karl-may

Sudah beberapa hari aku tidak berkuda, sehingga kuda kastanyeku meringkik dengan girang saat kupasangkan pelana. Dia telah membuktikan diri sebagai kuda yang luar biasa, dan aku sudah tak sabar untuk bercerita kepada kawan lamaku sang pandai senapan, Mr. Henry, tentang kuda ini.

Kami berkuda dengan riang pada pagi hari musim gugur yang indah, membicarakan rencana rel dan apa saja yang terlintas dalam pikiran kami. White memberiku saran-saran tentang tempat bagian kami bersambungan dengan bagiannya. Pada siang hari kami berhenti di dekat sebuah anak sungai untuk makan sebentar. Sesudah itu, White dan pemandunya berkuda lagi. Kami berdiam sedikit lebih lama dan berbicara tentang agama.

Hawkens sesungguhnya orang yang taat walaupun dia tidak menunjukkan hal itu di depan orang-orang lain. Saat kami beranjak untuk pergi, aku membungkuk di dekat kali untuk menciduk air dan minum. Lewat air sejernih kristal itu, aku melihat sesuatu yang ternyata adalah jejak kaki di dasar sungai. Aku menunjukkannya kepada Sam. Dia mengamati jejak itu dengan saksama lalu berkata, “Sir White benar sekali saat memperingatkan kita tentang Indian.”

“Sam, maksudmu ini jejak seorang Indian?”

“Ya, ini jejak sepatu mokassin Indian. Bagaimana perasaanmu tentang ini, Sir?”

“Aku tidak merasakan apa-apa.”

“Fi! Kau pasti memikirkan atau merasakan sesuatu.”

“Seharusnya aku memikirkan apa, kecuali bahwa ada orang Indian di sini?”

“Kau tidak takut?”

“Itu tidak pernah terpikir olehku.”

“Yah, setidaknya cemas?”

“Itu juga tidak.”

“Kau belum mengenal orang-orang kulit merah ini!”

“Tapi, aku berharap bisa mengenal mereka. Aku yakin mereka sama seperti orang lain, berteman dengan orang yang baik kepada mereka, bermusuhan dengan orang yang melawan mereka. Karena aku tidak berniat memusuhi mereka, menurutku aku tidak perlu takut kepada mereka.”

“Kau benar-benar greenhorn dan akan selalu menjadi greenhorn. Jangan terlalu yakin dengan caramu menghadapi Indian nanti. Kejadiannya tidak akan seperti itu. Kau tidak akan bisa memilih. Nanti kau tahu aku benar, dan semoga pengalaman itu tidak harus dibayar dengan kau terluka parah atau bahkan nyawamu melayang.”

“Menurutmu sejak kapan Indian itu berada di sini?”

“Sekitar dua hari lalu. Kita bisa melihat jejaknya di rumput sini kalau rumputnya belum sempat tumbuh tegak lagi.”

“Mungkin pengintai?”

“Pengintai bison, ya. Suku-suku di sekitar sini tidak sedang berperang, jadi tidak mungkin dia pengintai perang. Orang ini sangat ceroboh, mungkin masih muda, aku yakin.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Pejuang Indian yang berpengalaman tidak menapak di kali seperti ini, karena jejak kaki akan bertahan lebih lama di dasar anak sungai yang tidak dalam. Cuma orang bodoh yang melakukan itu. Pasti dia greenhorn berkulit merah, sama seperti kau yang berkulit putih, hihihi! Dan bisa saja greenhorn berkulit hijau bahkan lebih bodoh daripada yang berkulit merah. Camkan kata-kataku, Sir!”

Dia tertawa kecil sendiri dan bangun untuk menaiki kudanya. Sam yang baik senang mengungkapkan perhatiannya kepadaku dengan mengatai aku bodoh.

Kami bisa saja menggunakan jalan pulang yang sama dengan jalur keberangkatan kami. Namun, sebagai pengukur, sudah sepatutnya aku menguasai medan kami. Maka, kami keluar jalur sedikit lalu berkuda secara pararel dengan jalur itu.

Kini kami mencapai sebuah lembah yang cukup luas dan ditumbuhi rumput prairi yang lebat. Lereng-lereng perbukitan yang mengapitnya penuh dengan semak-semak di bawah dan terentang hingga hutan-hutan di atas. Panjang lembah itu kira-kira berjarak setengah jam berkuda dan bentuknya sangat lurus sehingga kita bisa melihatnya dari ujung ke ujung. Kami baru saja turun beberapa langkah ke dalam lembah damai ini ketika Sam menarik kudanya agar berhenti dan mengerling ke depan.

“Heigh-day? dia berseru. “Itu mereka! Yap, itu mereka, benar-benar yang pertama musim ini!”

“Apa?” tanyaku.

Di kejauhan terlihat sekitar delapan belas atau dua puluh titik gelap yang bergerak perlahan.

“Apa?” dia mengulang pertanyaanku, bergerak maju dan mundur di pelananya “Semestinya kau malu karena mengajukan pertanyaan itu! Oh yah, kau kan greenhorn, bahkan juaranya greenhorn. Orang sepertimu bisa melihat sesuatu, tapi tidak melihat apa-apa. Tolong aku, Sir, tebaklah apa itu yang kau lihat di depan matamu.

