karl-may

“Duduk di pelanamu kuat-kuat dan hentikan kudamu ketika laso menegang sehingga mustang jatuh akibat hentakan” kata Sam Hawkens. Keesokan paginya, aku berpura-pura bersiap untuk bekerja. Sam mendatangiku dan berkata, “Tinggalkan peralatanmu di sini, Sir, ada kegiatan yang lebih menarik.” “Apa?” “Nanti kau akan tahu. Siapkan kudamu dan ayo pergi.” “Berkuda? Bekerja lebih penting daripada itu.” “Pshauw! Kau sudah cukup banyak bekerja. Lagi pula, aku bertaruh kita sudah kembali nanti siang. Kau bisa menghabiskan sepanjang siang dan sore hari untuk mengukur dan menghitung sesukamu.”

Aku memberi tahu Bancroft perihal tujuan kami, lalu kami pergi. Sam sangat merahasiakan niatnya, dan aku tidak bertanya karena aku sudah tahu rencananya. Kami berkuda melalui daerah yang telah kami ukur hingga kami mencapai petak padang prairi yang ditunjuk oleh Sam kemarin. Mungkin lebarnya tiga kilometer dan panjangnya dua kali daripada itu. Bukit-bukit berhutan lebat mengelilinginya. Sebuah sungai berukuran lumayan besar mengalir di tengahnya. Sungai itu memberikan cukup kelembapan untuk rumput tumbuh dengan lebat. Di ujung utara, kita bisa memasuki padang prairi dari antara dua gunung. Di ujung selatan ada padang prairi yang berbatasan dengan lembah yang terus terentang ke sini.

Begitu kami mencapai padang prairi, Sam menarik kudanya agar berhenti dan mengukur dataran itu. Lalu, kami melanjutkan berkuda ke utara dengan menyusuri sungai. Mendadak Sam berseru, menarik kekang kudanya (yang sesungguhnya kuda pinjaman), turun melompat ke sungai, dan menghampiri tempat rumput telah diinjak. Dia menyelidiki daerah itu, lalu kembali dan naik ke pelana lagi. Dia meneruskan berkuda, tetapi tidak menuju utara seperti sebelumnya. Dia berbelok dengan tajam dan kami tiba di tepi barat padang prairi dalam waktu singkat. Di sini dia turun lagi, lalu mengikatkan kudanya ke sebuah pohon, dan membiarkan binatang itu merumput. Sejak memeriksa jejak di rumput tadi, dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi wajahnya yang berjanggut memancarkan kepuasan bagaikan matahari menyinari hutan. Sekarang dia berpaling kepadaku.

“Turun dan ikat kudamu baik-baik, Sir. Kita akan menunggu di sini.”

“Mengapa mengikatnya baik-baik?” tanyaku, walaupun aku tahu persis alasannya.

“Karena kau bisa kehilangan dia dengan mudah kalau tidak begitu. Aku sudah sering melihat kuda berlari kabur dalam keadaan ini.”

“Keadaan apa?”

“Kau tidak bisa menebak?”

“Mungkin.”

“Coba.”

“Mustang?”

“Mengapa kau berkata begitu?” tanyanya sambil menatapku dengan agak takjub.

“Aku pernah membaca tentang itu.”

“Tentang apa?”

“Bahwa kuda jinak, kalau tidak diikat baik-baik, cenderung berlari kabur untuk bergabung dengan mustang liar.”

“Semoga setan merenggut jiwamu! Kau sudah membaca banyak sekali sehingga hampir muntah. Karena itulah aku suka orang yang tidak membaca sama sekali!”

“Kau ingin membuatku terkejut?”

“Tentu”

“Dengan mustang?”

“Ya.”

“Itu sulit. Agar terkejut, kita tidak boleh diingatkan lebih dulu. Tapi, tadi kau terpaksa memberitahuku apa yang akan terjadi sebelum mustang tiba.”

“Aku rasa kau benar. Tapi, mustang sudah ada di sini.”

“Itu jejak mereka sebelumnya?”

“Ya, mereka datang kemarin. Itu petugas terdepan, bisa disebut dengan ‘pengintai’. Harus aku akui, binatang ini cerdas. Mereka selalu mengirim kelompok kecil dulu ke depan dan ke samping. Mereka punya perwira, seperti di militer, dan pemimpinnya selalu kuda jantan yang berpengalaman, kuat, dan pemberani. Kalau mereka sedang merumput atau sedang bergerak, kuda-kuda jantan selalu berada di garis terluar kawanan. Kuda-kuda betina ada di dalam lingkaran itu, dan kuda-kuda muda ada tepat di tengah. Dengan cara begitu, kuda-kuda jantan bisa melindungi kuda-kuda betina dan anak-anak. Aku sudah berkali-kali menunjukkan cara melaso mustang kepadamu. Sewaktu itu kau memerhatikan?”

