Apa gerangan yang terjadi ketika dua pemikir besar alias dua filsuf bertemu dan menjalin cinta? Drama apakah yang berlangsung bila keduanya, dari dua etnis yang berbeda dan bermusuhan, Jerman era Hitler dan Yahudi, memadu kasih? Tentu saja, ini bukan sekadar pengulangan kisah Romeo-Juliet dalam drama William Shakespeare yang mashur itu. Lebih dari itu, inilah perpaduan dua jiwa dalam menyelami kehidupan otentik masing-masing. Martin Heidegger dan Hannah Arendt adalah dua filsuf besar abad ke-20 yang memulai kisah cinta mereka dengan mula-mula saling mengagumi.
?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Dua filsuf, sebagaimana kita tahu, yang pemikirannya banyak menyita perhatian publik filsafat ini terjebak dalam kisah yang kontroversial: perselingkuhan. Sebuah perselingkuhan (affair) yang berlangsung cukup lama yang lahir dari kekaguman akan pesona masing-masing: Martin Heidegger yang menarik dan berwibawa dan Hannah Arendt yang cantik dan jenius.

Martin Heidegger melihat Hannah Arendt sebagai mahasiswi yang sangat berbakat dalam berfilsafat. Sebaliknya, Hannah Arendt menemukan otoritas intelektual yang mengagumkan dalam sosok Martin Heidegger di ruang kuliah. Kisah cinta Martin Heidegger-Hannah Arendt ini merupakan satu dari sekian yang menarik banyak kalangan melebihi filsafat mereka berdua.

Kehidupan Martin Heidegger dimulai dalam tradisi imamat Katolik, tapi kemudian ia memutuskan hubungan dengan gereja. Keputusannya itu ia pilih karena ia lebih suka mempelajari fenomenologi yang ketika itu menjadi mode di universitas-universitas Jerman. Martin Heidegger sangat menguasai pendekatan ini, sampai-sampai ia dijuluki ‘sang pelihat’, bukan dalam arti melihat masa depan seperti peramal, cenayang, atau dukun tarot yang memainkan kartu-kartu tarot atau kartu-kartu ramalan di tangannya, melainkan seorang yang melihat fenomena yang biasa dan remeh-temeh dalam hidup keseharian dengan cara yang luar biasa, yaitu dari sudut pandang ontologis.

Pandangannya itu pun turut mewarnai karya puncaknya, Sein und Zeit—Being and Time yang terilhami oleh Hannah Arendt, selain karena membaca puisi-puisinya Friedrich Holderlin.

Pondok Martin Heideger yang bersahaja, yang jauh dari keramaian di Todtnauberg, menjadi pilihannya dalam menuangkan pikiran-pikirannya. Penampilan dan pemikiran Martin Heidegger yang cemerlang itulah yang menyihir Hannah Arendt, mahasiswinya yang Yahudi. Hannah Arendt begitu terpesona pada sang filsuf. Surat menyurat pun kemudian terjadi antara keduanya, sepanjang 1925-1975. Rentang waktu yang cukup lama.

Surat-surat mereka berdua itu lebih menggambarkan situasi emosional keduanya ketimbang pemikiran filsafat mereka. Hannah Arendt sendiri adalah filsuf wanita yang tak kalah kontroversialnya. Dia salah satu pemikir penting Jerman keturunan Yahudi yang tulisan-tulisannya merefleksikan pengalaman hidup sebagai saksi kekejaman dua tirani besar abad ke-20: NAZISME dan FASISME. Tulisannya mencakup pembahasan yang cukup luas dengan topik yang beragam, dari isu ke-Yahudian dan negara Israel, krisis modernitas, dan, tentu saja, totalitarianisme.

Namun, perspektif ke-Yahudian tampaknya banyak mempengaruhi analisis-analisis politiknya. Dari semua itu, yang paling menarik untuk diperbincangkan adalah drama persahabatan dan kisah-kisah cintanya, terutama dengan Martin Heidegger. Tapi bagaimana mula mereka bertemu untuk pertama-kalinya?

Pertemuan keduanya dimulai dari Universitas Marburg, tempat Hannah Arendt kuliah, sedangkan Martin Heidegger ketika itu seorang professor muda yang mengisi kuliah-kuliah di kelas di mana Hannah Arendt duduk sebagai mahasiswi. Martin Heidegger-lah yang mengajari Hannah Arendt tentang dasar-dasar pemikiran dalam Sein und Zeit (Being and Time) dan mengenalkannya lebih mendalam mengenai aliran filsafat Eksistensialisme.

Tetapi tidak hanya tertarik pada kuliah-kuliah Martin Heidegger, Hannah Arendt pun terpesona oleh kepribadian dosen muda itu. Meskipun Martin Heidegger sudah beristri dan beranak, Hannah Arendt tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terlibat perselingkuhan dengan Martin Heidegger.

Ia bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk sang filsuf, yang darinya Hannah Arendt berutang segalanya. Hannah Arendt memberikan cintanya pada Martin Heidegger dengan penuh kebebasan, melawan kelaziman. Perempuan itu menegakkan untuk dia sebuah kaca yang di sana tecermin sebuah ciptaan yang tampak laksana dewa. Sementara itu, di sisi lain, bagi si penyihir dari Messkirch, yaitu Martin Heidegger, Hannah Arendt menjadi jelmaan dari apa pun yang mungkin telah disaksikannya dalam sejumlah mimpi-mimpi yang membingungkannya. Demi sang kekasih, Martin Heidegger rela mempertaruhkan karier dan keluarganya.

Film tentang Hannah Arendt

Iklan