palestina

Ketika kita meninggalkan Yava menuju Akka, aku tak merasakan kesedihan, ini seperti berpergian dari sebuah kota ke kota lainnya untuk berlibur. Selama beberapa hari, tak terjadi hal-hal yang menyedihkan, aku merasa gembira karena kepindahan ini memberiku istirahat yang indah dari sekolah. Kemudian segalanya berubah ketika Akka diserang (oleh tentara Israel). Malam itu terasa berat bagiku dan untukmu. Para perempuan berdoa, lelaki-lelaki terdiam. Kau dan aku dan semua anak seusia kita tidak memahami apa yang tengah terjadi. Namun, sejak malam itulah kita mulai menyulam kisah kita. Ketika tentara Israel pergi, setelah mengancam dan mengucapkan sumpah serapah, sebuah van besar berhenti di depan rumah kita, kemudian perkakas-perkakas kecil (terutama kasur dan selimut) mulai dilemparkan ke dalamnya. Aku tengah berdiri bersandar pada dinding rumah tua itu ketika aku melihat ibumu naik ke atas van, kemudian bibimu, kemudian anak-anak kecil lainnya. Ayahmu menggendongmu dan menempatkanmu di atas tempat duduk dan dengan cara yang sama ia mengangkatku di atas pundaknya dan menempatkanku di kotak besi di atas van. Di sini ada saudaramu Riad yang duduk dalam diam. Kemudian mobil berjalan sebelum aku sempat duduk dengan nyaman dan Akka pun perlahan-lahan menjauh di belakang jalan berkelok naik yang membawa ke sebuah tempat bernama “Rass Ennakoura” ini.

Cuaca terasa dingin. Hawa dingin menyentuh tubuhku. Riad duduk dengan tenang dan menaikkan kakinya ke atas kotak, menyandarkan punggungnya dan menatap langit. Aku duduk dalam diam, memegangi lutut dengan jemariku dan menaruh dagu di antara kedua kaki. Jalanan dipenuhi belukar pohon-pohon jeruk. Perasaan takut dan gelisah menghinggapi tiap orang. Mobil berjalan dengan susah payah di jalanan yang basah, sementara di kejauhan kita mendengar suara tembakan yang seolah mengucapkan selamat tinggal pada kita semua. Ketika Rass Ennakoura telah tampak, mobil berhenti, para perempuan turun dari sela-sela barang-barang dan pergi menghampiri seorang petani yang tengah berjongkok di depan sebuah keranjang jeruk. Mereka membawa jeruk-jeruk mereka, kami mendengar mereka meratap. Saat itulah aku merasa bahwa jeruk adalah sesuatu yang berharga, dan jeruk besar ini adalah kesayangan kami. Para perempuan membeli jeruk-jeruk itu dan kembali ke mobil dan kemudian ayahmu beranjak dari tempatnya di sisi sopir, mengulurkan tangan, mengambil sebuah jeruk, menatapnya dalam diam, kemudian tiba-tiba menangis seperti anak kecil yang menderita.

Di Rass-Ennakoura, mobil kita berhenti di sela-sela mobil-mobil lainnya. Para lelaki menyerahkan pistol mereka pada para polisi yang memang berada di sini untuk melakukan hal itu. Ketika giliran kita tiba, meja itu telah dipenuhi pistol dan senapan otomatis. Aku melihat gurat panjang bayangan sebuah mobil besar masuk ke Libanon dan meninggalkan negeri jeruk ini jauh di belakangnya. Aku menangis dengan keras, ibumu masih tetap tercenung menatapi jeruk-jeruk. Dalam mata ayahmu tergambar jelas pohon-pohon jeruk yang ditinggalkannya untuk orang-orang Israel, semua pohon jeruk yang telah ditanam dengan penuh kesabaran berkejapan dalam mata ayahmu. Dia tak bisa menghentikan air mata yang membanjiri matanya ketika berhadapan dengan kepala polisi. Ketika kita sampai di Saida, pada sore harinya, kita pun telah menjadi pengungsi.