“Tentu.”

“Kau mau menangkap seekor?”

“Ya.”

“Yah, kau akan mendapatkan kesempatanmu pagi ini, Sir.”

“Terima kasih! Tapi, aku tidak mau menggunakannya.”

“Tidak? All devils! Mengapa tidak?”

“Aku tidak perlu kuda.”

“Seorang penjelajah tidak bertanya apakah dia mempunyai kuda atau tidak.”

“Tidak seperti itu aku membayangkan perilaku penjelajah yang baik.”

“ Oho, menurutmu apa yang harus dilakukan?”

“Kemarin, kau menjelaskan kepadaku tentang pemburu membabi-buta, tentang orang-orang kulit putih yang membunuh banyak bison walaupun mereka tidak memerlukan dagingnya. Menurutku ini dosa terhadap binatang sekaligus orang kulit merah yang memerlukan binatang sebagai makanannya. Kau sepakat?”

“Tentu.”

“Yah, itu sama halnya dengan kuda. Aku tidak mau merampas kebebasan dari mustang mengagumkan ini kecuali aku memerlukan kuda.”

“Benar sekali, Sir, bagus sekali. Setiap manusia dan orang Kristen harus berbicara dan bertindak seperti perkataanmu. Tapi, kata siapa kau akan merampas kebebasan seekor mustang? Kau sudah belajar melaso, dan aku ingin menguji apakah kau sudah cukup pandai. Mengerti?”

“Itu berbeda. Kalau begitu, aku ikut.”

“Sempurna. Tapi, bagiku, ini sungguhan. Aku perlu kuda, dan aku akan menangkap seekor. Aku sudah bilang kepadamu, dan aku ingatkan lagi sekarang, duduk di pelanamu kuat-kuat dan hentikan kudamu ketika laso menegang sehingga mustang jatuh akibat sentakan. Kalau kau tidak melakukan itu, kau akan ditarik, mustang akan berlari menarik kudamu dengan laso. Lantas kau tidak punya kuda lagi, dan kau menjadi prajurit pejalan kaki seperti aku sekarang.” Dia hendak meneruskan penjelasannya, tetapi dibatalkan. Dia malah menunjuk ke arah dua gunung di ujung utara padang prairi. Seekor kuda muncul di sana, sendirian. Kuda itu berjalan perlahan dan tidak merumput, menoleh ke satu sisi dan ke sisi lain, mengendus udara.

“Lihat itu?” bisik Sam. Karena bersemangat, dia berbicara dengan suara pelan walaupun mustahil kuda itu mendengar kami dengan jarak sejauh ini. “Bukankah aku sudah bilang mereka akan datang? Inilah mata-mata yang dikirim untuk memeriksa apakah daerah ini aman. Kuda cerdik! Cara dia mengerling dan mencium bau ke segala arah! Dia tidak akan menangkap bau kita yang terbawa angin karena kita berlawanan arah dengan angin. Karena itulah aku memilih tempat ini.” Sekarang kuda itu mulai berderap. Dia berlari maju, lalu ke kanan, lalu ke kiri, dan akhirnya berbalik arah dan menghilang ke tempat dia datang tadi.

“Kau melihat kelakuannya tadi?” tanya Sam. “Dia cerdik, menggunakan setiap semak-semak yang ada untuk menutup dirinya agar tidak dilacak! Seorang pengintai Indian belum tentu bisa mengintai dengan lebih baik daripada kuda itu.”

“Kau benar. Kuda tadi benar-benar hebat.”

“Sekarang dia kembali untuk melapor kepada jenderalnya yang berkaki empat bahwa keadaan aman. Tapi, dia keliru, hihihi! Aku bertaruh paling lama mereka akan ada di sini sepuluh menit lagi, lihat saja. Kau tahu cara kita akan melakukannya?”

“Bagaimana?”

“Kau akan pergi dengan cepat ke ujung lain padang prairi dan menunggu di sana. Aku akan berkuda ke tempat kawanan akan masuk, lalu aku bersembunyi di hutan. Saat mereka datang, aku akan membiarkan mereka berlari menuju tempatmu lalu kukejar mereka. Mereka akan berlari ke arahmu. Saat kau menampakkan diri, mereka akan berbelok dan berlari balik. Kita akan mendesak mereka maju dan mundur di antara kita berdua sampai kita memilih dua kuda terbaik. Kita akan menangkap keduanya. Aku akan memilih kuda yang lebih baik di antara kedua tangkapan kita lalu kita lepaskan yang satu lagi. Setuju?”

