknya seorang pelayan.

Pelayan itu selalu menanyakan, “Apakah Anda sakit? Apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk Anda? Apakah Anda lelah? Bolehkah saya membersihkan tempat tidur Anda? Maukah Anda bila saya mengipasi Anda hingga Anda tertidur, udara di sini panas sekali.”

Dan, segala sesuatu yang bisa pelayan itu lakukan, maka ia lakukan saat itu juga.

Hari pun terus belalu. Dan akhirnya tinggal satu hari lagi sebelum kepala orang itu dipenggal. Pagi hari Raja mengunjungi dan berkata, “Waktumu tinggal sehari. Ini kesempatan bagimu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.”

Tetapi orang desa itu tetap saja berkata, “Tidak Tuan Raja. Yang Tuan Raja cari bukanlah saya.”

Pada malam hari, sebagaimana biasa pelayan itu datang. Orang itu memanggil pelayan itu untuk duduk dekat dirinya kemudian diletakkan tangannya di bahu pelayan itu dan berkata, “Wahai orang yang malang. Wahai pelayan yang malang. Engkau telah berlaku sungguh baik terhadap diriku. Kini aku akan membisikkan di telingamu sebuah kata tentang alkemi. Sebuah kata yang akan membuatmu mampu mengubah besi menjadi emas.”

Pelayan itu berkata, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan dengan alkemi. Saya hanya ingin melayani Anda. Saya sungguh sedih bahwa besok Anda akan dihukum mati. Itu sungguh mengoyak hati saya. Saya harap saya bisa memberikan jiwa saya untuk menyelamatkan Anda. Seandainya saya bisa, sungguh saya sangat bersyukur.”

Sang pakar alkemi itu menjawab, “Lebih baik aku mati daripada memberikan ilmu alkemi ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Ilmu yang baru saja aku berikan kepadamu dalam simpati, dalam penghargaan, dan dalam cinta, tak akan kuberikan kepada Raja yang akan mengambil nyawaku besok. Mengapa demikian? Karena engkau pantas menerimanya, sedangkan Raja itu tidak.”

Esok harinya, Raja memanggil sang pakar alkemi itu dan memberikan peringatan terakhir. “Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau harus mengajariku ilmu alkemi, bila tidak lehermu harus dipenggal.”

Sang pakar alkemi itu menjawab, “Tidak Tuan Raja, Anda mendapatkan orang yang keliru.”

Mendengar itu, Raja pun berkata, “Baiklah. Aku putuskan kau untuk bebas, karena kau telah memberikan alkemi itu padaku.”

Sang pakar alkemi itu keheranan, “Kepada Tuan Raja? Saya tidak memberikannya pada Tuan Raja. Saya telah memberikannya pada seorang pelayan.”

“Tahukah kau, bahwa orang yang melayanimu setiap malam itu adalah aku,” jawab Sang Raja.

Sumber: Inayat Khan, Spiritual Dimensions of Psychology. Ilustrasi: Salah El Brogy Company 2014: The Moment, The Tabernacle, 3 November 2014 (Iranian Nour Festival 2014)

Art, Cultural Studies

Teguh Karya –Bukan Sembarang Sutradara

Teguh Karya Sang Legenda

Teks: Rizka Azizah. Foto: Majalah Femina

Lahir di Pandeglang, Banten, ia adalah legenda film Indonesia. Ia adalah sineas genius yang menjadikan film Indonesia naik kelas.

Ada yang berbeda dari Festival Film Indonesia (FFI) 2015 lalu. Selain menobatkan film hitam-putih berjudul Siti sebagai pemenang penghargaan tertinggi Film Terbaik untuk pertama kalinya, festival film yang digelar sejak tahun 1955 ini juga membawa tema khusus Tribute to Teguh Karya, untuk mengenang mendiang sutradara peraih piala Citra terbanyak tersebut.

Mengoleksi Piala Citra
Dunia perfilman tanah air pernah berada di masa keemasan, yaitu di tahun ’70 dan ’80-an. Saat itu, banyak karya sineas anak bangsa bermunculan. Puncaknya adalah tahun 1977, sebanyak 367 film diproduksi dalam setahun. Film-film tersebut meliputi semua genre, mulai dari drama romantis, komedi, hingga laga, yang semuanya laris di pasaran.

