lukisan-karya-evgeny-mukovnin

Dalam kamar terpencil di puriku, di bawah naungan jendela sempit, kau sering duduk, kau, yang paling dekat di antara kehampaanku. Kebaikanmu, kehadiranmu yang tak dimengerti hidup lebih lama dibanding hari-hari saat kita bergandengan tangan bersama, bagaikan cahaya bintang yang terus menyinari kita berabad-abad setelah bintang itu redup.

Aku tak bisa menghitung lagi berapa kali aku berjalan di bawah langit Vita Nuova. Aku tak bisa menghitung berapa kali aku putus asa mencari jelmaan lain bayanganmu. Tiada keindahan, kecuali indahnya sajak-sajak termanis itu, yang bisa dibandingkan dengan keindahanmu. Aku sering berpikir bahwa kaulah yang berpapasan dengan Dante di sebuah jalan suatu kali dan kau turun lagi ke bumi dalam bayangan kerinduan masa mudaku. Bahwa aku melihatmu dengan mataku sendiri, bahwa aku menggenggam tanganmu dengan tanganku, bahwa langkah ringanmu menjejak bumi di sampingku – bukankah semua itu adalah anugerah dari Tuhan, tidakkah sebuah tangan menyapu wajahku dengan berkah, tatapan sepasang mata yang berubah rupa, gerbang terbuka untukku di tanah keindahan abadi?

Dalam mimpi-mimpi malamku sering kulihat wujudmu dan kusaksikan jemari ramping putihmu menari-nari di atas piano. Atau kulihat dirimu berdiri di senja samar, menatap langit pucat, dan mengubah warna dengan mata yang memancarkan keajaiban indah pengetahuan. Sepasang mata itu telah membangkitkan dan membimbing begitu banyak impian indah dalam diriku. Mereka barangkali adalah hadiah paling tak ternilai yang pernah hadir dalam hidupku, merekalah bintang-bintang keindahan dan kebenaran, penuh kebaikan hati. Tak pernah menyimpang pada segala yang tak layak. Mereka menentukan hukum, mereka memeriksa dan menghukum, mereka melimpahkan kebahagiaan berlimpah. Apalah arti keberhasilan, apalah arti kehormatan, apalah arti ketenaran dan pujian manusia tanpa kilatan senang dan ramah sepasang cahaya tulus itu?

Hari-hari terasa keras dan kejam, menyerang anak-anak dan tentara, dan seluruh kehidupan berubah menjadi kesusahan. Tidakkah setiap malam membawa saat untuk pulang ke rumah, sebuah pintu terbuka, sebuah tempat di mana sang keabadian jadi terdengar? Kau mengajariku pulang ke rumah dan membuka telinga bagi suara-suara keabadian. Saat gerbang terakhir siap terbuka di hadapanmu, kau berkata padaku, “Biarkan malam menjadi suci untukmu; jangan pernah membuang keheningannya dari rumahmu. Jangan pernah kau lupakan bintang-bintang karena merekalah lambang keabadian.”

Dan di saat lain kau berkata, “Ingatlah, setelah aku direnggut dari sisimu, berdamailah dengan perempuan, karena merekalah yang paling akrab dengan segala misteri.”

Sejak itu aku tak pernah melakukan percakapan tanpa makna dengan bintang-bintang dan perempuan.

Di saat akhir persahabatan kita, hal lain yang tak terlihat dan tak terduga, ada di antara kita, sebuah semangat. Aku percaya itu mengandung tanda-tanda gaib yang memberkahiku dan mengatakan kalimat ini: Apparuit iam beatitudo vestra. Dia telah bersamaku sejak dulu dan sering menjadi penghibur bagiku, sebuah teka-teki, jalan menuju kebahagiaan. Seringkali saat tanganku siap untuk sebuah tingkah terburu-buru, benda itu menghalaunya, seringkali saat aku melewatkan sebuah objek keindahan, dia membuatku terdiam dan berbalik untuk menatapnya; sering kali saat aku nyaris memetik buah dari tangkainya, dia menyarankan padaku, “Tunggu!”

Bahkan sejak itu, semuanya terasa selaras dan indah, semuanya yang memiliki suara merdu dan makna menenangkan, semua yang jarang, mulia, dan terkemuka dalam keindahannya memiliki sisi yang terlihat olehku, dan menyentuh inderaku. Sungai-sungai berbicara lebih jelas padaku di malam hari, bintang-bintang tak bisa muncul atau lenyap tanpa sepengetahuanku.

