Mi….masihkah kau ingat aku?
Sejak hujan yang patah
Tak lagi datang di jendela.
Gerimis yang jatuh di senar-senar gitar
Jadi puisi yang kau nyanyikan.

Jadi getar yang tertinggal
Dalam benak kesendirian.
Sungguh perjumpaan terlalu cepat, Mi,
Sementara perpisahan
Begitu lama dan membosankan.

Aku belum lupa bagaimana
Kau datang ke kotaku
Dan aku datang ke kotamu.
Rambutmu yang terurai
Masih jadi ingatan

Lalu menjelma sajak dan bahasa.
Sesekali aku pun masih membaca
Dan merenungkan
Kata-kata yang pernah kutulis
Dan aku heran dan bertanya-tanya

Kenapa mereka jadi kekal?
Mi…aku tak sempat mengerti
Kenapa sepi jadi teramat runcing
Sejak denganku kau tak mau bicara?
Tak dapat lagi kugubah matsnawi

Bila resahku kutanggung sendiri
Bertemankan petang kamar
Juga tanggal-tanggal di meja
Yang sama-sama menafakuri
Sunyi keheningan.

Aku juga belum lupa ketika lampu-lampu
Berbinar menyala di dingin Bandung
Seperti percakapan kita
Yang bebas dan lepas
Menerjemahkan cuaca.

Parasmu yang riang
Dan dua matamu yang menantang
Adalah semesta kegembiraan
Seorang penyair
Yang selalu ingin menenun kata.

Di Cibutak itu, ketika sorehari
Dan angin berlarian di bukit kecil
Kuhirup aroma daun-daun
Di punggung Citarum.
Arus jadi cermin

Senja yang ngungun.

Pandanganmu yang basah adalah rindu
Yang kini lama kutanggung.
Matahari begitu bahagia
Menggambar rambutmu berderai.

(2017).

Ilustrasi: Kragilan, Serang, Banten

oleh Sulaiman Djaya

Iklan