Erendira

oleh Gabriel Garcia Marquez

Nenek memandanginya lekat-lekat, saat itu, untuk merendahkannya tetapi juga berusaha mengukur nyalinya. “Boleh saja,” kata nenek, “asalkan kamu membayar seluruh kerugianku karena kecerobohannya. Semuanya delapan-ratus-tujuh-puluh-dua-ribu tiga ratus lima belas peso, dikurangi empat ratus dua puluh yang sudah dibayarnya, jadi tinggal delapan-ratus-tujuh-puluh-satu ribu delapan ratus sembilan puluh lima.”

Mesin truk dinyalakan. “Percayalah, akan saya berikan uang itu bila ada,” kata kernet itu sungguh-sungguh. “Gadis itu patut menerimanya.” Nenek sangat terkesan dengan keputusan anak muda itu. “Kalau begitu kembali saja bila kau sudah punya uangnya,” jawab nenek dengan nada simpatik. “Tapi lebih baik kamu pergi sekarang, karena kalau kita hitung-hitungan lagi akhirnya kamu akan berutang sepuluh peso.” Si kernet melompat ke belakang truk dan berangkat. Dari atas truk dia melambaikan tangan kepada Eréndira, tetapi Eréndira masih kaget hingga tidak membalas lambaiannya.

Di tanah kosong di mana truk itu meninggalkan mereka, Eréndira dan neneknya membuat gubuk dari seng dan sisa-sisa karpet Oriental. Kemudian mereka membentangkan dua tikar di tanah dan tidur selelap di rumah besar dahulu sampai matahari membuat lubang-lubang di langit-langit dan membakar wajah mereka. Berbeda dari biasanya, kini nenek menyibukkan diri pagi itu mendandani Eréndira. Nenek merias wajah cucunya dengan gaya kecantikan orang mati yang menjadi mode di masa mudanya, menghiasinya dengan kuku palsu dan pita organdi yang terlihat seperti kupu-kupu di kepala Eréndira. “Kamu terlihat menyeramkan,” katanya, “tapi lebih baik begitu: laki-laki sangat bodoh ketika berurusan dengan masalah perempuan.”

Lama sebelum makhluk-makhluk sangat bodoh itu terlihat mereka mengenali suara dua ekor bagal berjalan di bentangan batu api gurun. Mengikuti perintah nenek, Eréndira berbaring di tikar dengan gaya yang mungkin dilakukan seorang aktris amatir ketika layar siap diangkat. Bertumpu pada tongkat uskupnya, nenek keluar gubuk dan duduk di singgasana menanti bagal lewat. Tukang pos yang datang. Umurnya dua puluh tahun, tetapi pekerjaannya membuatnya tampak tua. Dia mengenakan seragam khaki, celana ketat, topi pandan, dan sepucuk pistol bergantung di ikat pinggang pelurunya. Dia menunggang bagal bagus dan menarik tali kekang bagal lebih tua yang membawa kantong surat-surat.

Ketika melewati nenek dia memberi salam dan berlalu, tetapi nenek memberi tanda padanya untuk mengintip ke dalam gubuk. Laki-laki itu berhenti dan melihat Eréndira terbaring di tikar dengan riasan kematiannya mengenakan baju ketat ungu. “Kamu suka?” tanya nenek. Tukang pos itu masih belum mengerti apa maksud pertanyaan nenek. “Tidak terlalu jelek untuk orang yang sedang diet,” katanya sambil tersenyum. “Lima puluh peso,” kata nenek. “Astaga, banyak amat!” katanya. “Bisa untuk makan sebulan itu.” “Jangan pelit-pelit,” kata nenek. “Pengantar pos udara upahnya lebih bagus daripada pastor.” “Saya mengantar surat-surat lokal,” kata laki-laki itu. “Pengantar pos udara menggunakan truk.” “Padahal, cinta sama pentingnya dengan makan,” kata nenek lagi. “Tapi tidak bisa memberimu makan.”

Nenek sadar bahwa lelaki yang hidup dari apa yang ditunggu-tunggu orang mempunyai waktu yang cukup banyak untuk menawar.” “Berapa uangmu?” tanyanya. Tukang pos turun dari bagalnya, mengambil beberapa uang kertas kumal dari kantongnya dan menunjukkan kepada nenek. Nenek menyambar semuanya segesit menangkap bola. “Aku turunkan harga untukmu,” katanya, “tapi dengan satu syarat: kamu harus menyebarkan berita ini ke mana-mana.” “Sampai ke sisi lain dunia,” kata tukang pos. “Itu pekerjaan saya.” Eréndira, yang tidak dapat berkedip, mencabut bulu mata palsunya dan pindah ke pinggir tikar memberi tempat bagi pacar kilatnya. Segera setelah tukang pos itu masuk gubuk, nenek menutup pintu dengan sentakan kuat pada tirai.

