karl-may

Setelah tiga bulan bekerja, kami mendekati ujung sebuah air terjun yang indah, tetapi belum menyelesaikan tugas kami. Padahal, sebagian besar tim lain sudah selesai dan pulang. Ada dua penyebab.

Penyebab pertama adalah medan jatah kami sulit. Rel kereta api direncanakan menyusuri lembah Sungai Canada melewati padang prairi. Lintasan menuju hulu sungai sudah ditentukan, begitu pula bagian-bagian dari New Mexico ke arah barat melalui deret lembah dan bukit. Namun, bagian kami terentang di antara hulu-hulu Sungai Canada dan New Mexico dan kamilah yang harus mencari lintasan yang sesuai. Ini mengharuskan kami sering berkuda, melakukan pendakian yang berat, dan banyak membandingkan hasil pengukuran sebelum pekerjaan yang sesungguhnya bahkan dimulai.

Semua ini semakin sulit karena kami berada di wilayah berbahaya. Suku Kiowa, Comanche, dan Apache berada di daerah ini, dan mereka tidak senang akan ada rel kereta api melalui wilayah yang mereka anggap milik mereka. Kami harus selalu waspada sehingga tentu saja pekerjaan kami luar biasa sulit dan lamban.

Kekhawatiran ini membuat kami tidak bisa mencari makan dengan berburu. Orang-orang Indian pasti mengikuti jejak kami dengan mudah sekali. Jadi, semua kebutuhan kami didatangkan dengan pedati dari Santa Fe. Sayangnya, moda transportasi ini sangat tidak menentu dan sering kali kami terpaksa menunda pekerjaan demi menunggu pedati itu datang.

Alasan kedua berhubungan dengan anggota kelompok kami. Sudah kuceritakan bagaimana Insinyur Kepala dan ketiga pengukur menyambutku dengan hangat di St. Louis. Kejadian itu membuatku berharap bisa bekerja dengan baik bersama mereka, tetapi rupanya tidak demikian.

Rekan-rekanku semua kelahiran Amerika dan memandangku sebagai Greenhorn, juga menyebutku “orang Jerman” dengan menghina. Mereka ingin makan gaji buta. Sebagai orang Jerman yang jujur, aku menghalangi niat buruk mereka, jadi mereka tidak memperlakukanku dengan ramah seperti semula. Aku tidak membiarkan ini memengaruhiku dan kuteruskan pekerjaanku. Tidak lama kemudian, aku mulai menyadari bahwa mereka kurang cakap. Mereka memberiku tugas-tugas tersulit sementara mereka sendiri bekerja seringan mungkin. Aku tidak keberatan. Aku selalu beranggapan bahwa semakin banyak hal yang kita perbuat, kita semakin kuat.

Mr. Bancroft, Sang Insinyur Kepala, adalah orang yang paling mumpuni di antara mereka, terapi sayangnya dia lemah terhadap brendi. Sejak beberapa tong minuman perusak ini diangkut dari Santa Fe, dia lebih akrab dengan brendi daripada peralatan pengukuran. Kadang-kadang dia tergeletak di tanah, tertidur dalam keadaan mabuk, selama setengah hari. Riggs, Nlarcv, dan Wheeler, ketiga pengukur, sudah terpaksa ikut membayar jatah alkohol mereka (begitu pula aku), jadi mereka minum sebanyak Bancroft agar uang mereka tidak sia-sia.

Wajar saia ketiga orang ini juga sering teler. Karena aku tidak minum setetes pun, akhirnya aku mengerjakan semua tugas, sementara kegiatan mereka bergantian antara minum dan tertidur karena mabuk. Aku paling menyukai Wheeler karena setidaknya dia mengerti bahwa aku membanting tulang demi mereka padahal sesungguhnya ini bukan kewajibanku. Tentu saja pekerjaan kami terkena imbasnya.

