karl-may

Saat pagi tiba, kami memindahkan perkemahan kami ke bagian lembah yang tinggi. Hawkens, Stone, dan Parker tidak ikut serta. Hawkens ingin menjinakkan “Mary”, kudanya yang baru, dan dua orang lainnya menemani dia pergi ke sepetak padang prairi tempat kami menangkap bagal itu kemarin. Tempat itu cukup leluasa untuk rencana Sam.

Kami para pengukur sibuk memasang pasak-pasak. Sebagian anak buah Rattler membantu melakukan ini sementara Rattler sendiri bermalas-malasan bersama para pemalas lain. Kami sudah cukup dekat dengan tempat aku menembak dua bison jantan kemarin. Aku terkejut menyadari si bison tua tidak di sana lagi. Kami mendatangi tempatnya dan melihat bahwa si bison jantan telah menghilang ke dalam semak-semak. Jejak rumput terinjak sekitar selebar dua setengah meter menunjukkan ke mana perginya binatang itu.

“Ohoi Apa yang terjadi di sini?’” seru Rattler. “Sewaktu kita datang ke sini untuk mengambil daging, aku sudah memeriksa kedua bison jantan itu dengan teliti. Mereka benar-benar mati, tapi bison yang ini pasti masih sedikit bernyawa.”

“Kau benar-benar serius?” aku bertanya kepadanya.

“Ya, sungguh. Atau menurutmu bison mati bisa berpindah?”

“Apakah dia harus berpindah sendiri? Mungkin dia dipindahkan”

“Oh, yeah? Siapa yang menggerakkannya?”

“Orang Indian, misalnya. Sedikit lebih ke utara, kami menemukan jejak kaki seorang Indian.”

“Nah! Greenhorn yang pintar sekali kau ini. Kalau orang Indian memindahkannya, kau pikir dari mana mereka datang?’

“Bisa dari mana saja.”

“Benar sekali! Mungkin mereka datang dari langit! Karena kalau tidak, kita pasti sudah melihat jejak mereka. Tidak, bison itu pasti masih sedikit bernyawa. Dia pasti berhasil menyeret tubuhnya ke dalam semak-semak. Kemungkinan besar dia sudah mati di sana. Aku akan memeriksanya.”

Dia dan anak-anak buahnya mengikuti jejak itu ke dalam semak-semak. Mungkin dia kira aku akan ikut, tetapi aku tidak mau. Aku tidak suka cara dia berbicara kepadaku dengan nada mengejek, dan aku harus bekerja. Lagi pula, aku tidak peduli di mana bangkai banteng itu. Aku kembali ke pekerjaanku, tetapi aku belum sampai di pasak-pasak kami saat teriak ketakutan membahana dari semak-semak. Ada dua atau tiga tembakan, kemudian aku mendengar Rattler berteriak.

“Naik ke pohon, cepat, atau kita mati! Dia tidak bisa memanjat pohon!”

Siapakah maksudnya, yang tidak bisa memanjat pohon? Salah seorang anak buahnya berlari keluar dari semak-semak dengan kecepatan yang hanya bisa dilakukan saat orang sedang takut mati.

“Apa yang terjadi, ada apa?” aku berseru kepadanya.

“Beruang besar, grizzly” dia tersengal saat berlari melewatiku.

Pada saat bersamaan, seseorang memekik panik, “Tolong aku, tolong aku! Dia mencengkeramku!”

Jerit semacam itu hanya bisa dibuat oleh seseorang saat nyawanya berada di ujung tanduk. Aku tahu dia pasti berada dalam bahaya genting, dia harus ditolong. Namun, bagaimana? Senapanku kutinggal di dekat tenda, karena senjata itu menghambat pekerjaanku. Ini benar-benar bukan kecerobohanku karena seharusnya pengukur dilindungi penjelajah. Kalau aku berlari kembali ke tenda, orang itu pasti dicabik oleh grizzly sebelum aku sempat kembali. Maka, aku harus berbuat sesuatu dengan senjata seadanya, cuma pisau dan dua revolver di ikat pinggangku.