Kesepakatan yang sungguh ampuh. Berdasarkan kabar dari tukang pos, laki-laki berdatangan dari tempat-tempat jauh untuk merasakan kebeliaan Eréndira. Di belakang para laki-laki itu datanglah meja judi dan warung makan, dan di belakang mereka lagi datang seorang tukang foto bersepeda yang, di seberang gubuk, memasang kamera dengan kain hitam di atas tripod dan sebuah latar belakang danau dengan angsa-angsa lesu. Nenek, mengipasi diri di singgasana, terlihat aneh di tengah bazar bikinannya itu. Satu-satunya yang menarik minatnya adalah menjaga ketertiban antrean tamu yang menunggu giliran dan memeriksa jumlah uang yang mereka bayar di muka untuk bertemu Eréndira. Mulanya dia begitu kaku hingga menolak tamu setia yang kurang lima peso uangnya. Tetapi seiring bulan berlalu dia bersedia belajar dari kenyataan dan akhirnya meloloskan orang yang menggenapi pembayaran mereka dengan medali keagamaan, pusaka keluarga, cincin kawin, dan apa saja yang dia gigit terbukti emas murni, sekalipun tidak berkilat.

Setelah lama menetap di kota pertama ini, nenek memiliki cukup uang untuk membeli keledai, dan dia bertolak menjelajahi gurun untuk mencari tempat-tempat yang lebih menguntungkan bagi pembayaran utang. Dia naik tandu yang dipasang di atas keledai dan terlindung dari matahari yang tak pernah bergerak dengan payung berjeruji setengah yang dipegangi Eréndira tepat di atas kepalanya. Di belakang mereka berjalan empat kuli angkut Indian yang membawa sisa-sisa perkemahan: tikar tidur, singgasana yang sudah diperbaiki, malaikat pualam, dan peti tulang-tulang bapak anak Amadis. Tukang foto mengikuti rombongan dengan sepedanya, tetapi tidak pernah mendekati, seolah-olah dia menuju keramaian lain.

Enam bulan berlalu sejak kebakaran, nenek mulai mendapatkan gambaran utuh bisnisnya. “Bila segalanya seperti ini,” katanya kepada Eréndira, “kamu bisa melunasi utangmu dalam waktu delapan tahun tujuh bulan sebelas hari.” Dia kembali menghitung dengan mata terpejam, meraba-raba biji-biji yang dia keluarkan dari tas anyaman yang juga dipakai untuk menyimpan uang, dan membetulkan ucapannya sendiri: “Semua itu, tentu saja, belum termasuk upah dan uang makan para Indian dan pengeluaran-pengeluaran kecil lainnya.” Eréndira, yang berusaha terus melangkah sejajar keledai, membungkuk menghindari panas dan debu, tidak menanggapi angka-angka yang dikatakan neneknya, tetapi dia harus menahan air matanya. “Badanku nyeri semua,” katanya. “Coba tidur.” “Ya, Nek.”

Dia memejamkan matanya, mengambil napas panjang dari udara kering kerontang, lalu terus berjalan sambil tidur.

Sebuah truk kecil penuh sangkar terlihat, menakuti kambing-kambing di debu cakrawala, dan riuh burung-burung seperti percikan air dingin pada hari Minggu yang lesu di San Miguel del Desierto. Memegang kemudi adalah seorang petani Belanda gendut, kulitnya pecah-pecah karena udara alam terbuka, dengan kumis cokelat tebal yang dia warisi dari kakek buyutnya. Anaknya Ulises, yang duduk di sebelahnya, adalah remaja keemasan dengan mata pelaut kesepian dan penampilan bak malaikat menyamar. Orang Belanda itu melihat sebuah tenda yang di depannya semua tentara dari garnisun setempat sedang menunggu giliran. Mereka duduk di tanah, minum dari botol yang sama dari mulut ke mulut, dan mengenakan ranting pohon badam di kepala mereka seolah-olah sedang menyamar untuk bertempur. Si Belanda bertanya dalam bahasanya: “Hah! Apa yang dijual di sana?”

