karl-may

Kami menoleh ke asal suara tadi, lalu melihat seorang laki-laki muncul dari balik sebatang pohon. Badannya kecil, kurus, dan bungkuk, sementara pakaian dan senjatanya hampir menyerupai orang kulit merah. Sulit menentukan apakah dia orang kulit putih atau Indian. Warna kulitnya, walaupun kini merah akibat sinar matahari, tampak semula putih. Kepalanya tidak bertopi sehingga rambutnya yang gelap terurai ke bahunya. Pakaiannya terdiri dari celana kulit bergaya Indian, jaket berburu dari kulit, dan sepasang sepatu mokassin sederhana. Senjatanya cuma senapan dan pisau. Dia mempunyai mata yang terkesan luar biasa cerdas, dan kendati fisiknya tidak sempurna, raut wajahnya serius.

Hanya orang yang kasar dan lemah hati yang meremehkan seseorang dengan kekurangan fisik di luar kuasanya. Rupanya kelompok Rattler termasuk golongan itu. Rattler berseru kepada sosok yang mendekat itu sambil tertawa.

“Halloo, ada kurcaci apa di sini? Aku kira kurcaci tidak ada di Barat.”

Si orang tak dikenal menatapnya dari atas ke bawah dan menjawab dengan suara tenang dan arif. “Semestinya kau bersyukur kepada Tuhan bahwa kau punya tangan dan kaki yang baik! Lagi pula hati dan jiwalah yang penting, bukan fisik. Soal hati dan jiwa, aku tidak kalah dibandingkan denganmu.”

Dia mengibaskan tangannya dan berpaling kepadaku. “Tulangmu kuat sekali, Sir! Jarang ada orang bisa meniru aksimu menerbangkan laki-laki itu. Senang sekali aku melihatnya. Lalu dia menyenggol grizzly dengan kakinya dan meneruskan dengan nada suara menyesal, “Jadi, ini beruang incaran kami. Kami terlambat. Sayang sekali!”

“Kau ingin membunuhnya?” tanyaku.

‘Ya. Kami menemukan jejaknya dan mengikutinya, ke sana kemari menembus pepohonan yang tebal dan tipis. Sekarang kami menemukan si beruang, tapi sayangnya tugas itu telah ditunaikan.”

“Katamu ‘kami’, Sir. Kau tidak sendirian?”

“’Tidak. Ada dua gentleman bersamaku.”

“Siapa?”

“Aku akan memberi tahu kalian begitu aku tahu siapa kalian. Seperti yang kalian tahu, kita harus berhati-hati di daerah ini. Ada lebih banyak orang jahat daripada orang baik di sekitar sini.”

Dia melirik Rattler dan anak-anak buahnya, lalu melanjutkan dengan suara ramah, “Bagaimana pun, saat bertemu gentleman, kita bisa langsung tahu kita bisa memercayainya. Aku tidak sengaja mendengar bagian terakhir percakapan kalian, jadi aku bisa menebak dengan siapa aku sedang berhadapan.”

“Kami pengukur tanah, Sir.” Aku menjelaskan. “Satu insinyur, empat pengukur, tiga pemandu, dan dua belas penjelajah untuk melindungi kami dari kemungkinan serangan.”

“Hmm. Berdasarkan penglihatanku terhadap kelompok ini, menurutku kau tidak memerlukan perlindungan dari orang lain. Jadi, kalian pengukur tanah. Kalian bekerja di sekitar sini?”

“Ya.”

“Apa yang kalian ukur?”

“Jalur rel.”

“Nanti rel itu melewati daerah ini?”

“Ya.”

“Kalian sudah membeli propertinya?”

Saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, matanya menjadi lebih menusuk dan wajahnya lebih serius. Dia tampak mempunyai alasan kuat untuk mendapatkan jawaban, jadi aku menjawab, “Aku dipekerjakan untuk melakukan pengukuran, dan aku sedang melakukannya, tapi aku tidak mempersoalkan hal-hal lainnya.”

“Hmm. Tapi, aku rasa kalian sangat mengerti apa yang sedang kalian lakukan. Tanah yang kalian pijaki ini milik Indian, tepatnya suku Apache cabang Mescalero. Aku bisa memastikan bahwa tanah ini belum dijual, juga belum berpindah tangan kepada siapa pun dengan cara apa pun.”