“Mengapa bertanya? Aku tidak tahu apa-apa tentang menangkap kuda, sedangkan kau ahlinya. Aku menurut saja apa pun katamu.”

“Yah, kau benar. Aku sudah menangkap beberapa mustang liar. Seperti katamu, bahwa aku ‘ahli’ itu tidak sepenuhnya salah. Oke, segera buktikan, agar kau sudah siap ketika waktunya datang.”

Kami kembali ke punggung kuda kami dan berkuda ke arah berlawanan, dia ke utara sedangkan aku ke selatan, tempat kami pertama muncul di padang prairi. Senapan pembunuh beruangku yang berat ini menjadi penghambat, apalagi kami akan berkuda dengan kencang, jadi dengan senang hati aku mau menaruhnya di suatu tempat. Namun, aku pernah membaca dan mendengar bahwa seorang penjelajah yang waspada tidak berpisah dari senapannya kecuali dia sepenuhnya yakin tidak ada yang perlu ditakutkan di sekitarnya dan dia tidak akan memerlukan senjata itu. Sayangnya, Indian atau binatang liar bisa muncul kapan saja di sini, jadi aku memastikan “senapan besarku” tersimpan di pelanaku agar tidak menghalangi gerakanku. Sekarang adalah masa tegang menanti kuda-kuda muncul. Aku bersembunyi di antara pepohonan di pinggir padang prairi, mengikat salah satu ujung lasoku kepada tanduk pelanaku, dan membuat simpul longgar untuk ditaruh di depanku agar mudah diambil.

Ujung lain dataran berumput ini sangat jauh dariku sehingga aku tidak bisa melihat kuda-kuda mustang itu saat mereka datang. Baru ketika Sam mendesak mereka ke arahku, aku bisa melihat mereka. Tidak sampai lima belas menit kemudian aku melihat banyak titik hitam yang segera menjadi lebih besar saat kuda-kuda itu berlari mendaki lembah. Pertama-tama mereka terlihat sebesar burung pipit, lalu sebesar kucing, lalu sebesar anjing, lalu sebesar anak sapi, lalu akhirnya mereka cukup dekat untuk terlihat sesuai ukuran asli. Kawanan kuda mustang berlari ke arahku dengan kecepatan penuh.

Betapa indahnya hewan-hewan itu! Surai mereka mengombak di sekeliling leher mereka, ekor mereka terbang tertiup angin. Paling banyak ada tiga ratus ekor, tetapi tanah seperti bergetar akibat derap mereka. Seekor kuda jantan putih memimpin jalan. Sosoknya memukau dan membuat kita ingin menangkapnya, tetapi tidak ada penjelajah yang akan berpikir untuk menunggang kuda putih. Kuda mencolok seperti itu akan membuat musuh bisa menemukan kita dari jauh.

Sudah tiba waktunya bagiku menampakkan diri kepada kuda-kuda mustang. Aku keluar dari bawah pepohonan dan memasuki tanah terbuka. Pengaruhnya langsung terlihat. Kuda mustang putih melompat ke belakang seolah-olah tertembak oleh peluru. Kawanannya berhenti dan meringkik, mendengus dengan keras dan panik, lalu seluruh kelompok mereka berbalik. Si kuda putih segera berada di posisi depan ujung jauh kawanan dan memimpin binatang-binatang lain ke arah kedatangan mereka tadi.

Aku mengikuti pelan-pelan. Aku tidak tergesa-gesa, karena aku yakin Sam Hawkens akan mendesak mereka kembali kepadaku. Sementara itu, aku berusaha mencari sesuatu yang baru saja menangkap perhatianku. Walaupun aku baru mengamati kuda-kuda ini sebentar, terlihat olehku bahwa salah seekor binatang itu adalah bagal, campuran kuda dengan keledai. Bisa saja aku salah, tentu saja. Aku berencana melihat dengan lebih hati-hati untuk kali kedua. Si bagal ada di deret depan, tepat di belakang si kuda putih. Itu berarti si bagal tidak hanya diterima di kalangan kuda, tetapi bahkan tampak menempati jabatan penting di antara mereka.

Sebentar kemudian, kawanan itu berlari ke arahku lagi, kemudian berbalik kembali begitu melihatku. Aku melihat bahwa kesan pertamaku benar. Ada bagal di antara mereka, seekor bagal cokelat muda dengan loreng-loreng gelap di punggungnya.