“Menebak? Hmm. Yah, aku ingin menebak itu rombongan rusa, tapi aku tahu rusa tidak pernah mengelompok dengan jumlah lebih dari sepuluh ekor. Lagi pula, walaupun mereka terlihat kecil dan sini, mereka pasti sedikit lebih besar daripada rusa.”

“Rusa, hihihi” Sam tertawa. “Rusa di hulu Sungai Canada sini? Ya, mereka lebih besar daripada rusa, jauh lebih besar.

“Sam, maksudmu itu bison?”

“Pasti. Mereka bison, bison sungguhan yang sedang bergerak, bison pertama yang aku lihat di sekitar sini. Sekarang kita tahu Mr. White benar. Ada bison dan Indian. Kita baru saja melihat jejak orang Indian, tapi bisonnya ada di depan mata kita. Apa pendapatmu tentang itu, kalau aku tidak keliru?”

“Kita harus turun ke sana!”

“Tentu.”

“Untuk mengamati mereka.”

“Mengamati mereka? Sungguh?” dia bertanya sambil melirikku dari samping.

“Ya. Aku belum pernah melihat bison, dan aku ingin melihat mereka.”

Semangatku adalah bawaan seorang pelajar biologi, dan Sam tidak bisa memahaminya. Dia menepuk pahanya dengan geli.

“Mengamati mereka? Tentu. Seperti anak kecil yang penasaran mengintip lubang sarang kelinci untuk mengamati kelinci! Oh, tanduk hijau, perlu aku jelaskan semuanya kepadamu? Aku tidak tertarik untuk mengamati. Aku akan menembak seekor.”

“Hari ini, hari Minggu?” kataku tanpa berpikir. Dia menanggapi dengan marah, “Aku akan berterima kasih kalau kau tutup mulut, Sir. Apa peduli penjelajah tentang hari Minggu saat dia melihat bison pertama musim ini di depan matanya? Ini daging, mengerti? Daging enak pula, kalau aku tidak keliru! Sepotong bistik bison lebih lezat daripada bunga ambrosia Yunani, atau ambrosiana apa pun namanya, yang dimakan dewa-dewi Yunani. Aku harus mendapatkan bistik bison meskipun nyawaku taruhannya! Angin bertiup ke arah kita, itu bagus. Di sebelah utara lembah sini terang, tapi sebelah selatan gelap. Kalau kita tetap di sebelah sana, bison tidak akan melihat kita mendekat. Ayo!”

Dia memeriksa “Liddy” untuk memastikan kedua larasnya berfungsi dengan baik, lalu berkuda menuju dinding selatan tebing. Meniru Sam, aku memeriksa senapan pembunuh beruangku. Sam menyadari ini, lalu menghentikan kudanya dan bertanya, “Kau ingin ikut, Sir?”

“Tentu!”

“Lupakan, kecuali kau mau terinjak-injak menjadi bubur dalam sepuluh menit. Bison bukan burung kenari yang akan hinggap di jarimu dan bernyanyi. Kau harus menimba pengalaman beberapa musim panas dan musim dingin sebelum kau mengatasi binatang berbahaya seperti ini.”

“Tapi, aku ingin melakukannya.”

“Diam dan dengarkan!” dia memotong, dengan nada suara yang belum pernah digunakannya kepadaku. “Aku tidak bermaksud mengatur hidupmu, tapi kalau kau ikut, kau sama dengan berkuda ke mulut maut. Pada kesempatan lain, terserah kau mau melakukan apa. Tapi, sekarang, turuti kata-kataku!”

Seandainya kami tidak berteman baik, dia tidak akan selamat sesudah berbicara selancang itu kepadaku. Namun, aku memutuskan untuk tetap diam saat aku berkuda mengikutinya ke pinggir hutan yang teduh.

Kemudian dia menjelaskan, dengan nada suara yang lebih halus, “Di mataku terlihat ada 20 ekor. Tapi, kau harus melihatnya saat ribuan ekor merumput bersama di dataran! Dulu aku melihat kawanan sepuluh ribu ekor lebih. Inilah tonggak kehidupan bagi para Indian, dan orang kulit putih merebutnya. Orang kulit merah melindungi alam liar yang memberinya makan. Mereka hanya membunuh seperlunya. Tapi, orang kulit putih? Mereka membinasakan kawanan besar bagaikan pemangsa yang terus membunuh walaupun sudah kenyang, sekadar demi melihat darah. Berapa lama hingga bison punah? Lalu, tidak lama sesudahnya, tidak ada orang Indian juga? Tuhan, ampuni kami! Begitu pula kuda liar. Dulu ada kawanan ribuan kuda mustang. Sekarang kita sudah senang melihat kawanan berisi seratus ekor.”

