Surah Ibrahim

Puisi-Puisi Sulaiman Djaya (Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

Belukar Kecapi

Engkaulah matahari –dan aku rumput pagihari.
Bila burung-burung beterbangan
ke arah senja, aku akan mati
meninggalkan puisi.

Engkau lah hujan –dan aku bunga bermekaran.
Di antara kegaiban udara dan hijau
yang bergeletaran, setiap kata
adalah amsal pengetahuan.

Di mana kelak aku akan bermuara, itu bukanlah
kuasaku. Tetapi di sudut-sudut mataku,
keriangan dan kegembiraan
meminjam para capung dan kupu-kupu.

Engkau lah arus dan aku batu-batu di dasar sepi.
Kutanggung lukaku demi cinta dan rindu
pada maut paling harum. Adakah sesuatu
yang lebih menggoda

itu bukanlah pamrihku. Dan waktu, juga musim,
adalah bahasa yang paling gagu. Namun,
dari semua itu, takdir manusia dan sejarahnya
adalah kisah yang tak pernah rampung.

(2016)

Fabel Alam

Pikiranku adalah sungai –diam menyembunyikan
angan-angan. Ilalang dan batu-batu
saling menerka di dalam hatiku. Ingin kusentuh
si putri malu, tapi ia terlampau peka
dan hanya ingin sendirian.

Siapa yang lebih bijak selain lumut
diguyur hujan dan direndam arus
terus-menerus. Ibu dari segala ibu adalah udara
yang kuhirup dan melahirkan putik-putik bunga.
Mereka adalah kamus-kamus bahasa

dan rahim-rahim perumpamaan
bagi penyair –kesalehan yang diabaikan.
Rumah yang harus kau masuki
bila kau gundah, ketika doamu ingin ikhlas
adalah amsal-amsal mekar kembang

dibangunkan fajar dan matahari di matamu.
Oh adakah yang lebih kudus selain misteri hidup
yang tak dapat kubaca? Terkadang kegembiraan
hadir begitu saja ketika hatiku menerima
segala yang tak kuharapkan mengada.

(2016)

I Just Wish To Be Close by Sulaiman Djaya

Bright Star

Lukisan karya Samuel Melton Fisher

Sulaiman Djaya

Iklan