Teguh Karya Sang Legenda

Teks: Rizka Azizah. Foto: Majalah Femina

Lahir di Pandeglang, Banten, ia adalah legenda film Indonesia. Ia adalah sineas genius yang menjadikan film Indonesia naik kelas.

Ada yang berbeda dari Festival Film Indonesia (FFI) 2015 lalu. Selain menobatkan film hitam-putih berjudul Siti sebagai pemenang penghargaan tertinggi Film Terbaik untuk pertama kalinya, festival film yang digelar sejak tahun 1955 ini juga membawa tema khusus Tribute to Teguh Karya, untuk mengenang mendiang sutradara peraih piala Citra terbanyak tersebut.

Mengoleksi Piala Citra
Dunia perfilman tanah air pernah berada di masa keemasan, yaitu di tahun ’70 dan ’80-an. Saat itu, banyak karya sineas anak bangsa bermunculan. Puncaknya adalah tahun 1977, sebanyak 367 film diproduksi dalam setahun. Film-film tersebut meliputi semua genre, mulai dari drama romantis, komedi, hingga laga, yang semuanya laris di pasaran.

Di era tersebut, bioskop memang merupakan satu-satunya medium untuk memutar film. Terlebih lagi, di masa itu juga belum ada serbuan film-film asing seperti saat ini. Tak mengherankan bila film Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Salah satu sineas yang berjasa mencetak sejarah membanggakan di dunia film Indonesia adalah Teguh Karya.

Para tokoh perfilman Indonesia menjulukinya sebagai sutradara genius yang mahir mengolah ide cerita menjadi film dengan daya tarik tinggi. Beberapa film garapan Teguh, antara lain Ranjang Pengantin (1974), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1979), Doea Tanda Mata (1984), Ibunda (1986), dan Pacar Ketinggalan Kereta (1989), sangat disukai penonton. Bahkan, kepiawaiannya itu berhasil membawanya menjadi Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia sebanyak 6 kali!

Atas prestasinya itulah, sutradara yang memiliki nama asli Steve Liem Tjoan Hok ini dipilih menjadi ikon FFI 2015 lalu. Tema Tribute to Teguh Karya pun dipilih sebagai penghormatan terhadap tokoh yang melalui karya-karyanya telah memberikan kontribusi besar bagi perfilman Indonesia ini.

Menurut Olga Lidya, Ketua Pelaksana FFI 2015, pemilihan Teguh sebagai ikon FFI 2015 akan membuat ajang perfilman tanah air ini menjadi lebih bergengsi. “Meski tak sempat bertemu, saya mengagumi sosok Teguh sebagai sineas yang konsisten menghasilkan karya bagus. Sineas-sineas muda sebaiknya belajar banyak dari karya-karyanya,” ujar Olga, dalam press conference FFI 2015.

Selain itu, dipilihnya Teguh menjadi ikon FFI 2015 juga karena alasan kedekatan emosional. “Kebetulan, Teguh Karya itu lahir di Pandeglang, Banten. Lokasi penyelenggaraan FFI 2015 kan juga di Provinsi Banten,” imbuh Olga.

Sejak menggarap karya pertama yang berjudul Wajah Seorang Lelaki (1971), Teguh terus konsisten berkarya dengan sepenuh hati. Sebagai sutradara, ia dikenal penuh totalitas, tegas, dan telaten. Tak mengherankan jika semua filmnya memiliki standar kualitas dan nilai artistik tinggi. “Walaupun memiliki dasar teater yang kuat, Teguh tidak terjebak dalam pakem teatrikal saat menyajikan film. Ia berhasil menyentuh sisi komersial tanpa meninggalkan esensi penting dalam pembuatan film,” ujar IGAK Satrya Wibawa, pengajar Kajian Film, Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut Satrya, panggung teater justru membuat Teguh menguasai teknik penyutradaraan film dengan baik. Tak mengherankan, film garapannya selalu utuh dan logis dalam menyampaikan pesan tertentu. “Isu yang diangkat Teguh selalu dekat dengan masyarakat Indonesia. Alhasil, karya filmnya selalu disukai masyarakat karena bisa diterima dengan akal sehat,” ungkap Satrya.

Totalitas dan keutuhan itulah yang membuat namanya selalu bersinar di panggung FFI dari tahun ke tahun. Selama 2 dekade berkiprah sebagai sutradara, Teguh telah menghasilkan belasan karya yang membuahkan 54 piala Citra untuk beberapa kategori dalam film Cinta Pertama (1973), Ranjang Pengantin (1974), Kawin Lari (1975), Badai Pasti Berlalu (1977), November 1828 (1978), Usia 18 (1980), Di Balik Kelambu (1982), Doea Tanda Mata (1985), Ibunda (1986), hingga Pacar Ketinggalan Kereta (1989).

Teguh tak hanya piawai menyutradarai film, tapi juga mampu mencetak aktris dan aktor besar, seperti Christine Hakim, Roy Marten, Slamet Raharjo, Niniek L. Karim, Alex Komang, Ria Irawan, Rima Melati, hingga Eros Djarot.

Right Man in the Right Time
Meski kualitas karya-karyanya tak diragukan lagi, Teguh juga muncul di kondisi yang tepat ketika perfilman Indonesia sedang di masa jayanya, yaitu di tahun ’70 hingga ’80-an. Antusiasme masyarakat terhadap sinema Indonesia saat itu juga terbilang tinggi. Kombinasi antara karya yang bermutu, kondisi yang tepat, dan pasar yang siap makin mendongkrak popularitas film-film Teguh Karya.