Pada saat itu jarak kami tinggal sekitar empat ratus langkah dari bison, dan mereka belum menyadari kami. Hawkens menarik kekang kudanya agar berhenti. Bison bergerak perlahan mendaki lembah sambil merumput. Di bagian kepala kelompok ada seekor bison jantan tua yang besarnya membuatku takjub. Pasti tingginya lebih dari dua meter dan panjangnya tiga meter dari hidung hingga ekor. Dulu aku tidak bisa memperkirakan berat bison, tetapi sekarang aku berani berkata berat bison ini pasti sekitar 750 kilo. Luar biasa! Dia telah menemukan sebuah genangan berlumpur dan berkubang di dalamnya dengan gembira.

“Itu pemimpinnya,” bisik Sam, “makhluk paling berbahaya di kawanan. Kalau kau bertarung dengannya, sebaiknya kau sudah memperbarui surat wasiatmu. Aku akan mengincar bison betina di kanan.

Perhatikan tempat peluruku menancap, di balik bilah bahu, melintang ke dalam jantung. Itu cara terbaik, dan itulah satu-satunya tembakan yang pasti mematikan selain tepat menembus mata, tapi gila kau kalau menghadapi bison dari depan agar bisa menembak matanya! Kau tunggu di sini, dan bersembunyi bersama kudamu di balik semak-semak. Saat mereka melihatku dan mereka mulai berlari, mereka akan menyerbu tepat lewat sini. Tapi, jangan pergi dari tempat ini sampai aku kembali atau memanggilmu!”

Dia menunggu sampai aku sudah menyelinap ke antara dua semak-semak besar, lalu dia maju diam-diam dengan kudanya. Aku merasa sangat ganjil. Aku sudah sering membaca tentang cara berburu bison, dan aku sudah tahu semuanya. Namun, ada perbedaan antara tulisan pada selembar kertas dan pengalaman sungguhan berburu di alam liar.

Hari ini aku melihat bison untuk kali pertama seumur hidup. Binatang liar apa yang pernah aku buru sebelumnya? Makhluk-makhluk berbahaya yang amat besar ini tidak tertandingi. Jadi, aku benar-benar berniat mematuhi perintah Sam agar tidak turut serta, tapi tidak seperti itu kejadiannya. Semula aku hanya ingin mengamati, mendengarkan, tetapi sekarang aku merasakan dorongan tak tertahankan untuk terlibat. Sam hanya mengincar seekor bison betina muda. Itu tidak menantang. Laki-laki sejati akan memilih banteng jantan terkuat!

Kudaku sudah menjadi sangat gelisah dan mencakari tanah dengan tapal kakinya. Kudaku juga sedang melihat bison untuk kali pertama, dan dia ingin kabur. Aku hampir tidak bisa menahannya. Apakah baik kalau aku memaksanya untuk menghadapi bison jantan? Aku tidak tegang, hatiku malah tenang memperdebatkan apa yang harus aku lakukan. Namun, akhirnya keputusan diambil dalam sekejap mata.

Sam telah sampai dalam jarak 300 langkah dari bison, lalu dia memacu kudanya dan memburu kawanan itu. Posisi Sam tepat di sebelah si bison jantan besar dan menuju bison betina yang tadi dia tunjuk. Bison betina langsung berhenti, kehilangan kesempatannya untuk melarikan diri. Sam mengadang bison betina itu, dan aku melihat Sam menembak saat melewatinya. Bison betina terhuyung dan menunduk. Aku tidak melihat apakah bison betina itu ambruk, karena perhatianku terpusat kepada hal lain.

Bison besar itu melompat dan mulai mengejar Sam Hawkens. Binatang yang kuat sekali! Kepalanya tebal dengan tengkorak berbentuk kubah, dahinya lebar dan pendek tetapi bertanduk, surainya yang tebal dan kusut melingkari leher hingga dadanya! Pundaknya yang tinggi menyempurnakan dia sebagai sosok kekuatan alam. Ya, ini binatang yang sangat berbahaya, tetapi melihat dia membuatku ingin mengukur kemampuan manusia melawan kekuatan binatangnya.

Apakah aku memilih untuk melakukannya? Atau apakah kudaku yang menentukan dan membawaku bersamanya saja? Entahlah. Dia melompat keluar dari semak-semak dan ingin pergi ke kiri, tetapi aku menariknya ke kanan dan berlari menuju bison jantan itu. Dia mendengarku mendekat dan menoleh kepadaku. Saat melihatku, dia menunduk untuk menyambut kudaku dan aku dengan tanduknya.

Aku mendengar Sam berteriak sekuat mungkin, tetapi aku tidak sempat untuk meliriknya. Mustahil menembak bison ini. Pertama, posisinya tidak di tempat yang bisa kutembak. Kedua, kudaku sudah tidak patuh kepadaku lagi. Dalam keadaan ketakutan, kudaku berlari lurus menuju tanduk-tanduk yang mengancam kami itu. Untuk bersiap menanduk, si bison jantan merentangkan kaki belakangnya dan melempar kepalanya yang besar ke atas.

Dengan segenap tenagaku, aku berhasil membuat kuda kastanyeku mengangkat kaki depannya untuk melompat. Dengan lompatan melengkung tinggi dia melewati punggung si bison jantan, dan pada saat bersamaan tanduk-tanduk si bison lewat di dekat kakiku. Lompatan kami berakhir tepat di kubangan lumpur tempat si bison tadi berkubang.

