Sastra Bangsa-Bangsa

Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme

 

oleh Pramoedya Ananta Toer

Tulisan ini pertama kali ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai “Best Story; The Book That Killed Colonialism,” di New York Times, 18 April 1999. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk memperingatihari kelahiran Pram ke-92.  

Sekitar 50 tahun lalu, dalam sebuah resepsi diplomatik di London, satu orang tampak menonjol: dalam standar Eropa tubuhnya pendek, dan ceking, dan ia mengenakan topi seperti fez hitam (kopiah) di atas rambut putihnya. Dari bibirnya terus mengepul asap wangi yang meresapi ruang resepsi. Orang ini adalah Agus Salim, Duta Besar Republik Indonesia pertama di Inggris. Dikenal di Indonesia sebagai Orang Tua Besar, Salim merupakan salah satu generasi pertama dari Indonesia yang telah menerima pendidikan Barat. Dalam hal ini, ia adalah spesies langka, karena pada akhir hegemoni pendudukan Belanda atas Indonesia pada tahun 1943, tidak lebih dari 3,5 persen dari penduduk negara itu dapat membaca atau menulis.

Tidak mengherankan, penampilan dan sikap Salim — belum lagi aroma asing rokoknya — dengan cepat membuatnya menjadi pusat perhatian. Satu laki-laki akhirnya menanyakan apa yang sejak tadi sudah ingin dilontarkan setiap orang. “Apakah rokok yang Anda hisap itu, Tuan?”

“Ini, Yang Mulia,” Agus Salim dikatakan menjawabnya demikian, “adalah alasan Barat menaklukkan dunia!” Dia sedang merokok kretek, rokok Indonesia berbumbu cengkeh, yang selama berabad-abad adalah salah satu rempah-rempah yang paling dicari di dunia.

Apakah kisah saya tentang seorang Indonesia di istana Raja James merupakan kisah terbesar abad ini? Tentu saja tidak, meskipun saya mau tak mau tersenyum mendengar keusilan yang ditunjukkan oleh rekan bangsa saya. Saya memasukkan kisah pendek itu di sini karena kisah ini menyentuh apa yang saya akan katakan merupakan dua “proses dari” millenium ini yang paling penting: pencarian rempah-rempah oleh negara-negara Barat, yang membawa bangsa dan budaya asing bersentuhan dengan satu sama lain untuk pertama kalinya; dan perluasan kesempatan pendidikan, yang mengembalikan kepada rakyat terjajah di dunia hak yang dipaksa hilang di bawah penjajahan Barat — hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Proses kedua ini dapat dilihat dari satu karya yang sekarang hampir tak dikenal (di dunia): “Max Havelaar, atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda,” sebuah novel oleh Eduard Douwes Dekker, seorang Belanda, yang diterbitkan pada tahun 1859 di bawah nama samaran Multatuli (Bahasa Latin untuk “saya sangat menderita”). Buku ini menceritakan pengalaman Max Havelaar, seorang pejabat kolonial Belanda yang idealis di Jawa. Dalam cerita, Havelaar menemukan — dan kemudian memberontak terhadap — sistem tanam paksa yang dikenakan pada petani Indonesia oleh pemerintah Belanda.

D. H. Lawrence, dalam pengantar terjemahan bahasa Inggris dari novel tersebut di tahun 1927, menyebutnya sebagai karya yang “menjengkelkan.” “Di permukaan, ‘Max Havelaar’ adalah sebuah risalah atau pamflet yang berada di garis yang yang sama dengan ‘Uncle Tom’s Cabin’,” tulis Lawrence. “Daripada ‘kasihan orang miskin budak Negro,’ kita memiliki ‘kasihan orang miskin tertindas Jawa’; dengan seruan yang sama untuk mendesak perubahan undang-undang, agar Pemerintah melakukan sesuatu. Nah, pemerintah [Amerika] melakukan sesuatu tentang budak Negro, dan ‘Uncle Tom’s Cabin’ jatuh dari peredaran. Pemerintah Belanda juga dikatakan telah melakukan sesuatu di Jawa untuk orang miskin, karena kekuatan buku Multatuli ini. Sehingga ‘Max Havelaar’ menjadi kadaluarsa.”

Sebelum saya bercerita lebih jauh tentang “Max Havelaar” dan penulisnya, saya ingin kembali ke masa lalu, bahkan sebelum awal milenium ini, untuk memberitahu Anda tentang pencarian rempah-rempah. Kata kunci untuk diingat di sini adalah “agama.”

Selama ratusan tahun, rempah-rempah — cengkeh, pala dan merica — adalah penyebab utama dari konflik agama. Harga mereka adalah tak ternilai: sebagai pengawet makanan (penting di era sebelum pendinginan), obat, dan—di masa ketika ragam makanan begitu terbatas—untuk rasa.