Orang-orang lain dalam rombongan kami sama buruknya. Dua belas penjelajah sudah menunggu kami saat kami tiba di bagian kami. Semula aku memandang mereka dengan sangat hormat, terapi segera aku memandang mereka sebagai segerombol orang menyedihkan.

Semestinya mereka melindungi kami dan membantu pekerjaan kami. Untunglah, selama tiga bulan pertama tidak terjadi apa-apa yang membuatku terpaksa meminta perlindungan yang seharusnya mereka berikan. Perihal membantu kami, aku berani mengatakan sebaliknya, entah bagaimana dua belas orang paling malas di Amerika berkumpul dalam proyek ini. Sulit sekali bekerja dalam keadaan seperti ini!

Menurut kontrak kami, Bancroft berwenang sebagai pemimpin, dan perilakunya memang seperti pemimpin, tetapi tidak seorang pun mengacuhkannya. Saat dia memberikan perintah, orang-orang lain menertawainya, lalu dia mengumpat dengan kata-kata yang jarang kudengar sebelum mencari brendi untuk meredakan kekesalannya.

Riggs, Marcy, dan Wheeler bertingkah setali tiga uang. Aku cukup sadar diri untuk mengambil alih proyek ini, tetapi aku melakukannya dengan cara yang tidak disadari orang-orang lain. Seorang yang masih muda dan tidak berpengalaman seperti aku tidak akan pernah ditanggapi dengan serius. Seumpama aku cukup tolol untuk berbicara dengan nada suara memerintah, mereka pasti menertawaiku. Tidak, aku harus bekerja dengan hati-hati dan diam-diam, seperti seorang istri cerdik bersuamikan laki-laki pemarah yang sedang belajar cara mengarahkan dan menuntun suaminya tanpa diketahui. Aku juga dipanggil “Greenhorn” sepuluh kali sehari oleh para penjelajah setengah liar dan gaduh ini, tetapi perlahan-lahan mereka mulai mengikuti petunjukku sambil mengira melakukan keinginan mereka.

Dalam proses ini aku banyak dibantu oleh Sam Hawkens dan dua rekannya, Dick Stone dan Will Parker. Ketiga laki-laki ini jujur luar dalam. Tidak hanya itu, mereka adalah pemandu berpengalaman, cerdas, dan pemberani. Mereka juga sangat dihormati di seantero Barat. Aku tidak menyangka hal ini kali pertama bertemu Sam di St. Louis.

Mereka sering menemaniku bekerja dan menjauhi orang-orang lain tanpa membuat mereka tersinggung. Walaupun aneh, Sam paling pandai memancing perhatian kelompok bandel itu. Kalau dia berbicara dengan suaranya yang setengah nyaring dan setengah lucu, mereka menurutinya sehingga beban pekerjaanku berkurang.

Di antara kami telah terjalin hubungan seperti tuan tanah dengan salah seorang warganya. Dia melindungiku dan melakukannya tanpa diminta. Akulah Greenhorn sedangkan dialah penjelajah berpengalaman dengan kata-kata dan tindakan yang dianggap tak bercela. Manakala ada waktu dan kesempatan, dia mengajariku segala hal yang perlu diketahui dan bisa dilakukan orang di Wild West. Seumpama Winnetou adalah guruku di sekolah lanjut, Sam Hawkens mengajariku di sekolah dasar. Dia membuatkan laso untukku dengan tangannya sendiri dan membiarkan aku berlatih melasonya dan melaso kudanya.

Saat aku sudah cukup pandai untuk melaso sasaranku pada setiap lemparan, dia sangat senang dan berteriak, “Bagus sekali, anak muda, kerja yang bagus! Tapi, jangan terbang dengan pujian itu. Kadang-kadang murid yang paling bodoh pun perlu dipuji oleh guru. Aku sudah mengajar banyak penjelajah muda, dan mereka semua mempelajarinya dengan lebih cepat dan lebih mudah daripada kau. Tapi, kalau kau terus belajar, mungkin enam atau delapan tahun lalu kami tidak perlu memanggilmu Greenhorn lagi. Untuk sementara, percayalah kata orang bahwa kadang-kadang orang bodoh pun bisa berhasil seperti orang ahli, kalau aku tidak keliru!”