Aku terpesona. Walaupun kepalanya besar dan telinganya panjang, binatang itu tetap cantik. Bagal sedikit lebih perlu diperhatikan daripada kuda. Pijakan mereka lebih kuat dan mereka lebih tidak takut melihat jurang. Keunggulan ini ada di satu sisi. Di sisi lain, bagal sangat keras kepala. Aku pernah melihat bagal yang lebih mau dihajar sampai mati daripada maju selangkah pun, bahkan saat mereka tidak diberi beban atau disuruh menapaki tanah yang sulit. Mereka bergeming.

Si bagal menunjukkan semangat tinggi. Matanya tampak lebih cemerlang dan lebih cerdik daripada kuda-kuda di kawanannya, dan aku bertekad untuk menangkapnya. Dia pasti terlepas dan bergabung dengan kawanan ini ketika pemiliknya memburu kuda-kuda liar ini. Sam mendesak kawanan itu ke arahku lagi. Kami sudah cukup berdekatan sehingga aku bisa melihat Sam. Kawanan kuda tidak bisa maju atau mundur, jadi mereka terpaksa berusaha melarikan diri ke samping. Kami mengikuti mereka. Kawanan itu terbelah, dan aku melihat si bagal tetap di kelompok utama. Dia berlari di samping kuda putih. Si bagal itu binatang yang luar biasa gesit dan gigih. Aku memutuskan untuk tetap mengejar kelompok utama, dan Sam tampak telah membuat keputusan yang sama, “Maju ke tengah! Kau ke kiri, aku ke kanan!” dia berteriak.

Kami memacu kuda kami hingga kami tidak hanya mengejar kuda-kuda mustang, tetapi juga bisa mencegat mereka sebelum mencapai hutan. Mereka menjauh dari pepohonan. Mereka malah berbalik menuju kami dan berusaha berlari di antara kami. Untuk mencegah ini, kami berpacu saling mendekat, membuat kuda-kuda menyebar ke segala arah seperti sekerumun ayam menghindari elang. Si mustang putih dan si bagal berlari ke antara kami, terpisah dari kuda-kuda lain, lalu kami berlari mengejar mereka.

Sam berseru memanggilku saat dia mengayunkan laso ke atas kepalanya, “Greenhorn lagi! Kau tidak akan pernah berubah!”

“Mengapa?”

“Karena kau memilih kuda putih, dan cuma greenhorn yang melakukan itu, hihihi!”

Aku menjawabnya, tetapi dia tertawa terlalu keras untuk mendengarku. Rupanya Sam mengira aku mengincar si mustang putih. Biarkan saja! Aku meninggalkan si bagal kepadanya dan menuju ke samping, tempat kuda-kuda mustang sekarang berputar-putar dengan gelisah, mendengus dan meringkik.

Sam cukup dekat dengan bagal untuk melempar lasonya. Lemparannya jitu dan simpul melingkari leher si bagal. Sekarang Sam harus berhenti dan membuat kudanya bergerak ke belakang, seperti yang telah diajarkannya dengan sangat hati-hati kepadaku, untuk menahan
sentakan saat si bagal mencapai ujung tali dan tali itu menjadi tegang. Dia berhasil melakukannya, tetapi kurang cepat. Kuda Sam tidak berbalik atau menegakkan badan dan malah tersentak ke depan akibat kejutan kuat dari bagal.

Sam Hawkens terlempar ke udara, bersalto penuh di udara, dan terempas ke tanah. Kudanya langsung bangun dan mulai berlari. Lasonya mengendur. Si bagal bertahan di tempat dan tidak ikut tertarik. Setelah mengatur napasnya, si bagal berlari pergi. Dengan laso masih terpasang ke pelana, kuda Sam terseret di belakang si bagal dan keduanya berlari melintasi padang prairi. Aku berlari kepada Sam untuk memeriksa apakah dia terluka. Dia berdiri dan berseru kepadaku dalam keadaan terpukul, “Mampus aku! Kaburlah kuda Dick Stone dan bagal itu, bahkan tanpa mengucapkan adieu kepadaku, kalau aku tidak keliru.”

“Kau terluka?”

“Tidak. Cepat turun dan berikan kudamu. Aku perlu!”

“Mengapa?”

“Aku harus mengejar mereka, tentu saja. Cepat, turun!”

“Tidak mau! Bisa-bisa kau bersalto lagi, lalu kedua kuda kita hilang selamanya.”