“Apa bedanya bagimu?” Rattler memotong. “Tidakperlu kau pikirkan urusan orang lain. Urus saja dirimu sendiri.”

“Itulah yang sedang aku lakukan, Sir. Aku seorang Apache, bahkan seorang Apache Mescalero.”

“Kau? Jangan membuatku tertawa! Aku pasti buta kalau tidak melihat bahwa kau orang kulit putih!”

“Tapi, kau keliru! Lupakan warna kulitku dan dengarkan namaku. Namaku Klekih-petra.”

Dalam bahasa Apache, yang pada waktu itu belum aku pahami, namanya berarti “ayah putih”.

Rattler tampak pernah mendengar nama itu. Dia mundur selangkah dengan terkejut dan berkata, “Ah, Klekih-petra, kepala sekolah yang terkenal untuk Apache! Sayang sekali kau bungkuk. Pasti sulit bagimu mencegah orang-orang kulit merah idiot itu mengolok-olokmu.”

“Oh, itu bukan masalah bagiku, Sir. Aku terbiasa diolok-olok oleh orang-orang idiot karena siapa pun yang mempunyai otak setengah saja pasti tidak akan melakukannya. Karena aku sudah tahu siapa kalian dan apa yang sedang kalian lakukan di sini, aku bisa memberi tahu kalian siapa rekan-rekanku. Cara terbaik adalah kudatangkan mereka kepada kalian.”

Ke hutan di belakangnya dia menyerukan beberapa kata dalam bahasa Indian yang tidak kupahami. Muncullah dua sosok yang luar biasa menarik. Mereka mendekat dengan langkah yang perlahan dan berwibawa. Mereka Indian, dan sekilas melihat saja sudah jelas bahwa mereka ayah dan anak.

Sang ayah agak tinggi dan berbadan kuat. Pembawaan dirinya memberikan kesan ningrat sejati dan gerak-geriknya tangkas. Wajahnya sepenuhnya Indian, tetapi sudut-sudutnya tidak setajam wajah orang-orang kulit merah yang biasa. Matanya memberikan kesan tenang dan hampir lembut, menandakan pengendalian diri yang pasti melebihi anggota-anggota sukunya yang lain. Kepalanya tidak bertopi. Rambutnya diikat menjadi kuncir kuda dan dari sana mencuat selembar bulu elang, penanda seorang kepala suku.

Dia mengenakan sepatu mokassin, celana berumbai, dan jaket berburu dari kulit yang setiap bagiannya dirancang agar awet dan pemakainya mudah bergerak. Di ikat pinggangnya ada sebilah pisau dan beberapa kantong kecil berisi segala kebutuhan hidup di dataran ini. Sebuah kantong jimat tergantung melingkari lehernya dan di sebelahnya ada sebatang pipa perdamaian dengan kepala yang terbuat dari tanah liat keramat. Tangannya membawa sebuah senapan berlaras ganda yang cukup tebal berlapis paku-paku perak. Senapan inilah yang kelak terkenal berkat Winnetou dan dijuluki ‘Senapan Perak’.

Laki-laki yang lebih muda berpakaian persis seperti ayahnya, tetapi masih halus. Mokassin miliknya berhiasan bulu-bulu landak, sementara jahitan leging dan jaket berburunya berhiasan benang merah halus. Lehernya juga dilingkari kantong jimat dan pipa perdamaian. Sama dengan ayahnya, dia membawa sebatang pisau dan senapan berlaras ganda. Rambutnya juga diikat di belakang lehernya, tetapi tanpa bulu elang. Rambutnya panjang sekali sehingga terurai, berat dan tebal, ke punggungnya. Perempuan pasti iri dengan rambutnya yang gelap dan indah ini.

Wajahnya mungkin bahkan lebih ningrat daripada ayahnya, dan kulitnya cokelat muda dengan sedikit kemerahan. Seperti yang kutebak pada saat itu dan nanti diakui olehnya, dia seumuran denganku. Dia memberiku kesan mendalam sejak saat aku melihatnya. Aku merasa dia orang yang baik dan pasti memiliki bakat yang luar biasa. Kami bertatapan sebentar, dan sesaat aku mengira melihat kelip ramah pada matanya yang gelap dan serius, bagaikan sinar matahari yang menerobos awan-awan.