“Perempuan,” anaknya menjawab kalem. “Namanya Eréndira.” “Bagaimana kautahu?” “Semua orang di gurun tahu,” jawab Ulises. Si Belanda berhenti di hotel kecil di kota dan keluar. Ulises tinggal di truk. Dengan jari-jarinya yang gesit dia membuka kopor yang ditinggal ayahnya di jok, mengambil segulungan uang, menyimpan beberapa di kantongnya, dan mengembalikan semua seperti semula. Malam itu, ketika ayahnya tidur, dia memanjat jendela hotel dan ikut antre di depan tenda Eréndira. Keriaan itu memuncak. Para tentara kroco mabuk menari-nari demi tidak menyia-nyiakan musik gratis, dan tukang foto mengambil gambar malam dengan kertas magnesium. Sambil mengawasi bisnisnya, nenek menghitung uang di pangkuannya, memisahkan dalam tumpukan-tumpukan dan menyusunnya dalam keranjang. Hanya ada dua belas tentara saat itu, tetapi antrean malam itu bertambah panjang dengan tamu sipil. Ulises yang terakhir.

Saat itu giliran tentara yang tampangnya hancur. Nenek tidak hanya menghalangi jalannya tetapi bahkan tidak mau menyentuh uangnya. “Tidak, Nak,” katanya. “Kau tidak bisa masuk walaupun membayar dengan semua emas di dunia. Kau membawa sial.” Si tentara, yang tidak berasal dari daerah situ, bingung. “Apa maksudmu?” “Kau mengundang bayangan setan,” kata nenek. “Setiap orang bisa melihatnya di wajahmu.”

Dia menghalau tentara itu dengan tangannya, tanpa menyentuhnya, dan memberi jalan bagi tentara berikutnya. “Langsung masuk saja, ganteng,” katanya ramah kepada tentara itu, “tapi jangan lama-lama, negara membutuhkanmu.” Si tentara masuk tetapi langsung keluar lagi karena Eréndira ingin bicara dengan neneknya. Nenek menjinjing keranjang uang dan masuk ke tenda yang tidak terlalu bagus tetapi bersih dan rapi. Di belakang, di atas pelbet tentara, Eréndira tidak mampu menghentikan gemetar badannya, keadaannya berantakan, kotor oleh keringat tentara.

“Nek,” katanya terisak-isak, “rasanya mau mati.” Nenek memegang dahinya dan ketika dirasanya bukan demam, dia mencoba menghibur Eréndira. “Tinggal sepuluh tentara lagi,” katanya. Eréndira mulai menangis dengan jeritan binatang ketakutan. Nenek sadar bahwa Eréndira sudah melampaui batas ketakutan dan, sambil membelai kepalanya, berusaha menenangkannya. “Masalahnya, kamu lemah,” katanya kepada Eréndira. “Sudahlah, jangan menangis lagi, mandi dengan air rempah agar aliran darahmu normal kembali.”

Dia meninggalkan tenda ketika Eréndira sudah lebih tenang dan mengembalikan uang tentara yang sedang menunggu itu. “Sudah dulu hari ini,” katanya. “Datang lagi besok dan aku beri kamu giliran pertama.” Kemudian dia berteriak di depan antrean. “Sudah dulu ya. Besok lagi jam sembilan pagi.” Para tentara dan tamu-tamu lain bubar diiringi teriakan protes. Nenek menghadapi mereka dengan sikap tenang tetapi mengacungkan tongkat uskupnya dengan serius. “Kalian semua brengsek!” teriaknya. “Kalian pikir gadis ini terbuat dari apa? Besi?” Coba kalian jadi dia. Orang-orang sesat! Gembel!”

Kumpulan laki-laki itu menjawabnya dengan makian yang lebih pedas, tetapi akhirnya dia berhasil menangani pemberontakan itu dan berjaga-jaga bersama para pembantunya hingga mereka mengambili meja dan membongkar lapak judi. Nenek baru akan berbalik masuk ke tenda ketika dia melihat Ulises, mengejutkan, sendirian di tempat gelap dan kosong di mana tadi orang-orang berada. Dia memancarkan aura luar biasa dan tampaknya dia bisa terlihat dalam bayang-bayang berkat pendar ketampanannya. “Kamu,” nenek menyapanya. “Ada apa dengan sayapmu?” “Yang punya sayap kakek saya,” jawab Ulises kalem, “tetapi tidak ada yang percaya.” Nenek meneliti Ulises lagi dengan terkesima. “Yah, aku percaya,” katanya. “Pakai sayapmu dan kembali besok.” Dia kembali ke dalam tenda dan meninggalkan Ulises yang tersipu. Eréndira merasa lebih baik setelah mandi. Dia memakai rok dalam pendek tembus pandang dan mengeringkan rambutnya sebelum tidur, tetapi dia masih berusaha menahan tangisnya. Neneknya sudah tidur.

