Puisi-puisi Sulaiman Djaya

Drama Catur

Sebelum kau minta seorang bidakmu
Menembak musuh, kau harus tahu
Hidup kita ini adalah permainan
Kanak-kanak takdir
Dan rentetan kebetulan

Yang mengagumkan.
Aku dengar dengan hatiku
Seorang ibu berteriak-teriak
Mengejar peluru yang meluncur
Dan seorang ksatriamu tampak bingung

Seperti Dunyazad, si dungu itu.
Tapi giliranku melangkah bukan sekarang
Sebab aku sendiri bimbang
Adakah kau Syahrazad
Ataukah Helena

Yang terjebak
Cinta sesaat. Di kotakmu
Yang hitam putih
Seorang ksatria melangkah
Dan telah lama kehilangan

Jalan pulang.
Ia bayangkan diri
Seperti seorang panglima
Yang tak setia.
Ia melangkah hati-hati

Dan pelan saja
Saat giliranmu tiba-tiba jadi resah.
Direnunginya jalanan lengang,
Hujan tengah merapihkan penderitaan
Dan seorang prajurit

Mengibar-ngibarkan bendera.
Aku teringat kenangan
Derak jendela dan lanskap-lanskap tua
Ketika seorang perwira
Menebaskan pedang:

Adakah aku Hamlet
Atau Majnun dari Persia
Yang berpura-pura
Mengenakan mahkota?
Sementara, sebentar lagi,

Senja yang lelah
Akan menutup layarnya.
Diam-diam kita memang senantiasa
Jatuh cinta pada yang tak dikenal.
Seperti seorang prajuritmu
Yang tersungkur dan hancur.

Tapi sebelum itu
Kubuatkan untukmu
secangkir teh dengan adukan rindu
Agar kau bisa menasehati
Menterimu yang dungu itu

Atau menghukum
Seorang penujummu yang mandul.
Dan esok
Kita akan kembali
Bermain catur di kotak-kotak hidup.

(2016)

Bayangkan Ketika Kau Mengaduk Kopi

Bayangkan ketika kau mengaduk kopi
Dengan tanganmu yang dingin
Kau sedang menenun nasibmu
Yang tergunting.

Bayangkan seorang lelaki

memikirkanmu dengan matanya
Yang lembab dan basah
Ketika gerimis di tebing magrib

Saling bermain rahasia
Dengan geletar bisu daun-daun
Dan barisan tiang-tiang lampu
Yang riang menyala
Di matamu.

Campurkan sedikit bubuk coklat
Sebelum udara malam
Mencuri aromanya.
Dan bila rasa bosan di dadamu

Kembali meminta beban pikiran,
Bacalah satu dua
Sajak cinta yang kau suka
Sebagaimana kubayangkan kau
Rahim bagi kata, ibu dari puisi.

(2017)

Iklan