hazrat_ali__a_s__by_alamdardesign-d5cbeht

Hari itu seorang musafir bergerak ke arah kota Kufah, Irak. Ia telah melewati perjalanan yang jauh untuk mencapai suatu tempat di sekitar Kufah dan kini ia merasa kelelahan. Dia berpikir alangkah baik dan menyenangkan bila ia mempunyai teman seperjalanan. Satu jam kemudian, tampak sesosok orang dari kejauhan. Sang musafir merasa gembira dan berkata sendirian, ”Aku akan bersabar sampai orang itu datang menghampiriku. Mungkin saja dia bisa menjadi teman seperjalananku.”

Sosok dari kejauhan itu akhirnya mendekat. Ternyata dia adalah seorang lelaki yang berwajah menarik dan bercahaya. Terlihat senyum terukir di bibir lelaki itu. Ketika keduanya berdekatan, mereka saling bertanya kabar. Ternyata, lelaki itu juga akan pergi ke Kufah. Sang musafir yang kesepian tadi merasa gembira karena kini dia telah memiliki teman seperjalanan. Lelaki yang baru tiba itu ternyata tidak lain adalah Imam Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, Imam Ali menyembunyikan identitasnya.

Keduanya akhirnya bersama-sama melanjutkan perjalanan. Mereka lalui perjalanan itu sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Imam Ali mengetahui bahwa teman seperjalanannya itu adalah seorang non-muslim. Dan Imam Ali memperlakukannya dengan sangat baik layaknya seorang sahabat bagi si musafir, sampai-sampai lelaki non-muslim itu merasakan kecintaan terhadap Imam Ali yang kala itu adalah seorang khalifah.

Si musafir itu lalu berhenti sejenak dan berkata kepada Imam Ali, “Sungguh menakjubkan, kebetulan satu jam yang lalu aku memohon teman seperjalanan untuk menemaniku agar beratnya perjalanan ini tidak terasa olehku, Lihatlah betapa Tuhan telah mengabulkan permintaanku. Sampai kini, aku tidak pernah menemui orang sebaik dan sepandai engkau dalam berbicara.”

Imam Ali hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata lelaki itu dan mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Hingga sampailah mereka berdua itu pada sebuah persimpangan jalan. Satu jalan ke kota Kufah yang menjadi tempat tujuan Imam Ali bin Abi Thalib dan jalan lainnya merupakan arah yang dituju oleh si lelaki non-muslim (si musafir). Imam Ali tidak mengambil jalan ke arah Kota Kufah dan terus berjalan mengikuti teman seperjalanannya.

Lelaki itu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari hal tersebut. Beberapa saat kemudian, ketika dia mulai menyadarinya, ia kemudian bertanya, “Sahabatku, engkau telah salah memilih jalan, sewaktu di persimpangan tadi engkau seharusnya memilih jalan ke Kufah.” Imam Ali menjawab, “Aku tahu. Tetapi aku ingin mengiringimu sampai engkau menyelesaikan pembicaraanmu.” Lelaki itu merasa takjub mendengar ucapan Imam Ali tersebut, lalu berkata, “Budi pekertimu sungguh baik sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Sebutkanlah namamu dan apakah pekerjaanmu?”

Imam Ali menjawab, “Sahabatku, aku adalah Ali bin Abi Thalib.” Lelaki non muslim itu yang sudah sering mendengar nama Ali dan mengetahui dia adalah pemimpin umat Islam, amat terkejut. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Dia berkata sendirian, “Ya Tuhanku, sejak tadi hingga kini, ternyata aku sedang bersama khalifah umat Islam dan aku tidak mengetahuinya sama sekali. Lalu, dia berkata kepada Imam Ali bin Abi Thalib, ”Kerendahhatian dan kebaikan perilaku Anda memang layak mendapat pujian. Apakah mereka yang dididik dengan ajaran Islam juga memiliki budi pekerti seperti Anda?”

Imam Ali bin Abi Thalib kemudian menyampaikan sebuah pesan dari Nabi Muhammad saw kepada beliau, sebuah ajaran akhlak dari Rasulullah saw yang berbunyi, “Berlaku baiklah kepada sesama manusia sehingga mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini.”

Iklan