karl-may

Perkara beruang telah diselesaikan, jadi Bancroft berpaling kepada sang Kepala Suku Apache dan mempersilakan orang Indian itu mengatakan permintaannya, “Aku tidak meminta. Aku memerintah,” jawab Intschu-tschuna.

“Kami tidak mau diperintah di sini,” Sang Insinyur Kepala menjawab.

Amarah sekilas melintasi wajah kepala suku, tetapi dia menahan diri dan berkata dengan tenang, “Harap saudara kulit putihku menjawab beberapa pertanyaan dan harap saudaraku berbicara dengan jujur. Apakah saudaraku punya rumah tempat dia tinggal?”

“Ya.”

“Ada halaman di sekeliling rumah itu?”

“Ya.”

“Kalau ada tetangga ingin membuat jalan melalui halaman, apakah saudaraku akan menerimanya?”

“Tidak.”

“Tanah di Pegunungan Rocky sebelah sana dan di sebelah timur Mississippi milik muka pucat. Apa kata mereka kalau orang Indian datang dan ingin membangun jalan besi di sana?”

“Orang Indian akan diusir.”

“Saudaraku berbicara jujur. Tapi, sekarang muka pucat mendatangi tanah ini, tanah milik kami. Mereka menangkap mustang, mereka menangkap bison, mereka mencari emas dan batu berharga. Sekarang mereka ingin membangun jalan yang sangat panjang untuk kuda api. Jalan itu akan membawa jauh lebih banyak muka pucat ke sini, lalu mereka akan menyerang kami dan mengambil milik kami yang tinggal sedikit. Jadi, apa yang harus kami katakan tentang itu?” Bancroft terdiam.

“Apakah hak kami lebih sedikit daripada kalian? Kalian mengaku kalian adalah orang Kristen dan selalu berbicara tentang kasih. Tapi, kemudian kalian berkata kalian boleh mencuri dari kami, sedangkan kami harus jujur kepadamu. Apakah itu kasih? Kalian berkata Tuhan adalah Bapak bagi semua orang kulit merah dan semua orang kulit putih. Apakah Dia bapak tiri kami, tapi bapak kandung kalian? Bukankah seluruh tanah yang di sana milik orang kulit merah? Kalian mengambilnya dari kami. Dan apa yang kami dapatkan? Kesengsaraan, kesengsaraan, dan kesengsaraan lagi! Kalian mengusir kami semakin jauh dan jauh dan membuat kami semakin merapat sehingga kami akan segera kehabisan napas.”

“Mengapa kalian melakukan ini? Karena kalian tidak punya cukup tanah untuk diri sendiri? Tidak, karena kalian rakus, buktinya masih ada ruang untuk jutaan orang di tanah kalian. Setiap orang di antara kalian ingin memiliki satu negeri. Tapi orang kulit merah, pemilik yang asli, tidak punya tempat untuk berbaring. Klekih-petra, yang duduk di sampingku ini, telah memberitahuku tentang kitab suci kalian. Di sana, kita bisa membaca bahwa manusia pertama memiliki dua putra, dan seorang di antara mereka memecahkan kepala yang lain, sehingga darahnya berteriak kepada surga. Bagaimanakah sekarang di antara saudara kulit merah dan kulit putih? Bukankah kau Kain, sementara kami Habel yang darahnya berteriak kepada surga? Dan sekarang kalian mau kami dibunuh tanpa melawan?”

“Tidak, kami akan melawan! Kami telah diusir dari satu tempat ke tempat lain, selalu semakin jauh. Sekarang kami tinggal di sini. Kami kira kami bisa hidup dengan damai dan bernapas dengan tenang, tapi kalian datang lagi untuk membangun jalan besi. Bukankah kami punya hak yang sama dengan hakmu di rumahmu, di halamanmu? Kalau kami menerapkan hukum kami, kami akan membunuh kalian semua. Tapi, kami hanya meminta hukum kalian diterapkan dengan setara kepada kami. Tapi, apakah itu dilakukan? Tidak! Hukum kalian bermuka dua, dan kalian memilihkan muka yang kalian hadapkan kepada kami demi keuntungan kalian. Kalian ingin membangun jalan di sini. Apakah kalian sudah meminta izin dari kami?”

“Tidak, aku tidak perlu.”

“Mengapa tidak? Apakah ini tanahmu?”

“Aku kira iya.”

“Tidak. Ini milik kami. Apakah kalian membelinya dari kami?”