Pada tahun 711, pasukan Moor menaklukkan Cordoba di Spanyol selatan. Menjelang 756, penguasa Muslim Abdar Rahman menyatakan bahwa ia telah mencapai tujuannya menyebarkan budaya dan perdagangan Islam di seluruh Spanyol. Negara ini menjadi pusat dunia untuk studi ilmu pengetahuan, serta penjaga ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi yang telah dilarang oleh Gereja Katolik Roma. Dengan menguasai kedua sisi pintu masuk tanah Mediterania, pasukan Moor juga mampu mempertahankan kontrol atas perdagangan dengan Timur, sumber rempah-rempah, dan barang penting lainnya. Kapal Kristen tidak diperbolehkan lewat.

Selama beberapa abad, perkembangan negara-negara Kristen Eropa hampir berhenti; semua sumber daya manusia dan ekonomi yang tersedia dikerahkan untuk Perang Salib. Perang Suci dilangsungkan bukan hanya untuk merebut kembali Yerusalem tetapi juga untuk mengusir bangsa Moor dari Spanyol dan, dengan demikian, mendapatkan kontrol atas perdagangan rempah-rempah.

Pada tahun 1236, pasukan Katolik Eropa akhirnya berhasil. Islam terdorong dari Eropa. Untungnya, para pemenang ini menahan diri dari merusak simbol-simbol warisan Moor. Meskipun demikian, api balas dendam terhadap Islam terus menyala — sebagaimana juga semangat untuk mengusir pasukan Muslim dari negara manapun yang mereka capai.

Tempat pertama yang jatuh adalah Ceuta di Maroko, di pantai utara Afrika, yang, bersama-sama dengan Gibraltar, selalu berperan sebagai pintu gerbang ke Mediterania. Dengan ini, Eropa telah mendapatkan pijakan penting dalam merebut kendali perdagangan rempah-rempah. Masalahnya adalah, mereka memiliki sedikit sekali bayangan darimana rempah-rempah sebenarnya berasal.

Spanyol dan Portugal, dua negara maritim besar di Eropa kala itu, berangkat untuk mencari jawabannya. Untuk mempertahankan ketertiban di antara negara-negara Katolik, garis pemisahan dibuat (dan kemudian dibuat resmi oleh Paus Alexander VI pada tahun 1493), memberikan Spanyol hak untuk menaklukkan semua tanah non-Kristen di sebelah barat dari Kepulauan Tanjung Verde, dan Portugal wewenang untuk mengambil negara pagan di sebelah timur kepulauan tersebut hingga sejauh meridian 125 (yang jatuh di dekat Filipina). Untuk alasan inilah Columbus, juru kemudi untuk armada Spanyol, berlayar ke barat dan menemukan sebuah benua, bukannya sumber rempah-rempah. Portugal, di sisi lain, mengirimkan kapal-kapal ke timur dari Afrika, dari mana mereka kemudian kembali sarat dengan emas, telur burung unta, dan budak — tapi tanpa rempah-rempah.

Pada awal 1498, Vasco da Gama mencapai pulau Madagaskar, lepas sepanjang pantai Afrika timur. Di sana ia menemukan panduan untuk menuntun dia melintasi Samudera Hindia ke pelabuhan Calicut di barat daya India. Tiba pada 20 Mei, da Gama “menemukan” India. Sayangnya, sang pelaut yang sudah lelah ini juga menemukan bahwa dari rempah-rempah yang dicari, hanya jenis kayu manis saja yang ada berlimpah. Untuk mencapai sumber sejati dari banyak rempah-rempah, ia harus berlayar ribuan mil ke tenggara dengan apa yang sekarang dikenal sebagai Indonesia dan kemudian ke Maluku (yang kebetulan, terletak dalam paruh dunia bagian Spanyol). Sepanjang abad berikutnya, Portugis menempa jalan mereka ke tenggara, mengokohkan rute perdagangan Muslim, dan melakukan konversi beberapa jiwa dalam perjalanannya. Pada saat kapal da Gama berhasil sampai ke Maluku di tengah abad ke-16, Afrika, benua India dan Malaya semua telah ditundukkan dalam nama perdagangan dan Kristus.

Penjelajah lainnya telah mengunjungi wilayah ini sebelumnya — termasuk Marco Polo — tapi Portugis adalah yang pertama kali mendirikan kehadiran asing secara permanen. Dengan bantuan senjata api, Portugal cepat menyebar kekuasaan di seluruh nusantara. Dalam waktu singkat, negara ini menguasai rute rempah-rempah dari awal sampai akhir.