Dia berpura-pura tulus saat mengucapkannya dan aku menerimanya dengan tampak tulus juga, tapi aku tahu bahwa maksud Sam sesungguhnya sama sekali berbeda.

Perihal pelajaran ini, bagian praktiklah yang paling aku sukai. Pekerjaanku menyita banyak sekali waktu dan tenagaku sehingga aku tidak akan sempat mengasah kemampuan hidup di alam liar apabila tidak ada Sam Hawkens. Terlebih lagi, kami berlatih dengan sembunyi-sembunyi, selalu jauh dari perkemahan agar kami tidak ketahuan. Itu keinginan Sam, dan saat aku menanyakan alasannya, dia menjawab, “Aku melakukannya demi kau, Sir. Bakatmu sedikit sekali untuk hal semacam ini, aku pasti sangat malu kalau anak-anak itu melihatmu. Nah, sekarang kau tahu. Hihihi!”

Akibatnya, tidak seorang pun di kelompok kami memercayai kemampuanku dengan senjata atau apa pun yang memerlukan ketangkasan fisik. Namun, aku tidak mempersoalkannya. Walaupun mengalami segala rintangan yang kusebut tadi, akhirnya pekerjaan kami maju cukup jauh dan mungkin dalam seminggu ini kami akan bisa menyambung pekerjaan kami dengan bagian tim berikutnya. Bancroft mengumumkan bahwa dia akan berkuda lebih dulu untuk menyampaikan pesan kepada tim sebelah bersama salah seorang penjelajah untuk memandunya. Ini bukan kali pertama pesan semacam itu dikirim. Kami harus selalu bertukar kabar dengan tim bagian belakang dan depan kami. Karenanya, aku tahu bahwa insinyur yang bertanggung jawab atas grup di depan adalah orang yang sangat cakap.

Bancroft memutuskan berangkat lebih cepat pada Minggu pagi. Dia ingin mengadakan minum-minum perpisahan pada malam sebelumnya, dan semua orang akan ikut serta. Aku satu-satunya orang yang tidak diundang, sementara Hawkens, Stone, dan Parker menolak ajakan itu. Pesta pora mereka berlangsung lama sekali sehingga bergumam pun Bancroft hampir tak mampu pada akhir pesta itu. Rekan-rekannya sama rakusnya dan sama mabuknya. Rencana keberangkatan tidak perlu ditanyakan lagi. Mereka semua berbuat seperti biasa, merangkak ke balik semak-semak untuk tidur.

Lama aku memikirkan apa yang harus dilakukan. Pesan harus disampaikan, dan orang-orang ini akan tidur setidaknya sampai sore hari. Pilihan terbaik adalah aku harus menyampaikan pesan, tetapi bisakah aku –aku yakin, bahwa selama empat hari aku pergi, tidak seorang pun akan berusaha bekerja.

Saat aku membahas hal ini dengan Sam, dia menunjuk ke barat dan berkaca. ” Tidak perlu berkuda lagi, Sir, lihat dua orang berkuda yang sedang mendekat? Kau bisa menitip pesan, kepada mereka. Aku memandang ke arah yang ditunjuknya dan melihat dua orang berkuda mendekati kami. Mereka kulit putih dan aku mengenali salah seorangnya sebagai pemandu tua yang pernah datang beberapa kali untuk menyampaikan pesan dari tim bagian berikutnya. Di sebelahnya ada seorang laki-laki yang lebih muda, tidak berpakaian seperti penjelajah. Aku belum pernah melihat dia. Aku pun menghampiri mereka, dan saat kami berhadapan, mereka menghentikan kuda dan orang yang tidak kukenal itu menanyakan namaku.