Jalanan menyerap kita di antara hal-hal lain. Tiba-tiba ayahmu menjadi lebih tua dari sebelumnya, ia terlihat seperti orang yang tak pernah memejamkan mata dalam waktu lama. Dia berdiri di antara berbagai macam barang yang diletakkan di sisi jalan. Aku tahu jika saat itu aku menanyakan sesuatu padanya, pasti dia akan meledak dan berkata, “terkutuklah ayahmu….terkutuklah kau….”. Sumpah serapah ini tergambar jelas di wajahnya. Bahkan aku, yang tumbuh dalam sebuah sekolah Katolik konservatif, pada saat itu merasa ragu jika Tuhan benar-benar ingin membuat hambanya bergembira. Aku ragu jika Tuhanku bisa mendengar dan melihat segala sesuatu. Semua gambaran yang menunjukkan Tuhan mencintai anak kecil dan tersenyum pada mereka terlihat seperti sebuah dusta di antara dusta-dusta lainnya yang dibuat oleh orang-orang yang mendirikan sekolah konservatif hanya demi mendapat penghasilan tambahan. Aku yakin jika Tuhan, yang kami kenal di Palestina, adalah seorang pengungsi yang mengasingkan diri di suatu tempat di dunia ini dan tidak bisa memecahkan persoalannya sendiri, sedangkan kita, para pengungsi, yang tengah duduk di pinggiran jalan, menunggu nasib yang akan memberi kita jalan keluar. Kita harus menemukan jalan keluar untuk kita sendiri, kita harus mencari sebuah atap yang bisa menaungi kepala-kepala kita. Penderitaan mulai menghantam kepala anak muda yang naif.

Malam terasa mengerikan, gelap perlahan-lahan jatuh, sedikit demi sedikit, aku merasa takut. Pikiran bahwa aku akan menghabiskan malam di trotoar ini memenuhi jiwaku bagai mimpi buruk yang mengerikan. Tidak ada seorang pun yang berusaha menenangkanku. Aku tidak menemukan seorang pun tempat aku bisa bersandar. Kesunyian ayahmu yang kaku bahkan membuatku semakin takut, sementara jeruk yang ada di tangan ibumu membakar api dalam dadaku. Setiap orang terdiam, setiap orang menatap ke jalanan yang gelap dan berharap akan muncul jalan keluar dari setiap sudut jalan dan menempatkan kami di bawah sebuah atap. Dan datanglah takdir itu. Itu adalah pamanmu yang datang ke kota beberapa hari yang lalu. Dialah takdir kita.

Pamanmu bukanlah seorang yang bermoral dan ketika ia menemukan dirinya terlantar di jalanan, dia menjadi lebih buas. Dia pergi ke sebuah rumah di mana sebuah keluarga Yahudi tinggal, membuka pintunya, melempar keluar semua barang yang ada di sana dan berteriak di hadapan mereka: “pergi ke Palestina.” Mereka tidak benar-benar pergi ke Palestina, namun karena terintimidasi oleh rasa frustasi dan kemarahan pamanmu, mereka beringsut ke ruangan lain dan membiarkannya menikmati atap dan lantai. Pamanmu membawa kita ke ruangan itu; di mana kita dijejalkan di antara keluarga dan barang-barangnya. Kita tidur di lantai dan diselimuti dengan jas hujan laki-laki. Di pagi hari, ketika kita bangun, laki-laki itu masih duduk di kursi. Dan tragedi itu pun mulai menekan tubuh-tubuh kita. Semua tubuh kita!

Kita tidak tinggal lama di Saida, ruangan pamanmu tidak cukup besar untuk menampung bahkan setengah dari rombongan kita. Kita tinggal di sana selama tiga hari. Ibumu meminta ayahmu mencari pekerjaan atau kembali ke ladang jeruk. Ayahmu meledak di hadapannya. Suaranya bergetar karena marah. Kemudian persoalan keluarga kita pun dimulai. Keluarga yang bahagia, saling terikat kuat, berada di sini dengan belukar pohon jeruk dan sebuah rumah tua, serta para martir. Aku tidak tahu dari mana ayahmu memperoleh uang. Aku tahu ia menjual perhiasan ibumu, yang dulu pernah diberikan untuk membuat ibumu gembira dan bangga padanya. Namun, perhiasan semata tidaklah cukup untuk memecahkan masalah kita, seharusnya ada sumber-sumber lain. Apakah ayahmu meminjam uang? Apakah ia menjual barang-barang yang ia bawa tanpa memberi tahu kita! Aku tak bisa mengatakan, namun aku masih ingat bahwa kita pindah ke pinggiran kota Saida, dan di sini, ayahmu duduk di sebuah bukit yang tinggi dan untuk pertama kalinya tersenyum. Ia sudah menunggu datangnya tanggal 15 Mei untuk kembali bersama dengan para tentara yang menang.

