karna

Ia lahir karena perbuatan slebor (ceroboh) Kunti yang masih muda ketika merapal mantra yang diberikan Resi Durvasa yang memancing kehadiran Dewa Surya untuk memberikannya seorang anak yang sekuat Dewa Surya.

Dan demikianlah, ia lahir dengan Kavacha (zirah atau baju perang) dan Kundala (sepasang anting-anting). Dengan pertolongan Dhatri, dayang keputren, ia dilarung ke sungai Gangga. Ia dipungut oleh Adiratha, kusir Raja Dhristrashtra, Raja Hastinapura. Oleh Adiratha dan istrinya, Radha, ia diberi nama Vasusena. Tetapi karena dianggap anak Radha, maka julukan lainnya yang disandangkan kepadanya adalah Radheya (Anak Radha). Sejak kecil ia lebih tertarik belajar ilmu perang daripada meneruskan tradisi keluarganya menjadi kusir kereta Raja. Maka dia pun menemui Dronacharya.

Dronacharya adalah guru ilmu perang dari para pangeran dinasti Kuru. Dan karena ia bukan dari kasta Ksatria, Dronacharya pun menolak permintaannya untuk mengajarkan ilmu perang kepadanya. Ditolak oleh Dronacharya bukan berarti menghentikan niatnya untuk berlatih ilmu perang dengan beragam senjata. Dia minta bantuan dari kakaknya, Shona, untuk berlatih ilmu perang. Namun, karena di dalam tradisi India kuno, setiap murid harus punya guru, maka ia menganggap Dewa Surya (ayahnya) sebagai gurunya.

Ia berlatih sejak matahari terbit dan istirahat saat matahari terbenam. Suatu ketika, ia mendengar dari temannya yang juga anak Dronacharya (Guru Drona) yaitu Ashvathama bahwa setelah liburan sebulan, Dronacharya melakukan ujian memanah bagi murid-muridnya. Sasarannya adalah seekor burung kayu di dalam sangkar di atas sebuah pohon. Sebelum melepas anak panah, setiap murid ditanya apa yang dilihatnya. Dan ketika jawabannya tidak memuaskan, maka murid itu tidak boleh memanah. Satu-satunya yang boleh memanah hanyalah Arjuna, karena Arjuna menjawab dia bisa melihat sebiji mata burung kayu itu.

Dan benarlah Arjuna berhasil memanah dengan tepat sebuah mata burung kayu itu. Mendengar hal itu, ia bersumpah bahwa ia bisa memanah lebih baik daripada Arjuna –bahkan dengan sebuah anak panah, dia bisa memanah kedua mata burung kayu itu.

Dibantu kakaknya, Shona, ia berlatih siang dan malam. Bahkan ketika malam tiba, ia meminta kakaknya menyalakan lampu di bawah pohon tempat burung kayu itu diletakkan. Dan malam itu, ia berhasil memanah kedua mata burung kayu itu hanya dengan sekali panah! Selain berlatih ilmu senjata, ia juga pada suatu ketika datang sendiri ke Parashurama, guru para Brahmana, dengan mengaku bahwa ia juga seorang Brahmana. Maka dibawah bimbingan Parashurama, ia menyelesaikan semua pelajaran tentang ilmu perang, ilmu senjata, dan terlebih ilmu memanah.

Suatu ketika, Parashurama bermaksud menyelidiki lebih jauh siapa sebenarnya ia karena ia termasuk murid yang paling cepat mengerti dan paling pandai di antara murid-murid lainnya. Parashurama pun memintanya membawakan kepadanya sebuah bantal untuk melepas penat. Alih-alih membawakan bantal, ia mempersilakan gurunya untuk meletakkan kepalanya di atas pahanya. Pada saat itu datanglah seekor kumbang besar dan menyengatnya. Ia tidak mau menepis kumbang itu karena takut gerakan tubuhnya membuat Parashurama bangun dari tidurnya, sementara kumbang itu menyengat makin dalam dan darah pun menetes dari luka sengatan itu.

Namun, setetes darahnya jatuh ke muka Parashurama yang tertidur dan membuatnya bangun. Parashurama melihat kejadian itu dan segera tahu bahwa hanya seorang Ksatria yang sanggup menahan luka seperti itu dengan tidak bergeming. Maka, marahlah Parashurama dan menjatuhkan kutukan kepadanya. Kutukannya adalah ia akan mengalami lupa untuk merapal mantra yang ampuh untuk membangkitkan pamor Brahmastra, sebuah panah paling sakti yang dimilikinya, di saat di mana ia sedang sangat membutuhkannya.