“Ini teman sekaligus rekanku,” kata Klekih-petra, pertama menunjuk sang ayah lalu sang anak. “Ini Intschu-tschuna, kepala suku utama Mescalero, juga diakui oleh semua Apache lain sebagai kepala suku. Dan ini putranya, Winnetou. Walaupun masih muda, dia telah melakukan lebih banyak perbuatan berani daripada yang bisa dilakukan sepuluh pejuang seumur hidup mereka. Suatu hari, namanya akan terkenal di seluruh dataran dan pegunungan.”

Ini terdengar berlebihan, tetapi pada akhirnya perkataannya terbukti benar. Rattler hanya tertawa mengejek dan berseru, “Anak muda seperti itu, dan kau bilang kepadaku dia melakukan semua ‘perbuatan’ berani itu? Menurutku kebanyakan di antaranya adalah pencurian, tipuan-tipuan anak kecil, dan perampokan. Kita semua tahu tentang itu. Orang-orang kulit merah cuma bisa mencuri dan merampok.”

Itu tuduhan serius. Ketiga orang Apache bersikap seperti tidak mendengar perkataan Rattler tadi. Mereka berjalan untuk memeriksa beruang. Klekih-petra membungkuk dan memeriksanya.

“Dia mati akibat luka tikaman, bukan peluru,” katanya sambil beralih kepadaku. Dia telah diam-diam menguping pertengkaranku dengan Rattler dan sekarang menegaskan bahwa aku benar. “Kita lihat itu nanti,” kata Rattler. “Apa yang diketahui kepala sekolah bungkuk tentang berburu beruang? Begitu kita menguliti beruang ini, kita akan tahu pasti luka mana yang membunuhnya. Aku tidak akan membiarkan seorang greenhorn merebut hakku.”

Winnetou memajukan badan di atas beruang, meraba luka-luka itu, dan bertanya kepadaku, saat dia berdiri lagi, “Siapa yang melawan beruang ini dengan pisau?” Dia berbicara dengan bahasa Inggris yang sempurna.

“Aku,” jawabku.

“Mengapa saudara muda kulit putihku tidak menembaknya?”

“Aku tidak membawa senapan.”

“Tapi, ada beberapa senapan di tanah.”

“Semua bukan milikku. Pemilik mereka melemparkan dan memanjat pohon.”

“Saat kami mengikuti jejak beruang ini, kami mendengar teriakan di kejauhan.”

“Di mana itu?”

“Tepat di sini.”

“Uff. Tupai dan sigung bisa berlari memanjat pohon saat musuh datang, tetapi manusia harus melawan. Kalau manusia punya keberanian, berarti dia punya kekuatan untuk mengalahkan binatang terkuat sekalipun. Saudara muda kulit putihku punya keberanian. Mengapa dia dipanggil ‘greenhorn’?”

“Karena aku baru sekali ini tiba di Barat?”

“Orang wajah pucat memang aneh. Seorang muda yang baru saja membunuh grizzly mengerikan dengan pisau saja, mereka sebut ‘greenhorn. Tapi, orang-orang yang berlari memanjat pohon dengan ketakutan dan berteriak-teriak dari dahan-dahan pohon boleh mengaku sebagai penjelajah ulung. Orang kulit merah lebih adil. Mereka tidak pernah menyebut pemberani sebagai pengecut dan tidak pernah menyebut pengecut sebagai pemberani.”

“Putraku berbicara benar,” ayahnya setuju, dengan bahasa Inggris yang tidak sebaik anaknya.

“Muka pucat muda ini bukan greenhorn lagi. Orang yang membunuh grizzly seharusnya disebut dengan pahlawan besar. Apalagi dia melakukannya untuk menyelamatkan orang-orang lain yang sudah memanjat pohon, seharusnya dia mendapatkan terima kasih dari mereka, bukan teguran. Howghl Ayo kembali ke padang rumput untuk mencari tahu alasan orang-orang muka pucat datang ke sini.”

Berbeda sekali rekan-rekan kulit putihku dengan orang-orang Indian yang mereka benci ini! Rasa keadilan mendorong orang-orang Indian untuk berbicara membelaku walaupun mereka bisa dengan mudah diam saja. Mereka angkat suara sekaligus mengambil risikonya. Mereka hanya bertiga dan mereka tidak tahu jumlah kami berapa. Mereka membahayakan diri mereka dengan merendahkan para penjelajah kami demi membelaku. Namun, mereka tidak tampak mencemaskan itu sama sekali. Mereka berjalan dengan tenang dan berwibawa melewati kami dan keluar dari semak-semak.