Sesudah mengatakannya, aku memacu kudaku mengejar bagal. Si bagal sudah pergi jauh, tetapi kesulitan dengan kuda yang terikat dengannya. Masing-masing ingin pergi ke arah yang berlainan, dan tidak ada yang bha, akibat laso yang menyambung mereka. Dengan demikian, mereka mudah disusul. Aku bahkan tidak menimbang untuk menggunakan lasoku. Aku malah menyambar laso Sam yang mengikat kedua binatang itu dan melilitkannya ke tanganku. Sekarang aku yakin aku bisa menahan si bagal. Kubiarkan kedua binatang itu berlari sebentar sementara aku berpacu di belakang mereka. Perlahan aku mulai menarik laso dengan semakin keras hingga simpulnya menjadi semakin kencang. Dengan cara ini, aku bisa mengendalikan kedua binatang itu dengan cukup sigap. Setelah berpura-pura akan melepaskan mereka, akhirnya aku bisa membuat mereka berlari berputar hingga kami kembali ke tempat Sam Hawkens menunggu. Lalu, lasoku mendadak kutarik keras sekali sehingga leher si bagal mengerut. Binatang itu tidak bisa bernapas dan jatuh ke tanah.

“Tahan sampai aku memegang si badung, baru lepaskan!” seru Sam.

Dia berlari kepada si bagal yang menggelepar di tanah.

“Sekarang!” dia berseru.

Aku melepaskan laso. Si bagal menahan napas dan melompat.

Secepat itu juga Sam berada di punggungnya. Selama beberapa saat, si bagal berdiri mematung ketakutan. Kemudian dia melompat, pertama ke depan, lalu ke belakang, lalu ke samping. Dia melengkungkan punggungnya, tetapi si kecil Sam berpegangan erat-erat.

“Dia tidak akan menjatuhkan aku!” Sam berseru kepadaku. “Sekarang dia akan mencoba trik terakhir dan berlari membawaku. Tunggu aku di sini. Aku akan membawanya kembali dalam keadaan jinak.”

Namun, dia keliru soal itu. Si bagal tidak berusaha kabur, tetapi malah mendadak menjatuhkan diri ke tanah dan mulai berputar-putar. Bisa-bisa binatang itu mematahkan semua tulang iga Sam yang malang, sehingga Sam terpaksa turun. Aku melompat keluar dari pelana, menyambar laso yang terlempar ke tanah dan melilitkannya dua kali pada pangkal semak-semak yang kokoh di dekatku.

Karena sudah menyingkirkan penunggangnya, si bagal melompat berdiri. Dia berusaha kabur, tapi laso yang dililitkan di semak-semak mendadak mengencang lagi. Sekali lagi, si bagal jatuh.
Sam Hawkens telah mundur ke samping, memeriksa tulang iga dan pahanya, meringis seperti habis memakan sauerkraut, hidangan kubis ala Jerman, dengan selai stroberi. Sam berkata, “Lepaskan binatang itu. Tidak seorang pun bisa menjinakkannya, kalau aku tidak keliru.” “Kau bercanda? Aku tidak senang dikalahkan oleh bagal. Dia harus belajar menurut. Lihat!” Aku membuka lilitan laso dari semak-semak dan menempatkan diriku di punggung binatang itu. Begitu binatang itu menarik napas, dia melompat. Lantas aku mengerahkan tekanan paha sekuat mungkin. Dalam hal ini, aku unggul dari Sam yang bertubuh kecil. Tulang iga kuda harus ditekuk oleh paha penunggangnya. Ini meremas organ-organ dalam tubuh kuda sekaligus membuat binatang itu takut akan mati. Si bagal mencoba trik yang sama untuk menjatuhkan aku seperti yang telah dicobanya kepada Sam, tetapi aku mengambil laso yang terseret di tanah dan melingkari leher bagal itu erat-erat. Aku menarik laso ini setiap kali aku melihat si bagal ingin melompat. Dengan memanipulasi laso dan menggunakan tekanan paha, aku berhasil mencegahnya melompat.

Ini pertarungan yang berat, harus aku akui, tenaga melawan tenaga. Keringat keluar dari semua pori-pori kulitku, tetapi si bagal berkeringat lebih banyak. Kedua sisi tubuhnya banjir keringat, sementara mulutnya berbusa. Gerakan-gerakannya menjadi lebih lemah dan lebih teratur. Dengusnya yang semula terdengar marah kini menjadi batuk-batuk pendek. Pada akhirnya, si bagal jatuh. Dia tidak melakukannya dengan sengaja, tetapi karena dia telah menggunakan energinya hingga habis. Dia berbaring dengan mata juling, tidak bergerak. Aku bernapas dengan amat sangat terengah-engah. Setiap urat dan sendi di tubuhku seperti telah dirobek.