Tertundung dari Ashram Parashurama, ia pun berkelana. Di tengah perjalanan, ia melihat seekor sapi yang berlari ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, ia melepas anak panah dan membunuh sapi itu. Ternyata sapi itu milik seorang Brahmana. Brahmana itu marah mengetahui ia telah membunuh sapi miliknya. Maka Brahmana itu pun mengutuknya bahwa suatu saat ia akan mati pada saat ia sedang dilanda musibah (kesusahan).

Dalam kisah lain, ia juga dikutuk oleh Bhoomidevi, Dewi Bumi. Kejadiannya saat ia berkereta melihat seorang anak perempuan menangis. Dia menangis karena dia menumpahkan bejana yang berisi ghee (sejenis mentega yang terbuat dari susu sapi). Bejana itu pecah dan ghee yang dibawanya pun tercampur tanah. Karena iba, ia memberikan ghee yang baru. Tapi anak itu tidak mau. Dia takut dimarahi ibu tirinya karena bejananya pecah. Maka ia memungut pecahan bejana itu berikut tanahnya, lalu membentuk ulang bejana itu.

Saat itu dia mendengar suara marah seorang perempuan. Ternyata suara itu berasal dari tanah yang terikut serta di dalam genggaman tangannya. Dewi Bumi marah karena kekuatannya membuatnya tersiksa. Maka kutukan pun terluncur dari ucapan Dewi Bumi yaitu bahwa roda keretanya akan terjepit sekuat tenaga saat menghadapi perang besar.

Pada suatu ketika, Dronacharya menggelar turnamen alias sayembara untuk murid-muridnya. Arjuna memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemanah mahir. Melihat hal itu, ia pun menantang Arjuna untuk bertarung. Kripacharya (Guru Kripa) mencegah hal itu dan menanyakan asal-usulnya (nasabnya) karena aturannya hanyalah seorang Pangeran yang bisa menantang seorang Pangeran yang lain.

Arjuna sudah jelas seorang Pangeran wangsa Kuru. Tetapi ia, Karnya yang gigih ini, tidak bisa membuktikan diri bahwa ia adalah seorang Ksatria. Duryodhana, pangeran tertua dari seratus pangeran Kurawa tampil ke depan dan menyerahkan tahta Angga kepadanya. Ia melakukan hal ini karena ia tahu para Pandawa lebih baik daripada saudara-saudaranya dalam hal ilmu perang dan ilmu senjata. Duryodhana menginginkannya bergabung dengan Kurawa supaya keadaannya menjadi berimbang.

Maka sejak itu ia merasa berhutang budi pada Duryodhana dan para Kurawa. Dan ketika ia bertanya apa imbalan yang patut diberikan kepada Duryodhana atas kebaikannya, Duryodhana hanya meminta persahabatan. Ia bahkan membalas perbuatan baik Duryodhana dengan membantunya menikahi puteri Raja Chitranggada. Di hari penobatannya sebagai Raja Angga, ia bersumpah bahwa siapapun yang datang kepadanya di tengah-tengah hari saat dia berdoa kepada Dewa Surya, maka dia tidak akan pulang dengan tangan hampa. Dewa Indra pun datang memanfaatkan sumpahnya dengan menyamar sebagai Brahmana meminta Kavacha dan Kundala yang dimilikinya sejak lahir. Karena Dewa Indra yang juga ayah Arjuna tahu selama ia mengenakan Kavacha dan Kundala maka ia tidak akan terkalahkan.

Ia memenuhi permintaan Dewa Indra dengan memotong anting-anting dan menyayat tubuhnya untuk melepaskan baju zirah yang menempel di tubuhnya sejak bayi itu. Karena dia melakukannya tanpa berkedip, maka ia pun mendapat julukan Vaikartana yang berarti ‘Dia yang menyayat tubuhnya untuk melepas zirah tanpa berkedip’.

Melihat ketulusannya, Dewa Indra pun memberikan anugerah berupa panah sakti bernama Vasavi
Shakti. Namun panah sakti itu hanya bisa digunakan sekali saja seumur hidupnya. Ia sebenarnya adalah orang yang paling sesuai dalam Swayamvara Draupadi. Dia dengan mudah bisa mengikatkan tali busur dan menenteng busur yang orang lain tidak bisa melakukannya. Akan tetapi, saat ia hendak memanah, Krishna memberi isyarat kepada Draupadi sehingga Draupadi tahu bahwa ia adalah anak Adiratha seorang kusir kereta. Maka Draupadi pun berteriak kepadanya bahwa dirinya anak seorang kusir.

Ia pun undur dari Swayamvara itu. Pada saat itu datanglah Pandawa yang menyamar sebagai brahmana dan mengikuti swayamvara. Tentu yang tampil adalah Arjuna, Sang Pemanah Sejati. Dengan mudah dia mengikat tali busur, mengangkat busur dan memanah dengan tepat sasaran. Ia tahu benar bahwa yang dapat melakukan hal semacam itu tidak lain adalah Arjuna.