Dari belakang tempat tidur Eréndira, pelan-pelan sekali, Ulises muncul. Eréndira melihat mata yang cemas dan bening, tetapi sebelum membuka mulut dia menggosok-gosok kepalanya dengan handuk untuk memastikan bahwa itu bukan ilusi. Ketika Ulises berkedip untuk pertama kalinya, Eréndira bertanya dengan suara sangat rendah. “Siapa kamu?” Ulises muncul sampai sebatas bahu. “Namaku Ulises,” katanya. Dia menunjukkan uang curiannya dan menambahkan: “Aku punya uang.” Eréndira meletakkan tangannya di atas tempat tidur, mendekatkan wajahnya ke wajah Ulises, dan bicara kepadanya seperti dalam permainan taman kanak-kanak.

“Mestinya kamu antre,” katanya kepada Ulises. “Aku menunggu semalaman,” kata Ulises. “Nah, sekarang kamu harus menunggu sampai besok,” kata Eréndira. “Rasanya ginjalku seperti dipukuli.” Pada saat itu nenek mulai berbicara dalam tidurnya. “Sudah dua puluh tahun sejak hujan terakhir,” katanya. “Badai begitu hebat hingga hujan bercampur air laut, dan paginya seluruh rumah penuh ikan dan siput, dan kakekmu Amadis, semoga dia beristirahat dengan damai, melihat sinar mantra berpendar mengambang di udara.”

Ulises bersembunyi di belakang tempat tidur lagi. Eréndira tersenyum geli. “Tenang saja,” katanya. “Dia selalu bertingkah gila kalau tidur, tetapi gempa pun takkan dapat membangunkannya.” Ulises muncul kembali. Eréndira memandangnya sambil tersenyum, senyum nakal dan bahkan manyiratkan kasih, dan mengangkat seprai kotor dari kasur. “Sini,” katanya. “Bantu aku mengganti seprai.” Kemudian Ulises keluar dari belakang tempat tidur dan meraih salah satu ujung seprai. Karena seprai lebih besar daripada kasurnya, mereka harus melipatnya beberapa kali. Setiap lipatan membuat Ulises lebih dekat pada Eréndira.

“Aku tergila-gila ingin bertemu kamu,” sekonyong-konyong Ulises berkata. “Setiap orang bilang kamu cantik sekali dan mereka benar.” “Tapi aku akan mati,” kata Eréndira. “Ibuku bilang setiap orang yang mati di gurun tidak akan masuk surga tetapi ke laut,” kata Ulises. Eréndira menyingkirkan seprai kotor dan menutup kasur dengan seprai bersih dan habis disetrika. “Aku belum pernah melihat laut,” katanya. “Seperti gurun, cuma isinya air,” kata Ulises. “Jadi tidak bisa jalan di atasnya.” “Ayahku tahu ada orang yang bisa,” kata Ulises, “tapi itu sudah lama sekali.” Eréndira tertarik namun dia ingin tidur. “Bila kamu datang pagi-pagi besok, kamu bisa dapat giliran pertama,” katanya. “Aku berangkat dengan ayahku fajar nanti,” ujar Ulises. “Apa kamu tidak akan lewat sini lagi?” “Siapa yang tahu?” jawab Ulises. “Kami di sini juga karena tersesat di perbatasan.” Eréndira berpikir sambil melihat neneknya yang sedang tidur. “Baiklah,” putusnya. “Mana uangnya.”

Ulises memberikan uang itu kepadanya. Eréndira berbaring tetapi Ulises gemetar di tempatnya berdiri: pada saat-saat yang menentukan itu tekadnya malah luntur. Eréndira meraih tangan Ulises menyuruhnya cepat-cepat dan barulah dia menyadari kesulitan Ulises. Dia hafal dengan ketakutan itu. “Ini yang pertama, ya?” tanyanya pada Ulises. Tidak menjawab, Ulises tersenyum kecut. Eréndira berubah menjadi sosok berbeda. “Bernapaslah pelan-pelan,” katanya. “Selalu begitu waktu pertama. Setelah itu kamu akan terbiasa.”

Eréndira membaringkan Ulises di sampingnya dan sambil membukakan baju Ulises dia menenangkannya dengan keibuan. “Siapa namamu?” “Ulises.” “Nama gringo,” kata Eréndira. “Bukan, nama pelaut.” Eréndira menelanjangi dada Ulises, mendaratkan beberapa kecupan sayang, mengendus badannya. “Sepertinya kamu terbuat dari emas,” katanya, “tapi badanmu harum bunga.” “Pasti bau jeruk,” kata Ulises.