Apalah arti senjata-senjataku bagi seekor grizzly. Grizzly bersaudara dekat dengan beruang gua yang sudah punah dan lebih menyerupai makhluk pada masa prasejarah daripada masa kini. Grizzly bisa sepanjang hampir tiga meter, dan aku pernah melihat grizzly berbobot ratusan kilogram. Grizzly sangat kuat. Rahangnya bisa dengan mudah membawa seekor rusa, atau anak kuda, atau sapi betina. Manusia hanya bisa lolos dari beruang grizzly jika dia menunggang kuda yang gigih. Kalau tidak, si beruang akan mengalahkan larinya. Beruang grizzly kuat, tak kenal takut, dan berdaya tahan tinggi, jadi membunuh beruang grizzly dipandang sebagai perbuatan yang luar biasa berani oleh Indian.

Jadi, aku melompat ke dalam semak-semak. Jejak itu mengarah ke pinggir hutan, tempat si beruang telah menyeret bison bunuhanku. Dia datang dari hutan ini. Jejaknya tidak terlihat karena tertutup oleh bekas bison yang diseret menimpa jejaknya.

Kemudian tampaklah pemandangan mengerikan. Di belakangku, para pengukur berteriak-teriak. Mereka sudah berlari kembali ke tenda mereka untuk mengambil senjata. Di depanku, para penjelajah menjerit-jerit. Sementara itu, di tengah-tengah, salah seorang di antara mereka yang ditangkap beruang sedang menjerit ketakutan.

Semakin aku melangkah, semakin aku dekat. Sekarang geraman beruang itu sendiri pun terdengar. Yah, tidak persis geraman. Grizzly berbeda dari beruang-beruang lain sehingga tidak menggeram seperti beruang. Saat marah atau kesakitan, dia membuat suara khas yang mendengus dan mendesis dengan cepat.

Aku melompat ke lokasi. Di depanku tergeletak bangkai bison, dagingnya sudah disobek. Di kiri dan kanan si beruang, para penjelajah telah kabur ke pepohonan yang lebih aman dibandingkan dengan tempat ini karena grizzly hampir tidak pernah terlihat memanjat pohon. Mereka memanggili aku.

Tepat di depan, di balik sisa-sisa bangkai bison, salah seorang penjelajah tadi mencoba memanjat pohon, tetapi tertangkap oleh beruang. Dia mati-matian berpegangan kepada dahan pohon sementara si grizzly berdiri sambil mencengkeram paha dan perut bawahnya dengan cakar. Laki-laki itu sudah ditakdirkan untuk mati, tanpa harapan bisa diselamatkan. Aku tidak bisa menolongnya, dan tidak seorang pun bisa menyalahkan aku jika aku berbalik dan lari. Namun, adegan itu memberiku dorongan yang tak tertahankan.

Kusambar sebatang senapan yang jatuh ke tanah, tetapi senapan itu kosong. Aku memegang larasnya, berlari kepada si beruang, dan mengayunkan batangnya dengan sekuat tenaga untuk memukul tengkorak si beruang dengan popor senapan. Patut ditertawakan! Senapan itu pecah seperti kaca di tanganku. Tengkorak beruang kebal terhadap kapak sekalipun.

Bagaimana pun, aku memang berhasil mengalihkan perhatian si grizzly dari korbannya. Dia menoleh kepadaku, tidak dengan cepat seperti binatang famili kucing atau anjing, tetapi dengan perlahan seperti heran dengan kebodohan tanganku. Saat menatapku lewat matanya yang keji, dia tampak menimbang apakah lebih baik dia kembali mengurus mangsanya yang sekarang atau aku.