Saat aku menjawab, dia menatapku dengan ramah dan berkata, “Rupanya kau gentleman Jerman muda yang mengerjakan semua pekerjaan di sini, sementara tiga gelandangan itu bermalas-malasan saja. Mungkin kau pernah mendengar namaku, Sir. Namaku White.” Rupanya inilah insinyur yang bertanggung jawab atas bagian berikutnya ke arah barat. Kepada dialah seharusnya pesan kami disampaikan. Pasti ada alasan kuat baginya untuk datang sendiri. Dia turun dari kudanya, menjabat tanganku, dan mengerling ke perkemahan kami. Dia tersenyum tipis saat menemukan orang-orang yang tidur di balik semak-semak dan tong brendi mereka, tetapi senyumnya tidak ramah.

“Mabuk?” dia bertanya.

Aku mengangguk.

‘Semuanya?

“Ya. Mr. Bancroft ingin pergi ke bagianmu, dan dia mengadakan pesta pelepasan kecil-kecilan. Aku akan membangunkan dia dan….”

“Stop! dia memotongku. “Biarkan mereka tidur. Aku ingin berbicara denganmu tanpa didengar oleh mereka. Jangan bangunkan mereka! Siapa tiga orang yang berdiri di sana?”

“Sam Hawkens, Will Parker, dan Dick Stone, ketiga pemandu kami yang dapat diandalkan.”

“Ah, Hawkens, pemburu kecil yang unik. Orang yang hebat. Aku pernah mendengar tentang dia. Ayo ajak mereka bertiga bergabung dengan kita.”

Aku melambai kepada mereka agar menghampiri kami, lalu aku bertanya, “Kau datang sendiri, Mr. White. Apakah ada hal penting yang membuatmu ke sini?”

“Aku cuma ingin memeriksa apakah kita bekerja sesuai bayaran. Aku juga ingin berbicara denganmu, terutama denganmu. Kami sudah menyelesaikan bagian kami, tapi bagian kalian belum selesai.”

“Masalahnya adalah tanahnya sulit, dan aku akan….”

“Aku tahu, aku tahu,” dia memotongku. “Sayangnya, aku tahu semuanya. Apabila kau tidak bekerja tiga kali lebih keras, Bancroft pasti masih di titik awal pekerjaannya.”

“Sama sekali tidak seperti itu, Mr. White. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa mengira cuma aku yang bekerja keras. Aku sekadar melakukan jatah tugasku.”

“Tenang, Sir, tenang! Pembawa pesan sudah hilir mudik antara perkemahan kita, dan aku pernah menguping mereka. Baik sekali kau melindungi para pemabuk ini, tapi aku ingin tahu hal yang sebenarnya. Dan karena aku tahu kau terlalu setia untuk memberitahuku, aku akan bertanya kepada Sam Hawkens. Ayo duduk.”

Kami pergi ke perkemahan kami. Dia duduk di rumput di depan kemah dan memberi isyarat agar kami ikut duduk. Kami menurut, dan dia mulai menanya-nanyai Sam Hawkens, Stone, dan Parker dengan getol. Mereka menceritakan semuanya apa adanya. Aku berkomentar di sana-sini untuk menghaluskan komentar mereka dan untuk melindungi rekan-rekan kerjaku, tetapi sepertinya Mr. White terkesan. Dia malah menyuruhku berhenti membela mereka dan berkata usahaku percuma.

Sesudah dia mendengar semuanya, dia memintaku untuk menunjukkan gambar-gambar dan buku catatan kami. Aku tidak mau melakukannya, tetapi apa boleh buat. Kalau aku menolak, aku akan membuat dia marah, dan aku tahu bahwa dia bermaksud baik kepadaku. Dia mengamati mereka dengan saksama dan ketika dia menanyakannya, aku tidak bisa berbohong. Cuma aku yang pernah membuat gambar dan catatan. Semua orang lain tidak pernah menggambar segaris pun atau menulis satu angka pun.