“Tidak.”

“Apakah kami memberikannya kepadamu?”

“Tidak, kepadaku tidak.”

“Juga tidak kepada siapa pun. Kalau kau orang yang jujur dan dikirim ke sini untuk membangun jalan kuda api, pertama-tama kau bertanya kepada orang yang mengirimmu apakah dia berhak melakukan itu. Kalau dia berkata iya, kau meminta bukti. Tapi, kau tidak melakukan itu. Aku melarang kalian melakukan pengukuran lagi di sini!”

Bagian terakhir diucapkan dengan tekanan yang mengandung kegetiran. Aku terpukau mendengar orang Indian ini. Aku sudah membaca banyak buku tentang orang kulit merah, juga sudah membaca banyak pidato yang dibuat oleh Indian, tapi tidak pernah ada yang seperti ini. Intschu-tschuna berbicara dengan bahasa Inggris yang jelas dan dapat dipahami. Logika dan cara dia mengungkapkan maksudnya seperti orang berpendidikan. Apakah ini berkat usaha Klekih-petra, sang “kepala sekolah”?

Sang Insinyur Kepala berada dalam situasi yang memalukan. Kalau dia jujur, dia tidak bisa membantah tuduhan-tuduhan yang dibuat Intschu-tschuna. Tentu saja, dia mengungkapkan beberapa hal untuk membela diri, tetapi sekadar penyimpangan, pengalihperhatian, dan kesesatan logika. Ketika sang Kepala Suku menanggapi semua itu dan memojokkannya,

Bancroft berpaling kepadaku, “Tapi Sir, kau sudah mendengar kita sedang membicarakan apa! Bisa kau bantu jelaskan situasi kita?” “Terima kasih, Mr. Bancroft, tapi aku disewa sebagai pengukur, bukan pengacara. Kau bisa menjelaskan situasi kita sesukamu. Tugasku mengukur, bukan berbicara.”

Lalu, Kepala Suku berbicara dengan tegas, “Tidak perlu bicara lagi. Aku sudah berkata aku tidak akan menerima perbuatan kalian. Aku ingin kalian pergi dari sini hari ini, dan kembali ke tempat asal kalian. Kalian boleh memilih patuh atau tidak. Sekarang aku pergi bersama Winnetou, putraku, dan aku akan kembali setelah waktu yang disebut satu jam oleh muka pucat. Lalu, kalian memberiku jawaban. Kalau kalian pergi, kita bersaudara. Kalau kalian tidak pergi, kita menggali kapak perang di antara kami dan kalian. Aku Intschu-tschuna, Kepala Suku Apache. Aku telah berbicara. Howgff”

“Howgff” adalah kata Indian untuk penegasan dan kira-kira berarti “amin” atau “sekian”. Dia berdiri, begitu pula Winnetou. Mereka pergi, berjalan dengan tenang di lembah hingga berbelok dan tidak terlihat lagi. Klekih-petra tetap duduk. Sang Insinyur Kepala berpaling kepadanya dan meminta saran darinya.

Klekih-petra menjawab, “Sesukamu, Sir! Aku sepenuhnya setuju dengan Kepala Suku. Orang kulit merah sedang terus-menerus menderita kejahatan berat. Sebagai orang kulit putih, aku juga tahu bahwa percuma bagi orang-orang Indian untuk melawan. Kalau kalian pergi hari ini, orang-orang lain akan datang besok dan menyelesaikan pekerjaan kalian. Tapi, kuperingatkan kalian, Kepala Suku serius.”

“Ke mana dia pergi?”

“Mengambil kuda-kuda kami.”

“Kalian membawa kuda?”

“Tentu saja. Kami menyembunyikan kuda-kuda kami saat kami tahu kami sudah dekat dengan beruang. Jangan mengejar grizzly di sarangnya dengan menunggang kuda.”

Dia berdiri dan berjalan pergi, mungkin untuk menghindari pertanyaan dan perdebatan lagi. Meskipun demikian, aku mengikuti dia dan bertanya, “Sir, boleh aku berjalan bersamamu? Aku berjanji aku tidak akan melakukan atau mengatakan apa pun yang akan membuatmu merasa tidak nyaman. Aku cuma tertarik kepada Intschu-tschuna dan Winnetou.”