Jeda ini menyelamatkan nyawaku, memberiku waktu untuk melakukan satu-satunya tindakan yang bisa menolongku dalam situasi seperti itu. Aku menarik kedua pistolku dan mengangkatnya kepada si beruang. Kepalanya berpaling kepadaku walaupun seluruh tubuhnya bergeming. Aku menembaknya satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali tepat di matanya, persis seperti caraku menembak mata si bison jantan. Aku melakukan ini secepat mungkin, lalu melompat ke samping. Aku mengeluarkan pisau Bowie dan menunggu untuk melihat apa yang akan dilakukan si beruang.

Kalau aku tetap di tempatku berada saat menembak, aku harus menebusnya dengan nyawaku. Binatang besar itu berbalik dari pohon dan melempar tubuhnya ke tempat aku berada sesaat yang lalu. Namun, aku tidak di sana, dan sekarang si beruang mulai mencari-cariku dengan menggeram-geramkan napasnya yang beracun dan mengayun-ayunkan kedua cakarnya dengan marah. Dia menebah-nebah seperti orang gila, berputar dengan empat kakinya, mencakari tanah, memukul-mukul ke segala arah dengan kedua cakar depannya, dan melompat ke sana-sini untuk mencariku. Untunglah dia tidak bisa melacakku karena bidikanku jitu. Mungkin dia bisa menemukanku lewat bauku, tetapi dia sedang murka sekali sehingga dia tidak bisa menggunakan indra dan instingnya.

Akhirnya, dia mulai mengalihkan perhatiannya kepada luka-lukanya. Dia duduk di tanah, tubuh atasnya tegak, dan memegangi matanya sambil mendengus dan menggeram. Dalam sekejap aku berada di sebelahnya, lalu kutusukkan pisauku dua kali dalam-dalam di antara tulang-tulang iganya. Dengan gesit dia berusaha meraihku, tetapi aku sudah menghindar. Tusukanku meleset dari jantung, jadi si beruang mulai mencariku lagi dengan dua kali lebih gigih.

Ini berlangsung selama sepuluh menit lagi. Si beruang kehilangan banyak darah dan mulai tampak lemah. Lalu, dia duduk lagi dan memukul-mukul matanya. Ini menjadi kesempatanku untuk menikam dia dua kali lagi dengan cepat, dan kali ini aku mengenai sasaran. Saat aku melompat ke samping, si beruang perlahan turun ke posisi merangkak. Dia tersandung beberapa langkah ke depan, lalu ke samping, lalu kebelakang, sambil menggeram terus-menerus. Dia berusaha berdiri lagi, tetapi tidak cukup kuat sehingga dia malah terjatuh dan terhuyung-huyung berusaha kembali berdiri dengan percuma. Akhirnya, beruang itu merenungkan badan dan berbaring bergeming.

“Puji Tuhan!” seru Rattler dari pohonnya. “Binatang itu mati. Tadi berbahaya sekali.”

“Aku tidak mengerti bagaimana tadi berbahaya sekali bagimu,” jawabku. “Kau berhasil mendapatkan tempat yang cukup aman. Kau bisa turun sekarang.”

“Tidak, belum. Sebaiknya kau periksa dulu, untuk memastikan si grizzly sudah mati.”

“Sudah mati.”

“Jangan yakin dulu. Kau tidak tahu seberapa uletnya binatang seperti itu bertahan hidup. Sebaiknya kau periksa.”

“Kuperiksa untukmu? Kalau kau mau tahu dia sudah mati atau tidak, periksa saja sendiri. Lagi pula, kau kan penjelajah ternama. Aku cuma greenhorn.”

Aku berpaling kepada rekannya yang masih bergantung di dahan pohon. Dia sudah berhenti menjerit dan tidak bergerak lagi. Wajahnya mengerut dan matanya yang kosong menatapku. Dagingnya sudah koyak dari pahanya hingga tulang dan isi perutnya terjuntai dari tubuhnya. Aku menahan perasaan ngeri dan berseru kepadanya.

“Lepaskan. Sini aku akan menurunkanmu.”