Di era tersebut, bioskop memang merupakan satu-satunya medium untuk memutar film. Terlebih lagi, di masa itu juga belum ada serbuan film-film asing seperti saat ini. Tak mengherankan bila film Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Salah satu sineas yang berjasa mencetak sejarah membanggakan di dunia film Indonesia adalah Teguh Karya.

Para tokoh perfilman Indonesia menjulukinya sebagai sutradara genius yang mahir mengolah ide cerita menjadi film dengan daya tarik tinggi. Beberapa film garapan Teguh, antara lain Ranjang Pengantin (1974), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1979), Doea Tanda Mata (1984), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1989), sangat disukai penonton. Bahkan, kepiawaiannya itu berhasil membawanya menjadi Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia sebanyak 6 kali!

Atas prestasinya itulah, sutradara yang memiliki nama asli Steve Liem Tjoan Hok ini dipilih menjadi ikon FFI 2015 lalu. Tema Tribute to Teguh Karya pun dipilih sebagai penghormatan terhadap tokoh yang melalui karya-karyanya telah memberikan kontribusi besar bagi perfilman Indonesia ini.

Menurut Olga Lidya, Ketua Pelaksana FFI 2015, pemilihan Teguh sebagai ikon FFI 2015 akan membuat ajang perfilman tanah air ini menjadi lebih bergengsi. “Meski tak sempat bertemu, saya mengagumi sosok Teguh sebagai sineas yang konsisten menghasilkan karya bagus. Sineas-sineas muda sebaiknya belajar banyak dari karya-karyanya,” ujar Olga, dalam press conference FFI 2015.

Selain itu, dipilihnya Teguh menjadi ikon FFI 2015 juga karena alasan kedekatan emosional. “Kebetulan, Teguh Karya itu lahir di Pandeglang, Banten. Lokasi penyelenggaraan FFI 2015 kan juga di Provinsi Banten,” imbuh Olga.

Sejak menggarap karya pertama yang berjudul Wajah Seorang Lelaki (1971), Teguh terus konsisten berkarya dengan sepenuh hati. Sebagai sutradara, ia dikenal penuh totalitas, tegas, dan telaten. Tak mengherankan jika semua filmnya memiliki standar kualitas dan nilai artistik tinggi. “Walaupun memiliki dasar teater yang kuat, Teguh tidak terjebak dalam pakem teatrikal saat menyajikan film. Ia berhasil menyentuh sisi komersial tanpa meninggalkan esensi penting dalam pembuatan film,” ujar IGAK Satrya Wibawa, pengajar Kajian Film, Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut Satrya, panggung teater justru membuat Teguh menguasai teknik penyutradaraan film dengan baik. Tak mengherankan, film garapannya selalu utuh dan logis dalam menyampaikan pesan tertentu. “Isu yang diangkat Teguh selalu dekat dengan masyarakat Indonesia. Alhasil, karya filmnya selalu disukai masyarakat karena bisa diterima dengan akal sehat,” ungkap Satrya.

Totalitas dan keutuhan itulah yang membuat namanya selalu bersinar di panggung FFI dari tahun ke tahun. Selama 2 dekade berkiprah sebagai sutradara, Teguh telah menghasilkan belasan karya yang membuahkan 54 piala Citra untuk beberapa kategori dalam film Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Usia 18 (1980), Di Balik Kelambu (1982), Doea Tanda Mata (1985), Ibunda (1986), hingga Pacar Ketinggalan Kereta (1989).

Teguh tak hanya piawai menyutradarai film, tapi juga mampu mencetak aktris dan aktor besar, seperti Christine Hakim, Roy Marten, Slamet Raharjo, Niniek L. Karim, Alex Komang, Ria Irawan, Rima Melati, hingga Eros Djarot.

Right Man in the Right Time
Meski kualitas karya-karyanya tak diragukan lagi, Teguh juga muncul di kondisi yang tepat ketika perfilman Indonesia sedang di masa jayanya, yaitu di tahun ’70 hingga ’80-an. Antusiasme masyarakat terhadap sinema Indonesia saat itu juga terbilang tinggi. Kombinasi antara karya yang bermutu, kondisi yang tepat, dan pasar yang siap makin mendongkrak popularitas film-film Teguh Karya.