Aku tidak mau memberitahunya bahwa dia sendiri juga sangat menarik bagiku. “Tentu, ikutlah sebentar, Sir,” jawabnya. “Aku sudah menjauh dari orang-orang kulit putih dan segala keinginan mereka, dan aku tidak ingin bersangkut-paut dengan mereka lagi. Tapi, aku tertarik kepadamu. Jadi, ayo berjalan bersama sebentar. Kelihatannya kau orang yang paling bijaksana di antara semua orang ini. Aku benar?”

“Aku paling muda, dan belum cukup pintar, dan mungkin tidak akan pernah dianggap pintar. Sepertinya itulah yang membuatku terlihat seperti orang yang lumayan baik hati.” “Tidak pintar? Semua orang Amerika pintar, kurang-lebih.”

“Aku bukan orang Amerika.”

“Dari mana asalmu, kalau kau tidak keberatan ditanya?”

“Tidak sama sekali. Aku tidak merasa perlu merahasiakan kampung halamanku yang sangat aku cintai. Aku orang Jerman.”

“Orang Jerman!” dia berbalik dengan tajam kepadaku. “Kalau begitu, selamat datang, saudara setanah air! Mungkin itulah yang membuatku tertarik kepadamu. Kita orang Jerman memang tidak biasa. Hati kita saling mengenali bahkan sebelum kita berucap apa-apa. Kau terkejut melihat ada orang Jerman sudah menjadi Apache sepenuhnya?”

“Tidak terlalu. Jalan Tuhan sering kali ajaib, tapi tetap sangat alami.”

“Jalan Tuhan! Mengapa kau menyebut Tuhan alih-alih nasib, atau takdir?”

“Karena aku orang Kristen dan aku tidak mau Tuhanku dijauhkan dariku.”

“Benar sekali. Berarti kau orang yang bahagia! Jalan Tuhan sering kali tampak ajaib, tapi sesungguhnya tetap sangat alami. Hal-hal paling menakjubkan terjadi akibat hukum alam dan kejadian sehari-hari yang sesungguhnya sangat menakjubkan. Seorang Jerman, berpendidikan, seorang intelektual ternama, dan sekarang menjadi Apache sejati. Riwayatku terdengar menakjubkan, tapi jalan yang membawaku ke titik ini sangatlah alami.”

Mungkin tadi dia mengajakku dengan setengah hati, tetapi sekarang dia gembira bisa mengobrol. Aku langsung melihat bahwa dia pribadi yang luar biasa. Aku tidak menanyakan apa pun tentang masa lalunya walaupun dia sendiri tidak memasang batasan itu. Secara menyeluruh dia menanyakan keadaanku. Aku memaparkan segalanya, dengan perincian sebanyak yang dia inginkan.

Kami duduk di bawah pohon tidak jauh dari perkemahan. Aku bisa melihat wajahnya dan mengamati air mukanya dari dekat. Pahitnya kehidupan telah meninggalkan bekas mendalam pada wajahnya, kerut-kerut panjang dari kesedihan, garis-garis diagonal dari keraguan, serta jalur-jalur zigzag dari keputusasaan, kepedulian, dan pengorbanan. Pasti sering sekali matanya terlihat muram, mengancam, marah, ketakutan, dan mungkin ragu juga. Walaupun begitu, kini matanya sebening dan setenang danau di dalam hutan, tanpa riak akibat angin mana pun, tetapi terlalu dalam sehingga kita tidak bisa melihat apa yang ada di dasarnya.

Sesudah mendengar semua hal yang perlu diketahui dan perlu kukatakan, dia mengangguk kecil dan berkata, “Kau berada pada bagian pembuka perjuanganmu, sementara aku pada penghujung. Tapi, perjuanganmu bersifat ke luar, bukan ke dalam. Kau didukung oleh Tuhan Bapak, dan Dia tidak akan menelantarkanmu. Aku sudah kehilangan Tuhan ketika aku meninggalkan rumahku. Alih-alih ketaatan yang kuat, aku membawa hal terburuk yang bisa dimiliki manusia, hati nurani yang jahat.”

Dia menatapku dengan mata menyelidik, dan saat dia melihat bahwa aku menerima kata-katanya dengan tenang, dia bertanya, “Kau tidak terkejut?”

“Tidak.”

“Tapi hati yang jahat, coba bayangkan!”

“Pah!, Kau bukan pencuri atau pembunuh. Tidak mungkin kau pernah melakukan hal serendah itu.”