Dia tidak menjawab, juga tidak ada gerakan sedikit pun yang menandakan bahwa dia memahami ucapanku. Aku memanggil rekan-rekannya agar turun dan membantuku. Para “penjelajah” terkenal ini tidak mau bergerak sampai aku sudah mencolok si beruang beberapa
kali untuk menunjukkan kepada mereka bahwa binatang itu sudah mati. Setelah itu barulah mereka mau turun untuk membantuku menurunkan rekan mereka yang terluka parah. Sulit melakukannya karena lengan laki-laki malang itu memeluk dahan pohon erat sekali sehingga kami perlu memaksanya agar terlepas.

Rekan-rekannya sama sekali tidak terlihat berduka atas nasibnya yang mengerikan. Mereka berpaling darinya dan menghadap si beruang, lalu pemimpin mereka berkata, “Sekarang keadaan berbalik. Sebelumnya, si beruang ingin memakan kita, dan sekarang kita akan memakannya. Cepat, semuanya, kuliti dia agar kita bisa mendapatkan paha dan cakarnya!”

Dia mengeluarkan pisaunya dan bersiap menguliti beruang, tetapi aku berkata, “Lebih terhormat jika kau menggunakan pisaumu kepadanya sewaktu dia hidup. Sekarang sudah terlambat. Tinggalkan dia!”

“Apa?” dia berseru. “Kau mau menghalangiku memotong daging panggangku?”

“Benar, Mr. Rattler.”

“Apa hakmu?”

“Hakku atas beruang ini tak terbantahkan. Aku membunuhnya.”

“Itu tidak benar. Kau tidak mengaku-ngaku bahwa seorang greenhorn berpisau bisa membunuh seekor grizzly, bukan? Kami sudah menembaknya begitu kami menemukannya.”

“Kemudian kalian berlari memanjat pohon. Ya, itu benar sekali.”

“Tapi, peluru kami yang membunuhnya. Itulah yang pada akhirnya membunuh dia, bukan tusukan pada tulang iga yang kau lakukan kepadanya saat dia setengah mati. Beruang ini milik kami, jadi kami akan berbuat semau kami dengan dia Mengerti?

Dia ingin mulai menguliti beruang, tetapi aku memperingatkannya, “Berhenti sekarang juga, Mr. Rattler. Kalau tidak, aku akan memberimu pelajaran agar kau mendengarkan aku. Mengerti?”

Dia tidak menghiraukan aku. Sambil berlutut, dia menusuk bulu si beruang dengan pisau. Aku menangkap pinggulnya dari belakang, mengangkatnya, dan melemparnya ke pohon terdekat. Dalam keadaan marah itu, aku tidak peduli apakah setiap tulang Rattle patah. Selagi dia masih terlempar di udara, kukeluarkan pistol keduaku sebagal persiapan untuk serangan balasan. Dia berdiri, melotot kepadaku dengan mata penuh amarah, mengeluarkan pisaunya dan berteriak, “Kau akan membayar ini! Kau sudah memukulku satu kali sebelumnya, dan aku tidak akan membiarkan tanganmu menyentuhku untuk kali ketiga.”

Dia mulai mendekatiku. Aku mengacungkan pistolku kepadanya dan mengancam. “Selangkah lagi, aku kirim peluru ini menembus otakmu! Buang pisau itu! Kutembak kau dalam hitungan ‘tiga’ kalau kau masih memegangnya. Satu, dua,….”

Dia masih menggenggam pisau itu erat-erat, dan aku benar-benar hendak menembaknya. Kalau bukan kepalanya, aku akan menembakkan dua atau tiga peluru ke tangannya. Tembakan itu cukup untuk membuat dia segan kepadaku. Untunglah akhirnya tidak seperti itu, karena pada saat kritis seseorang berseru dengan keras.

“Gents, sabar! Ada alasan apa sehingga sesama kulit putih harus saling mencekik? Berhenti!”

Iklan