Kami mengikuti mereka. Intschu-tschuna melihat pasak-pasak pengukur, berhenti, berbalik kepadaku dan berkata, “Apa ini? Orang-orang muka pucat ingin mengukur tanah ini?”

“Ya.”

“Mengapa?”

“Membuat jalan untuk kuda api.”

Matanya kehilangan sorot yang tenang dan arif. Cahaya marah muncul dan dia bertanya dengan agak tergesa-gesa, “Kau termasuk orang-orang ini?”

“Ya.”

“Kau mengukur tanah bersama mereka?”

“Ya”

“Kau dibayar untuk ini?”

“Ya.”

Dia melirikku dengan pandangan menghina yang mencurigakan. Nada suaranya juga menghina saat dia berbicara kepada Klekih-petra, “Ajaranmu terdengar sangat baik, tapi sering tidak benar. Akhirnya aku menemukan seorang wajah pucat muda berhati pemberani dan berwajah jujur. Tapi, aku tanya apa yang dia lakukan di sini, lalu aku tahu dia datang untuk mencuri tanah kita demi uang. Wajah orang kulit putih bisa saja baik atau jahat, tapi di dalam hati mereka semua sama saja?”

Sejujurnya aku tidak menemukan kata-kata untuk membela diri. Aku merasa malu. Sang Kepala Suku benar. Perkataannya benar. Bisakah aku benar-benar bangga atas pekerjaanku? Aku, seorang pengukur yang bermoral dan takut kepada Tuhan? Insinyur dan ketiga pengukur lain sedang bersembunyi di tenda, tempat tadi mereka menonton beruang yang mengerikan lewat sebuah lubang. Saat mereka melihat kami mendekat, mereka keluar dan terkejut melihat para Indian menyertai kami. Tentu saja mereka bertanya bagaimana kami menangkal di beruang.
Rattler segera menjawab, “Kami menembaknya. Kita akan makan siang dengan cakar beruang dan makan malam dengan paha beruang.”

Ketiga tamu menatapku, untuk melihat apakah aku menerima ini. Jadi aku berkata, “Aku menyatakan akulah yang menikamnya sampai mati. Di sini ada tiga orang ahli yang membenarkan pernyataanku, tapi mari tidak mengambil keputusan berdasarkan itu saja. Ketika Hawkens, Stone, dan Parker kembali, mereka bisa memberikan penilaian. Sampai saat itu, si beruang tidak diusik.”

“Tidak sudi aku membiarkan mereka bertiga menentukan perkara ini!” geram Rattler. “Aku akan membawa anak-anak buahku kembali ke sana untuk menguliti beruang itu. Siapa pun yang berusaha menghentikan kami akan diberondong dengan peluru!” “Tutup mulutmu atau aku yang menutup mulutmu, Rattler! Aku tidak takut kepada pelurumu seperti kau takut kepada beruang itu. Kau tidak bisa kabur ke atas pohon. Silakan kembali ke tempat beruang itu, terserah! Asalkan kau menguburkan rekanmu yang mati dengan semestinya. Semestinya kau tidak membiarkan dia tergeletak seperti itu.”

“Ada yang mati?” tanya Bancroft dengan terkejut.

“Ya, Rollins,” jawab Rattler. “Orang malang itu kehilangan nyawanya akibat kebodohan seseorang. Kalau tidak, dia bisa menyelamatkan diri sendiri.”

“Bagaimana bisa? Kebodohan siapa?”

“Yah, seperti kami semua, dia melompat ke pohon. Dia bisa melompat di luar jangkauan beruang, tapi si greenhorn ini dengan bodoh berlari dan mengganggu beruang, lalu beruang itu menyerang Rollins dan menyobeknya.”

Ini keterlaluan. Aku berdiri dengan kehabisan kata dan tercengang. Dia memutarbalikkan fakta di depan mataku sendiri. Aku tak tahan lagi. Maka aku segera berbalik kepadanya dan bertanya, “Kau yakin, Mr. Rattler?”

“Ya,” dia mengangguk dengan tegas. Dia mengeluarkan revolvernya, bersiap menghadapi serangan dariku.

“Rollins bisa menyelamatkan diri dan aku menghambatnya?”

“Ya.”

“Tapi, beruang sudah menangkapnya sebelum aku datang!”

“Itu dusta!”