Kondisi itu jelas berbeda dengan saat ini. Kini, film tak hanya bisa dinikmati di bioskop, tapi juga melalui televisi, DVD, atau bahkan YouTube. “Dulu, orang pergi ke bioskop dengan niat utama menonton film. Aktivitas lain seperti makan atau minum di kafe adalah gimmick yang biasanya dilakukan usai nonton di bioskop,” ujar Satrya.

Berbeda dengan kondisi sekarang, menonton bioskop hanya menjadi aktivitas tambahan setelah kegiatan hang out di kafe atau coffee shop, makan di restoran, maupun shopping. Hal itu ditandai dengan makin banyaknya gedung bioskop lokal yang tutup dan berganti dengan jaringan bioskop yang berlokasi di dalam mall. Menyedihkan memang ketika melihat aktivitas menonton kini hanya jadi bagian dari gaya hidup nge-mall. Terlebih lagi, kini ada lebih banyak pilihan film asing selain Hollywood, sebut saja film dari Eropa, Korea, Thailand, India, dan Cina.

Kondisi tersebut, menurut Satrya, turut membentuk karakter penonton zaman sekarang. Dari perspektif industri, Satrya pun mendefinisikan penonton film di Indonesia zaman sekarang menjadi 2 bagian: penonton gaya hidup dan penonton sejati. Penonton gaya hidup adalah mereka yang menonton film hanya untuk bersenang-senang, sedangkan penonton sejati yaitu mereka yang benar-benar mengapresiasi dunia film, sehingga mereka selalu haus akan tontonan berkualitas.

“Penonton zaman sekarang tak bisa dipaksa untuk menonton atas nama mencintai produk dalam negeri. Mereka akan nonton dengan dua alasan, menyukai filmnya atau hanya ingin refreshing,” ujar Satrya. Karena itu, Satrya menilai, akan sulit untuk mengembalikan budaya menonton masyarakat Indonesia seperti pada tahun ’70-’80-an dulu. Era tersebut memang menjadi masa terbaik dunia perfilman Indonesia, dan Teguh adalah salah satu sineas yang membuat sinema tanah air bergerak maju.

Salah satu film arahan Teguh yang banyak dipuji kritikus adalah Ibunda. Film yang dibintangi oleh Tuty Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Ria Irawan, dan Niniek L. Karim ini sukses mengantongi 9 piala Citra, termasuk untuk kategori film, sutradara, skenario, editing, dan aktris terbaik.

Bagi Bobby Batara, pengamat dan wartawan film, Ibunda adalah film cerdas yang berhasil memadukan plot, dialog, sisi artistik, pemain, dan sinematografi apik menjadi sebuah tontonan hebat. “Ada salah satu scene yang isinya orang-orang berseliweran di satu tempat, namun saling berbicara dalam waktu bersamaan. Jarang ada sutradara yang berani memainkan scene seperti itu. Bagi saya, itu adalah adegan hebat,” cetus Bobby.

Kepiawaiannya dalam menggarap film dan tangan dinginnya yang berhasil menelurkan bakat-bakat besar berpadu harmonis dengan kondisi perfilman lokal yang kala itu tengah berjaya. Sutradara dan pendiri Teater Populer ini memang merupakan the right man in the right place.

Diakui Olga, sudah saatnya FFI mengangkat Teguh Karya sebagai ikon, mengingat banyak film karyanya yang memberikan warna berbeda bagi dunia perfilman nasional. “Saya rasa, dengan mengangkat keberadaan film-film Teguh Karya dalam FFI tahun ini, masyarakat bisa makin mengenal sosok sutradara legendaris itu,” tutup Olga.

BOKS –Niniek L. Karim: Belajar Mengenai Totalitas
Kalau enggak ada Teguh Karya, enggak akan ada saya. Beliaulah yang berjasa mendongkrak karier saya di dunia film. Tadinya, saya hanya mau bermain teater dan tak ingin main film. Namun, Teguh meluluhkan hati saya sehingga mau bermain film karena dia menyuguhkan skenario yang brilian. Ibunda adalah kolaborasi pertama saya dengan Teguh.