Akhirnya, tanggal 15 Mei pun tiba setelah masa-masa yang pahit dan keras. Tepat pada pukul 12 malam ia menendangku saat aku masih terlelap dan berseru dengan suara penuh harapan; Bangun! Pergilah! lihat para prajurit Arab memasuki Palestina. Aku bangun dengan penuh semangat dan kita berlari bertelanjang kaki di sepanjang bukit itu, tengah malam, hingga kemudian kita sampai di jalanan yang jauhnya sekitar satu kilometer dari desa. Kita semua masih muda sementara orang-orang yang lebih tua berlari terengah-engah seperti orang idiot. Kita melihat secercah cahaya lampu mobil di kejauhan melintasi Rass Ennakoura. Ketika kita tiba di jalan utama, kita merasa kedinginan, namun teriakan-teriakan gila ayahmu membuat kita melupakan segala sesuatu. Dia kemudian berlari di belakang mobil itu seperti seorang anak kecil. Dia melambai ke arah mereka. Dia berteriak dengan suara yang parau. Dia mulai kehabisan nafas, namun tetap berlari di belakang mobil itu persis seperti seorang anak kecil. Kita berlari di sampingnya, berteriak-teriak sepertinya, sementara tentara-tentara yang tampak mengagumkan melihat ke arah kita dari bawah topi baja mereka dengan diam dan kaku. Kita semua kehilangan nafas, namun ayahmu tetap berlari dan mengabaikan usia lima puluh tahunnya. Ia melemparkan sebatang rokok ke arah para tentara. Dia tetap berlari dan kita terus mengikutinya seperti kawanan anak domba.

Prosesi pengejaran mobil itu berlangsung singkat dan kita kembali ke rumah dengan lelah dan kehabisan nafas. Ayahmu menjadi lebih sunyi dan pendiam. Ketika sebuah mobil yang melintas menyorotkan lampu ke wajahnya, air mata telah menetesi lehernya.

Setelah peristiwa itu, kehidupan berjalan dengan lambat. Kita telah ditipu oleh sebuah pernyataan. Kita dibuat kalang kabut oleh kenyataan yang pahit ini. Kesedihan dan kepedihan mulai menggelayuti wajah semua orang, ayahmu tidak bisa lagi bercerita tentang Palestina atau hari-hari bahagia di belukar pohon-pohon jeruknya, atau rumahnya. Kita menjadi tembok dari tragedinya dan kita adalah anak-anak yang hebat yang dengan mudah menemukan makna di balik teriakannya di pagi hari “pergilah ke bukit dan jangan kembali sebelum siang…” Kita tahu ia ingin agar kita tak meminta sarapan.

Segala sesuatu menjadi terasa menekan. Masalah-masalah sederhana pun bisa menyulut kemarahan ayahmu. Aku teringat ketika suatu hari salah seorang dari kita meminta sesuatu padanya, ia terloncat seperti tersengat aliran listrik, kemudian melemparkan pandangannya pada kita. Sebuah gagasan busuk melintasi pikirannya. Dia berdiri seperti telah menemukan solusi atas dilema yang dialaminya. Dia merasa bahwa dia cukup kuat untuk mengakhiri tragedi ini, tidak lagi merasa panik seperti seseorang yang akan melakukan sebuah aksi penuh bahaya, dia mulai mengatakan hal-hal yang tidak jelas. Kemudian ia menghampiri kotak yang kita bawa dari Akka. Dia pun menghamburkan seluruh isi kotak itu dengan histeris dan menakutkan.

Pada saat itu, ibumu, dituntun oleh intuisi seorang ibu, mendorong kita menjauh dari rumah dan meminta kita agar berlari ke arah perbukitan. Namun, kita malah berhenti di jendela dan menempelkan telinga-telinga kecil kita ke dindingnya. Dengan perasaan ngeri, kita mendengar ayahmu berkata: Aku akan membunuh mereka dan membunuh diriku sendiri…aku ingin mengakhirinya…aku ingin…aku ingin….

