Dunia Wayang

Banowati

Lukisan karya Li Xiyong

Bibirnya mungil tipis, sedikit basah dengan balutan warna dasar merah alamiah, akan membuat yang memandangnya takkan mengedipkan mata, mengalahkan kecantikan para perempuan fotomodel atau pragawati yang berjalan di cat walk.

Bila ia tersenyum, akan terlihat giginya yang seputih kapas berbaris rapi laksana biji mentimun.

Berwajah oval dengan dagu lancip dihiasi lesung pipit di kedua sisi pipinya. Tubuhnya proporsianal, tidak tinggi, tapi juga tidak terlalu rendah. Jika ia berjalan, liukan tubuhnya seperti seorang penari yang sedang beraksi di atas panggung –sungguh ia adalah gambaran seorang perempuan yang akan menginspirasi para seniman.

Rambutnya lurus, hitam berkilau terjurai menutupi punggung dengan topangan mahkota emas melingkar indah di atas kepalanya.

Ia adalah seorang perempuan yang riang, murah senyum dan pandai mengambil hati lawan bicaranya –tentu saja para lelaki, yang seperti kita tahu, akan mudah tergoda dengan penjelmaan seni yang bernama perempuan. Karena itu, tak heran, di manapun ia menjejakkan kaki, selalu saja menarik perhatian banyak orang.

Usianya baru tujuh belas tahun –sebuah usia di mana seseorang mulai mengenali dirinya, mengenali apa-apa yang dirasakan dan apa-apa yang dibutuhkan. Hanya saja, memang, lain lubuk lain ilalang, lain ladang lain belalang. Lain hati, lain pula yang dirasakan. Meski kecantikannya melampaui imajinasi para seniman, ia adalah perempuan yang tak mudah jatuh cinta begitu saja.

Di sore itu ia asik sendirian. Memainkan musik dan bernyanyi, sembari matanya yang bening laksana bintang tak luput memandang hamparan tanaman bunga yang hijau dengan kuncup mekarnya. Meski begitu, ada rasa gundah menyelinap di benaknya.

Semilir angin berhembus santai dan lembut di taman di mana ia sendirian itu –seakan memang sengaja mencandai wajahnya yang agak sendu dan rambutnya yang seperti tenunan sutra hitam yang rapi, sembari menggoyangkan kuncup-kuncup bunga di taman itu.

Dari ujung mahkota bunga mawar nan merah merekah, seekor Kupu-Kupu berwarna kuning keemasan tampak kepayahan menahan deru angin, yang ternyata mulai bertiup agak kencang. Berkali kali ia berusaha hinggap di atas sang bunga dan mengincar sarinya, tapi tiupan angin bertubi-tubi menggagalkan usahanya.

Cukup lama Kupu-Kupu itu berusaha hinggap. Baru ketika angin mereda, ia mendarat dengan manis dan menghirup wanginya sang mawar.

Ditangkapnya Kupu-Kupu cantik itu, sementara sepasang bibirnya yang indah itu menyunggingkan senyum tipis, mengamati tingkah polah sang Kupu-Kupu yang berusaha menggeliat melepaskan diri dari tangannya yang lembut.

Ilustrasi: Lukisan karya Li Xiyong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s