Sosial Politik

Amerika dan Israel Sebagai Negara Teroris

Filsuf terkenal AS Noam Chomsky menggambarkan Amerika Serikat sebagai “negara teroris utama di dunia” karena operasi-operasi global negara itu yang dijalankan oleh CIA. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Truthout, sejarawan Amerika itu menunjuk ulasan rahasia dari CIA sendiri untuk mempersenjatai para pemberontak di seluruh dunia. Bahwa The New York Times pada tanggal 15 Oktober memilih judul dalam salah satu kisah, yang mengatakan “Bantuan Rahasia CIA Memicu Skeptisisme Tentang Bantuan Terhadap Para Pemberontak Suriah.” Namun Chomsky percaya bahwa koran itu seharusnya memilih judul: “Berita Resmi:. AS Adalah Negara Teroris Utama Dunia, Dan Bangga Akan Hal Itu.” Bahwa “kampiun dalam menyebarkan teror” membuatnya melakukan peran antagonis terhadap kelompok-kelompok oposisi di seluruh dunia. “Paragraf pertama dari artikel New York Times itu mengutip tiga contoh utama dari ‘bantuan rahasia’: Angola, Nikaragua dan Kuba. Bahkan, setiap kasusnya merupakan operasi teroris besar yang dilakukan oleh AS,“ ujar Chomsky.

Bahwa Amerika Serikat, yang pada tahun 1980-an, mendukung era Apartheid Afrika Selatan ketika menyerang Angola untuk melindungi dirinya “dari salah satu ‘kelompok teroris yang terkenal di dunia,” yang menurut Washington adalah: “Kongres Nasional Afrika pimpinan Nelson Mandela. ” “Washington bergabung dengan Afrika Selatan dalam memberikan dukungan penting bagi teroris tentara teroris Unita pimpinan Jonas Savimbi di Angola,” tulis Chomsky. “Konsekuensinya menghebohkan. Sebuah penyelidikan PBB tahun 1989 memperkirakan bahwa penghancuran Afrika Selatan menyebabkan tewasnya 1,5 juta orang di negara-negara tetangga, belum lagi apa yang terjadi di Afrika Selatan sendiri.“ Dalam contoh lain “kampanye dengan pembunuhan dan merusak ” Amerika Serikat yang diarahkan pada Kuba, termasuk invasi Teluk Babi yang gagal dan embargo keras yang masih berlanjut. “Jumlah korban pada perang teroris panjang diperkuat oleh embargo yang menghancurkan, yang bahkan terus terjadi hingga hari ini yang bertentangan dengan sikap dunia. Pada tanggal 28 Oktober, PBB, untuk yang ke-23 kalinya, mendukung ‘perlunya mengakhiri blokade ekonomi, komersial, dan keuangan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap Kuba,” demikian ditulis Chomsky.

Chomsky juga berbicara bahwa perang-perang dibawa Amerika kepada pihak-pihak oposisi di Amerika Tengah pada tahun 1980. Chomsky menyimpulkan bahwa Amerika Serikat terus melakukan operasi-operasi mematikan dengan serangan pesawat drone di beberapa negara Muslim seperti Pakistan dan Yaman. “Untuk ini kita dapat menambahkannya sebagai kampanye teroris terbesar di dunia: proyek pembunuhan global ‘para teroris’ oleh Obama. ‘Kebencian menghasilkan akibat’ dari mereka yang menjadi korban drone dan serangan pasukan khusus yang telah sangat jelas untuk diminta komentar lebih lanjut,” tulisnya . “Ini adalah catatan untuk direnungkan dengan beberapa kekaguman.”[1]

AMERIKA TIDAK TAKUT PADA ISLAM RADIKAL
Yang dikhawatirkan Amerika bukanlah Islam radikal, tetapi kecenderungan negara bonekanya untuk merdeka. Ia menambahkan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam surat kabar Inggris, The Guardian bahwa AS menekankan pentingnya karakter bagi setiap rezim yang didukungnya di dunia Arab. Kemudian yang paling penting baginya adalah mengendalikannya. Dikatakan bahwa warga negara di negara-negara itu terus dibodohkan hingga mereka melepaskan sendiri ikatan-ikatannya. Ia lebih suka meminjam kata-kata yang muncul di layar Channel Al-Jazeera yang mengatakan “Dunia Arab Membara” untuk mempermudah pesan artikel yang ditulisnya untuk mengkritik politik AS dalam memperlakukan rezim-rezim diktator, terutama di dunia Arab.

Ia mengatakan bahwa “Pemberontakan tiba-tiba di Tunisia telah menciptakan gempa yang mengakibatkan terusirnya diktator dukungan Barat, dan bahkan gemanya bergaung di dunia Arab, khususnya di Mesir, di mana para demonstran berhasil mengalahkan kebrutalan polisi presiden diktator. Ia menambahkan bahwa Washington dan sekutunya “menganut prinsip yang kuat berdasar pada penerimaan demokrasi selama hal itu sejalan dengan tujuan strategis dan ekonominya.”

