Persian Woman Weaving

Berbeda dengan mainstream paradigma filsafat Barat, Mulla Sadra menempatkan ilmu dan agama tidak dalam posisi “konflik” dan “saling bertentangan” sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Eropa, utamanya Eropa dalam masa-masa yang dikuasai institusi dan politik Gereja yang acapkali melakukan inkuisisi kepada para ilmuwan yang dipandang bertentangan dengan dogma gereja. Memang, sebagaimana kita ketahui, antara ilmu dan agama keduanya mempunyai tolak ukur kebenaran sendiri, namun kebenaran yang diperoleh tidaklah saling bertentangan. Inilah basis ikhtiar intelektual dan spiritual filsafat Mulla Sadra dalam upayanya untuk menemukan kebenaran ilmu dan agama yang bersifat kooperatif alias saling mendukung. Menemukan titik-temu antara keduanya yang akan saling menguatkan satu sama lain.

Ikhtiar dan usaha intelektual Mulla Sadra tersebut terlihat dari pandangannya yang tidak menolak rasionalisme dan empirisisme sebagai sarana untuk memperoleh kebenaran (sembari berusaha mengoreksi dan menyempurnakan perspektif dan paradigm keduanya), sebagaimana dalam filsafat modern Barat dilakukan kemudian oleh Immanuel Kant, selain Mulla Sadra juga menambahkan metode sufistik (‘irfan atau tasawuf) untuk mencapai kebenaran hakiki. Kelak, kedashyatan Mulla Sadra tak lain karena pencapaiannya dalam menggapai titik-temu antara ‘irfan (tasawuf) dan sains (ilmu pengetahuan) ini.

Dalam hal ini, dapatlah dikatakan bahwa Mulla Sadra melakukan sintesis terhadap sumber pengetahuan yang meliputi iluminasi intelektual (kasyf, zauq atau isyraq), penalaran atau pembuktian rasional (‘aql, burhan, atau istidlal) dan agama atau wahyu (syara’ dan pewahyuan), yang dengan sendirinya mengoreksi kekurangan aliran-aliran kalam dalam sejarah Islam. Sejalan dengan pilihan metodis dan peradigmanya tersebut, dalam filsafat Mulla Sadra, kebenaran ilmu dan agama dianalogikan sebagaimana sinar yang ‘satu’ yang menyinari suatu ruangan yang memiliki jendela dengan beragam warna. Setiap jendela kaca akan memancarkan warna yang bermacam-macam sesuai dengan warna kacanya.

Lebih lanjut Mulla Sadra juga menggambarkan bahwa kebenaran berasal dari ‘Yang Satu’ (yang di sini tak ragu lagi mencerminkan pandangan tauhid seorang muslim dalam filsafatnya), dan tampak muncul beragam kebenaran tergantung sejauh mana manusia mampu menangkap kebenaran itu. Dalam hal ini, kebenaran yang ditangkap ilmuwan atau seorang pengamat hanyalah sebagian yang mampu ditangkap dari kebenaran Tuhan. Begitu pula kebenaran yang ditangkap oleh agamawan atau kaum teolog. Dengan demikian, sebagaimana tercermin dalam filsafat Mulla Sadra, kebenaran yang ditangkap ilmuwan dan agamawan bersifat komplementer, saling melengkapi satu sama lainnya, bersifat selaras dan tak bertentangan jika kita memandanganya secara holistik.

Di sini perlu diketahui bahwa secara historis dan biografis, Mulla Sadra adalah tokoh yang hidup sezaman dengan Galileo Galilei yang didapuk sebagai bapak sains dan astronom modern Barat, di mana ketika itu di Barat sedang terjadi konfrontasi antara ilmu (sains) dan agama, di saat Mulla Sadra justru telah mempunyai konsep yang genuine untuk menjawab kebuntuan tersebut. Yang ingin dikatakan di sini adalah ada satu kondisi atau atmosfir keilmuan yang sangat kontras antara di Barat dan di dunia Islam kala itu, di mana di Barat sedang terjadi konfrontasi antara ilmu (sains) dan agama, sementara di dunia Islam sendiri, yang dalam hal ini filsafat Mulla Sadra, hubungan ilmu dan agama justru mengalami penguatan, saling melengkapi dan menembangkan satu sama lain secara beriringan dan bergandengan, yang mana keharmonisan antara sains tersebut saat ini mendapatkan contoh dan teladannya diterapkan di Republik Islam Iran, negeri kelahiran Mulla Sadra, yang masyarakatnya religius sekaligus banyak melahirkan para filsuf dan ilmuwan, dan tentu saja maju dari segi sains.

Dengan demikian, haruslah dikatakan, bahwa pengalaman sejarah sejauh menyangkut hubungan antara sains dan agama ini antara dunia Barat (utamanya Eropa) dan dunia Islam tidaklah sama. Sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, filsafat Mulla Sadra dengan cerdas dan jernih menempatkan kedudukan ilmu dan agama pada posisi yang harmonis dan saling mendukung satu sama lain alias saling menguatkan satu sama lain.

Tidak salah tentunya apabila ada ungkapan bahwa kemajuan pemikiran Islam terjadi manakala agama secara mutualis menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan atau sains. Dalam hal ini, haruslah ditegaskan sekali lagi bahwa agama bukan penghambat perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat, seperti juga kemudian ditegaskan Ayatullah Murtadha Muthahhari, tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam. Bukankah banyak ayat-ayat Al-Quran sendiri yang menyerukan agar manusia berpikir dan membaca dirinya, lingkungannya, dan semesta di mana ia hidup?

Iklan