Kita mengintip melalui celah pintu, kita melihat ayahmu berbaring di lantai dan bernapas dengan berat sambil menggeretakkan giginya. Ibumu melihatinya dari jarak yang agak jauh. Wajahnya dipenuhi ketakutan. Awalnya, aku tidak mengerti apa yang akan terjadi. Aku ingat, saat itu ketika aku melihat sebuah pistol hitam yang ada di sisi ayahmu, aku segera berlari sekencangnya seperti tengah menghindari sesosok hantu yang tiba-tiba muncul. Aku berlari ke arah perbukitan menjauhi rumah. Semakin jauh aku dari rumah, kian jauh aku meninggalkan masa kecilku. Aku mulai menyadari bahwa ternyata hidup kita tidak lagi sama; segala sesuatu tidak sesederhana seharusnya dan hidup itu sendiri bukanlah sesuatu yang dengan penuh gairah kau nanti-natikan.

Situasinya telah sampai pada sebuah kondisi di mana seorang ayah hanya bisa menawarkan tembakan ke kepala anak-anaknya. Mulai hari ini dan seterusnya, kita harus berhati-hati mengatur langkah kita, merawat diri kita sendiri, diam dan mendengarkan ketika ayah menumpahkan kekesalan-kekesalannya. Selapar apapun, kita tidak boleh meminta makanan, kita harus patuh dan menganggukkan kepala sembari tersenyum ketika ayah berteriak: “pergi ke perbukitan dan jangan kembali hingga siang hari.” Pada sore hari ketika gelap menjalar di sekeliling rumah, ayahmu masih tetap di sana, menggigil karena demam. Ibumu berada di dekatnya. Mata kita berkilauan seperti mata seekor kucing yang berada dalam kegelapan. Bibir kita terkunci seperti tak pernah dibuka, seolah masih terkena penyakit yang telah lama kita idap.

Kita berjejal di sini, terenggut dari masa kecil kita, jauh dari negeri jeruk. Jeruk yang mati, tepat seperti yang dikatakan seorang petani tua pada kita, jeruk akan mati ketika tangan-tangan asing menyirami pohon-pohonnya. Ayahmu masih tetap sakit, terbaring di atas tempat tidurnya, sementara ibumu selalu digenangi air mata yang sejak hari itu tidak pernah meninggalkan kedua bola matanya. Aku masuk ke ruangan itu dengan diam-diam, mengendap seperi seorang gelandangan. Aku melihat wajah ayahmu bergetar karena marah. Pada saat yang sama aku melihat pistol hitam itu berada di sebuah meja rendah, dan di dekatnya teronggok buah jeruk. Jeruk yang kisut dan kering.

Ghassan Kanafani dilahirkan di Akka, Palestina tahun1936 dan meninggal pada tanggal 8 Juni 1972 karena bom Israel yang dipasang di mobilnya. Istrinya yang berkebanggaan Denmark, Annie, bercerita tentang peristiwa kematian suaminya tersebut, “Setiap Sabtu, biasanya kami pergi berbelanja bersama. Namun, pada hari itu Ghassan ditemani oleh keponakannya, Lamees. Beberapa menit setelah ia pergi, aku mendengar suara dentuman keras. Aku segera berlari, namun aku hanya bisa menemukan serpih-serpih mobil kami yang hancur. Lamees tergeletak beberapa meter dari ledakan itu, namun aku tidak menemukan Ghassan. Aku berharap bisa menemukan tubuhnya yang terluka, tapi ternyata aku hanya menemukan kaki kirinya. Ia hancur. Sementara anak kami, Fayez, membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Laila kecil menangis: Papa…Papa…kukumpulkan sisa-sisa dirinya, orang-orang Beirut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Syuhada di mana ia dimakamkan di samping Lamees yang mencitai dan meninggal bersamanya. Kanafani merupakan figur kesusastraan terkemuka, baik dalam kesusastraan Arab maupun dunia. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Selama masa hidupnya yang singkat, dia memperkaya khazanah kepustakaan Arab dengan karya-karya cukup berharga yang beragam, mulai dari novel, cerita pendek, penelitian sastra, dan esai-esai politik. “Negeri Jeruk yang Sedih” merupakan salah satu karya awalnya yang memotret pengaruh deportasi terhadap rakyat Palestina ketika tentara Israel memasuki negeri mereka pada tahun 1948. Dalam cerita ini Kanafani mencampurkan realitas artistik dengan realitas historis. Meski cerita ini berkisah tentang penderitaan yang dialami oleh sebuah keluarga kelas menengah, namun cerita ini merupakan contoh dari ribuan keluarga Palestina yang harus menderita dan terhina karena terbuang dari negeri mereka serta hidup miskin, setelah malapetaka tahun 1948 yang menimpa rakyat Palestina karena kekalahan tentara Arab dan pendirian negara Israel.

Iklan