Chomsky memberi contoh terkait perlakuan Amerika terhadap rezim-rezim diktator di dunia, seperti di Rumania, di mana Washington mendukung rezim Presiden Nicolae Ceausescu, yang digambarkan sebagai “diktator yang paling korup di Eropa Timur” sehingga untuk berdiri di sampingnya saja menjadi perkara yang mustahil. Namun tidak lama kemudian Washington memuji penggulingannya. Di mana hal ini dilakukan untuk menghindar dari dampak buruk akibat sikap-sikap Amerika sebelumnya. Ia melihat bahwa jenis perlakuan ini terus menjadi kebiasaan Amerika Serikat. Bukankah mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos; Haiti, Jean-Claude Duvalier; Korea Selatan, Chan Doo-hwan; Indonesia, Suharto; dan banyak lagi yang lainnya, di mana dari mereka ini dapat diambil pelajaran. Ini tidak lain adalah bukti atas semua itu.

Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat mungkin melakukan cara yang sama terhadap Presiden Mesir, Hosni Mubarak, dengan berbagai prosedur rutinitas yang diperlukan dalam upaya memastikan bahwa rezim penggantinya tidak banyak menyimpang dari jalan yang telah dirancangnya.[2]

USA DAN ISRAEL ADALAH DUA NEGARA “BAJINGAN” YANG BEROPERASI DI TIMUR TENGAH
“Sebenarnya ada dua negara bajingan yang beroperasi di wilayah tersebut, yang menggunakan agresi dan teror dan melanggar hukum internasional: Amerika Serikat dan Israel,” tulis Chomsky dalam sebuah artikel baru-baru ini. Chomsky mengecam satu dekade kebijakan agresif Amerika Serikat terhadap Iran atas program energi nuklirnya. “Sepuluh tahun yang lalu Iran menawarkan untuk menyelesaikan perbedaan dengan Amerika Serikat atas program nuklirnya bersama dengan semua isu lainnya. Pemerintahan Bush menolak tawaran itu sambil bersikap marah dan menegur diplomat Swiss yang menyampaikannya,” demikian dikemukakan Chomsky.

Dia juga menyebutkan proposal yang dibuat oleh Turki dan Brasil pada tahun 2010 di mana Iran akan mengirimkan uranium yang diperkaya ke luar negeri untuk disimpan. Sebagai imbalannya, Barat akan menyediakan bahan bakar untuk reaktor penelitian medis Iran. Chomsky menjelaskan bagaimana AS merusak proposal itu. “Presiden Obama marah dan mengecam Brasil dan Turki karena memecahkan barisan, dan dengan cepat menjatuhkan sanksi lebih keras. Karena kesal, Brasil mempublikasikan isi surat dari Obama di mana dia telah mengusulkan pengaturan ini, mungkin dengan asumsi bahwa Iran akan menolaknya. Insiden ini dengan cepat menghilang.”

Pemerintahan Obama melanggar NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir) dengan tetap menjaga ancaman opsi militer. “Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang secara langsung melanggar Nuklir Non – Proliferasi Nuklir (dan lebih parah lagi, melanggar Piagam PBB) dengan mempertahankan ancaman kekerasan terhadap Iran,” tulis Chomsky. “Amerika Serikat juga bisa bersikeras bahwa kliennya, yakni Israel, menahan diri dari pelanggaran berat atas hukum internasional – yang hanya merupakan salah satu dari banyak pelanggaran.”

Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman mengumumkan perjanjian interim atas program energi nuklir negara itu pada bulan lalu di Jenewa. Kesepakatan itu akan memberikan waktu enam bulan untuk pembicaraan substantif untuk mencapai kesepakatan jangka panjang. Hak Iran untuk memperkaya uranium telah menjadi titik pembahasan utama dalam negosiasi. Setelah kesepakatan itu diumumkan, para pejabat Iran menyatakan bahwa dokumen tersebut termasuk hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium. Di sisi lain, para pejabat AS mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak memberikan hak tersebut kepada Teheran. Ketika berbicara pada Forum Saban Brookings Institution, Presiden Barack Obama juga mengatakan bahwa kesepakatan interim tidak memberikan Iran “hak untuk memperkaya” uranium.[3]

Kala itu Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya. “Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik bukan cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky. Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.

IRAN DAN IRAK
“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,” begitulah sebagaimana diungkapkan Chomsky. Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky. Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat itu untuk melakukan invasi ke Iran. “Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran. Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah. “AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.” Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.” Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada rezime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.

SOMALIA, DARFUR DAN ISRAEL
Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup. Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky. Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky. Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.

Sumber:
[1] Noam Chomsky : AS Adalah ‘Negara Teroris Utama di Dunia’
[2] Chomsky: AS Tidak Takut Pada Islam Radikal, tapi pada Kemerdekaan Negara Bonekanya
[3] Chomsky : AS dan Israel Adalah Dua Negara “Bajingan” Yang Beroperasi di Timur Tengah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s