Aku melihat bison itu datang dan aku turun dari pelana. Syukurlah aku turun, karena kini kudaku tergelincir dan kami jatuh. Bagaimana kejadiannya bisa secepat itu, aku tidak tahu, tetapi sekejap kemudian aku berdiri di sebelah kubangan sambil masih memegangi senapanku erat-erat. Bison itu telah berputar kepada kami dan berlari melompat-lompat dengan canggung memburu kudaku yang juga sudah berdiri dan hendak berlari.

Aku bisa menembak mengenai paha si bison jantan. Kuangkat senapanku ke bahu. Sekarang si pembunuh beruang mendapatkan kesempatan pertama untuk benar-benar membuktikan kemampuannya. Satu langkah lagi, si bison akan mencapai kudaku. Aku menembak. Dia berhenti di tengah lompatan, entah karena ketakutan atau karena tembakanku mengenainya dengan telak. Aku langsung menembakkan peluru kedua. Perlahan dia mengangkat kepala, meraung hingga tulang-tulangku terguncang, lalu dia terhuyung ke kiri dan kanan, kemudian ambruk di tempat.

Aku ingin merayakan kemenangan ini, tapi ada hal-hal penting lain yang harus kulakukan. Kudaku telah lari ke lembah, dan aku melihat Sam Hawkens dibawa kudanya berlari kencang sepanjang pinggir lembah, dikejar bison jantan yang hampir sebesar bisonku.

Penting untuk menyadari bahwa seekor bison, begitu terusik, tidak akan melepaskan musuhnya. Selain mampu berlari secepat kuda, bison menunjukkan tingkat keberanian, kecerdikan, dan ketahanan yang tidak akan kita percayai jika kita tidak melihatnya sendiri.

Dengan cara itulah bison jantan ini mengejar Sam. Untuk menghindarinya, Hawkens terpaksa berlari berkelok-kelok sehingga kudanya letih. Si bison pasti akan bertahan lebih lama daripada kuda Sam, sehingga aku harus membantunya sekarang juga. Aku tidak sempat memeriksa apakah bisonku sudah mati atau belum. Aku segera mengisi ulang kedua laras si pembunuh beruang dan berlari menghampiri Sam.

Sam melihat ini. Dia ingin menemuiku di tengah jalan dan memutar kuda ke arahku. Ini kesalahan besar. Si bison jantan berada tepat di belakangku dan bisa mencapai kuda Sam saat berbelok. Aku melihat si bison menancapkan tanduk-tanduknya pada paha kuda. Dengan mengayunkan kepala, dia melempar kuda sekaligus penunggangnya ke udara, lalu mulai mengejar mereka di tempat mereka jatuh.

Sam berteriak meminta pertolongan sekuat tenaga. Jarakku masih 150 langkah, tetapi aku tidak bisa membuang waktu sekejap pun. Aku pasti bisa menembak dengan lebih tepat kalau aku lebih dekat, tetapi aku mencemaskan Sam. Bahkan kalaupun aku tidak bisa membunuh si bison, mungkin setidaknya aku bisa mengalihkan perhatian binatang itu dari kawanku. Aku berhenti, membidik satu titik di balik bilah bahu si bison, dan menembak. Bison mengangkat kepalanya seperti mendengarkan, lalu berbalik perlahan. Dia melihatku dan menyerbu walaupun kecepatannya agak berkurang. Syukurlah aku berhasil mengisi ulang ruang peluru yang kosong ketika jarak binatang itu tidak lebih daripada 30 langkah dariku.

Binatang itu tidak bisa berlari lagi. Gerakan-gerakannya lebih menyerupai jalan lambat, tetapi dengan kepala menunduk. Dia mendatangiku, semakin lama semakin dekat, bagaikan malapetaka yang tak bisa dicegah. Aku berlutut dan mengangkat senapanku. Gerakan ini membuat si bison berhenti dan mengangkat kepalanya sedikit agar bisa melihatku dengan lebih baik. Ini membuat matanya yang jahat terlihat olehku. Aku pun mengisi sebutir peluru tepat ke dalam mata kanannya dan peluru lain ke dalam mata kirinya. Tubuhnya bergetar sebentar, lalu ambruk. Aku melompat untuk berlari menghampiri Sam, tetapi dia sudah berlari ke arahku.

“Halo!” panggilku. “Kau masih hidup? Bukankah kau terluka parah?”

“Sama sekali tidak,” jawabnya. “Pinggul kananku menabrak tanah saat aku jatuh, atau yang kiri, kalau aku tidak keliru. Aku kurang bisa membedakannya.”

“Kalau kudamu?”

“Tamat. Dia masih hidup, tapi bison tadi menyobeknya. Kita harus mengakhiri penderitaannya.
Bison tadi mati?”

“Semoga iya. Akan aku periksa.”

Kami memeriksa. Tidak ada nyawa tersisa dalam bison itu. Lalu, Hawkens berkata sambil mengembuskan napas dalam-dalam, “Bison jantan jahat itu bermain-main denganku! Bison betina pasti lebih ramah. Kita tidak bisa berharap bison betina bersikap seperti perempuan, hihihi!”