Lebih tenang sekarang, Ulises tersenyum tahu sama tahu. “Kami membawa burung-burung untuk menghindari orang yang mencari tumpangan di jalan,” tambahnya, “tetapi sebetulnya kami menyelundupkan jeruk menyeberangi perbatasan.” “Jeruk bukan barang terlarang,” kata Eréndira. “Yang ini terlarang,” kata Ulises. “Setiap jeruk lima puluh ribu peso harganya.” Eréndira tertawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. “Yang aku suka darimu,” katanya, “gayamu yang serius mengarang omong kosong.” Dia menjadi spontan dan banyak bicara lagi, seolah-olah keluguan Ulises tidak hanya mengubah suasana hatinya melainkan juga tabiatnya. Nenek, cuma sejengkal dari kemalangan, masih bicara dalam tidurnya. “Saat itu, awal Maret, mereka membawamu pulang,” kata nenek. “Kamu seperti cicak dibungkus katun. Amadis, ayahmu, muda dan gagah, begitu bahagia sore itu hingga dia mengirimkan dua puluh kereta penuh bunga dan menaburkannya di sepanjang jalan sampai seluruh desa seperti lautan bunga.” Dia terus meracau dengan teriakan-teriakan keras dan semangat tak kenal padam selama beberapa jam. Tetapi Ulises tidak dapat mendengarnya karena Eréndira melayaninya dengan sungguh-sungguh dan begitu penuh cinta hingga melayaninya lagi dengan separuh harga selama nenek mengigau dan terus melayaninya tanpa bayaran apa pun sampai fajar.

Sekelompok misionaris yang menegakkan salib berdiri bahu-membahu di tengah gurun. Angin seganas angin petaka mengibar-ngibarkan pakaian goni dan jenggot kasar mereka dan mereka nyaris tidak sanggup berdiri. Di belakang mereka adalah gedung misi, sebuah bangunan batu kolonial dengan menara lonceng mungil di atas tembok yang dikapur tidak rapi. Misionaris termuda, yang bertugas memimpin kelompok, menunjuk pada sebuah retakan alami di tanah lempung halus. “Kalian tidak boleh melewati garis ini!” teriaknya. Keempat Indian yang mengusung nenek di atas tandu dari papan berhenti ketika mendengar teriakan itu. Walaupun tidak begitu nyaman duduk di atas papan-papan tandu dan semangatnya digerus debu dan keringat gurun, nenek tetap mempertahankan kecongkakannya. Eréndira berjalan kaki. Di belakang tandu terdapat delapan orang Indian membawa peralatan dan sebagai penutup adalah tukang foto di atas sepedanya.

“Gurun ini bukan milik siapa-siapa,” kata nenek. “Milik Tuhan,” kata misionaris, “dan kamu melanggar hukum-Nya yang suci dengan bisnis kotormu.” Nenek mengenali pilihan kata dan gaya bahasa semenanjung misionaris itu dan menghindari konfrontasi langsung karena tidak mau remuk membentur kekuhuhan sang misionaris. Nenek pun kembali menjadi dirinya. “Aku tidak mengerti maksudmu, Anakku.” Misionaris itu menunjuk Eréndira. “Anak ini masih di bawah umur.” “Tapi dia cucuku.” “Lebih parah kalau begitu,” jawab misionaris. “Serahkan dia dalam asuhan kami atau kamu harus mengusahakan cara lain.” Nenek tidak menyangka mereka akan mempermasalahkan sampai sejauh itu. “Baiklah, kalau harus demikian.” Dia menyerah ketakutan. “Tetapi cepat atau lambat aku akan lewat, lihat saja.”

Tiga hari setelah perjumpaan dengan para misionaris, nenek dan Eréndira sedang tidur di sebuah desa di dekat misi ketika sekelompok orang dengan diam-diam, merayap layaknya patroli infanteri, menyelinap ke dalam tenda. Mereka adalah enam frater Indian, kuat dan muda, seragam mereka yang kasar tampak berpendar dalam cahaya bulan. Tanpa bersuara mereka menyelubungi Eréndira dalam kelambu dan mengangkatnya tanpa membuatnya terbangun, lalu membawanya seperti ikan besar yang tidak berdaya dalam jaring. Tidak ada usaha yang tidak dicoba nenek untuk mengambil cucunya dari lingkungan misionaris. Baru setelah semuanya gagal, dari yang paling mudah sampai yang paling rumit, dia menemui penguasa sipil, yang dijabat oleh seorang militer. Nenek menjumpainya di halaman rumahnya, lelaki itu bertelanjang dada, dengan senapan tentara dia menembaki satu-satunya awan hitam di langit yang membakar. Dia sedang mencoba melubangi awan itu untuk mendatangkan hujan, tembakannya gencar dan sia-sia, tetapi dia meluangkan waktu untuk mendengarkan nenek.