“Demi Tuhan, kau seperti bukan manusia,” Sam berteriak, “Kau lebih kuat daripada binatang ini! Kalau kau bisa melihat wajahmu sekarang, kau pasti ngeri.”

“Aku percaya.”

“Matamu melotot, bibirmu bengkak, dan pipimu sangat biru!”

“Itu karena seorang greenhorn sepertiku tidak mau dilempar oleh kuda. Tapi, seseorang lain yang lebih cerdas, seorang ahli berburu mustang, malah jatuh saat kudanya sendiri terikat kepada si bagal, lalu keduanya berlari bebas.”

Dia meringis dengan wajah yang sangat mengibakan dan memohon, “Jangan bicara tentang itu, Sir! Kau harus tahu, sesuatu seperti ini bisa sesekali terjadi bahkan kepada pemburu yang paling mumpuni. Dan kau beruntung dua hari berturut-turut, kemarin dan hari ini.”

“Semoga hari-hari besok juga seperti ini. Tapi, kemarin dan hari ini kurang baik untukmu. Bagaimana tulang igamu dan tulang-tulang lainnya?”

“Aku tidak tahu. Aku akan mengumpulkan dan menghitungnya, kalau aku merasa sedikit lebih baik. Sekarang, semua tulang seperti melompat-lompat di dalam tubuhku. Aku tidak pernah menunggang binatang sekuat itu! Semoga dia sudah mau patuh.”

“Dia sudah belajar. Lihat betapa lemasnya dia berbaring di sana. Kasihan. Pasangkan pelana dan kekang kepadanya dan tunggangi dia pulang.”

“Nanti dia melompat lagi!”

“Tidak akan! Dia sudah kelelahan. Dia binatang cerdik dan kau pasti sangat senang telah menangkapnya.”

“Ya, aku rasa begitu. Aku mengincarnya sedari awal. Kau mengejar si mustang putih, pilihan yang benar-benar bodoh.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja itu bodoh.”

“Bukan, maksudku kau yakin tadi aku mengejar mustang putih?”

“Apa lagi yang kau kejar?”

“Si bagal.”

“Sungguh?”

“Ya. Bahkan walaupun aku greenhorn, setidaknya aku tahu tahu kuda putih tidak berguna untuk penjelajah. Aku suka si bagal begitu aku melihatnya.”

“Ya, kau memang mempunyai kepekaan kuda yang bagus, aku akui itu.”

“Seandainya kau memiliki kepekaan manusia yang sama bagusnya, Sam! Sekarang bantu aku membangunkan binatang ini dari tanah.”

Kami berhasil membuat bagal itu berdiri. Dia berdiri diam dengan kaki gemetaran. Dia tidak melawan saat kami memasangkan pelana dan kekang. Begitu Sam menungganginya, binatang itu mematuhi kekang dengan jinak dan peka seperti kuda yang terlatih.

“Dia pasti pernah dipelihara oleh penunggang ulung, aku bisa melihat itu.” Sam berkomentar.

“Pasti kabur dari pemiliknya. Kau tahu aku akan menamainya siapa?”

“Apa?”

“Mary. Dulu aku pernah punya bagal bernama Mary. Dengan begini, aku tidak perlu repot-repot memikirkan nama lain.”

“Jadi, bagalmu Mary dan senapanmu Liddy”

“Ya, benar. Dua nama yang cantik, bukan? Dan sekarang aku ingin meminta tolong darimu.”

“Tentu. Apa?”

“Jangan bilang siapa-siapa tentang kejadian di sini! Aku akan berutang budi kepadamu.”

“Omong kosong. Tentu saja aku tidak akan membocorkannya. Aku maklum. Kau tidak berutang apa-apa kepadaku.”

“Oh, tentu aku berutang budi. Jangan sampai geng bajingan di perkemahan mendengar bagaimana Sam Hawkens mendapatkan Mary miliknya yang baru dan cantik! Mereka tidak akan berhenti membicarakannya. Kalau kau tutup mulut tentang ini, aku akan…”

“Tolong, Sam, sudahlah!” aku memotongnya. “Jangan bicara sepatah kata pun lagi tentang ini. Kau guru sekaligus temanku. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.”

Mendengar ini, mata Sam yang kecil dan cerdik menjadi berkaca-kaca, lalu dia menanggapiku dengan terharu, “Ya, aku temanmu, Sir. Kalau aku tahu bahwa kau juga merasakan setitik perasaan kepadaku, sungguh hatiku yang sudah tua ini menjadi riang gembira.”