Sejak saat itu, dendamnya kepada Arjuna makin berlipat ganda. Maka ketika Draupadi diserahkan kepada Dushasana karena Pandawa kalah taruhan judi, ia mengejek Draupadi sebagai seorang pelacur karena bersuamikan lima orang laki-laki, sedangkan Pandawa tak lain adalah anak-anak anjing yang terbuang dari kandangnya, dan Draupadi lebih baik mencari suami yang lain saja. Mendengar perkataannya terhadap Draupadi, Arjuna bersumpah untuk membunuhnya. Sedangkan Bhima bersumpah untuk membunuh Duryodhana dan Dushasana.

Ia, selain sebagai Raja Kerajaan Angga, menjadi panglima tertinggi kerajaan Hastinapura dibawah pemerintahan Duryodhana. Karena kesaktiannya dan strategi militernya yang jago, dia berhasil menundukkan kerajaan Kamboja, Shaka, Kekaya, Avantya, Gandhara, Madaraka, Trigarta, Tangana, Panchala, Videha, Suhma, Anga, Vanga, Nishada,Kalinga, Vatsa, Ashmaka, Rishika, dan banyak lagi termasuk suku-suku nomaden dan suku-suku pedalaman hutan.

Menjelang pecahnya Baratayudha, Krishna pun datang kepadanya. Dia membuka rahasia dirinya yang merupakan anak tertua dari Pandawa bersaudara, dan menyampaikan janji Yudhisthira untuk memberikan tahta Indraprastha kepadanya. Hal ini dilakukan supaya ia mau berpihak kepada para Pandawa. Namun ia berkata seandainya tahta Indraprastha diberikan kepadanya, maka ia akan memberikan Indraprastha kepada Duryodhana, karena Duryodhana adalah sahabatnya dan juga rajanya. Meskipun demikian, ia menghormati Yudhisthira sebagai orang yang benar –dan Yudhistira tahu bahwa dirinya adalah kakaknya.

Ia tidak mau bertukar posisi sebagai bagian dari Pandawa karena menurutnya itu menyalahi Dharma. Karena ia tidak bergeming, maka Kunti, ibunya, pun datang kepadanya. Kunti menyatakan diri sebagai ibundanya dan menjulukinya Kunteya. Tapi ia menolak, “Biarkan orang mengenalku sebagai Radheya (anak Radha) bukan sebagai Kunteya (anak Kunti).” Ia mengatakan seandainya Ibunda Kunti mau mengakuinya sebelum turnamen dahulu, keadaannya akan berbeda. “Sekarang nasi sudah jadi bubur, dan aku tidak mau dikenal sebagai orang yang tidak tahu balas budi.”

Ia berjanji tidak akan membunuh Pandawa yang lain karena dia hanya akan membunuh Arjuna. “Dan Ibu akan tetap memiliki lima orang putera. Apakah aku atau Arjuna yang tetap hidup nantinya.”

Ia mengatakan hal itu karena dia sadar, selama Arjuna ada dalam perlindungan Krishna, maka Arjuna tidak akan terkalahkan. Ketika perang Baratayuda dimulai, Bhisma menolak kehadirannya dengan alasan ia pernah menghina gurunya Parashurama dan juga menghina seorang perempuan yaitu Draupadi. Bhisma tidak mau ada orang yang pernah menghina gurunya berada di bawah komandonya. Oleh karena itu, ia baru bergabung dalam perang Baratayuda ketika Bhisma sudah terpanah Shikhandi, di hari ke sebelas.

Di hari ketiga belas, Abimanyu, anak Arjuna berhasil menerobos strategi Cakravyuha yang digelar oleh Dronacharya. Sejak dalam kandungan, Abimanyu sudah tahu cara menerobos strategi militer itu karena Krishna menceritakan strategi perang kepada adiknya, Subhadra, istri Arjuna. Sayangnya, karena ibunya tertidur saat cerita itu, maka Abimanyu hanya tahu cara menerobosnya saja, belum soal cara keluar dari strategi itu. Yang tahu cara melumpuhkannya hanyalah Arjuna dan Krishna. Sialnya, saat itu, Arjuna dan Krishna terpancing untuk berperang di tempat yang berbeda.

Abimanyu berperang sendirian dengan gagah berani. Melihat hal itu, ia dan Duryodhana memutuskan untuk melemahkan Abimanyu dengan cara membokongnya. Ia pun kemudian memanah busur dan kereta Abimanyu hingga busur dan kereta Abimanyu hancur –sehingga Abimanyu pun bertarung dengan tangan kosong saja. Maka Jayadratha, raja Sindhu, berhasil membunuh Abimanyu setelah Abimanyu jadi bulan-bulanan tentara Kaurawa.