“Saya tidak dapat berbuat apa-apa,” jelasnya setelah mendengar keterangan nenek. “Para pastor, menurut konkordat, berhak mempertahankan gadis itu sampai dia cukup umur. Atau sampai dia menikah.” “Jadi mengapa mereka memilihmu sebagai walikota di sini?” tanya nenek. “Untuk membuat hujan,” jawab si walikota. Kemudian, ketika awan itu bergerak menjauhi jarak tembak, dia menyudahi tugas resminya dan memberi perhatian penuh pada nenek. “Yang Anda butuhkan adalah seseorang dengan kekuasaan besar yang mendukung Anda,” katanya pada nenek. “Seseorang yang dapat menjamin reputasi moral dan perilaku baik Anda secara tertulis. Anda kenal Senator Onesimo Sanchez?” Duduk di bawah terik matahari di kursi yang terlalu sempit untuk pantat besarnya, nenek menjawab dengan marah tertahan: “Aku hanya seorang wanita miskin yang sendirian di tengah luasnya gurun.”

Wali kota itu, mata kanannya berkedip-kedip menahan panas, memandang nenek dengan iba. “Kalau begitu jangan sia-siakan waktumu, Bu,” katanya. “Anda akan membusuk di neraka.” Dia tidak membusuk, tentu saja. Dia memasang tendanya di seberang misi dan duduk berpikir, seperti prajurit yang mengepung benteng kota musuh seorang diri. Tukang foto, yang sangat mengenalnya, menaruh peralatannya dalam keranjang sepeda dan bersiap-siap pergi sendiri ketika dia melihat nenek di bawah terik matahari dengan mata menatap misi. “Kita lihat siapa yang lelah,” kata nenek, “mereka atau aku.” “Mereka di sini sudah tiga ratus tahun dan masih bertahan,” ujar tukang foto. “Aku pergi.” Baru saat itulah nenek melihat barang muatan sepeda. “Mau ke mana kamu?” “Ke mana angin membawaku,” jawab tukang foto, dan dia pergi. “Dunia ini luas.” Nenek manghela napas. “Tidak seluas yang kau bayangkan, manusia tak tahu di untung.” Tetapi dia tidak menolehkan kepalanya walaupun marah agar pandangannya tidak terlepas dari misi. Dia tidak menolehkan kepalanya selama beberapa hari yang terik menyengat, selama beberapa malam yang berangin ganas, selama dia bermeditasi dan tidak seorang pun keluar dari misi. Orang-orang Indian membangun tempat berteduh dari daun palem di samping tenda dan menggantung buaian mereka, tetapi nenek berjaga sampai jauh malam, tertunduk di singgasananya dan mengunyah butiran beras dari kantungnya dengan kelambanan bawaan sapi mendekam.

Suatu malam iring-iringan truk bak tertutup yang berjalan lambat lewat sangat dekat dengannya dan cahaya dari rangkaian lampu pijar berwarna membuat iring-iringan itu tampak seperti altar remang-remang yang tidur sambil berjalan. Nenek langsung mengenali karena bentuk truk-truk itu seperti milik Amadis. Truk terakhir berjalan pelan, berhenti, dan seorang lelaki turun dari kabin untuk membetulkan sesuatu di belakang. Dia terlihat seperti replika Amadis, mengenakan topi dengan tepi terlipat ke atas, sepatu bot tinggi, dua selempang peluru melintang di dadanya, sepucuk senapan tentara, dan dua pistol. Kalah oleh godaan tak terlawan, nenek memanggil lelaki itu.