“Mengapa dia mendapatkan ide bodoh untuk berurusan denganmu?”

“Kau tidak melihatnya tadi?”

“Tidak.”

“Jadi, setelah aku membunuh si betina, aku berlari ke bison jantan ini. Kudaku berpacu secepat mungkin, dan aku berhasil menghentikannya pada saat terakhir. Si bison tersinggung dan mengejarku. Aku menembaknya dengan laras kedua Liddy-ku, tapi tidak mempan. Dia malah semakin mengincarku. Dia terus mengejarku sehingga aku tidak sempat mengisi ulang senapanku. Kulempar saja senapanku karena itu tidak berguna bagiku dan aku bisa menggunakan kedua tanganku untuk mengemudi kudaku, kalau aku tidak keliru. Kuda tua itu berusaha sebaik-baiknya, tapi tidak selamat.”

“Karena kau melakukan belokan tajam yang berbahaya pada saat terakhir itu. Seharusnya kau melompat jauh. Dengan begitu kudamu selamat.”

“Selamat? Kau berbicara seperti orang berpengalaman saja. Aku tidak menyangka ada greenhorn bisa bicara seperti itu.”

“Pshauw! Greenhorn juga bisa mempunyai keunggulan.”

“Ya, seandainya tadi tidak ada kau, aku sudah tergeletak berdarah dan tercabik-cabik seperti kudaku. Ayo tengok dia.”

Kuda Sam dalam keadaan menyedihkan. Isi perutnya terjuntai dari dadanya yang tercabik-cabik. Dia mendengus kesakitan. Sam mengambil Liddy, mengisi senjata itu, dan mengakhiri kesengsaraan si kuda.

Saat dia sedang melepaskan kekang dan pelana, dia berkata, “Sekarang aku memasang pelana di punggungku seperti menggantikan kudaku sendiri. Beginilah akibatnya kalau kita mengadang banteng.”

“Ya, dan di mana kau akan mendapatkan kuda baru?” tanyaku.

“Itu masalahku yang paling sepele. Aku akan menangkap seekor, kalau aku tidak keliru.”

“Kuda mustang?”

“Ya. Bison sudah di sini, sudah memulai migrasi mereka ke selatan yang hangat. Sebentar lagi kita melihat kuda liar. Aku yakin.”

“Aku bisa melihat kau menangkapnya?”

“Tentu. Itu keahlian yang harus kau pelajari. Tapi, ayo kita lihat si bison tua. Mungkin dia masih hidup. Dia seperti Metusalah [1], orang berumur paling panjang dan bertahan hidup dengan kegigihan luar biasa.”

Kami menghampiri binatang itu dan memastikan dia sudah mati. Kini dalam keadaan masih berbaring dengan kaku, ukurannya yang sangat besar terlihat lebih mencolok lagi. Sam bergantian melihat bison jantan itu dan aku, lalu dia menggeleng dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan dan berkata, “Sulit dipercaya, sungguh sulit dipercaya! Kau tahu di mana kau menembaknya?”

“Yah, di mana?”

“Persis di titik yang tepat. Dia bison tua, dan aku pasti berpikir ulang sepuluh kali sebelum aku nekat menghadapinya. Kau tahu kau ini apa, Sir?”

“Apa?”

“Orang paling bodoh yang masih hidup.”

“Oho!”

“Ya, orang paling bodoh yang pernah menjejakkan kaki di bumi ini.”

“Kebodohan tidak pernah menjadi masalahku.”

“Yah, sekarang iya, mengerti? Bukankah aku sudah menyuruhmu menjauh dari bison dan bersembunyi di semak-semak? Mengapa kau tidak menuruti perkataanku?”

“Aku sendiri tidak tahu.”

“Nah! Kau melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya. Itu bukan kebodohan?”

“Menurutku bukan. Pasti ada alasan yang lebih pokok.”

“Kalau ada, kau pasti tahu.”

“Mungkin karena kau memerintahku, padahal aku tidak menerima perintah dari siapa pun.”

“Nah! Saat seseorang memberimu nasihat dengan niat baik agar menghindari bahaya, kau sangat keras kepala sehingga kau menerjang bahaya itu.”

“Aku tidak datang ke Barat untuk menghindari bahayanya.”

“Baik. Tapi, kau masih greenhorn dan kau perlu berhati-hati. Saat kau memutuskan untuk tidak menuruti saranku, mengapa kau memilih binatang besar ini dan bukan bison betina?”

“Karena itu lebih kesatria.”

“Kesatria! Greenhorn ini ingin bermain kesatria, kalau aku tidak keliru, hihihi!”

