Sketsa Perempuan

Pada suatu hari, menjelang siang, aku bertemu seorang perempuan ketika aku ingin menemui temanku di sebuah kampus. “Ada si…….gak?” tanyaku padanya yang saat itu berdiri di depan pintu. “Gak ada…..” jawabnya. “Kamu siapa?” aku kembali bertanya, dan ia pun menyebutkan namanya.

“Aku kan sudah menyebutkan namaku…..gak adil donk kalau situ gak menyebutkan nama situ….” protes-nya. “Ah….kamu gak perlu tahu-lah namaku,” jawabku, “toh kamu juga gak sungguh-sungguh ingin tahu….”. Aku tahu dia merasa tersinggung dengan sikapku itu. Hal itu terlihat dari perubahan warna wajah dan sorot matanya yang tiba-tiba menjadi tajam, mirip orang yang ingin meluapkan amarah.

Aku bilang padanya bahwa namanya terkesan sangat orang desa sekali, dan ia pun cemberut. Tetapi sesungguhnya ia cukup manis, meski tak terlalu cantik. Pastilah ia merasa sangat tidak nyaman dengan sikapku itu yang sungguh-sungguh membuatnya merasa diremehkan –pertanyaanku padanya dan caraku menjawab pertanyaannya yang seakan menunjukkan bahwa dirinya tak penting dibanding temanku yang ingin kutemui.

“Kamu aktif di sini?” tanyaku. “Ya……” jawabnya. “Memang kenapa?” tanyanya setelah menjawab pertanyaanku, tapi aku tak mempedulikan dan tak menjawab pertanyaannya.

Aku sungguh-sungguh tidak mengenalnya, dan baru kusadari belakangan bahwa justru ia tahu siapa aku, dan pantas saja jika ia tidak marah dengan sikap kurang ajarku yang meremehkannya, karena ia pernah menjadi peserta pelatihan menulis yang narasumbernya adalah aku.

Sungguh ia tidak cantik, tapi ia memiliki daya tarik pada sepasang matanya dan bentuk pipinya, manis dan bersahaja, dan itu baru kusadari ketika akhirnya aku malah mengisi kegiatan bersama di sebuah sekolah, karena ternyata ia adalah anggota sebuah komunitas di mana aku lebih dulu menjadi bagiannya.

Ketaktahuanku bahwa ia anggota baru tak lain karena memang untuk beberapa tahun terakhir aku jarang nimbrung bersama teman-teman, kecuali kalau diminta untuk mengisi acara-acara formal, seperti menjadi pembicara dalam diskusi atau ketika diminta menjadi kurator.

Harus kuakui aku jadi malu sendiri karena aku pernah bersikap kurang layak kepadanya di saat pertama kali aku bertemu dengannya secara kebetulan seperti yang telah kukatakan itu.

Karena beberapa kali bertemu dan terlibat dalam kegiatan bersama di sebuah sekolah itu, aku diam-diam semakin sering juga mencuri-curi kesempatan untuk memperhatikan dia secara diam-diam, dan ternyata dia perempuan yang cukup menarik –dan bersamaan dengan itu, aku pun jadi sadar bahwa ia cantik.

Sejak itu aku berusaha untuk menghilangkan kesan buruk di benaknya tentangku karena kekurangajaranku pada pertemuan pertamaku dengannya itu. Sebuah kebetulan yang tak kurencanakan. Aku pun mulai bersikap ramah padanya, suatu upaya, yang katakanlah, untuk menebus kesalahan dan kekeliruanku pada pertemuan pertamaku yang gagal itu.

Sulaiman Djaya

Iklan