Aku mengulurkan tangan, meraih tangan Sam, dan menjawab, “Kalau begitu, hatimu akan menjadi gembira. Yakinlah, kau juga aku sayangi, yah, kau seperti pamanku yang baik, pemberani, dan jujur. Itu cukup?”

“Lebih daripada cukup, Sir, lebih daripada cukup. Aku gembira sekali kau mau mengungkapkan kekuatan pertemananmu di sini juga. Katakan apa yang harus aku lakukan! Aku siap memakan Mary baru ini tepat di depan matamu, hingga habu kulit dan semuanya. Atau mungkin kau lebih suka kalau aku mengasinkan, merebus dengan haus, dan melahapnya sendiri. Atau mungkin..,,”
“Tahan!” aku tertawa. “Kalau kau melakukan salah satu di antaranya, bisa-bisa aku kehilanganmu. Pada kasus pertama kau akan meledak sementara pada kasus lain perutmu tidak akan sanggup. Kau sudah cukup berjasa bagiku, dan aku yakin nanti ada giliranmu berbuat baik kepadaku nanti. Semua orang lebih baik jika kau dan Mary tetap hidup. Ayo kembali ke perkemahan. Aku ingin menyelesaikan sedikit pekerjaan.’’

“Bekerja! Kau belum menyelesaikan pekerjaan apa pun di sini? Kalau ini bukan bekerja, aku tidak tahu bekerja itu apa.”

Aku mengikat kuda Dick Stone kepada kudaku dengan laso, lalu kami berkuda kembali ke perkemahan. Kuda-kuda mustang sudah lama menghilang. Si bagal menuruti penunggangnya dengan patuh, dan Sam berseru dengan riang saat kami berjalan.

“Mary yang ini, dia sudah dilatih, dan dilatih dengan baik pula! Aku punya firasat, semakin lama terasa semakin kuat, bahwa aku akan memiliki tunggangan yang luar biasa mulai sekarang. Mary mulai mengingat semua yang pernah dipelajarinya lalu melupakan saat berada bersama kuda-kuda mustang. Semoga Mary mempunyai karakter yang baik dan tidak hanya semangat yang baik.”

“Kalau ternyata tidak, kau bisa mengajarinya. Dia belum terlalu tua untuk dilatih.”

“Menurutmu berapa umurnya?”

“Tidak lebih dari lima tahun.”

“Aku setuju. Nanti aku perlu Mary dengan lebih baik. Tidak ada orang selain kau yang patut mendapatkan terima kasih dariku untuk binatang ini. Aku sial selama dua hari terakhir, sial sekali! Tapi kau bisa berbangga diri. Kau pernah membayangkan kita akan berburu banteng dan mustang secara berurutan?”

“Mengapa tidak? Di Barat sini, kita harus siap menghadapi apa pun. Aku tidak sabar ingin mengalami macam-macam perburuan lain juga.”

“Aha. Ya. Semoga kau melakukannya dengan sebaik kemarin dan hari ini. Terutama kemarin, nyawamu di ujung tanduk. Kau terlalu nekat. Jangan pernah lupa bahwa kau greenhorn. Jangan membiarkan bison mendatangimu lalu kau menembak matanya! Kau pernah mendengar hal semacam itu? Kau masih hijau, dan kau meremehkan bison itu. Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati dan jangan terlalu nekat. Berburu banteng luar biasa berbahaya. Hanya ada satu hal yang lebih berbahaya.”

“Apa itu?”

“Berburu beruang.”

“Maksudmu beruang hitam dengan moncong kuning?”

“Beruang baribal. Bukan! Baribal sangat sopan dan pendamai. Kita bahkan hampir bisa mengajari beruang itu merajut dan menyeterika baju. Bukan, maksudku grizzly, beruang abu-abu di Pegunungan Rocky. Kau sudah banyak membaca, jadi kau pernah membaca tentang grizzly?”

“Ya.”

“Yah, bersyukurlah kalau kau belum pernah melihat aslinya. Saat seekor grizzly berdiri, dia lebih tinggi setengah meter daripadamu. Dia bisa mengubah kepalamu menjadi bubur dengan sekali gigit. Begitu dia diserang dan mengamuk, dia tidak akan berhenti sampai berhasil mencabik-cabik musuhnya.’

“Atau sampai musuhnya mengalahkan dia.”

“Oho, Lihat, sifat gilamu itu muncul lagi! Kau berbicara tentang beruang besar, kuat, dan tak terkalahkan ini dengan santai, seperti sedang membicarakan rakun kecil yang tidak berbahaya.”