Dia tertawa sampai dia harus memegangi perutnya. Lalu, dengan masih tertawa, dia meneruskan, “Kalau kau benar-benar berniat bermain kesatria, bermainlah sebagai pangeran Toggenburg yang patah hati saja, jangan yang lain. Kau tidak pantas menjadi Bayard atau Roland, para pahlawan Prancis yang gagah berani. Silakan jatuh cinta dengan seekor bison betina dan duduk dalam matahari sore setiap hari untuk menunggu kekasihmu lewat. Bahkan kau bisa duduk di sana sampai dimakan oleh koyote dan burung hering. Saat seorang penjelajah sejati melakukan sesuatu, dia tidak peduli apakah tindakan itu kesatria, sekadar apakah itu berguna baginya.”

“Tapi, itulah maksudku tadi.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku memilih bison itu karena dagingnya jauh lebih banyak daripada bison betina.”

Dia menatapku sesaat dengan sangsi, lalu berseru, “Dagingnya jauh lebih banyak? Anak muda di sini menembak bison jantan demi dagingnya, hihihi! Oho, kau anggap aku pengecut karena aku hanya mengincar bison betina?”

“Tidak juga, tapi aku memang berpikir lebih pemberani kalau memilih binatang yang lebih kuat.”

“Agar kau bisa makan daging bison jantan? Kau benar-benar orang yang luar biasa pintar, Sir! Bison jantan ini berusia delapan belas atau dua puluh tahun. Kebanyakan tubuhnya adalah tulang, otot, dan jaringan ikat. Lagi pula dagingnya, walaupun dia besar, tidak benar-benar pantas disebut dengan daging karena alot seperti kulit. Kita masak berhari-hari pun dagingnya belum bisa dikunyah. Setiap penjelajah memilih bison betina daripada jantan karena dagingnya lebih empuk dan berair. Jadi, kau mengerti bahwa kau memang greenhorn sekali. Tadi aku tidak sempat menontonmu. Jadi, bagaimana kelanjutan serangan gilamu kepada banteng itu?”

Aku menceritakan pengalaman itu kepadanya. Selesai aku bercerita, dia memandangiku, menggeleng kepala lagi, lalu memerintah, “Cari kudamu! Kita memerlukannya untuk memikul daging yang akan kita bawa pulang.”

Aku menuruti perintahnya. Sesungguhnya, aku merasa kecewa dengan perilakunya. Tadi dia diam saja mendengarkan ceritaku. Aku kira dia akan mengakui kemampuanku walaupun sedikit. Dia malah tidak mengatakan apa-apa dan menyuruhku mencari kudaku. Tetap saja, aku tidak benar-benar marah kepadanya. Aku bukan orang yang melakukan sesuatu demi pujian belaka.
Saat aku kembali bersama kudaku, Sam sedang berlutut di dekat bison betina yang telah ditembaknya. Dengan tangkas dia telah memotong kulit dari bagian belakang panggul dan sedang memotong daging bagian steak.

“Jadi,” katanya, “malam ini kita akan makan enak yang sudah lama tidak kita rasakan. Kita akan membawa daging ini dan pelanaku dan kekangku ke kudamu. Dagingnya untuk kau, aku, Will, dan Dick saja. Kalau orang-orang lain mau, mereka bisa berkuda ke sini dan mengambilnya sendiri.”

“Kalau bison ini belum dimakan oleh hering dan binatang-binatang liar lain.”

“Yah, kau pintar! Sudah pasti kita harus menutupinya dengan dahan-dahan pohon dan menaruh batu-batu di atasnya. Jadi, cuma beruang atau binatang besar yang bisa mengambilnya.”

Maka, aku memotong dahan-dahan dari semak-semak di dekat situ dan membawakan beberapa batu berat. Kami menutupi bison betina itu dan memuati kudaku. Kemudian aku bertanya, “Bagaimana dengan bison-bison jantannya?”

“Bison jantan? Mengapa kau pikirkan?”

“Kita tidak bisa memanfaatkan mereka untuk sesuatu?”

“Tidak ada.”

“Kulitnya juga?”

“Kau penyamak kulit? Aku sih bukan!”

“Tapi, aku pernah membaca bahwa kulit banteng mati bisa disimpan di semacam kaset dan diawetkan.”

“Jadi, kau pernah membaca itu, ya? Yah, kalau kau pernah membacanya, itu pasti benar, karena semua yang pernah kau baca tentang Wild West itu benar, luar biasa benar, sepenuhnya dan sepastinya benar, hihihi! Memang ada penjelajah yang menembak bison untuk mengambil kulit mereka. Aku pernah melakukannya. Tapi, bukan untuk itu kita ada di sini, dan kita tidak perlu membawa-bawa kulitnya yang berat.”

Kami mulai berjalan dan setengah jam kemudian sudah kembali di perkemahan walaupun berjalan kaki. Lembah tempatku membunuh banteng pertama dan keduaku tidak jauh dari situs perkemahan kami.

Semua orang ingin tahu mengapa kami berjalan kaki dan mengapa kuda Sam tidak ada bersama kami. “Tadi kami berburu bison, dan kudaku ditusuk oleh pejantan,” jawab Sam Hawkens.

“Berburu bison?” mereka berseru. “Di mana? Katakan di mana!”

“Tidak sampai setengah jam dari sini. Kami membawa daging untuk kami sendiri, kalian boleh ambil sisanya.”