“Tapi, dari buku catatan ini kita tidak bisa tahu seberapa banyak atau seberapa sedikit hasil kerja setiap orang,” katanya. “Kau patut dipuji atas kesetiaanmu terhadap rekan-rekan kerjamu, tapi kau melangkah terlalu jauh.”

Kemudian Hawkens, dengan wajah licik, berkata, “Periksa saku kemejanya, Mr. White! Dia menyimpan kaleng sarden di sana. Tidak ada sarden, tapi dia menyimpan kertas di dalamnya. Mungkin buku catatan pribadinya, kalau aku tidak keliru. Mungkin ceritanya berbeda dibanding buku catatan resmi, menyembunyikan kemalasan rekan-rekan kerjanya.”

Sam tahu bahwa aku sudah membuat gambar-gambar sendiri dan menyimpannya di dalam kaleng sarden yang aku bawa. Aku tidak senang dia mengungkit rahasiaku. White ingin melihatnya. Aku menimbang apa yang sebaiknya aku lakukan. Apakah aku berkewajiban kepada rekan-rekanku untuk diperbudak demi mereka tanpa ucapan terima kasih, lalu diam saja? Tentu aku tidak ingin menyakiti mereka, tetapi aku juga tidak bisa bersikap tidak sopan kepada White. Jadi, akhirnya aku memberikan buku catatanku kepadanya, tetapi dengan syarat dia tidak akan membicarakan isinya kepada siapa pun.

Dia membaca kertas-kertasku, mengembalikannya, dan berkata, “Aku harus membawa lembaran-lembaran ini dan memberikannya kepada pihak yang berwenang. Rekan-rekanmu tidak mumpuni dan tidak pantas dibayar satu dolar pun lagi, sedangkan kau harus menerima pembayaran tiga kali lebih banyak. Yah, terserah kamu. Tapi, ingat bahwa sebaiknya kau menyimpan catatan-catatan pribadi ini. Mungkin nanti catatan ini sangat berguna bagimu. Sekarang ayo kita bangunkan para gentleman yang terhormat itu.”

Dia berdiri dan memanggil orang-orang. Para ‘gentleman’ datang dengan mata kosong dan wajah kusut dari balik semak-semak mereka. Bancroft marah ada orang yang mengganggu tidurnya, tetapi langsung bersikap sopan saat diberi tahu bahwa Mr. White dari bagian berikutnya telah tiba. Kedua orang ini belum pernah bertemu. Bancroft menawari White segelas brendi, tetapi itu gagasan buruk. White memanfaatkan tawaran ini sebagai titik mula untuk menyerocos marah. Bancroft pasti belum pernah disembur sedahsyat ini.

Dia mendengarkan dengan diam terperangah, lalu dia menyambar lengan White dan menggeram, “Mister, katakan siapa namamu?”

“Namaku White, kau pasti sudah tahu.

“Dan apa jabatanmu?”

“Insinyur yang bertanggung jawab atas bagian berikutnya.”

“Apakah ada di antara kami yang memerintah orang di bagianmu?” “Tidak, setahuku tidak ada.”

“Nah! Namaku Bancroft dan aku insinyur yang bertanggung jawab atas bagian ini. Tidak ada orang yang bisa memerintahku, apalagi kau, Mr. White.”

“Itu benar, kita setara,” White menjawab dengan tenang. “Tidak ada di antara kita yang perlu diperintah oleh yang lain. Tapi, kalau salah seorang di antara kita melihat yang lain merugikan perusahaan tempat kita berdua sedang bekerja, dia berkewajiban menyadarkan yang lain tentang kesalahannya. Nasib pekerjaanmu sepertinya ada di tangan tong brendi itu. Aku hitung ada enam belas orang di sini, semuanya tidur dalam keadaan mabuk saat kami tiba dua jam lalu…

“Dua jam lalu?” Bancroft menyela- “Kau sudah di sini selama itu?”