Namun, ada satu masalah. Portugal jelas tidak memiliki jumlah penduduk yang cukup untuk mendukung kekuatan maritimnya dalam mengendalikan separuh dunia non-Katolik. Akibatnya, Portugal terpaksa menyewa pelaut-pelaut dari Jerman, Perancis dan terutama Belanda. Kelemahan ini akhirnya akan mendorong kejatuhan monopolinya dalam perdagangan rempah-rempah.

Salah satu pelaut Belanda dalam armada Portugis, Jan Huygen van Linschoten, membuat catatan menyeluruh selama enam tahun perjalanan di seluruh nusantara. Dia menaruh perhatian khusus pada kelemahan majikannya. Portugal, tentunya, telah berupaya keras menutupi kelemahannya, tetapi semua ini terkuak pada tahun 1596, ketika van Linschoten kembali ke tanah airnya dan menerbitkan sebuah buku, “A Journey, or Sailing to Portugal India or East India.” Buku tersebut — boleh dibilang semacam panduan perjalanan ke kawasan tersebut — dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Inggris, Jerman dan Latin.

Dua tahun setelah karya van Linschoten ini diterbitkan, Belanda, melalui konsorsium perusahaan-perusahaan Belanda, mengirimkan armada sendiri ke Indonesia. Usaha pertama armada Belanda ini gagal, tapi secara bertahap, gelombang demi gelombang kapal-kapal Belanda mencapai pulau-pulau, mengusir Portugis dan membawa kekayaan tak terhitung ke Belanda. Portugis yang kekurangan tidak hanya tenaga kerja tetapi juga posisi diplomatik untuk melindungi kepentingannya, bahkan tidak mampu untuk melakukan perlawanan.

Sebagian keberhasilan Belanda dapat dikaitkan dengan hubungan kerja yang baik dengan kekuasaan feodal Jawa yang kuat dan profesionalisme mereka. Setidaknya pada awalnya, mereka datang untuk berdagang, bukan untuk menaklukkan / dan atas dasar itu, dibuat apa yang kemudian menjadi emporium maritim terbesar di dunia di Batavia (sekarang Jakarta).

Seiring waktu, bagaimanapun, pelaut Belanda memerlukan kekuatan militer untuk melindungi monopoli mereka. Untuk menjaga harga pasar internasional agar tetap tinggi, mereka juga membatasi produksi rempah-rempah. Karena alasan ini, hampir seluruh penduduk Kepulauan Banda, sumber pala, dibasmi pada awal abad ke-17. Pulau ini kemudian diisi dengan pekerja perusahaan Eropa. Untuk pekerja lapangan, mereka membawa budak dan tawanan perang.

Juga dengan tujuan untuk mengendalikan produksi rempah-rempah, orang dari Maluku dipaksa wajib militer, ditempatkan di armada kapal Maluku tradisional, dan dikirim untuk menghancurkan kebun pala dan cengkeh saingan. Pulau Buru, di mana saya tinggal sebagai tahanan politik 1969-1979, berubah dari sebuah pulau perkebunan pertanian menjadi savana yang luas.

Mari kita melaju cepat ke abad pertengahan ke-19. Sebagai hasil dari perang Napoleon dan perang Jawa, Belanda dan Hindia Timur telah memasuki penurunan ekonomi. Gula, kopi, teh dan indigo menggantikan rempah-rempah sebagai tanaman produksi utama cash crops. Namun dengan peningkatan produksi dalam negeri dan daya beli yang terbatas di luar negeri, ini menjadi semakin tidak menguntungkan bagi konsorsium Belanda. Untuk meningkatkan keuntungan, Gubernur Jenderal J. van den Bosch, memutuskan bahwa pemerintah harus mampu menjamin hak milik tanah jangka panjang bagi investor dan bahwa pasokan panen dalam jumlah tetap harus diekspor setiap tahun.

Untuk itu, di Jawa van den Bosch memberlakukan sistem tanam paksa, yang dikenal sebagai cultuurstelsel, dimana petani harus menyerahkan sebagian dari produksi tanah mereka kepada pemerintah kolonial. Melalui sistem ini, pemerintah mampu membalikkan penurunan ekonomi Belanda hanya dalam waktu tiga tahun. Namun Jawa, bagaimanapun, berubah menjadi pabrik pemeras pertanian. Selain harus menyerahkan lahan yang ditunjuk untuk produksi kepada pemerintah, membayar pajak tinggi kepada Belanda dan “zakat” untuk majikan lokal, petani dilarang secara hukum untuk pindah dari kampung halaman mereka. Ketika kelaparan atau gagal panen terjadi, secara harfiah tidak ada jalan keluar. Akibatnya, puluhan ribu petani meninggal karena kelaparan. Sementara itu, pemerintah Belanda dan feodal tumbuh kaya makmur dari hari ke hari.