Dia meremas tanganku dan berbicara, “Terima kasih kau bilang begitu! Tapi, kau keliru. Aku memang pencuri. Aku mencuri banyak sekali! Barang-barang yang sangat berharga! Dulu aku juga pembunuh. Entah berapa banyak nyawa yang aku bunuh! Dulu aku dosen, tempat persisnya tidak penting. Aku bangga menjadi jiwa yang bebas, bangga mengesampingkan Tuhan, bangga bisa menunjukkan bahwa aku tidak bisa ditentang dalam meyakini bahwa Tuhan cuma omong kosong. Aku pandai berbicara dan memukau pendengarku. Bibit-bibit ini, yang aku tuai dengan kedua tanganku, tumbuh dengan cepat. Tidak sebutir pun luput. Itu menjadikan aku pencuri manusia, perampok manusia, merampok keimanan mereka terhadap Tuhan.” Kemudian terjadi revolusi. Orang-orang yang tidak mengakui Tuhan, berarti dia tidak menjunjung raja atau kekuasaan mana pun. Aku hadir sebagai pemimpin orang-orang yang memberontak, dan mereka bagaikan hampir menenggak kata-kata dari bibirku, racun memabukkan yang aku gunakan sebagai obat penyembuh. Mereka berkumpul dan mengangkat senjata. Banyak sekali pertempuran! Akulah pembunuh mereka, dan tidak hanya mereka yang mati gara-gara aku. Orang-orang lain mati di balik dinding penjara. Tentu saja, mereka mulai memburuku, jadi aku kabur.”

“Aku meninggalkan negeriku, pun tidak seorang pun berdukacita atas kepergianku. Tidak seorang manusia pun menangisiku. Ibu dan ayahku, keduanya sudah meninggal. Aku juga tidak punya kakak, adik, atau kerabat lain. Walaupun tidak ada orang meneteskan air mata untukku, banyak air mata tumpah gara-gara aku!”

“Tapi, aku tidak memikirkan itu sama sekali sampai suatu hari kesadaran itu memukulku dengan kuat sehingga aku hampir jatuh ke tanah. Tinggal satu hari perjalanan dari perbatasan yang akan memberiku keamanan, aku dikejar oleh polisi. Mereka hampir menyusulku, jadi aku berlari lewat sebuah kota pabrik kecil. Secara kebetulan, kalau kebetulan memang ada, aku berlari melewati pekarangan sebuah rumah bobrok. Tanpa memberitahukan siapa diriku sebenarnya, aku berlindung kepada seorang ibu tua dan anak perempuannya yang aku temukan di dalam rumah itu. Mereka menyembunyikan aku karena mengira aku rekan kepala keluarga mereka.”

“Mereka duduk di dekatku di sudut yang gelap dan bercerita kepadaku, dengan air mata getir, tentang penderitaan mereka. Mereka miskin tapi bersyukur. Sang anak perempuan baru menikah setahun sebelumnya. Suaminya mendengar salah satu pidatoku dan terpancing. Dia mengajak ayah mertuanya ke pertemuan berikutnya, lalu mertuanya termakan racun juga. Aku telah mengisap semua kemujuran yang dimiliki empat orang baik ini. Sang laki-laki muda mati di medan perang, sementara ayahnya dihukum beberapa tahun kerja rodi.”

“Ini diceritakan kepadaku oleh kedua perempuan yang telah menolongku, padahal aku orang yang bertanggungjawab atas kemalangan mereka. Mereka menyebut namaku sebagai orang yang memancing kedua laki-laki itu untuk pergi. Itulah pukulan yang meremukkan hatiku. Roda Tuhan mulai berputar. Aku masih bebas, tapi di dalam hati aku menderita semacam rasa sakit yang melebihi hukuman dari hakim mana pun. Aku berkelana dari satu kota ke kota berikutnya, mencoba ini dan itu, tapi tidak bisa tenang. Nuraniku menggerogotiku tanpa ampun. Berkali-kali aku nyaris mencabut nyawaku sendiri, tapi tangan Tuhan yang tak kasat mata selalu menahanku. Bertahun-tahun aku menderita dan menyesal hingga tangan Tuhan menuntunku kepada seorang pendeta Jerman di Kansas. Dia menebak isi hatiku dan mendesakku untuk melakukan pengakuan kepadanya. Aku melakukannya dengan gembira. Setelah bertahun-tahun mengalami keraguan, pengampunan, dan penghiburan. Akhirnya aku menemukan keyakinan yang lebih kokoh dan kedamaian hati. Tuhan Bapak, aku bersyukur sekali!”