“Yah, ini rasakan kebenarannya!”

Kusambar revolver dari tangannya dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan kupukul dia keras sekali sehingga dia terlempar sejauh enam atau delapan langkah sebelum menghantam tanah. Dia melompat berdiri, mencabut pisaunya, menggeram seperti binatang marah. Aku menangkal tusukan pisaunya dengan tangan kiri dan menjatuhkan dia dengan tangan kanan. Dia terbaring tak sadarkan diri di kakiku.

“Uff Uff” seru Intschu-tschuna dengan terkejut, melupakan ketenangan Indiannya yang biasa karena takjub melihat serangan ini. Sesaat kemudian terlihat dia menyesali kelengahannya tadi.

“Shatterhand lagi,” kata Wheeler, salah seorang pengukur.

Aku tidak memerhatikan kata-kata itu, karena aku sedang mengawasi rekan-rekan Rattler. Mereka jelas marah, tetapi tidak seorang pun siap menghadapiku. Mereka menggerutu dan mengumpat sendiri, tetapi itu saja yang mereka lakukan.

“Sudah waktunya kau berunding dengan Rattler, Mr. Bancroft,” kataku kepada Sang Insinyur Kepala. “Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya, tapi dia terus-menerus mencari masalah denganku. Aku khawatir akan terjadi pembunuhan di perkemahan ini. Beri dia upahnya dan suruh dia pergi. Kalau kau tidak mau, aku saja yang pergi.”

“Aduh, Sir, perkara ini tidak seburuk itu!”

“Oh ya, memang buruk. Ini pisau dan pistolnya. Jangan kembalikan kepadanya sampai dia tenang. Aku tegaskan kepadamu, aku sayang nyawaku dan kalau dia menggangguku lagi dengan senjata, akan kubunuh dia. Silakan sebut aku greenhorn, tapi aku tahu hukum di alam liar. Kalau ada orang mengancam nyawaku, aku berhak membunuh orang itu di tempat.”

Ini berlaku bagi semua “penjelajah” sebagaimana halnya bagi Rattler, dan tidak seorang pun di antara mereka angkat suara. Sekarang, Kepala Suku Intschu-tschuna berbalik kepada Sang Insinyur Kepala, “Aku dengar kau adalah muka pucat yang memimpin orang-orang ini. Itu benar?”

“Ya,” katanya.

“Berarti aku harus berbicara denganmu.”

“Tentang apa?”

“Kau akan tahu. Kau akan berdiri, tapi orang-orang lain harus duduk saat mereka bertemu bersama.”

“Kau akan menjadi tamu kami?”

“Tidak, itu mustahil. Bagaimana bisa aku menjadi tamu bagimu, padahal kau berada di tanahku, di hutanku, lembahku, padangku? Biarkan orang-orang kulit putih duduk. Siapa lagi wajah pucat yang sedang mendekat itu?”

“Mereka bersama kami.”

“Biarkan mereka duduk bersama kita juga.”

Sam, Dick, dan Will sedang kembali dari perjalanan mereka. Sebagai penjelajah berpengalaman, mereka tidak terkejut melihat ada Indian bersama kami, tetapi mereka cemas ketika mendengar siapa kedua Indian itu.

“Kalau orang yang satu lagi siapa?” Sam bertanya kepadaku.

“Namanya Klekih-petra. Kata Rattler, dia kepala sekolah.”

“Klekih-petra sang kepala sekolah Indian? Oh, aku pernah mendengar tentang dia, kalau aku tidak keliru. Dia orang yang misterius, orang kulit putih yang sudah cukup lama hidup bersama Apache. Sepertinya dia semacam misionaris, mungkin pastor. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin belajar darinya, hihihi!”

“Kalau dia mau!”

“Kau pikir dia akan menggigit jariku? Telah terjadi sesuatu?”

“Ya”

“Apa.”

“Sesuatu yang penting.”

“Katakan!”

“Aku melakukan sesuatu yang kau peringatkan kepadaku kemarin.”

“Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku memperingatkanmu tentang banyak hal.”

“Beruang grizzly.”

“Bagaimana, di mana, apaaa? Beruang abu-abu, bukan?”

“Kira-kira begitu!”

“Di mana? Kau bercanda.”

“Sama sekali tidak. Di situ di antara pepohonan tepat di balik semak-semak. Dia membawa bison jantan besar ke sana.”

