Hydrangeas

“Aku bagai benih di bawah tanah
aku menanti tanda musim semi.

Angin kala fajar memiliki rahasia
untuk memberitahumu. Jangan kembali tidur.

Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan,
mengubah orang tak berpendirian
menjadi teguh berpendirian,

mengubah pengecut menjadi pemberani,
mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan,

dan cinta membawa perubahan-perubahan
bagi siang dan malam.”

(Jalaluddin Rumi)

Karya-karya sastra adiluhung biasanya mengandung filosofi dan hikmah, dan para penyair adiluhung biasanya adalah juga para filsuf –yang dalam hal ini contohnya Jalaluddin Rumi, sang filsuf sufi Persia yang kemudian hijrah ke Anatolia itu.

“Karena cinta ampas berubah jadi sari murni,
karena cinta pedih menjadi obat.
Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan”.

Jalaluddin Rumi bicara apa saja dengan puisi-puisinya –mulai dari rahmat pagihari dan juga fajar, perenungan senjakala, meditasi malam, hingga upaya menerjemahkan ‘cinta’ sebagai sebuah cakrawala yang mencakup kapasitas pemahaman yang toleran dan sanggup mengerti orang lain, kemampuan bersikap welas-asih kepada sesama –di mana cinta kemudian mewujud dalam kesabaran, peredaman ego yang acapkali mendatangkan amarah dan destruksi, hingga cinta dalam arti yang ‘irfani.

Sampai-sampai bagi Jalaluddin Rumi, cinta adalah ‘kosmos’ dan ‘semesta’ yang menjadi hukum harmoni dan penjaga atau perawat keberlangsungan hidup dan eksistensi manusia,

“Cinta adalah lautan tak bertepi,
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai.
Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi.”

Puisi Jalaluddin Rumi di atas bisa saja dibaca sebagai upaya untuk ‘memahami’ arti dan makna cinta dalam arti yang ‘irfani, suatu kawah kerinduan seorang manusia kepada Sang Khalik karena manisnya iman dan rahmat pengampunan, yang pada saat bersamaan, bersifat manusiawi, sebagai kodrat alami yang ada di dalam diri manusia untuk mengembangkan pemahaman dan sikap welas-asih.

Adakalanya Jalaluddin Rumi pun menegur dan menyindir secara terus-terang dengan gaya dan nada bertanyanya yang khas puitik, ketika ia mengkritik kemalasan intelektual dan spiritual manusia, yang acapkali menjebak manusia hanya menuruti sikap dan karakter yang justru membuat manusia menjadi rendah, tiadanya kemampuan untuk menjadi seorang pencinta, baik secara manusiawi maupun ‘irfani. Semisal manusia-manusia yang hidupnya hanya terseret pada arus komodifikasi, mereka yang terjerembab dalam kehampaan spiritual, meskipun yang ironisnya, mereka adalah juga orang-orang yang mengaku beragama:

“Engkau dilahirkan memiliki sayap
mengapa lebih memilih hidup merangkak?”

Sayap dalam puisi itu tentu saja tidak dimaksudkan secara verbal, seperti misalnya sayap yang dimiliki para burung, melainkan sebagai alegori-aforistis bagi pendakian dan ikhtiar untuk menggapai progress dan ketinggian. Bukankah para burung sanggup terbang ke arah ketinggian karena memiliki sayap? Sehingga, sayap adalah sebuah ‘alegori khusus’ dalam puisi-puisi para penyair-filsuf sufi untuk memaksudkan makna dari fungsi sayap dalam arti verbal tersebut, sebagaimana alegori kedai dan anggur demi menerjemahkan kerinduan dan madrasah ‘pelatihan’ bathin.

Secara semantis dan hermeneutis, ‘cinta’ yang berusaha dimaknakan dan diberi pengertian dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang luas –cinta yang baginya unsur utama semesta dunia ini, semisal dasar bagi penciptaan semesta dan serta hukum yang menjaga dan mengaturnya, bukan semata cinta ingusan anak-anak remaja, misalnya.

Sementara itu, secara ‘irfani, cinta yang dimaksudkan dalam puisi-puisinya Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang mistis dan spiritual antara manusia dengan Sang Khalik berkat iman, yang karena iman itulah, lahir dan tumbuh-lah harapan dan pemahaman yang benar. Sebab, banyak mereka yang mengaku beragama hanya basah di kulit, tapi hatinya kering-kerontang.

Iklan