Dia berhenti berbicara, menggenggam tangan, dan memandang ke atas dengan mata yang bersinar. Lalu dia melanjutkan, “Untuk memperkokoh jiwaku, aku melarikan diri dari dunia dan manusia. Aku pergi ke alam liar. Tapi, iman saja tidak cukup untuk menjadikan kita kudus. Pohon iman harus berbuah upaya. Aku ingin upayaku berbeda sejauh mungkin daripada upayaku sebelumnya. Kemudian aku melihat bagaimana orang kulit merah berjuang, penuh keraguan, melawan kepunahan. Aku melihat para pembunuh menggeledah mayat-mayat Indian. Amarah, simpati, dan iba menggelegak di dalam hatiku. Nasib orang kulit merah sudah ditentukan. Aku tidak bisa menyelamatkan mereka. Tapi, ada satu hal yang bisa aku lakukan. Aku ingin memudahkan kematian mereka, memberikan sinar kasih dan perdamaian bagi saat-saat terakhir mereka.”

“Aku mendatangi Apache dan belajar menyesuaikan upayaku dengan kebutuhan mereka. Aku berhasil memeroleh kepercayaan mereka dan berhasil melakukan beberapa hal. Seandainya kau bisa mengenal Winnetou, dia benar-benar prestasi terbesarku. Laki-laki muda ini ditakdirkan untuk hal-hal besar. Seumpama dia putra seorang penguasa Eropa, dia akan menjadi jenderal hebat dan bahkan pemimpin yang lebih hebat pada masa damai. Tapi, sebagai putra seorang kepala suku Indian, dia akan mati, sama dengan segenap rasnya akan mati. Seandainya aku bisa hidup untuk melihat hari dia memeluk agama Kristen! Kalaupun tidak, setidaknya aku akan berada di sisinya hingga aku meninggal, dalam setiap tantangan, bahaya, dan kesulitan.”

“Dialah anak dari jiwaku. Aku mengasihinya lebih daripada aku mengasihi diriku sendiri. Kalau aku mendapatkan kesempatan baik untuk menghalangi dia dari peluru yang ditembakkan untuk membunuhnya, dengan senang hati aku akan mati untuknya. Kematianku akan menjadi penebusan terakhirku untuk dosa-dosaku sebelumnya!”

Dia berhenti berbicara dan menunduk. Aku sangat terharu dan tidak mengatakan apa-apa. Aku merasa apa pun yang bisa aku katakan pasti terdengar sepele. Namun, aku mengambil tangannya dan meremasnya erat-erat. Dia mengerti. Dia mengangguk pelan dan meremas tanganku juga.

Sesaat kemudian, dia bertanya dengan suara lirih, “Ada apa gerangan aku memberitahumu semua ini? Ini kali pertama mataku melihatmu, dan mungkin aku tidak pernah melihatmu lagi. Atau apakah Tuhan memang mempertemukan kita sekarang? Kau lihat bahwa aku, orang yang dulu mengingkari Tuhan, sekarang berusaha kembali kepada kebesaran-Nya yang agung. Mendadak aku merasa sangat aneh, sangat lemah, tapi tidak terlalu sakit. Ini seperti perasaan yang kadang-kadang kita rasakan pada musim gugur, ketika dedaunan mulai berjatuhan. Bagaimana daun hidupku nanti terlepas dari pohon? Dengan lembut, ringan, damai? Ataukah daunku akan dipetik sebelum tiba waktunya untuk jatuh secara alami?”

Dia memandang lembah seperti dengan hati merindu. Aku melihat Intschu-tschuna dan Winnetou datang dari sana, menunggang kuda mereka dan menuntun kuda milik Klekih-petra. Kami berdiri untuk kembali ke perkemahan, dan tiba bersamaan dengan mereka. Rattler sedang bersandar kepada pedati. Dengan wajah merah dan bengkak, dia membelalak kepada kami. Dia sudah mabuk sekali sehingga tidak bisa minum lagi. Dasar orang yang buruk dan kasar sekali! Pandangannya licik seperti banteng muda yang sedang mencakari tanah, siap menyerang. Aku berencana untuk mengawasinya.

Kepala Suku dan Winnetou turun dari kuda dan mendatangi kami. Kami berdiri bersama dengan membentuk kira-kira sebuah lingkaran lebar. “Nah, apakah saudara-saudara kulit putihku sudah memutuskan apakah kalian akan tetap di sini atau pergi?” tanya Intschu-tschuna.