“Tahukan kamu siapa aku?” tanya nenek. Lelaki itu menyorotkan senter tepat ke wajah nenek. Untuk sesaat dia mengamati wajah kuyu karena begadang, mata redup karena letih, dan rambut kusut perempuan yang, bahkan di usianya itu, dalam keadaannya yang mengenaskan, dan dengan cahaya terang menyorot wajahnya, mampu menggambarkan bahwa dia pernah menjadi wanita paling cantik di dunia. Ketika yakin belum pernah bertemu nenek sebelumnya, dia mematikan senter. “Satu-satunya yang aku yakin adalah kau bukan Santa Perawan Penolong Abadi.” “Sebaliknya,” kata nenek dengan suara yang sangat manis. “Akulah Doña.” Lelaki itu meraih pistol mengikuti nalurinya. “Doña siapa?” “Doña Amadis yang agung.” “Berarti kau bukan dari dunia ini,” katanya hati-hati. “Apa maumu?” “Pertolonganmu untuk menyelamatkan cucuku, cucu Amadis yang agung, putri anak kami Amadis, yang ditahan di misi itu.” Lelaki itu terlepas dari takutnya. “Kau datang pada orang yang salah,” katanya. “Kalau kaupikir kita bisa berkompromi dalam urusan Tuhan, kau bukanlah seperti yang kaukatakan, kau tidak pernah kenal bapak anak Amadis, dan kau tidak tahu apa-apa soal penyelundupan.”

Dini hari itu nenek tidur lebih sedikit dari sebelumnya. Dia terbaring terjaga memikirkan semuanya, terbungkus dalam selimut wol ketika awal hari mengaduk-aduk kenangannya dan igauan yang dia redam berusaha muncul bahkan ketika dia melek, dan dia harus mengencangkan jantung dengan tangannya agar tidak tercekik kenangan tentang rumah di tepi laut dengan bunga-bunga merah besar tempat dia pernah bahagia. Nenek tetap seperti itu sampai lonceng misi berdentang dan cahaya pertama masuk lewat jendela dan gurun dipenuhi aroma roti panas pagi hari. Baru saat itulah dia mencampakkan letihnya, didorong khayalan bahwa Eréndira sudah bangun dan mencari jalan untuk kabur dan kembali padanya.

Eréndira, bagaimanapun juga, tidak pernah melewatkan semalam pun tanpa tidur sejak mereka membawanya ke misi. Mereka memotong rambutnya dengan pemangkas tanaman sampai kepalanya seperti sikat, membungkusnya dengan jubah kasar pertapa dan memberinya seember kapur dan kuas untuk mengapur tangga setiap kali ada orang yang naik atau turun. Itu pekerjaan berat karena para misionaris dan pembawa novis tak henti-henti datang dan pergi dengan kaki berlumpur, tetapi Eréndira merasa seolah-olah setiap hari adalah hari Minggu setelah kapal dayung mengerikan yang adalah ranjangnya. Lagi pula bukan hanya dia yang letih setiap malam, sebab misi itu didirikan tidak untuk melawan setan melainkan gurun. Eréndira menyaksikan frater-frater Indian membaringkan sapi untuk memerah susu, melompat-lompat di papan berhari-hari untuk memadatkan keju, menolong seekor kambing yang mengalami kesulitan melahirkan. Dia melihat mereka berkeringat seperti buruh pelabuhan kepanasan mengangkut air dari tangki, menyirami dengan tangan kebun unik yang digarap frater-frater lain dengan cangkul untuk menanam sayur di hamparan batu api gurun. Dia melihat neraka dunia oven untuk membakar roti dan ruangan untuk menyetrika baju. Dia melihat seorang suster mengejar babi berkeliling halaman, diseret hewan yang dipegangi kupingnya itu, dan berguling-guling di genangan lumpur tanpa melepaskannya sampai dua frater dengan celemek kulit membantu mengendalikan babi itu dan salah seorang dari mereka memotong tenggorokan hewan itu dengan pisau jagal sewaktu mereka semua bersimbah darah dan lumpur.

Di bangsal isolasi klinik dia melihat suster-suster penderita TBC terbungkus gaun malam, menunggu panggilan Tuhan sambil menyulam baju pengantin di teras sementara sejawat laki-laki mereka berkhotbah di gurun. Eréndira hidup dalam bayang-bayangnya dan mendapati bentuk lain kecantikan dan horor yang tak pernah dia bayangkan dalam dunia sempit tempat tidurnya, tetapi novis yang paling kasar atau yang paling persuasif tidak berhasil membuatnya mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka membawanya ke misi. Suatu pagi, ketika sedang menyiapkan kapur di ember, dia mendengar alunan musik mirip cahaya yang bahkan lebih bening dari cahaya gurun. Terbius oleh keajaiban itu, dia mengintip ke ruang sangat besar dan kosong dengan dinding polos dan jendela-jendela lebar di mana cahaya mempesona Juni masuk dan tinggal di situ, dan di tengah ruangan dia melihat seorang suster sangat cantik yang belum pernah dia lihat sebelumnya sedang memainkan oratorium Paskah dengan klavikor. Eréndira mendengarkan musik itu tanpa berkedip, hatinya di ujung tanduk, sampai lonceng makan siang berdentang. Setelah makan, ketika sedang mengapur anak tangga dengan kuas jeraminya, dia menunggu sampai semua novis selesai naik turun, dan dia sendirian, tanpa seorang pun mendengarnya, lalu dia bicara untuk pertama kalinya sejak masuk misi.