“Tidak. Aku tidak akan pernah meremehkan beruang grizzly. Tapi, mereka tidak ‘tak terkalahkan’. Tidak ada binatang mangsa yang tak terkalahkan, dan itu termasuk beruang grizzly.”

“Aku tebak kau pernah membaca itu?”

“Ya.”

“Hmm. Aku rasa buku-buku yang kau baca adalah penyebab kegilaanmu. Dalam hal lain, kau orang yang masuk akal, kalau aku tidak keliru. Kau bisa, dan akan, menghadapi beruang grizzly seperti kau menghadapi bison kemarin?”

“Kalau aku tidak punya pilihan lain, tentu.”

“Tidak punya pilihan lain! Itu gila! Apa-apaan maksudmu? Siapa pun bisa memilih, kalau dia mau.”

“Dia bisa melarikan diri kalau dia ketakutan. Itu maksudmu?”

“Ya, tapi kita tidak sedang berbicara tentang ‘ketakutan’. Menghindari grizzly bukan tindakan pengecut. Sebaliknya, sama saja bunuh diri jika kita bertarung dengannya.”

“Di sanalah pendapatku berbeda denganmu. Kalau ada grizzly mengagetkan aku dan aku tidak sempat kabur, aku harus melindungi diriku sendiri. Kalau ada grizzly menyerang salah seorang rekanku, aku harus menolong rekanku. Dalam kedua kasus Ini, aku tidak bisa kabur dan aku tidak boleh kabur. Terlebih lagi, seorang penjelajah yang bernyali bisa menghadapi grizzly bahkan tanpa alasan-alasan tadi, sebagai uji keberanian atau sekadar untuk menyingkirkan binatang berbahaya itu. Selain itu, dia bisa makan enak dengan daging paha dan cakar beruang.”

“Kau benar-benar tidak tertolong lagi. Aku amat cemas tentangmu. Kau harus bersyukur kalau kau tidak pernah mencicipi daging paha dan cakar itu. Bahkan walaupun aku mengakui tidak ada makanan yang lebih lezat di dunia ini. Cakar beruang jauh lebih enak daripada daging steak bison terbaik.”

“Mungkin kau belum perlu mencemaskan aku. Atau apakah ada kemungkinan kita bertemu grizzly di daerah ini?”

“Mengapa tidak? Seluruh pegunungan ini wilayah grizzly, dan kadang-kadang dia menyusuri sungai sampai memasuki padang prairi. Celakalah orang yang berpapasan dengannya! Ayo jangan bicara lagi tentang ini.”

Tidak terlintas dalam benak Sam dan aku bahwa topik ini akan diungkit lagi keesokan hari dalam konteks yang sangat berbeda, apalagi bahwa kami memang akan berpapasan dengan binatang yang menakutkan tersebut. Kami tidak sempat melanjutkan percakapan karena kami telah tiba di perkemahan. Rupanya perkemahan kami telah dimajukan cukup jauh, karena sepanjang jarak itu telah diukur selama kami tidak ada. Bancroft telah berusaha lebih keras bersama ketiga pengukur lain, untuk menunjukkan kemampuannya. Kami menarik perhatian.
“Bagal! Bagal!” mereka berteriak. “Di mana kau mendapatkannya, Hawkens?”

“Dikirim langsung kepadaku,” jawabnya dengan muka datar.

“Mustahil, Siapa yang mengirimnya?”

“Dengan surat kilat, dibungkus dengan cantik, seharga dua sen. Ingin melihat amplopnya?”

Beberapa orang tertawa. Orang-orang lain mengumpatnya. Terlepas dari itu, Sam telah menyampaikan maksudnya bahwa dia tidak ingin bercerita kepada mereka. Tidak seorang pun bertanya lagi. Apakah Sam lebih terbuka kepada Dick Stone dan Will Parker, aku tidak tahu karena aku langsung mulai melakukan pengukuran.

Kala senja, kemajuan pekerjaanku sudah sangat jauh sehingga kami bisa melanjutkannya keesokan pagi di lembah tempat kami bertemu bison kemarin. Saat kami membahas ini pada malam hari, aku bertanya kepada Sam apakah ada kemungkinan pekerjaan kami terganggu oleh bison lagi. Sepertinya mereka menuju selatan dengan melalui lembah dan kelompok yang kami temukan tempo hari baru tim terdepan. Kupikir mungkin kami akan bertemu kawanan utama. Sam menjawab, “Tidak mungkin, Sir! Bison sama cerdasnya dengan mustang. Bison-bison yang kita buru sudah kembali dan memeringatkan kawanan, jadi mereka akan pergi lewat jalan lain. Mereka akan menghindari lembah ini”.

Iklan