“Itulah yang akan kami lakukan,” seru Rattler, yang bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara dia dan aku. “Di mana bisonnya, tepatnya?”

“Ikuti saja jejak kami, pasti kalian temukan. Kalian bisa, kalau aku tidak keliru.”

“Ada berapa ekor bison tadi?”

“Dua puluh.”

“Dan berapa ekor yang kalian bunuh?”

“Satu betina.”

“Itu saja? Bagaimana dengan sisanya?”

“Mereka pergi. Silakan kalian cari sendiri. Aku tidak peduli ke mana tujuan mereka, dan aku tidak menanyai mereka, hihihi!”

“Tapi, cuma seekor bison betina. Dua pemburu dan dua puluh banteng, dan kalian cuma menembak seekor?” salah seorang di antara mereka bertanya dengan suara meremehkan.

“Lakukan yang lebih baik kalau kau bisa, Sir! Pasti kau bisa menembak semua dua puluh ekor dan beberapa ekor lagi. Kau juga pasti menemukan bison jantan dua puluh tahun yang ditembak gentleman muda ini.”

“Bison jantan? Bison jantan tua? Menembak bison jantan berumur dua puluh tahun, tindakan bodoh sekali sehingga hanya dilakukan oleh greenhorn!”

“Silakan tertawa sesukamu, Meschschurs. Tapi, pastikan kau melihat kedua bison jantan itu! Kalian harus tahu bahwa kemampuan menembaknya telah menyelamatkan nyawaku.”

“Nyawamu? Bagaimana bisa?”

Mereka sangat ingin mendengar cerita itu, tapi dia menolak, “Aku sedang tidak berminat bercerita. Silakan minta dia bercerita sendiri, kalau kau tidak keberatan mengambil daging sewaktu gelap.”

Dia benar. Matahari akan terbenam, dan sebentar lagi malam. Terlebih lagi, mereka bisa melihat bahwa aku kurang berminat menceritakan pengalaman itu juga, jadi mereka semua menunggang kuda mereka dan pergi. Semua pergi karena tidak seorang pun di antara mereka ingin tetap di sini. Mereka tidak saling memercayai. Di antara pemburu yang saling menghormati atau sudah menjadi sekawan, binatang hasil buruan siapa pun menjadi milik bersama. Namun, orang-orang ini tidak memiliki pertemanan semacam itu.

Belakangan, saat mereka kembali, aku mendengar bagaimana mereka tadi menerjang bison betina itu seperti orang gila. Sambil bertengkar dan mengumpat, setiap orang berusaha memotong bagian paling besar dan paling enak untuk dirinya sendiri.

Begitu mereka pergi, kami membuka daging steak bison dan pelana Sam dari kudaku, lalu aku menjauh untuk melepaskan pelana dan memasangkan pasak kudaku agar tidak mengeluyur. Aku sengaja mengulur waktu, sehingga Sam sempat menceritakan petualangan kami kepada Parker dan Stone. Dari tempatku berdiri, kemah menghalangiku dari mereka, jadi mereka tidak melihatku mendekat saat aku kembali.

Aku hampir mencapai kemah ketika kudengar Sam berkata, “Percayalah, aku bercerita apa adanya. Orang ini memilih banteng paling tua dan paling kuat, lalu menjatuhkannya seperti pemburu banteng yang sudah berumur dan berpengalaman. Aku berbicara seolah-olah dia berbuat bodoh, dan aku benar-benar menegurnya, tapi percayalah, dia akan menjadi orang hebat.”

“Kau benar,” Stone setuju. “Dia akan menjadi penjelajah yang mumpuni.”

“Dan dalam waktu singkat,” aku mendengar Parker berkata.

“Ya,” Hawkens sepakat. “Kalian tahu, gents, dia memang terlahir untuk menjadi penjelajah, benar-benar dan sungguh-sungguh terlahir untuk menjadi itu. Apalagi kekuatannya! Bukankah dia menggerakkan gerobak berat kita kemarin, tanpa dibantu siapa-siapa? Di mana pun orang ini mencangkul, rumput tidak tumbuh selama bertahun-tahun! Tapi, berjanjilah satu hal.”

“Apa?” tanya Parker.

“Jangan sampai dia tahu anggapan kita tentang dia.”

“Mengapa tidak?”

“Dia bisa takabur.”

“Menurutku tidak.”

“Oh, ya! Dia orang yang rendah hati dan tidak cenderung sombong. Tapi, memuji seseorang bukan perbuatan baik. Orang paling baik pun bisa rusak akibat pujian. Jadi, silakan panggil saja dia ‘greenhorn’, dan memang dia masih greenhorn. Dia memiliki semua syarat untuk menjadi penjelajah yang cakap, tapi dia belum terasah. Dia memerlukan banyak pengalaman dan banyak latihan.”

“Yah, kau sudah berterima kasih karena dia menyelamatkan nyawamu?”

“Tidak pernah terpikir olehku.”

“Tidak? Menurutmu apa anggapannya terhadapmu?”