Bagi saya, kehebatan Teguh terletak pada kemampuannya menyajikan film Indonesia dengan riil. Pada genre drama misalnya, ia menyampaikan pesan dengan utuh melalui logika cerita, sisi artistik, waktu, pencahayaan, dan musik. Ia juga selalu mementingkan kerja kolaboratif. Meski di sebuah film terdapat peran utama dan pembantu, dalam proses pembuatan film, semua yang terlibat adalah pemeran utama. Tak terkecuali, tukang antar makanan saat proses syuting berlangsung.

Saya selalu menikmati semua proses syuting bersama Teguh. Meski pernah berantem, saya selalu mengagumi totalitas, profesionalisme, dan keterbukaannya menerima kritik dan saran dari orang lain. Saya rasa, sineas muda di masa kini perlu mencontoh keuletan dan ketelatenan Teguh dalam berkarya. Tiap kali menyutradarai film, ia selalu berkata, “Yang penting adalah proses, bukan hasil akhir.”

Art, Seni dan Sastra

Gitanjali –Dua Puisi Sulaiman Djaya

Gitanjali Sulaiman Djaya

Gitanjali

Han, negeriku terbuat dari Maret yang tua.
Tak ada salju. Tapi kesiur
sesekali menggempur.
Bila redup tiba, aku pun segera

menyalakan mataku.
Ada mimpi di telaga kecil
dengan beberapa angsa
dan itik. Belalang di batang-batang

dan capung-capung
yang mengambang dan bertaburan.
Kusimpan segala yang tak dicatat sejarah
dan deru mesin-mesin pabrik

adakalanya saling bertabuh
dengan hembus jendela
dan tiap kata menerka takdir mereka
meski kadang malas dan bosan.

Han, negeriku begitu sabar bercanda
dengan rintik yang sepi
di pagi dan sorehari.
Dan setiap kali kubuka mataku

aku takkan lupa apa yang ditinggalkan hujan
dan gerak rembang pepohonan.
Seperti sebuah munajat yang didaraskan
bersama ayat-ayat kauniyah

di antara kaf dan nun.
Aku nyalakan lampu-lampu kecil
di hatiku, bila aku terbangun
dari tidurku. Kutafsir matahari

sebagai obor agung
dan berharap mautku bahagia
sebagai perumpamaan sajadah sujudku
di hadapan waktu, di hadapan matamu.

(2014)

Stanza Subuh

Cintaku, matamu adalah wadah waktu
seperti ketika subuh dan lampu bacaku
saling termenung.
Yang paling indah tentangmu
adalah ketika aku

tak lagi sanggup mengatakannya.
Aku tahu cinta tak sekedar sajak,
tapi tak ada hal lain
yang bagiku paling jujur
dan sederhana.

Tak kumiliki selainnya
sebagai kiasan dan ungkapan
yang paling ikhlas.
Rambutmu seperti tumpukan sepi
malam yang rimbun.

Sungguh aku bosan
dengan iklan-iklan di televisi,
juga berita-berita politik
yang semakin membuatku
tak dapat memahami.

Mengingatmu, duh cintaku,
adalah kebahagiaan terampuh.
Persis ketika sunyiku
seperti dedak kopi
di ujung subuh.

(2014)

Sumber: Harian “Rakyat Sumbar” (Jawa Pos Group) Edisi Sabtu, 13 Desember 2014

Puisi Cinta Sulaiman Djaya dan Pantai Anyer, Serang, Banten

Art

Hujan dalam Puisi

Tari Sema

–untuk Rumi & Hafiz
oleh Sulaiman Djaya (2005)

Hujan Maret yang sedih, hujan yang hanya ada
dalam puisi. Hujan yang malu-malu
seperti dalam film-film romantis.

Adalah hujan yang menangis
seperti seorang lelaki putus-asa
memikirkan susunan angka untuk

sebuah sajak yang ditulisnya.
Adalah hujan yang kadang diam saja
di depan halaman rumahmu:

kadang pergi begitu saja dalam ragu.
Adalah hujan yang mengagumi

keindahan sepasang matamu
saat kau bingung, bimbang dan berpikir
sepertiku. Hujan yang tak peduli

meski malam telah begitu larut
dan sepi. Dan kau pun begitu:
menimbang-nimbang dan menghitung

apa yang kau ingini.
Dan aku pun begitu, seperti hujan
yang hanya ada dalam puisi.

Persian Woman Weaving