Sang Insinyur Kepala sudah memikirkan cara mengakali keadaan. Dia menjawab, “Kami ingin pergi, tapi kami harus tetap di sini untuk mematuhi perintah yang telah diberikan kepada kami. Aku akan mengirim seorang pembawa pesan ke Santa Fe dan bertanya kepada mereka, lalu aku bisa memberimu jawaban.”

Ini strategi yang cerdik, karena pekerjaan kami pasti sudah selesai sebelum pembawa pesan sempat kembali. Namun, Kepala Suku berkata dengan suara tegas, “Aku tidak mau menunggu selama itu. Saudara-saudara kulit putihku harus berkata sekarang apa yang akan kalian lakukan.”

Rattler telah mengisi sebuah gelas besar dengan brendi dan mendatangi kami. Aku kira dia mengincarku, tetapi dia membungkuk kepada kedua orang Indian dan berkata dengan serak, “Kalau kalian Indian minum bersamaku, kami akan menuruti kalian dan pergi sekarang. Kalau tidak, kami tidak mau. Mulai dari yang muda. Ini air api, Winnetou.”

Dia mengulurkan gelas besarnya. Winnetou mundur selangkah dan menolak dengan tangannya.
“Apa, kau tidak mau minum bersamaku? Kurang ajar! Minum brendi ini dengan mukamu, dasar kulit merah keparat. Jilat saja kalau kau tidak mau minum!”

Sebelum ada orang sempat mencegahnya, Rattler melempar gelas beserta isinya ke wajah Apache muda itu. Menurut konsep Indian, penghinaan seperti itu patut dihukum mati. Rattler langsung dihukum, tapi tidak dengan setegas itu. Winnetou meninju wajah si kasar itu dengan cukup keras untuk membuatnya jatuh ke tanah. Rattler berdiri lagi dengan susah payah. Aku memutuskan untuk mencegat perkelahian karena aku yakin Rattler akan menyerang. Namun, itu tidak terjadi. Rattler sekadar menatap Kepala Suku Apache muda dengan mata mengancam. Sambil mengumpat, Rattler kembali ke pedati dengan sempoyongan.

Winnetou menyeka wajahnya dan mempertahankan roman mukanya yang kaku dan tenang, persis seperti ayahnya tadi. Dia tidak menunjukkan isi hatinya.

“Aku bertanya sekali lagi, dan ini kali terakhir,” kata Kepala Suku. “Apakah orang-orang wajah pucat pergi dari lembah ini hari ini?”

“Kami tidak diizinkan,” adalah jawabannya.

“Maka, begitulah kita mengakhiri perundingan ini. Tidak ada kedamaian di antara kita.”

Aku berusaha memotong perbuatan mereka lagi, tapi tidak berhasil. Ketika Apache menghampiri kuda mereka, suara Rattler terdengar nyaring dari pedati, “Pergi dari sini, dasar anjing-anjing merah! Tapi, pertama-tama si muda harus menebus karena telah memukulku!” Sepuluh kali lebih cepat daripada yang kita sangka terhadap orang mabuk seperti dia, Rattler telah menyambar senapannya dari pedati dan membidikkannya kepada Winnetou. Winnetou sedang berada di tempat terbuka dan tidak terlindung. Dia pasti akan terkena peluru.

Kejadiannya sangat cepat sehingga mustahil dia menghindar. Klekih-petra berteriak, “Awas, Winnetou, cepat menghindar!”

Pada saat bersamaan, laki-laki itu melompat untuk menempatkan diri di depan pemuda Apache itu. Senapan meletus. Klekih-petra, setengah berputar akibat dorongan peluru, memegangi dadanya, terhuyung sesaat, lalu jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, Rattler jatuh ke tanah akibat tinjuku. Tadi aku berusaha menyambar dia, mencegah tembakan, tetapi aku terlambat. Semua orang berteriak dengan ngeri. Hanya kedua Apache yang terdiam. Mereka berlutut di sisi teman mereka yang sudah mengorbankan dirinya demi Winnetou. Tanpa bersuara mereka memeriksa luka Klekih-petra. Dadanya tertembak cukup dekat dengan jantung, dan darah menyembur dari lukanya. Aku berlari menghampiri mereka. Mata Klekih-petra terpejam. Wajahnya segera menjadi pucat dan kuyu.