Kondisi itu jelas berbeda dengan saat ini. Kini, film tak hanya bisa dinikmati di bioskop, tapi juga melalui televisi, DVD, atau bahkan YouTube. “Dulu, orang pergi ke bioskop dengan niat utama menonton film. Aktivitas lain seperti makan atau minum di kafe adalah gimmick yang biasanya dilakukan usai nonton di bioskop,” ujar Satrya.

Berbeda dengan kondisi sekarang, menonton bioskop hanya menjadi aktivitas tambahan setelah kegiatan hang out di kafe atau coffee shop, makan di restoran, maupun shopping. Hal itu ditandai dengan makin banyaknya gedung bioskop lokal yang tutup dan berganti dengan jaringan bioskop yang berlokasi di dalam mall. Menyedihkan memang ketika melihat aktivitas menonton kini hanya jadi bagian dari gaya hidup nge-mall. Terlebih lagi, kini ada lebih banyak pilihan film asing selain Hollywood, sebut saja film dari Eropa, Korea, Thailand, India, dan Cina.

Kondisi tersebut, menurut Satrya, turut membentuk karakter penonton zaman sekarang. Dari perspektif industri, Satrya pun mendefinisikan penonton film di Indonesia zaman sekarang menjadi 2 bagian: penonton gaya hidup dan penonton sejati. Penonton gaya hidup adalah mereka yang menonton film hanya untuk bersenang-senang, sedangkan penonton sejati yaitu mereka yang benar-benar mengapresiasi dunia film, sehingga mereka selalu haus akan tontonan berkualitas.

“Penonton zaman sekarang tak bisa dipaksa untuk menonton atas nama mencintai produk dalam negeri. Mereka akan nonton dengan dua alasan, menyukai filmnya atau hanya ingin refreshing,” ujar Satrya. Karena itu, Satrya menilai, akan sulit untuk mengembalikan budaya menonton masyarakat Indonesia seperti pada tahun ’70-’80-an dulu. Era tersebut memang menjadi masa terbaik dunia perfilman Indonesia, dan Teguh adalah salah satu sineas yang membuat sinema tanah air bergerak maju.

Salah satu film arahan Teguh yang banyak dipuji kritikus adalah Ibunda. Film yang dibintangi oleh Tuty Indra Malaon, Alex Komang, Ayu Azhari, Ria Irawan, dan Niniek L. Karim ini sukses mengantongi 9 piala Citra, termasuk untuk kategori film, sutradara, skenario, editing, dan aktris terbaik.

Bagi Bobby Batara, pengamat dan wartawan film, Ibunda adalah film cerdas yang berhasil memadukan plot, dialog, sisi artistik, pemain, dan sinematografi apik menjadi sebuah tontonan hebat. “Ada salah satu scene yang isinya orang-orang berseliweran di satu tempat, namun saling berbicara dalam waktu bersamaan. Jarang ada sutradara yang berani memainkan scene seperti itu. Bagi saya, itu adalah adegan hebat,” cetus Bobby.

Kepiawaiannya dalam menggarap film dan tangan dinginnya yang berhasil menelurkan bakat-bakat besar berpadu harmonis dengan kondisi perfilman lokal yang kala itu tengah berjaya. Sutradara dan pendiri Teater Populer ini memang merupakan the right man in the right place.

Diakui Olga, sudah saatnya FFI mengangkat Teguh Karya sebagai ikon, mengingat banyak film karyanya yang memberikan warna berbeda bagi dunia perfilman nasional. “Saya rasa, dengan mengangkat keberadaan film-film Teguh Karya dalam FFI tahun ini, masyarakat bisa makin mengenal sosok sutradara legendaris itu,” tutup Olga.

BOKS –Niniek L. Karim: Belajar Mengenai Totalitas
Kalau enggak ada Teguh Karya, enggak akan ada saya. Beliaulah yang berjasa mendongkrak karier saya di dunia film. Tadinya, saya hanya mau bermain teater dan tak ingin main film. Namun, Teguh meluluhkan hati saya sehingga mau bermain film karena dia menyuguhkan skenario yang brilian. Ibunda adalah kolaborasi pertama saya dengan Teguh.

Bagi saya, kehebatan Teguh terletak pada kemampuannya menyajikan film Indonesia dengan riil. Pada genre drama misalnya, ia menyampaikan pesan dengan utuh melalui logika cerita, sisi artistik, waktu, pencahayaan, dan musik. Ia juga selalu mementingkan kerja kolaboratif. Meski di sebuah film terdapat peran utama dan pembantu, dalam proses pembuatan film, semua yang terlibat adalah pemeran utama. Tak terkecuali, tukang antar makanan saat proses syuting berlangsung.

Saya selalu menikmati semua proses syuting bersama Teguh. Meski pernah berantem, saya selalu mengagumi totalitas, profesionalisme, dan keterbukaannya menerima kritik dan saran dari orang lain. Saya rasa, sineas muda di masa kini perlu mencontoh keuletan dan ketelatenan Teguh dalam berkarya. Tiap kali menyutradarai film, ia selalu berkata, “Yang penting adalah proses, bukan hasil akhir.”

Iklan