“Benar. Aku sudah memeriksa catatan dan gambar dan mengamati siapa yang membuatnya. Kalian berleha-leha di sini, sementara hanya satu orang di antara kalian, orang termuda pula, yang mengerjakan semuanya.”

Mendengar ini, Bancroft berbalik dan berdesis kepadaku, “Kau mengadu kepadanya, pasti kau! Coba saja kau bilang tidak, dasar pembohong keji, dasar pengkhianat jahanam!”

“Tidak,” White menjawabnya. “Rekan mudamu bersikap kesatria dan hanya mengatakan hal-hal baik tentangmu. Dia berusaha melindungi kalian, dan aku sarankan agar kau meminta maaf kepadanya karena menyebutnya pembohong dan pengkhianat.”

“Meminta maaf? Aku tidak sudi!” Bancroft tertawa dengan mengejek “Si Greenhorn ini tidak bisa membedakan segitiga dari segi empat, tapi tetap sok menjadi pengukur. Pekerjaan kami tidak bisa maju karena dia keliru mengerjakan semuanya dan menghambat kami. Lantas sekarang, alih-alih mengakui kekurangannya, dia malah memfitnah kami dan mengambinghitamkan kami seperti ini….”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Sudah berbulan-bulan aku bersabar dan membiarkan orang-orang ini berpikir sesuka mereka. Kini tiba saatku untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka keliru tentangku. Aku mencengkeram lengan Bancroft, meremasnya keras sekali sehingga kalimatnya tidak bisa diselesaikan karena dia kesakitan.

Aku berkata kepadanya, “Mr. Bancroft, kau minum terlalu banyak dan belum cukup tidur. Aku akan menganggap kau masih mabuk, sehingga kita berpura-pura saja tadi kau tidak mengatakan apa-apa.”

“Aku, mabuk? Kau gila!” dia menjawab.

“Ya, mabuk! Karena kalau aku anggap kau sadar dan mengata-ngataiku dengan sengaja, aku harus meninjumu hingga jatuh ke tanah seperti anak kecil. Kau masih ingin menyangkal sedang mabuk?”

Aku masih memegangi lengannya erat-erat di tanganku. Tentu dia tidak pernah merasa perlu takut kepadaku sebelumnya, tetapi sekarang dia takut kepadaku. Ketakutannya terlihat pada wajahnya. Dia sama sekali bukan laki-laki yang lemah, tetapi raut wajahku tampak membuatnya terkejut. Dia tidak mau mengakui bahwa dia masih mabuk, tetapi juga tidak berani mempertahankan tuduhannya. Jadi, dia berbalik meminta dukungan dua belas penjelajah yang semestinya melindungi kami.

“Mr. Rattler, mengapa kau membiarkan orang ini menyerangku? Bukankah kau ada di sini untuk melindungi kami?

Rattler ini orang tinggi dan besar yang tampak sekuat tiga atau empat laki-laki sekaligus, seorang pribadi yang kasar sekaligus teman minum kesukaan Bancroft. Dia tidak menyukaiku, sehingga dia senang mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan kekesalan yang dipendamnya terhadapku.

Dia maju dengan cepat, mencengkeram lenganku seperti tadi aku mencengkeram lengan Bancroft, lalu dia menjawab, “Aku tidak akan membiarkannya, Mr. Bancroft. Bocah ini belum bisa memakai kaus kaki sendiri, tapi sekarang mengancam dan memfitnah orang dewasa. Lepaskan Mr. Bancroft, bocah, atau aku akan menunjukkan Greenhorn macam apa kau ini.”

Perintah tersebut ditujukan kepadaku, dan dia mengguncang lenganku saat mengatakannya. Aku lebih menyukai ini karena dia musuh yang lebih kuat daripada sang Insinyur Kepala. Kalau aku memberi dia pelajaran, pengaruhnya akan lebih besar daripada kalau aku membuktikan kepada Mr. Bancroft bahwa aku bukan pengecut.