“Taruh kepalanya di pangkuanmu,” aku meminta Winnetou. “Kalau dia membuka mata dan melihatmu, dia akan meninggal dengan bahagia.”

Winnetou menuruti usul ini tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak pernah berkedip, dan matanya tidak pernah sekali pun dialihkan dari wajah laki-laki yang sedang sekarat itu. Klekih-petra perlahan membuka matanya. Dia melihat Winnetou membungkuk di atasnya. Senyum damai melintasi wajahnya yang mengerut, dan dia berbisik, “Winnetou, Winnetou. Oh putraku Winnetou!”

Lalu, matanya yang penuh dengan air mata seperti sedang mencari orang lain. Dia menemukanku, lalu berkata, dalam bahasa Jerman, “Jaga dia dan lanjutkan upayaku!” “Aku akan melakukannya, ya, yakinlah aku akan melakukannya!”

Lalu wajah Klekih-petra menjadi khusyuk, dan dia berdoa dengan suara yang semakin melemah, “Jadi, daunku…dipetik…tidak perlahan…atau mudah…ini penebusan terakhirku…aku mati dengan…dengan cara yang aku inginkan. Tuhan Bapak… ampuni…ampuni aku! Ampuni aku…ampuni aku! Aku datang…datang…ampun.”

Dia melipat kedua tangannya. Sekali lagi darah menyembur dari lukanya, kepalanya merosot ke belakang. Dan dia berpulang.

Sekarang aku tahu apa yang mendorong dia mengutarakan isi hatinya kepadaku. Jalan Tuhan, katanya. Dia memang ingin mati demi Winnetou, dan betapa cepatnya keinginan itu terpenuhi! Penebusan terakhir yang sudah lama diinginkannya telah tercapai. Tuhan adalah cinta, kasih sayang. Tuhan tidak selamanya menolak orang yang telah menyesal.

Winnetou membaringkan kepala orang mati itu di tanah, perlahan berdiri, dan menatap ayahnya dengan mata bertanya.

“Itu pembunuhnya. Aku sudah membuat dia pingsan,” kataku. “Dia milik kalian.”

“Air api!”

Jawaban singkat ini saja yang dikatakan Kepala Suku, tetapi dia mengatakannya dengan suara yang sangat menghina.

“Aku ingin menjadi teman kalian, saudara kalian. Aku akan ikut dengan kalian!” adalah kata-kata yang terlepas dari bibirku.

Dia meludahi wajahku dan berkata, “Anjing kurap! Mencuri tanah demi uang! Koyote bau! Kalau kau berusaha mengikuti kami, aku ganyang kau!”

Kalau orang lain melakukan dan mengatakan ini kepadaku, aku pasti menjawab dengan kedua tinjuku. Mengapa aku tidak menjawab? Mungkin, sebagai penyusup di tanah milik orang lain, aku pantas mendapatkannya. Naluriku semata yang membuatku membiarkannya. Sayangnya, walaupun aku sudah berjanji kepada mendiang Klekih-petra, aku tidak bisa ikut pergi bersama mereka.

Orang-orang kulit putih berdiri tanpa bicara, menunggu apa yang akan dilakukan kedua orang Apache itu. Keduanya tidak sudi melirik kami. Mereka mengangkat mayat ke atas kuda dan mengikatkannya ke badan kuda, lalu mereka menunggang kuda mereka masing-masing, menyesuaikan tubuh Klekih-petra yang hendak jatuh agar kembali mantap, dan berkuda perlahan. Mereka tidak mengumbar satu kata pun sebagai ancaman atau pembalasan, juga tidak sekali pun melirik kami di belakang. Namun, itu lebih buruk, jauh lebih buruk, daripada kalau mereka terang-terangan bersumpah untuk memberi kami kematian yang paling mengerikan.

“Ini buruk sekali, dan akan segera bertambah buruk!” kata Sam Hawkens. “Ini dia si bedebah, masih pingsan akibat pukulanmu dan brendi. Apa yang akan kita lakukan dengannya?”

Aku tidak menjawab. Aku memasang pelana kepada kudaku dan berkuda pergi. Aku harus menyendiri. Setidaknya ragaku perlu melarikan diri dari setengah jam terakhir yang mengerikan ini. Sudah larut saat akhirnya aku kembali ke perkemahan, dalam keadaan lelah dan lemah, dengan jiwa dan raga yang hancur-lebur.

Iklan