Gladiator

Setelah berembug di antara mereka, akhirnya diputuskanlah bahwa yang akan berangkat kembali ke Gilinggaya tak lain adalah Sudamala dan Prabasena, dan setelah mereka menyiapkan diri, beserta beberapa perbekalan yang diserahkan langsung oleh Prabu Sri Jayabupati, mereka pun berpamitan dan segera menghilang dari balik gerbang benteng ibukota Banten Girang yang teduh itu, ketika udara sebenarnya masih terasa dingin dan merembes ke pori-pori tubuh mereka.

Hal yang sama juga dilakukan Aria Wanajaya, meski sebelum berangkat, ia sempat menitipkan segulung surat kepada seorang prajurit untuk diserahkan kepada Nhay Mas Dandan, kekasihnya dan istrinya tercinta.

Jarak yang harus mereka tempuh sama-sama jauh dan sama-sama harus menempuh setapak-setapak di antara beberapa hutan yang masih dihidupi oleh sejumlah binatang buas yang siap memangsa kapan saja. Namun itu bukan ihwal yang menggentarkan mereka dengan kanuragan dan disiplin latihan keprajuritan yang telah mereka pelajari cukup lama dari guru mereka masing-masing.

Di waktu malamnya, sebelum akhirnya berangkat di pagi buta tersebut, Aria Wanajaya memang sempat menulis sebuah sajak cerita, sebuah mantra, yang ia persembahkan kepada Nhay Mas Dandan, yang berkat pendidikan orang tuanya yang berkebangsaan Yunan, telah membuatnya sama terpelajarnya dengan Aria Wanajaya.

Hari itu adalah sebuah hari yang untuk kesekian kalinya menjadi takdir perjalanan sepi Aria Wanajaya, meski kali ini dengan beban dan tugas yang tak lagi sama. Dalam perjalanannya itu ia juga sesekali bertanya dan menerka-nerka siapa gerangan seseorang yang hendak ditemuinya atas perintah Sri Jayabupati tersebut, hinggga Prabu Sri Jayabupati begitu menyakralkannya.

“Pastilah reksi itu bukan sembarang reksi.” Bathinnya, sampai-sampai ia hampir tak sadar dan waspada ketika seekor ular raksasa telah berada di depannya. Dengan menyiagakan badan dan mengambil ancang-ancang di atas kuda kesayangannya yang bernama Aria Sentanu itu, Aria Wanajaya berhasil menghindar dari gerak ular raksasa tersebut, hingga akhirnya ia untuk beberapa kali berhasil menusukkan senjata miliknya yang beracun itu ke leher si ular yang tak ragu telah membuat ular itu langsung lumpuh setelah muntah, dan akhirnya tergelepar tak sadarkan diri.

Sejenak, sebelum akhirnya ia meneruskan perjalanannya, ia mengamati kalau-kalau ular raksasa itu masih hidup dan bernyawa. Namun tanpa ia duga, jasad ular tersebut mencair menjadi lendir yang segera meresap ke tanah setelah sebelumnya membasahi rumput-rumput dan ilalang di sekitarnya.

Berbeda dengan yang dialami Aria Wanajaya, sekelompok orang bersenjata dan mengenakan topeng di wajah mereka, tanpa dikira oleh Prabasena dan Sudamala, telah mengepung mereka. Tanpa ada basa-basi diantara mereka, mereka saling bergerak dan menyerang satu sama lain.

Pertarungan yang tak imbang dari segi jumlah tersebut hampir-hampir membuat Prabasena dan Sudamala mendapatkan celaka, jika saja kedua pemuda dari Gilinggaya itu tak gesit menghindar dan membalas serangan yang datang dan menyerang ke arah mereka berdua. Dengan sigap, tangan-tangan Sudamala dan Prabasena menerbangkan jarum-jarum beracun kepada para penyerang yang akhirnya berhasil mereka kalahkan tersebut.

Setelah mereka berhasil mengalahkan para penyerang itu, Prabasena dan Sudamala mengambil beberapa senjata milik para penyerang dan beberapa benda lainnya yang digunakan para penyerang untuk kemudian diserahkan kepada Prabu Sri Jayabupati ketika mereka kembali ke ibukota Banten Girang.

Meski kelelahan akibat pertarungan tersebut, Prabasena dan Sudamala tetap sampai di negerinya, di Gilinggaya, tepat waktu, yaitu yang kira-kira untuk saat ini, adalah ketika adzan magrib baru saja berkumandang. Sesampainya di negerinya itu, mereka pun langsung menuju tempat tinggal Ki Artasena demi menyampaikan apa yang diinginkan Prabu Sri Jayabupati kepada Ki Artasena.

“Begitulah, Ki, yang diinginkan Prabu Sri Jayabupati ketika kami menghadap.” Ujar Prabasena. “Baiklah jika begitu. Tak butuh waktu lama, esok, bahkan ketika fajar belum sempat menampakkan wujudnya, kalian akan dapat membawa si pemuda yang bernama Santanaya itu.” Kata Ki Artasena. “Sementara itu, kalian tunggulah di sini.” Lanjut Ki Artasena saat ia keluar dari teras rumahnya itu. Hanya butuh waktu satu jam lebih, Ki Artasena pun telah kembali dengan membawa serta Santanaya.

Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2011)

Iklan