Pada tanggal 13 Oktober 1859, di Brussels, Eduard Douwes Dekker, seorang mantan pegawai dar pemerintah Hindia Belanda, menyelesaikan “Max Havelaar.” Kepeduliannya pada dampak dari kebijakan kolonial di masyarakat Indonesia telah mewarnai karir Dekker, yang awalnya belajar untuk menjadi seorang pendeta. Ketika ia ditugaskan di Sumatera Utara, ia membela seorang kepala desa yang telah disiksa, dan tanpa disadari menemukan dirinya di sisi berlawanan dengan atasannya di ruang sidang. Akibatnya, ia dipindahkan ke Sumatera Barat, di mana ia memprotes upaya pemerintah untuk memantik persaingan etnis. Tak lama, ia dipanggil kembali ke Batavia. Keterampilan menulisnya menyelamatkannya dari pemecatan sepemuhnya. Setelah beberapa gejolak perhentian lainnya, Dekker berakhir di Jawa Barat. Di sinilah, ketika Dekker berusia 29 tahun, kekecewaannya memuncak dan dia mengundurkan diri. Dilihat dari novel otobiografisnya, kita bisa berasumsi dia menulis ke Gubernur Jenderal seperti ini: “Yang Mulia telah mengesahkan: Sistem penyalahgunaan wewenang, perampokan dan pembunuhan, yang menindas Jawa di bawahnya, dan itu adalah apa yang saya hujat. Yang Mulia, ada darah pada uang perak yang telah Anda simpan dari gaji Anda selama ini!” Dia kembali ke Eropa — tidak ke Belanda, tapi ke Belgia, di mana ia menuangkan pengalamannya menjadi “Max Havelaar”.

Gaya Dekker jauh dari halus. Dalam menggambarkan cultuurstelsel ia menulis: “Pemerintah memaksa pekerja untuk menumbuhkan apa yang dikehendaki di tanah pekerja; menghukumnya ketika ia menjual hasilnya ke pihak lain; dan itu menyesuaikan harga yang dibayar padanya. Biaya transportasi ke Eropa, melalui sebuah perusahaan perdagangan istimewa, adalah tinggi. Uang yang diberikan kepada pimpinan-pimpinan untuk mendorong mereka membengkakkan harga pembelian lebih lanjut, dan. . . karena seluruh bisnis harus menghasilkan keuntungan, tidak ada cara lain mendapat keuntungan selain membayar orang Jawa hanya cukup untuk mencegah dia kelaparan. Kelaparan? Di tanah Jawa yang kaya dan subur? Ya, pembaca. Hanya beberapa tahun yang lalu, di berbagai daerah orang-orang meninggal karena kelaparan. Ibu-ibu menawarkan menjual anak-anak mereka untuk mendapatkan makanan. Ibu-ibu makan anak-anak mereka. ”

Publikasi “Max Havelaar” pada tahun 1859 mengguncang. Sama seperti “Uncle’s Tom Cabin” memberi amunisi untuk gerakan abolisionis Amerika, “Max Havelaar” menjadi senjata untuk gerakan liberal yang berkembang di Belanda, yang berjuang untuk mewujudkan reformasi di Indonesia. Dibantu oleh “Max Havelaar,” gerakan liberal mampu membuat malu dan mendesak Pemerintah Belanda menciptakan kebijakan baru yang dikenal sebagai kebijakan etis, dengan tujuan utama mempromosikan irigasi, migrasi antar pulau, dan pendidikan di Hindia Belanda.

Dampak dari reformasi adalah sederhana pada awalnya. Namun pada awal abad ke-20, sejumlah kecil orang Indonesia, terutama anak-anak dari penguasa tradisional, mulai merasakan pengaruhnya. Salah satunya adalah Agus Salim, laki-laki dengan rokok kretek, yang membaca “Max Havelaar” di sekolah terbukti terbangkitkan kesadarannya. Ia, bersama dengan orang-orang Indonesia lainnya yang menyenyam pendidikan Belanda, memupuk gerakan emansipasi dan kebebasan, yang akhirnya menyebabkan revolusi sepenuhnya di tahun 1940an.

Revolusi Indonesia tidak hanya melahirkan negara baru, tapi juga memicu panggilan untuk revolusi di Afrika, kemudian juga membangunkan lebih banyak bangsa terjajah di dunia, dan menandai akhir dari dominasi kolonial Eropa. Mungkin, bisa jadi, memang tak ada cara lain. Bagaimanapun, bukankah dunia dijajah Eropa karena Kepulauan Rempah Indonesia? Orang bisa mengatakan bahwa adalah takdir Indonesia untuk memulai proses dekolonisasi.

Untuk Multatuli — Eduard Douwes Dekker, yang memicu proses ini, dunia ini berhutang besar.

Iklan