“Aku bahagia,” katanya. Itulah akhir harapan nenek bahwa Eréndira akan melarikan diri dan bergabung dengannya lagi, tetapi dia tetap mempertahankan pengepungannya yang kukuh tanpa membuat keputusan apa pun sampai hari Pentakosta. Selama masa itu para misionaris menyisir gurun mencari gundik-gundik hamil untuk dinikahkan. Mereka menyisir sampai ke pemukiman-pemukiman terpencil dengan truk butut dikawal empat tentara bersenjata lengkap dan sepeti pakaian murahan. Bagian paling sulit dari perburuan Indian itu adalah meyakinkan para perempuan yang mempertahankan diri terhadap Kasih Tuhan dengan argumentasi telak bahwa lelaki yang tidur di buaian mereka dengan kaki terentang, merasa berhak menuntut kerja lebih berat dari istri ketimbang dari gundik mereka. Mereka harus dirayu dengan muslihat, mengencerkan perintah Tuhan dalam bahasa mereka agar tidak terlalu keras bagi mereka, tetapi yang paling lihai di antara mereka sekalipun menyerah dengan sepasang anting-anting berkilat-kilat. Sementara itu, begitu pihak perempuan sudah bersedia menerima, para lelaki digiring keluar dari tempat tidur gantung mereka dengan popor senapan, diikat, dan dinaikkan ke bak truk untuk dinikahkan paksa.

Selama beberapa hari nenek melihat truk kecil itu dipenuhi perempuan Indian hamil menuju misi, tetapi dia luput menangkap peluangnya. Dia baru mendapatkannya tepat pada hari Minggu Pentakosta, ketika dia mendengar ledakan kembang api dan dentang lonceng dan melihat kerumunan sedih dan gembira pasangan yang akan menikah, dia melihat bahwa di antara kerumunan itu ada perempuan-perempuan hamil dengan kerudung dan mahkota pengantin memegang tangan pasangan tidak sah mereka, yang akan disahkan dalam pernikahan massal.

Di barisan terakhir seorang bocah berjalan, lugu, dengan rambut Indian model tempurung kelapa dan pakaian compang-camping, membawa lilin Paskah dengan pita sutra di tangannya. Nenek memanggilnya. “Katakan, Nak,” tanyanya dengan suara paling lembutnya. “Apa peranmu dalam acara ini?” Bocah itu merasa tertekan dengan lilin yang dibawanya dan sulit baginya menutup mulut karena gigi keledainya. “Pastor akan memberi saya komuni yang pertama,” katanya. “Mereka bayar kamu berapa?” “Lima peso.” Nenek mengambil segulungan uang dari kantongnya dan bocah itu melihat dengan takjub. “Kuberi kamu dua puluh,” ujar nenek. “Tidak untuk komuni pertama, tetapi untuk menikah.” “Dengan siapa?” “Cucuku.”

Maka menikahlah Eréndira di halaman misi dalam baju pertapanya dan selendang sutra yang diberikan para novis kepadanya, tanpa tahu nama mempelai pria yang dibelikan neneknya. Dengan harapan tak pasti dia menghadapi siksaan berlutut di tanah mengandung salpeter, bau kulit kambing dua ratus pengantin hamil, hukuman Surat Paulus yang disampaikan dalam bahasa Latin di bawah matahari membara tak kunjung beranjak, sebab para misionaris tidak menemukan jalan lain untuk menghalangi muslihat perkawinan tak terduga ini, tetapi memberinya janji sebagai usaha terakhir untuk mempertahankannya di misi. Walaupun demikian, setelah upacara yang dihadiri oleh pejabat apostolik, wali kota tentara yang menembaki awan, suami barunya, dan neneknya yang tidak menunjukkan emosi apa pun, Eréndira mendapati dirinya sekali lagi di bawah kekuasaan yang mendominasinya sejak lahir. Ketika mereka bertanya apa kehendak bebas, murni, dan pastinya, dia bahkan tidak menunjukkan setitik pun keraguan.

“Saya mau pergi,” katanya. Dan dia menjelaskan banyak hal dengan menunjuk suaminya. “Tapi tidak dengannya, melainkan dengan nenek saya.”

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rizadini Manoppo (melalui terjemahan bahasa Inggris oleh Gregory Rabassa)

Iklan