Seorang jurnalis perempuan muda yang datang ke Sekretariat Dewan Kesenian Banten, bertanya: “Apa yang akang pahami sebagai pengurus DKB tentang seni? Maka dijawablah bahwa, “Saat ini, seni disebut sebagai bentuk bermakna (significant form), dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk” guna memberi makna pada pengalaman sebagai refleksi, dan karena sifat reflektif itulah, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat. Maka tak usah heran ketika sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif, karena kandungan artistik dan estetis yang dipancarkannya. Pada saat yang sama, seni memungkinkan manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian.

Dengan berbagai bentuk dan eksplorasinya, seni lebih merupakan persoalan kebenaran eksistensial atau kenyataan (das Sein). Namun penting dimengerti, kebenaran di sini bukanlah kebenaran moral atau persoalan idealitas (das Sollen), dan bukan pula kebenaran ilmiah seperti rumus atau pola dalam sains atau matematika. Ia diolah dan disampaikan melalui bentuk, sehingga nilai karya seni terletak pada kesadaran baru yang dibuka dan dilahirkannya. Dalam hal ini, karya seni bermutu hanya menyiratkan berbagai kemungkinan, menyediakan dirinya bagi kemungkinan untuk senantiasa melahirkan wawasan dan pemahaman baru, bukan mendikte.

Si jurnalis perempuan muda itu kemudian berkata, “Itu pemahaman yang baru saya dengar, dan beruntung saya datang ke Sekretariat Dewan Kesenian Banten, karena apa yang akang terangkan itu belum pernah saya dengar ketika saya kuliah dari dosen saya”. Maka dikatakanlah kepada si jurnalis perempuan muda itu, “Dosen kamu bukan seorang pembaca, dan kalau pun ia sarjana, pastilah ia sarjana yang tidak terpelajar, hanya sekedar mengejar gelar untuk mendapat gaji besar dan tunjangan, dan itu adalah ‘krisis’ dalam institusi pendidikan formal ketika institusi pendidikan banyak meluluskan sarjana, tetapi kebanyakan mereka adalah sarjana yang tidak terpelajar.”

Jurnalis perempuan muda itu kemudian kembali bertanya, “Apa sih perbedaan seni dan sains menurut akang sebagai pengurus DKB?” Maka dijawablah bahwa, “Karya seni acapkali juga memahami yang universal melalui yang partikular, seperti cinta, kematian, persahabatan, kepedihan, dan lain-lain dan lain-lain. Di sini, seni menempatkan dirinya untuk mengimbangi perspektif dan paradigma sains. Jika sains, sebagai contoh, memahami dengan jarak kritis (melakukan distansiasi) karena disengajakan untuk meraih objektivitas atau memburu kejelasan, seni malah menyelam masuk ke relung terdalam realitas kehidupan, sebab seni ‘memahami’ melalui empati. Jika sains berpikir melalui abstraksi, seni justru berpikir melalui yang konkrit dan yang eksistensial.

Jika sains senantiasa menghendaki kepastian dan presisi atau ketepatan, seni (termasuk sastra, terutama puisi) justru menggali dan menguarkan kekayaan ambiguitas yang unik dan mendalam. Secara sederhana dapat dikatakan jika pola ungkap sains adalah literal-diskursif, garis dan laku diri seni adalah metaforik dan figural. Jika sains acapkali memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang mati, seni malah menghidupkannya, menghadapinya dengan laku konkrit, memberinya nyawa dan kehidupan, memaknainya. Jika sains gandrung mengubah realitas menjadi idealitas yang memudahkan, menekuknya dalam rumus, seni justru merayakan dan membiarkan realitas dalam kebenaran eksistensialnya dan mengubah kesadaran melalui stilasi.

Iklan