Selimut gaib ini datang padaku di hari saat hatiku kehilangan ritmenya dan mataku terasa nyaris buta. Dia mengelus lembut wajahku; lalu dia mendekat dan membisikkan sesuatu di telingaku, atau menekan tanganku saat dia pergi. Kau terbaring dalam selubung mawar, hangat, namun tanpa senyum. Kau masih terbaring, tanganmu tak lagi bergerak, kau beku dan pucat.

Bagiku saat itu adalah malam gelap tak berujung. Aku berdiri dalam kegelapan, tak tahu ada di mana, tak sadar mana jauh mana dekat, seolah-olah diselubungi oleh cahaya redup. Aku berdiri tak bergerak, jurang-jurang ternganga di sekelilingku; tak kurasakan apa pun kecuali tanganku yang terlipat, kaku dan dingin, dan tak kupercayai hari esok. Lalu selimut itu melayang di sampingku, memelukku dengan lengan kokoh dan menyandarkan kepalaku. Dan di puncak langit gaib, di antara kegelapan pekat, aku melihat seberkas cahaya, bintang lembut yang teguh, keindahan yang tak terbatas. Saat aku melihat bintang itu, aku tak bisa berhenti berpikir tentang sebuah senja saat aku berjalan di antara pepohonan kayu bersamamu. Lenganku melingkari pinggangmu. Tiba-tiba aku menarikmu dekat padaku dan menyerang wajahmu dengan cium-ciuman cepat dan dahaga. Kau ketakutan, lalu mendorongku. Kau tampak berubah. Kau berkata, “Tidak, Sayangku. Aku tak akan menyerah pada pelukanmu. Hari tak menjauh saat tangan dan bibirmu tak lagi menggapaiku. Tapi akan datang sebuah saat di mana aku lebih dekat padamu daripada hari ini atau hari-hari sebelumnya.” Dan kini kedekatan itu datang padaku dengan keindahan tak berbatas dan pengertian sempurna, sebuah ciuman tanpa akhir. Sentuhan apakah yang sebanding dengan penyatuan tak bernama ini?

Lama setelah kematianmu, aku terkadang dipenuhi oleh kegembiraan saat berjalan menuju tempat-tempat di mana kita pernah bersama. Suatu kali saat aku memanjat pepohonan kayu gelap di Hutan Kelam, kulihat wujudmu yang bercahaya mendekat padaku. Kau menuruni gunung, mengibaskan lenganmu dengan cara seperti biasanya; kau menemuiku lalu lenyap, dan kehadiranmu memenuhi diriku dengan keindahan yang dalam.

Tapi lebih sering kau muncul di langit mimpi-mimpiku, seolah-olah berada di hari gelapku, penuh dengan keindahan spiritual, bintang lembut karunia.

Suatu senja, saat musik dan bincang nyaring mendorongku ke lorong taman yang paling jauh, kutemukan dirimu berjalan mondar-mandir, dan mengulurkan tangan padaku. Lalu kau berkata, “Apabila aku tak lagi di sini dan saat dirimu lebih tenang, barangkali senja yang lewat ini dan saat-saat lainnya yang telah berlalu akan lebih hadir dan nyata barangkali jauh dari sini, kau akan terjaga di kamarmu pada tengah malam. Di luar jendela dunia tiba-tiba runtuh dan kau akan melihat lorong ini, di mana kita berdua berjalan-jalan di situ.”

Hari ini senja itu terhampar di hadapanku. Sekali lagi suara lembut kita bertaut dengan musik di kejauhan. Aku tak tahu, senja itukah atau justru senja ini yang lebih nyata dan tercerahkan oleh rembulan yang menyinari bumi.

*Hermann Hesse adalah seorang penyair, novelis, dan pelukis Jerman-Swiss. Pada tahun 1946, ia menerima Penghargaan Nobel dalam Sastra. Karya-karya terkenalnya: Steppenwolf, Siddhartha, dan The Glass Bead Game. Cerpen ini diterjemahkan oleh Anton Kurnia. Ilustrasi: Lukisan karya Evgeny Mukovnin.

Iklan