“Sungguh? Sungguh? Yah, mampus aku! Semuanya pasti terjadi selagi aku tidak ada! Ada orang yang mati?”

“Satu orang. Rollins.”

“Kalau kau? Apa yang kau lakukan? Menghindar, semoga?”

“Ya.”

“Bagus sekali! Tapi, aku sulit memercayainya.”

“Percayalah. Aku menghindar cukup jauh sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa kepadaku, tapi cukup dekat sehingga aku bisa menusukkan pisauku ke antara tulang iganya empat kali.”

“Dasar gila! Kau kejar dia dengan pisau?”

“Ya. Waktu itu aku tidak membawa senapan.”

“Bukan main! Benar-benar greenhorn sejati. Membawa senapan pembunuh beruangnya jauh-jauh ke sini, tapi begitu seekor beruang muncul, dia malah menembak dengan pisau alih-alih senapannya. Kau percaya? Apa yang terjadi sesudah itu?”

“Rattler mengklaim dia yang membunuhnya, bukan aku.”

Aku menggambarkan perkembangan keadaan tadi, juga perkelahian antara Rattler dan aku.

“Ya ampun, aku tidak percaya betapa tololnya kau!” Sam berseru. “Kau belum pernah melihat grizzly, tapi malah berlari mengejarnya seolah-olah itu anjing pudel! Aku harus melihat binatang itu sekarang juga. Ayo, Dick dan Will. Kalian harus melihat kegilaan terbaru greenhorn ini.” Dia hendak pergi, tapi saat itu Rattler datang, dan Sam berbalik kepadanya, “Dengar, Mr. Rattler, ada sesuatu yang perlu aku katakan kepadamu. Kau berselisih dengan kawan mudaku lagi. Kalau itu terjadi satu kali lagi, aku pastikan itu kali terakhir. Kesabaranku sudah habis. Sudah jelas?”

Sam pergi bersama Stone dan Parker. Rattler cemberut dan melirikku dengan pandangan mematikan. Dia diam saja, tetapi terlihat seperti bom yang bisa meledak kapan saja.

Kedua orang Indian dan Klekih-petra duduk di tanah. Sang Insinyur Kepala duduk di seberang mereka, tetapi mereka belum mulai berunding. Mereka menunggu Sam kembali untuk mengetahui keputusan apa yang diambilnya.

Sam kembali dalam waktu singkat dan dari jauh dia berseru, “Idiot sekali orang yang menembak grizzly lalu kabur. Kalau kau tidak akan bisa melawan grizzly, jangan tembak dia. Tinggalkan saja dia, dia tidak akan menyakitimu. Rollins terlihat parah sekali! Dan siapa yang membunuh beruang itu?”

“Aku,” Rattler segera berkata.

“Kau? Caranya?”

“Dengan peluru dari senapanku.”

“Yah, itu memang benar.”

“Sudah kubilang!”

“Ya, peluru senapan bisa membunuh beruang itu.”

“Yah, itu peluruku. Kalian dengar itu? Sam Hawkens mendukungku,” Rattler berseru dengan penuh kemenangan.

“Ya, benar. Pelurumu melewati kepalanya dan menyerempet ujung telinganya. Tentu saja, grizzly langsung mati kalau ujung telinganya terkena tembakan, hihihi! Kalau benar bahwa beberapa orang di antara kalian menembak, kalian pasti ketakutan sekali sehingga semuanya meleset. Tidak ada jejak peluru senapan lain selain peluru yang memotong telinganya. Tapi, ada luka pistol di kedua matanya, dan empat luka pisau yang telak, dua di dekat jantung dan dua tepat menikam jantung. Siapa yang menusuknya?”

“Aku,” jawabku.

“Cuma kau?”

“Tidak ada orang lain.”

“Yah, kalau begitu, beruangnya milikmu. Sesungguhnya, karena kita bekerja sama, kulitnya milikmu dan dagingnya untuk semua orang, tapi kau berhak menentukan bagaimana cara kita membaginya. Begitulah aturan di Barat. Bagaimana menurutmu, Mr. Rattler?”

“Semoga setan merenggut jiwamu!”

Dia memuntahkan beberapa umpatan yang lebih jahat, lalu pergi ke karavan tempat tong brendi disimpan. Aku melihat dia mengisi gelas besar dengan brendi, dan aku tahu dia akan minum sampai dia tidak sanggup minum lagi.

Iklan