Aku menyentakkan lenganku agar lepas dari tangannya dan menjawab, “Kau menyebutku bocah dan Greenhorn? Cabut kata-katamu sekarang juga, Mr. Rattler! Kalau tidak, aku akan membantingmu!”

“Kau akan apa?” dia tertawa. “Greenhorn sepertimu benar-benar cukup bodoh untuk percaya bahwa…..”

Kalimatnya terpotong karena aku meninju pelipisnya keras sekali sehingga dia jatuh seperti karung kosong dan terjengkang. Hening beberapa detik, lalu salah satu rekan Rattler berseru, “All devils! Kita diam saja dan menonton orang Jerman ini menyerang pemimpin kita? Hajar bajingan itu!”

Dia menerjangku. Aku menyambutnya dengan menendang perutnya. Ini cara yang jitu untuk menjatuhkan musuh asalkan kita berpijak ke tanah dengan kuat. Dia jatuh ke tanah. Langsung saja aku berlutut di atas dadanya dan meninju dagunya dengan pukulan pamungkas.

Lalu, aku melompat, mengeluarkan dua revolverku, dan berseru, “Siapa lagi? Ayo!”

Tidak seorang pun di antara gerombolan Rattler yang tampak ingin membalas kekalahan dua rekan mereka.

Satu orang menatap rekan-rekannya sebagai pertanyaan. Namun, aku memperingatkan mereka, “Dengar! Siapa pun yang maju atau mengambil senjata akan kutembak kepalanya. Terserah apa anggapan kalian tentang Greenhorn pada umumnya, tapi aku peringatkan kalian, Greenhorn Jerman yang satu ini bisa menghabisi dua belas penjelajah seperti kalian.”

Sam Hawkens mendekat dan berdiri di sebelahku dan berkata, “Dan aku, Sam Hawkens, mendukung peringatan itu, kalau aku tidak keliru. Greenhorn Jerman muda ini berada dalam perlindunganku. Barang siapa di antara kalian berusaha menekuk sehelai rambut di kepalanya saja, aku akan menembakkan peluru menembus kepala kalian. Camkan itu baik-baik, aku serius, hihihi!”

Dick Stone dan Will Parker memutuskan untuk berdiri di sampingku juga untuk menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan Sam Hawkens. Ini membuat para penyerangku gentar. Mereka berpaling dariku sambil bergumam mengancam dan mengumpat, lalu berusaha membangunkan kedua rekan mereka yang sudah jatuh.

Bancroft mengamankan diri ke dalam kemah. White menatapku dengan membelalak heran. Dia menggeleng dan berujar dengan sangat takjub, “Tapi, Sir, tadi itu luar biasa! Aku benar-benar tidak mau jatuh ke tanganmu. Kau harus dipanggil “Shatterhand, karena kau bisa menjatuhkan orang besar dan kuat itu dengan satu pukulan. Aku belum pernah melihat apa pun yang seperti itu.”

Usul ini tampak membuat si kecil Hawkens senang. Dia mengikik dengan gembira.

“Shatterhand, hihihi! Masih tunduk hijau, tapi sudah menyandang nama panggilan khas penjelajah, nama yang bagus pula! Ya, kalau Sam Hawkens melirik seorang Greenhorn, anak itu pasti akan menjadi sesuatu, kalau aku tidak keliru, Shatterhand. Old Shatterhand! Agak mirip Old Firehand, seorang penjelajah hebat, sekuat beruang. Menurutmu bagaimana. Dick? Will? Kalian suka irama itu?”

Aku tidak mendengar jawaban mereka karena perhatianku tertuju lurus kepada White. Laki-laki itu mendekat untuk menjabat tanganku. Dia mengajakku pergi ke pinggir dan berkata, ‘Aku sangat senang denganmu, Sir. Bagaimana kalau kau bergabung denganku?”

“Mau atau tidak mau, aku tidak bisa, Mr. White.”

“Mengapa tidak?”