“Aku tidak peduli apa anggapannya, sama sekali tidak, kalau aku tidak keliru. Aku pikir dia menganggapku bajingan yang tidak peka dan tidak berterima kasih. Tapi, itu bukan intinya. Intinya adalah kepalanya tidak membengkak karena berbangga diri. Dia harus tetap seperti itu. Aku mau saja memeluk dan mencium dia!”

“Fi?” Stone berseru. “Dicium olehmu? Dipeluk saja orang belum tentu mau, tapi dicium? Ogah.”

“Tidak mau? Mengapa tidak?” tanya Sam.

“Mengapa tidak? Kau belum pernah becermin, atau melihat pantulan dirimu yang umpan di genangan air? Wajah itu, janggut itu, hidung itu! Siapa pun yang berpikir untuk menaruh bibir mereka di wajahmu pasti sedang linglung gara-gara panas matahari atau memang sudah gila!”

“Nah! Ah”. Baik dan bersahabat sekali kau mengatakannya. Jadi, bagaimana denganmu? Cantik, ya? Lupakan! Kataku, kalau kita berdua ikut kontes kecantikan, aku yang menang dan kau tidak mendapatkan apa-apa, hihihi! Tapi, sudah cukup, kita sedang membicarakan greenhorn kita. Tadi aku tidak berterima kasih kepadanya, dan aku tidak akan berterima kasih. Tapi nanti, saat kita memanggang bistik bison kita, dia akan mendapatkan potongan paling bagus dan paling enak. Aku akan memotongkannya sendiri. Dia pantas mendapatkannya. Kalian tahu apa lagi yang aku rencanakan?”

“Apa?” tanya Stone.

“Aku akan memberi dia kejutan bagus.”

“Apa itu?”

“Aku akan membiarkan dia menangkap seekor mustang.”

“Kalian akan mengejar mustang?”

“Ya. Lagi pula, aku perlu kuda baru. Aku ingin meminjam kudamu untuk berburu. Kami melihat banteng hari ini, berarti mustang pasti segera terlihat. Aku perkirakan aku cuma harus berkuda ke padang prairi, tempat kita memasang pasak dan mengukur dua hari lalu. Kuda-kuda mustang pasti ada di sana, kalau mereka sudah sampai ke selatan sini.”

Aku tidak menguping lagi, lalu kembali lewat semak-semak dan mendekati ketiga pemburu itu dari sisi lain. Lebih baik mereka tidak tahu aku telah mendengar percakapan mereka.

Sebuah api unggun besar menyala dengan dua dahan bercabang ditusukkan ke tanah di kiri dan kanan api itu. Kedua dahan itu menyangga kayu panggangan yang dibuat dari sebatang dahan yang kuat dan lurus. Ketiga pemburu itu memasangkan seluruh daging ke dahan itu, lalu Sam Hawkens mulai memutarnya perlahan di atas api. Diam-diam aku senang melihat raut wajahnya yang bahagia saat melakukan itu.

Ketika orang-orang lain kembali bersama daging bison yang kami tinggal di padang, mereka membuat api unggun seperti kami. Namun, mereka tidak mengelilingi api dengan tenang dan damai. Setiap orang ingin memanggang daging mereka, tetapi tidak ada cukup ruang. Akibatnya mereka terpaksa memakan bagian mereka setengah mentah.

Aku benar-benar mendapatkan potongan terbaik. Beratnya sekitar satu setengah kilogram, kumakan semuanya. Namun, jangan menganggap aku rakus hanya karena itu. Sebaliknya, biasanya aku makan lebih sedikit daripada kebanyakan orang dengan keadaan seperti ini. Orang yang tidak pernah berada di posisiku tidak mungkin bisa membayangkan banyaknya daging yang bisa dimakan penjelajah, dan bahwa mereka harus makan untuk bertahan hidup.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi, manusia memerlukan sejumlah protein dan karbohidrat di samping vitamin dan mineral. Saat kita berada di peradaban, kita bisa mendapatkannya dengan porsi yang tepat. Tidak jarang penjelajah berada jauh dari peradaban selama berbulan-bulan sehingga terpaksa bertahan hidup dengan daging. Daging mengandung sedikit karbohidrat, jadi penjelajah harus makan banyak daging agar tubuhnya mendapatkan cukup kalori. Dia tidak bisa memikirkan keadaan bahwa terlalu banyak protein yang dimakannya, bahwa porsi itu tidak baik bagi pola makan manusia.

Aku pernah melihat seorang tua penangkap binatang memakan empat kilogram daging dalam sekali duduk, dan saat aku menanyakan itu, dia menjawab sambil menyeringai, “Apa yang ada, aku makan. Dan kalau kau mau memberiku dagingmu, aku bisa menggasaknya sampai tak bersisa.”

Sementara kami makan, Rattler dan kawan-kawan membahas perburuan bison yang kami lakukan. Begitu mereka melihat kedua bison jantan mati di sana, mereka berubah pikiran tentang “kebodohan” yang mereka tuduhkan kepadaku.

Catatan:
[1] Dalam kitab Kejadian dari Kitab Suci Ibrani dan Alkitab, Metusalah adalah orang berumur terpanjang yang tercatat dalam Alkitab (969 tahun).

Iklan