Mendengar hal itu, Arjuna bersumpah untuk membunuh Jayadratha esok hari sebelum matahari terbenam, dan jika hal itu tidak terjadi maka Arjuna hendak membakar diri bersama mayat anaknya. Di hari keempat belas, Khrisna menggunakan cakra untuk membuat matahari gelap gulita. Para Kaurawa bergembira karena Arjuna akan membakar diri. Jayadratha pun keluar dari persembunyian, dan di saat itulah Arjuna menarik tali busur dan memanah dengan tepat kepala Jayadratha. Setelah itu, Khrisna menarik cakranya hingga matahari pun bersinar lagi.

Tapi pertempuran hari ke empat belas berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Setelah matahari terbenam, pertempuran masih berlangsung. Ghatotkacha, anak Bhima, yang setengah Asura (berlainan dengan Dewa, Asura adalah mahluk yang mampu menyerap kekuatan dan menambah kekuatannya itu), mengobrak-abrik pasukan Kaurawa. Semakin gelap, kekuatan Ghatotkacha semakin bertambah. Dronacharya pun mengalami luka-luka karena bertempur dengan Ghatotkacha. Melihat hal itu, ia dan Duryodhana pun tampil membendung serangan Ghatotkacha.

Karena semakin terdesak, Duryodhana memintanya untuk menggunakan segala macam cara. Ia pun menghadapi Ghatotkacha yang semakin malam semakin mengeluarkan kekuatan terdahsyatnya. Akhirnya ia mengeluarkan panah sakti pemberian Dewa Indra, Vasava Shakti. Dengan senjata itu, Ghatotkacha pun gugur. Meskipun gugurnya Ghatotkacha merugikan kekuatan Pandawa, tapi Krishna tahu bahwa ia sudah kehilangan senjata paling ampuhnya sehingga Arjuna tidak akan pernah kalah darinya.

Dalam Kumpulan Kitab Mahabarata, ada satu kitab khusus yaitu Kitab Ke delapan yang diberi judul Karna Parwa. Isinya tentang perang di hari keenam-belas dan di hari ketujuh-belas di mana ia tampil sebagai panglima perang Kaurawa. Di hari ke enambelas ini, dia berhasil mengalahkan Bhima. Dan sesuai janjinya, dia tidak membunuh Bhima. Dia mengatakan: “Kau adalah adikku. Usiamu lebih muda dari aku, maka aku tak akan membunuhmu.”

Dia juga mengalahkan Yudhisthira, dan dia mengatakan: “Tampaknya, kau telah melupakan apa yang telah diajarkan oleh guru-gurumu. Pergilah belajar lebih keras lagi, dan jika kau sudah siap kembalilah bertarung denganku.” Demikian pula dia mengalahkan Nakula dan Sahedeva. Tapi sesuai janjinya kepada Kunti, dia tidak membunuh seorang pun dari Pandawa, kecuali Arjuna. Maka di ujung hari, dia meminta kusirnya, Raja Shalya, untuk mencari Arjuna. Setelah melihat Arjuna, ia melepaskan panah saktinya yang lain yaitu Nagastra. Tapi Khrisna menyelamatkan nyawa Arjuna dengan membuat kereta kuda Arjuna ambles beberapa senti ke dalam tanah, sehingga Nagastra tidak mengenai kepala Arjuna.

Mengetahui diserang dirinya, Arjuna membalas dengan ratusan panah yang dirontokkan olehnya dengan anak-anak panah yang dilepaskannya juga, sehingga Arjuna pun kehabisan anak panah. Saat itulah senja pun datang. Arjuna terselamatkan oleh keadaan.

Hari ke tujuh belas pun tiba. Ia kembali berhadapan dengan Arjuna. Panah berbalas panah. Berkali-kali tali busur Arjuna putus oleh panahnya tetapi dengan sekedipan mata, Arjuna berhasil memperbaikinnya. Ia memuji Arjuna sebagai pemanah terbaik kepada Raja Shalya, kusirnya. Hingga saatnya kutukan Dewi Bumi pun terjadi padanya. Roda keretanya tiba-tiba ambles, hingga keretanya tidak bergerak sama sekali. Ia pun turun dari kereta untuk membantu Raja Shalya. Tapi Arjuna sudah semakin dekat.

Saat itu, ia hendak merapal mantra untuk senjata andalannya yang lain yaitu Brahmastra. Tapi sesuai dengan kutukan Parashurama, dia tidak ingat mantra itu.

Iklan