‘Aku harus menunaikan kewajibanku di sini.”

“Pshaw”. Aku bisa bertanggung-jawab untuk mempekerjakanmu.”

“Itu percuma kalau aku sendiri tidak bisa mempertanggung’ jawabkannya. Aku dikirim ke sini untuk mengukur bagian ini, dan aku tidak bisa pergi sampai kami selesai.”

“Biarkan Bancroft dan tiga orang lain yang menyelesaikannya.”

“Bisa saja, tapi seberapa cepat itu akan terjadi? Tidak, aku harus tetap di sini.’

“Tapi, pikirkanlah seberapa berbahaya keadaanmu nanti.”

“Mengapa?”

“Kau perlu bertanya? Pasti kau mengerti bahwa kau baru saja menjadi musuh bebuyutan orang-orang ini.”

“Aku bukan musuh mereka. Aku tidak melakukan apa-apa kepada mereka.”

“Benar, atau dulu itu benar sampai beberapa menit lalu. Tapi, setelah kau menjatuhkan dua di antara mereka, di antara kalian sudah ada apa-apa.”

“Bisa jadi. Tapi, aku tidak takut kepada mereka. Apalagi dua pukulan tadi pasti membuatku disegani oleh mereka. Mereka akan berpikir dua kali sebelum menyerangku. Lagi pula, Hawkens, Stone, dan Parker berpihak kepadaku.”

“Terserah kamu. Kau harus membuat keputusan sendiri, apa pun akibatnya. Tapi, kau bisa benar-benar berguna di tempatku. Terlepas dari itu, bagaimana kalau kau berkuda bersamaku sebentar?”

“Sekarang?”

“Ya, sekarang.”

“Kau sudah mau pergi, Mr. White?”

“Ya. Melihat keadaan di sini, aku tidak mau berada di sini lebih lama daripada seperlunya.”

“Tapi, setidaknya kau perlu makan sebelum pergi, Sir?”

“Tidak perlu. Kami membawa semua keperluan kami dalam tas pelana.”

“Kau tidak berpamitan dengan Bancroft?”

“Aku tidak mau.”

“Tapi, bukankah kau datang untuk membahas pekerjaan dengannya?”

“Benar. Tapi, aku bisa menitipkan pesanku kepadamu. Kau malah akan lebih memahami maksudku daripada dia. Tujuan utamaku adalah memperingatkan kalian tentang orang-orang Indian.”

“Kau sudah melihat mereka?”

“Belum secara langsung, tapi kami menemukan jejak mereka. Sekarang musim kuda mustang dan banteng bermigrasi ke selatan. Orang-orang Indian datang dari kampung mereka untuk berburu. Aku tidak mencemaskan suku Kiowa karena kita sudah membuat perjanjian dengan mereka tentang rel kereta api. Tapi, suku Comanche dan Apache belum tahu, jadi jangan sampai mereka melihat pekerjaan kita. Di bagian kami, pengukuran sudah selesai dan kami sedang keluar dari sana secepat mungkin. Pastikan kalian selesai dalam waktu dekat! Daerah sekitar sini akan semakin berbahaya pada siang hari. Ambil kudamu, dan tanya Sam Hawkens apakah dia mau ikut.” Tentu saja, Sam mau ikut.

Sesungguhnya, aku ingin bekerja, tetapi ini hari Minggu, hari Tuhan. Di alam liar sekalipun, Kristus sendiri merenung dan mengerjakan kewajiban-kewajiban spiritual. Lagi pula, aku berhak mendapatkan satu hari libur. Jadi, aku pergi ke kemah Bancroft dan memberitahunya bahwa aku tidak bekerja dan akan menemani White sebentar bersama Sam Hawkens.

“Pergi, dan semoga setan merenggut jiwamu. Semoga setan mematahkan lehermu!” jawabnya. Walaupun aku tidak sadar pada waktu itu, tidak lama kemudian harapan buruknya itu nyaris terwujud.

Iklan